Postingan

random#9

Lebaran dua hari sudah lewat dan Jogja masih cukup menyenangkan untuk berkendara (jalanan masih sepi). Satu-satunya hal yang belum tercapai adalah mengisi hari raya saya dengan satu scoop ice cream. Oke lupakan.

Dulunya saya menjadwalkan tulisan random diposting pada setiap hari senin. Namun karena hari libur saya bergeser ke hari Rabu dan Minggu, jadi saya pun akan memposting tulisan random pada hari Minggu. Itupun kalau ada hal random yang perlu diposting. Omong-omong saya juga mulai memposting lagi cerita bersambung Amphibi. Kemudian atas saran dari mbak Yenni Hamida, saya mengganti nama pil yang wagu itu, dari limp menjadi manna. Pilihan memakai kata manna sih dari saya sendiri, namun dari dulu nama limp untuk pil itu kurang okay.Supaya lebih bernuansa kitab suci, kamp tempat makan mereka diberi nama Salwa.

Tidak terasa sudah satu tahun berlalu dan anehnya saya masih memikirkan lanjutan cerita ini.


Bagi yang mampir ke sini dan masih merayakan Lebaran, selamat lebaran...


Amphibi; chapter 17

Gambar
chapter 17
Tempat tinggal yang ditunjukkan Sadri adalah sebuah ruangan yang sedikit lebih kecil dari kamar hotel Tuan Krol. “Ini masih tergolong bagus,” ujar Sadri. “Yang lebih buruk dari ini juga masih banyak. Kamar mandinya masih bagus dan jalan ke Salwa tak begitu jauh. Kamu tak akan kesulitan mendapat makanan.”
“Tempat ini sudah sangat bagus. Yang terpenting buatku adalah menemukan jalur tercepat ke rumah Lagne.” Bertahun-tahun tidak menetap membuatku tak terlalu memperhatikan tempat tinggal. “Tapi terima kasih,” kataku cepat-cepat. 
“Sebentar, aku lupa nama tempat kita bisa mendapat makanan.”
“Salwa” jawab Sadri, kemudian aku membiarkannya pergi. 
SALWA adalah satu dari lima titik yang menjadi tempat untuk mendapat makanan. Kota ini lebih mirip barak pengungsian yang sangat besar. Mungkin ada hubungannya dengan kepunahan penghuni pertama. Di kota ini kontrol Kilma juga jauh lebih besar.
Barang-barang telah kupindahkan ke dalam lemari. Berkas yang diberikan Lagne kuperiksa kembal…

MONSTER

Tanah ini berkapur. Tergenang sisa hujan di balik semak belukar. Tiap kali melangkah telapak kakinya terhisap sesaat. Setiap langkah menghasilkan suara seperti tercekat. Sepatunya hilang entah di mana. Ia sudah menyerah untuk mengingat. Saat ini ia cuma mengikuti naluri. Berjalan membuntuti bekas-bekas samar pada semak belukar. Mungkin bekas hewan liar. Tapi, pikirnya, jalan ini pasti berujung di suatu tempat. 
Saat genangan ini berakhir, tanah lembab yang ia pijak terasa empuk oleh tumpukan daun-daun yang telah membusuk. Ranting-ranting menggores telapak kakinya, namun yang ini pun tak bisa ia rasakan. Kakinya kebas sampai ke mata kaki. Ia mendongak, memeriksa posisi matahari. Saat ini mungkin sekitar pukul sepuluh pagi. Atau pukul tiga sore? Ia tak yakin. Udara lembab di sekitar memberi sedikit ketenangan sementara ia melangkah. 
Ia memeriksa pakaian yang ia kenakan. Celana panjang dengan bekas tumpahan cat di bawah lutut. Yakin masih mengenakan celananya sendiri. Kemudian kaos tanpa …

Pangeran Yang Selalu Bahagia

Gambar
Judul: Pangeran Yang Selalu Bahagia dan Cerita-cerita Lainnya Penulis: Oscar Wilde Alih Bahasa: Amrisa Nur Yayasan Obor Indonesia Edisi Pertama April 2001
Oscar Wilde sering disebut sebagai salah satu penulis paling romantis. Mungkin ini saya tahu dari salah satu potongan film, tapi tidak bisa mengingat film yang mana. Untuk buku kumpulan cerita yang satu ini rasanya seperti membaca sebuah kumpulan dongeng yang diperuntukkan untuk orang dewasa. Baiklah, mungkin buku ini memang sebetulnya untuk anak-anak. Apalagi di setiap cerita disertai ilustrasi. Mungkin juga karena saya sedang ingin membacakan cerita kepada jiwa anak kecil dalam diri saya yang masih haus akan dongeng.


