Postingan

Graha Pustaka, Erich Fromm dan Joseph Freiherr Von Eichendorff

Gambar
Saya lupa tanggal berapa. Sepertinya tiga hari usai tahun baru, saya mencoba menjalani hari di Jogja seperti turis. Bersepeda lumayan jauh sambil menikmati jalanan yang cukup ramai. Tujuan saya tentu saja perpustakaan daerah. Namun sampai di sana perpustakaan ini ternyata masih tutup. Sebenarnya saya datang ke perpustakaan ditemani maksud lain, yaitu membaca lagi bukunya Erich Fromm.

Saya juga perlu mengambil beberapa foto untuk buku-buku yang pernah saya review di sini. Beberapa waktu lalu, saya membuka-buka album picasa yang terhubung langsung dengan blog ini. Beberapa foto lama sewaktu di Pare dan sewaktu mengganti laptop rupanya masih ada. Kemudian ada juga sejumlah ilustrasi yang saya kerjakan sewaktu masih bekerja di warnet. Beberapa foto itu saya simpan dan foto-foto yang ter-upload double saya hapus untuk menambah ruang penyimpanan album (saya tidak begitu mengerti mengapa beberapa foto bisa tersimpan lebih dari satu). Sayangnya, ketika menghapus salah satu ilustrasi itu, tah…

Suatu Hari Tanpa Cerita

Gambar
Suatu hari aku terbangun tanpa cerita. Tidak ada kata-kata. Tidak ada apa-apa. Aku juga mulai membenci kamarku yang berantakan. Aku mencoba merapikannya. Meletakkan barang-barang itu ke tempat seharusnya. Menyapu kamarku untuk kali pertama dalam tiga bulan terakhir. Tapi saat semuanya sudah rapi, kamar ini semakin sepi. Akhirnya kubuat semuanya berantakan lagi. majalah-majalah itu. guntingan-guntingan koran itu. buku-buku itu. pallet itu. cat air itu. kuas-kuas itu. kertas-kertas itu. aku tidur di atasnya.

Kemudian aku meraih pensil dan mulai menulisi dinding kamarku. Tidak ada yang bisa kutulis. benar-benar tak ada cerita. Ribuan hal berlarian di benakku, hanya saja aku tak dapat menulisnya. Mereka berkelebat tanpa nama. Akhirnya aku menggambar rumah, menggambar rumah, menggambar rumah, menggambar rumah. kemudian menggambar perahu. menggambar diriku. menggambar kucing itu. menggambar malam-malam itu. dinding kamarku jadi terlihat kumuh.






nb:
Ini postingan lama (mungkin sekitar tahun …

Belah Diri

Gambar
Ia saya jumpai lagi termenung sendiri di pasar malam. Melamun di antara bocah, yang berlarian dengan kembang gula di genggaman. Seperti penyihir murung, ia menjaring kata-kata yang melayang di sekitar. Kata tentang tawa anak-anak. Kelap-kelip lampu dari kereta kuda yang berputar. Lalu kehangatan, yang menjadi selimut bagi pasangan yang lalu-lalang berpelukan. Saya hampiri ia dan bertanya, “Kenapa Nona terlihat murung? Malam ceria begini, tapi wajah Nona seperti tangis hujan yang salah musim.”

Ia tersenyum dengan garis bibir yang masih melengkung murung. “Mungkin karena saya ini puisi,” jawabnya.

Kata-kata yang telah ia jaring ia bacakan sambil kami berjalan bersisian. Tanah di pasar malam itu kering. Meski tak terang, saya dapat melihat kakinya yang tak bersepatu dipupur debu. Kata-katanya terdengar manis sekaligus muram. Seperti petikan gitar yang berdenting menyanyikan kesunyian. Aroma manis dari stand roti bakar. Gerung mesin bianglala. Teriak jemu sekaligus senang dari penumpang…

Hujan-Hujan Gula-gula!

Gambar
Kami mengenal seorang laki-laki yang bisa menurunkan hujan gula-gula di depan jendela. Ketika hari-hari begitu kecut, kami memanggilnya. Atau pada hari-hari pahit di pertengahan musim panas, kami akan memanggilnya. Kadang tak perlu dipanggil laki-laki itu datang sendiri dan melakukan ritual di depan jendela. Hujan gula-gula turun. Semua orang senang. Semua orang mencintai laki-laki itu.        Ia hampir tidak pernah menolak jika diminta menurunkan hujan gula-gula. Aku sendiri tidak ingat kapan ia pernah menolak. Kami bisa saja memintanya menurunkan hujan gula-gula setiap hari untuk sekedar menyenangkan hati. Namun, seperti yang dikabarkan di tv dan surat kabar, terlalu banyak gula tidak baik. Orang-orang akan menderita kencing manis. Dan yang paling kami takutkan adalah kencing manis yang bisa membuat manusia buta.                 Kami tidak kuatir soal rasa kencing yang menjadi manis. Toh kami tidak meminum air kencing. Kecuali orang-orang dari Selatan yang pernah kami dengar suka me…

Email Dari Jogja

Gambar
Dua bulan setelah mengantarmu ke stasiun dan melihatmu menghilang sambil nyengir melewati petugas jaga stasiun, aku kembali ke stasiun itu. Aku membaca email yang kau kirimkan sebelumnya. Soal keluhanmu dengan kota B yang ternyata jauh lebih semrawut. Lalu jalannya yang masih banyak berlubang. Kalau hujan turun, kau dan orang-orang yang bekerja di sana harus berjalan di atas lumpur. Hanya dalam waktu satu bulan kau jadi kebal dengan cuaca. Padahal lima tahun hidup di kota ini, keluar rumah malam hari tanpa kaos kaki sudah bisa membuatmu masuk angin. Lalu kau melanjutkan keluhanmu. Di sana, saat hari kering dan tak ada hujan, seluruh kota berdebu.


Kau bilang, kotamu dalam masa pertumbuhan. Seperti anak-anak yang sedang giat-giatnya bergerak, bermain dengan lumpur, dekil, dan malas mandi. Berbeda dengan Jogja yang sudah dewasa. Sudah matang. Bersih dan pandai menata diri. Kata-katamu itu justru membuatku jadi ingin cepat-cepat pergi dari sini. Surat lamaran kerja yang kusebar tak satupu…

Balam Gerbera

Gambar
Yanwar sedang mengetik kata desain mozaik di kolom pencarian google ketika terdengar jeritan histeris. Jerit panjang ketakutan yang direnggut keluar oleh tangan iblis. Semula ia mengira jeritan itu cuma pikiran saja. Ia belum tidur. Deru mesin mobil kadang terdengar seperti guntur. Namun teriakan histeris itu terdengar lagi. Kali ini Yanwar percaya pada telinganya. Ia bangkit dan menyingkap tirai jendela besar yang menghadap gereja. Jalanan masih sepi. Toko kembang di samping kiri-kanan masih tutup. Dinding polos pagar gereja pucat kedinginan. Jeritan itu tak terdengar lagi.

Ia melirik ke arah pagar gereja yang tak bergeming. Putih. Ia tak mendengar bisikan-bisikan hantu di situ. Tak ada bisikan apapun. Padahal selama ini ia selalu mendengar bisikan-bisikan di dinding. 

Ia yakin setiap bidang dinding menjadi rumah bagi hantu-hantu. Seperti pohon-pohon besar yang disembah. Seperti sebuah tikungan yang diberi sesajen atau danau gelap yang kerap menelan bocah.

Dinding kosong selalu membu…