Postingan

Rindu Lindu

Gambar
Judul: Rindu Lindu: Kumpulan Cerita Pendek
Penulis: Lalu Abdul Fatah
Diterbitkan Secara Indie
Cetakan Pertama, Juni 2019

Saya kenal penulisnya karena satu sekolah saat SMP dan SMA. Saat itu Fatah juga sudah aktif menulis, dan seingat saya waktu SMA, salah satu cerita pendeknya pernah menghiasi salah satu majalah keIslaman (saya lupa-lupa ingat, itu majalah beredar secara nasional atau daerah). Sekitar tiga atau empat tahun lalu, sewaktu pulang kampung, saya juga sempat membaca ulasan travelingnya di salah satu majalah langganan kakak saya di rumah. Saya agak-agak ketinggalan berita kalau dia sudah menerbitkan 3 buku solo dan 15 antologi. Saya bahkan baru tahu kalau dia masih aktif di blogsphere: Setapak Aksara.

Well, buku terbarunya yang berjudul Rindu Lindu ini mengambil momen kejadian gempa di Lombok kemarin. Cerpen yang berjudul sama dengan buku kumcer ini menjadi cerpen pembuka dan cukup singkat. Tentang seorang bayi yang ditemukan di antara akar pohon asam yang tumbang. Di tengah ke…

Silaturrasa

Gambar
Ide mengadakan pameran ini muncul saat kami berbenah untuk menutup pameran URES di Tembi. Mengingat pameran kami saat itu cukup diapresiasi, dan mengingat SakArt adalah perkumpulan perupa yang berasal dari Lombok, kami pikir bakal seru juga untuk mengadakan pameran di kampung halaman.

Ini kali keduanya saya berpameran di Lombok. Sekitar tiga atau empat tahun lalu, kami juga ikut rangkaian acara festival budaya. Pameran kami adakan di lantai dasar Lombok Epicentrum Mall. Saat itu keinginan saya untuk mendokumentasi belum seperti sekarang--masih dipusingkan dengan urusan kuliah. Dua lukisan yang saya pamerkan saat itu adalah lukisan tugas, yang satunya berjudul "Pisau" (kalau di tugas seni lukis judulnya "bimbang"), dan yang satunya lagi berjudul "Kelingking".

Kali ini kami berpameran di Taman Budaya NTB.


Sama seperti pameran di Tembi, apresiasi masyarakat atas pameran ini juga lebih dari yang kami harapkan.





Kami juga mendapat tawaran untuk mengadakan pame…

Dewa Kecil Kami

Gambar
Kami adalah manusia-manusia kerdil yang hidup di daerah terpencil. Tempat yang  mudah diabaikan orang saat membuka peta. Tak hanya orang-orang saja yang mengabaikan kami, tapi juga para dewa. Setidaknya, kami punya dewa kami sendiri. Dewa kecil.

Dewa ini kami sembah setiap pagi. Ia bersemayam pada gunung batu di sebelah utara desa. Mungkin bagi orang-orang besar gunung batu itu cuma bukit kecil saja. Tapi itu tak mengapa. Kami akan tetap datang membawa sesembahan setiap pagi kepada dewa kecil kami.

Pernah aku bertanya, mengapa dewa kami cuma kecil saja? Kutanyakan ini kepada Teutua, laki-laki yang kami percaya untuk memimpin upacara persembahan. Kata Teutua, “Tentu saja dewa kita harus kecil. Karena yang diurus orang-orang kerdil maka ia tahu betul kebutuhan-kebutuhan kita. Kalau Dewa-Dewa Besar yang kita sembah, mereka tak akan mengerti persoalan-persoalan kecil kita. Mereka hanya mengerti persoalan-persoalan besar dan hanya mendengar keluhan orang-orang besar.”

Saat kutanya, apakah…

One Step Forward

Gambar
Waktu itu saya lagi bosan-bosannya menunggu cerpen yang saya kirim ke media massa dimuat. Saya lagi mirip-miripnya dengan si "aku" dalam novel Lapar, Knut Hamsun; menolak pekerjaan lain sebelum mendapat penghasilan dari menulis. Namun rasa lapar saya yang menang. Terlebih lagi saya tidak sebebas si 'aku'. Saya masih terikat sebagai mahasiswa semester akhir di ISI dan saya pikir waktu itu, mungkin bekerja sampingan di sebuah restoran akan membuat tulisan saya kelak lebih menarik. Apalagi Via-Via restauran kerap menjadi tempat bagi seniman-seniman lokal menguji karya mereka. Pada dinding cafe, sepanjang tahun, terpajang karya lukis atau fotografi. Sejumlah event kesenian di Yogya juga bekerja sama dengan Via-Via.