Nuansa cerita dalam buku kumpulan ini membuat kita teringat dengan dongeng seribu satu malam dan Kahlil Gibran. Terutama pada cerita terakhir yang berjudul Nelayan dan Jiwanya. Agak bernuansa horor di awal namun menjadi cerita yang sangat indah secara keseluruhan. Cerita pertama berkisah tentang sebuah patung di alun-alun…

Quiet

Judul: Quiet—Kekuatan Introvert Di Dalam Dunia yang Tak Dapat Berhenti Bicara. Penulis: Susan Cain Penerbit Andi 2013
Tanpa adanya orang-orang Inrovert, kita mungkin tak akan mengenal teori gravitasi, teori relativitas Einstein, novel 1984 dan Animal Farm dari Orwell, serta Harry Potter dari JK Rowling. Dalam dunia yang cenderung menjadikan ekstroversi sebagai “model”, orang-orang introvert seolah-olah memilih menjadi warga masyarakat kelas dua. Tapi buku ini bukan jenis pembelaan panjang mengenai orang introvert.

Ini termasuk buku self-help yang dapat saya nikmati. Yang paling menarik adalah kisah perlawanan Rosa Park di pembukaan buku ini. Perlawanan yang ia lakukan dengan sangat sederhana saat supir memintanya memberi kursi bagi penumpang kulit putih. Itu terjadi di tahun 1955, saat bus di negeri seperti Amerika pun masih memisahkan kursi antara penduduk kulit putih dengan penduduk kulit berwarna.
Istilah ekstrovert dan introvert dipopulerkan oleh salah satu tokoh psikologi terkemuka,…

Perempuan

Gambar
Judul: Perempuan, Kumpulan Cerita Pendek Penulis: Mochtar Lubis Yayasan Pustaka Obor Indonesia Juni 2010
Pengantar yang ditulis oleh Riris K Toha untuk buku ini dimulai kira-kira dengan pertanyaan semacam ini: Apa yang membuat cerita di masa revolusi menarik untuk dibaca? Atau setidaknya cerita yang bersetting di masa-masa yang tak jauh dari masa perjuangan? Permasalahan manusia di jaman itu tentunya berbeda dengan yang kita hadapi sekarang. 
Mungkin karena penulis masa itu masih diliputi oleh semangat yang meluap tentang menjadi ‘Indonesia’. Mungkin juga karena situasi perjuangandi masa itu membuat individu-individu dalam ceritanya memiliki suatu jenis cita-cita. Kalau-kalau enggan ikut kisruh dengan seteru di media sosial, membaca buku-buku cerita di masa perjuangan kemerdekaan bisa menjadi pilihan. 
Buku ini dibuka dengan cerita pendek berjudul Perempuan. Tentang seorang tentara Jepang bernama Maeda yang jatuh cinta kepada Indonesia. Kadang sikapnya saat memprotes pemerintah Jepang me…

Dosa Kita Semua

Gambar
Judul: Dosa Kita Semua Penulis: Motinggo Busye Penerbit: Balai Pustaka Cetakan VI 2001

Cerita ini dibuka saat Wahab masih berada di atas kapal. Sambil menunggu ijin merapat dari syahbandar, Wahab sempat berbincang dengan sang kapten kapal, Berek Kandilla. Begitu tahu kalau Wahab telah meninggalkan rumahnya tanpa kabar selama dua tahun, sang kapten menasihatkan begini, 

“Kalau kau akan berangkat meninggalkan istri, janganlah terlalu lama. Kalau lebih dari 40 hari, taruhlah abu di sekeliling tempat tidurnya.”

Kata-kata dari Berek Kandila sempat membuat Wahab khawatir, “tetapi istri saya perempuan yang setia,” balas Wahab. Saat kapal itu merapat, Wahab langsung menuju rumahnya di balik Gunung Kunyit dan menemukan pada gerbang rumahnya terpasang rumah ini dijual.

Akhirnya ia terpaksa menginap di hotel dan lagi-lagi bertemu dengan Berek Kandilla. Kapten yang telah melaut selama dua puluh tahun, dan sambil meramal sendiri kondisi kapalnya, ia mengatakan kalau kapalnya rusak banyak, dan Wahab menda…