Dari segala hal yang bisa dilakukan Tuhan, tentu tertawa adalah salah satunya. Kita percaya bahwa Dia maha kuasa. Kuasa dalam melakukan segala sesuatu. Termasuk tertawa. Tapi, apakah Ia sendiri pernah menyatakan hal ini dalam wahyuNya?
.
Bisakah kita menemukan kata Tuhan yang kemudian diikuti kata verbal ‘tertawa’ dalam kitab-kitab suci?. Atau mungkin pernyataan pribadi semacam….’dan Aku pun tertawa…’ dengan ‘A’ besar baik dalam al-quran, Injil, atau Taurat? Atau dengan ‘D’ besar seperti…”dan Dia pun tertawa…”
Senin, 21 Juni 2010
Kamis, 17 Juni 2010
tentang waktu
Yang dekat akan jauh dan yang jauh akan dekat
.
Aku ingat dulu sewaktu di bangku MI (madrasah Ibtidaiyah) ada mata pelajaran Khotj, semacam menulis indah kalau di SD. Bedanya, di MI—saat itu—kami menulis kata-kata mutiara atau kutipan hadits yang berbahasa arab serta artinya berulang-ulang. Aku tidak pernah mendapat nilai yang cukup bagus dalam pelajaran ini
.
Meski ibuku memiliki tulisan arab yang bagus dan kakak-kakakku juga, tulisanku sendiri tidak pernah bagus. Hingga di bangku kuliah pun begitu. Dosen al-Hadist saat semester dua kemarin pernah mengembalikan tugasku sambil berkata; “yang tulisannya jelek diketik pakai computer saja…”
.
Aku ingat dulu sewaktu di bangku MI (madrasah Ibtidaiyah) ada mata pelajaran Khotj, semacam menulis indah kalau di SD. Bedanya, di MI—saat itu—kami menulis kata-kata mutiara atau kutipan hadits yang berbahasa arab serta artinya berulang-ulang. Aku tidak pernah mendapat nilai yang cukup bagus dalam pelajaran ini
.
Meski ibuku memiliki tulisan arab yang bagus dan kakak-kakakku juga, tulisanku sendiri tidak pernah bagus. Hingga di bangku kuliah pun begitu. Dosen al-Hadist saat semester dua kemarin pernah mengembalikan tugasku sambil berkata; “yang tulisannya jelek diketik pakai computer saja…”
Rabu, 09 Juni 2010
tentang pertanyaan dalam hidup
.
Mungkin karena dunia memang dibentuk oleh pertanyaan. Karena ilmu pengetahuan lahir dari rasa ingin tahu. Karena peradaban kita kini juga dibangun di atas beribu pertanyaan. Jika tidak ada pertanyaan, kita tidak akan mencapai apapun hingga saat ini
.
Dan mungkin itu juga alasannya kenapa selalu ada saja pertanyaan yang diajukan orang lain kepada kita. Mulai dari pertanyaan remeh, seperti jam berapa sekarang? Sampai pertanyaan yang bisa membuat kita mendidih, jenis pertanyaan sensitif yang sebaiknya tidak ditanyakan, seperti ‘kapan wisuda?’ ‘sedang sibuk apa sekarang?’, ‘kapan nikah?’. 'kapan punya anak?' Serta banyak jenis pertanyaan lainnya
Terus terang salah satu pertanyaan yang paling ajaib adalah pertanyaan; ‘sedang sibuk apa sekarang?’. Mungkin karena kata ‘apa kabar’ sudah kehilangan makna. Ketika kita menggunakan pertanyaan ‘apa kabar?’ semuanya begitu spontan, dan jawaban yang diberikan seperti ‘baik’, atau ‘biasa aja’, tidak banyak memberikan informasi apa-apa. Cuma pertanyaan basa-basi dan jawabannyapun basa-basi. Tidak mudah mengetahui kabar seseorang yang sebenarnya hanya menggunakan dua kata ini, ‘apa kabar?’, ‘baik!’
.
Baru kemudian meluncurlah pertanyaan ‘ajaib’ tadi, ‘lagi sibuk apa sekarang?’
.
HELL NO… sespontan apapun pertanyaan ini, selalu saja bikin grogi. Kadang kita sendiri menggunakan pertanyaan ini begitu saja, tanpa menyadari ada shock value di dalamnya (halah, makanan apa pula itu shock value). Dan pertanyaan ini selalu mempan. Kita bisa menebak keadaan seseorang dengan menggunakan pertanyaan ini
.
Mengapa? Mungkin karena kita memang lebih peduli pada kesibukan seseorang melebihi keadaan orang tersebut. Mungkin karena kita mendefinisikan diri lewat kesibukan yang kita jalani. Mungkin juga karena kita menilai seseorang dari kesibukan yang dia miliki. Seolah-olah sibuk berarti keadaan saya baik-baik saja, dan tidak sibuk berarti saya sedang bosan dan membenci hidup saya. Seolah-olah sibuk berarti saya orang yang berguna, dan tidak punya kesibukan berarti saya tidak berguna
.
Sebenarnya ada pertanyaan yang lebih mematikan lagi. Pertanyaan ini saya dapat saat menonton filmnya Robert de-Niro “everybodys fine”. The question is, ‘are you happy?’. Apapun kesibukanmu, bukankah pertanyaan terpentingnya adalah, “apakah kamu bahagia?”
.
Apakah kesibukanmu membuatmu bahagia? Apakah kau melakukan semua itu karena kamu memang ingin melakukannya? Tanyakan deh, ke orang-orang di sekitarmu yang sudah bekerja. Berapa dari mereka yang benar-benar mencintai pekerjaannya, atau berpura-pura mencintai pekerjaannya. Berapa dari mereka yang cukup jujur mengakui keinginan mereka melakukan hal lain, dan berapa dari mereka yang diam-diam mengubur ‘impian’ mereka. Berapa dari mereka yang terjebak dalam pekerjaan tersebut, dan hal terakhir yang bisa mereka lakukan adalah belajar mencintai pekerjaan itu.
.
The best thing to do is, ask yourself; what you really-really want to do, and what can make you happy? Before its too late… (hahaha, bicara apa saya ini)
.
Langganan:
Entri (Atom)