Anyway, itu tahun 2015. Setelah itu ketertarikan saya ke seni bercerita juga mulai saya kolaborasikan dengan tugas akhir. Bahkan sampai ada rencana untuk melaunching buku saya di sini. Kebetulan, chef yang memegang cooking class di Via-Via masih keluarga istr…

Memasang Jaring Di Pohon Asam

Gambar
Sekitar seminggu sebelum ibu saya meninggal, sebuah pohon asam di sawah kami tumbang karena hujan lebat dan badai. Itu tahun 2009 dan saya masih di Jogja. Saat kembali ke Lombok, saya mendapat cerita dari kakak kalau debum keras saat pohon itu tumbang terdengar sampai ke kampung-kampung sekitar.

Karena rumah kami di Pancor cukup jauh dari sawah (terpisah satu kecamatan), tumbangnya pohon asam itu diketahui keluarga saya esok hari. Ibu saya waktu itu masih cukup sehat untuk mampir dan melihat pohon asam yang tumbang. Batang kayunya seperti raksasa yang terbaring di antara belukar dan pohon-pohon lain yang lebih kecil.

Pohon asam ini sudah melekat dalam ingatan saya sejak masih anak-anak. Seperti pohon dari alam dongeng yang kita ingat sewaktu-waktu saat mendengar sebuah cerita. Pohon itu sudah tak ada di sana, namun dalam alam pikiran saya akan langsung saya ingat tiap kali mendengar kata "pohon asam". Begitu juga dengan kata "cerita", serta-merta yang saya ingat a…

Pil Penua

Gambar
Ada yang menakutkan pada laki-laki itu. Entah senyumnya yang serba tahu, entah usia tuanya yang melampui seratus tahun, atau  pakaiannya yang selalu putih bersih; seolah ia membeli satu setel pakaian baru setiap hari sebelum naik bis. Mungkin juga karena rambutnya yang seputih kapas itu. Ia takut, namun tak bisa tidak, ia selalu mencuri lihat ke arahnya tiap kali naik bis ini.          Kini kursi di sampingnya kosong dan pria renta itu sudah duduk di sana. Tersenyum. Hanya ada satu gigi yang menggantung. Terkekeh. Merasa terpojok, ia melihat ke luar jendela. Sore itu jalanan ramai seperti biasa. Wajah-wajah pengendara motor yang kelelahan dan kusut di luar semakin membuat tak enak perasaan. Akhirnya ia melihat ke arah atap-atap ruko. Burung-burung terbang melingkar, seorang wanita gemuk mengangkut jemuran yang berjejer di balkon. Papan-papan reklame yang memerah bersama  sore.
     "Selalu saja sama, eh?” kakek itu bersuara.          Dari berkas pantulan wajahnya di kaca jendela…

Mimpi Meteor

Gambar
Sejak rutin mendapat mimpi ini tiap malam, ia seperti menjalani dua kehidupan. Hari itu dia baru saja bertengkar dengan Rukmi, gara-gara ia dipecat lagi. Sudah lima kali ia dipecat dalam setahun. Ibunya, mengabaikan pertengkaran itu, menyarankannya untuk mempersunting gadis saja. Sudah saatnya dia menikah. Kata ibunya, tak usah mengkhawatirkan rizki dari Tuhan. Setiap orang sudah dikasih jatah rizki. Menambahkan satu lagi orang ke rumah ini akan menambah jatah rizki mereka dari Tuhan.         Tak tega meneriaki ibunya, ia langsung ke kamar tidur. Menghempaskan diri di atas kasur. Berharap jatuh ke alam mimpi secepat mungkin. Saat terbangun, hari sudah cukup siang. Ia mendapati rumahnya sepi. Cepat-cepat ia mandi, takut terlambat. Tapi kemudian ia langsung ingat kalau baru kemarin ia dipecat.       Tak ada siapa-siapa di rumah. Rukmi mungkin sudah berangkat kerja ke pabrik sepatu. Ibunya mungkin sudah berangkat ke rumah Haji Sunar. Di meja dapur tidak terhidang apa-apa. Ia agak jengke…