Postingan

Email Dari Jogja

Dua bulan setelah mengantarmu ke stasiun dan melihatmu menghilang sambil nyengir melewati petugas jaga stasiun, aku kembali ke stasiun itu. Aku membaca email yang kau kirimkan sebelumnya. Soal keluhanmu dengan kota B yang ternyata jauh lebih semrawut. Lalu jalannya yang masih banyak berlubang. Kalau hujan turun, kau dan orang-orang yang bekerja di sana harus berjalan di atas lumpur. Hanya dalam waktu satu bulan saja kau jadi kebal dengan cuaca. Padahal lima tahun hidup di kota ini, keluar rumah malam hari tanpa kaos kaki saja sudah bisa membuatmu masuk angin. Lalu kau melanjutkan keluhanmu. Di sana, saat hari kering dan tak ada hujan, seisi kota jadi berdebu. Kau bilang, kotamu dalam masa pertumbuhannya. Seperti anak-anak yang sedang giat-giatnya bergerak, bermain dengan lumpur, dekil, dan malas mandi. Berbeda dengan Jogja yang sudah seperti orang dewasa. Sudah matang. Bersih dan pandai menata diri. Kata-katamu itu justru membuatku jadi ingin cepat-cepat pergi dari sini. Surat lamaran…

Balam Gerbera

Gambar
Yanwar sedang mengetik kata desain mozaik di kolom pencarian google ketika terdengar sebuah jeritan histeris. Jerit panjang ketakutan yang direnggut keluar oleh tangan iblis. Semula ia mengira jeritan itu cuma pikiran saja. Ia belum tidur, dan kadang deru mesin mobil terdengar seperti guntur. Namun teriakan histeris itu terdengar lagi. Kali ini Yanwar percaya pada telinganya. Ia bangkit dan menyingkap tirai jendela besar yang menghadap gereja. Jalanan masih sepi. Toko kembang di samping kiri dan kanan masih tutup. Dinding polos pagar gereja pucat kedinginan. Jeritan itu tak terdengar lagi. Ia kembali melirik ke arah pagar gereja yang bergeming. Putih. Ia tak mendengar bisikan-bisikan hantu di situ. Tak ada bisikan apapun. Padahal selama ini ia selalu mendengar bisikan-bisikan hantu di dinding. Ia yakin setiap bidang dinding menjadi rumah bagi hantu-hantu. Seperti pohon-pohon besar yang disembah. Seperti sebuah tikungan yang diberi sesajen atau danau gelap yang kerap menelan bocah.
Dind…

random#9

Lebaran dua hari sudah lewat dan Jogja masih cukup menyenangkan untuk berkendara (jalanan masih sepi). Satu-satunya hal yang belum tercapai adalah mengisi hari raya saya dengan satu scoop ice cream. Oke lupakan.

Dulunya saya menjadwalkan tulisan random diposting pada setiap hari senin. Namun karena hari libur saya bergeser ke hari Rabu dan Minggu, jadi saya pun akan memposting tulisan random pada hari Minggu. Itupun kalau ada hal random yang perlu diposting. Omong-omong saya juga mulai memposting lagi cerita bersambung Amphibi. Kemudian atas saran dari mbak Yenni Hamida, saya mengganti nama pil yang wagu itu, dari limp menjadi manna. Pilihan memakai kata manna sih dari saya sendiri, namun dari dulu nama limp untuk pil itu kurang okay.Supaya lebih bernuansa kitab suci, kamp tempat makan mereka diberi nama Salwa.

Tidak terasa sudah satu tahun berlalu dan anehnya saya masih memikirkan lanjutan cerita ini.


Bagi yang mampir ke sini dan masih merayakan Lebaran, selamat lebaran...


Amphibi; chapter 17

Gambar
chapter 17
Tempat tinggal yang ditunjukkan Sadri adalah sebuah ruangan yang sedikit lebih kecil dari kamar hotel Tuan Krol. “Ini masih tergolong bagus,” ujar Sadri. “Yang lebih buruk dari ini juga masih banyak. Kamar mandinya masih bagus dan jalan ke Salwa tak begitu jauh. Kamu tak akan kesulitan mendapat makanan.”
“Tempat ini sudah sangat bagus. Yang terpenting buatku adalah menemukan jalur tercepat ke rumah Lagne.” Bertahun-tahun tidak menetap membuatku tak terlalu memperhatikan tempat tinggal. “Tapi terima kasih,” kataku cepat-cepat. 
“Sebentar, aku lupa nama tempat kita bisa mendapat makanan.”
“Salwa” jawab Sadri, kemudian aku membiarkannya pergi. 
SALWA adalah satu dari lima titik yang menjadi tempat untuk mendapat makanan. Kota ini lebih mirip barak pengungsian yang sangat besar. Mungkin ada hubungannya dengan kepunahan penghuni pertama. Di kota ini kontrol Kilma juga jauh lebih besar.
Barang-barang telah kupindahkan ke dalam lemari. Berkas yang diberikan Lagne kuperiksa kembal…

MONSTER

Tanah ini berkapur. Tergenang sisa hujan di balik semak belukar. Tiap kali melangkah telapak kakinya terhisap sesaat. Setiap langkah menghasilkan suara seperti tercekat. Sepatunya hilang entah di mana. Ia sudah menyerah untuk mengingat. Saat ini ia cuma mengikuti naluri. Berjalan membuntuti bekas-bekas samar pada semak belukar. Mungkin bekas hewan liar. Tapi, pikirnya, jalan ini pasti berujung di suatu tempat. 
Saat genangan ini berakhir, tanah lembab yang ia pijak terasa empuk oleh tumpukan daun-daun yang telah membusuk. Ranting-ranting menggores telapak kakinya, namun yang ini pun tak bisa ia rasakan. Kakinya kebas sampai ke mata kaki. Ia mendongak, memeriksa posisi matahari. Saat ini mungkin sekitar pukul sepuluh pagi. Atau pukul tiga sore? Ia tak yakin. Udara lembab di sekitar memberi sedikit ketenangan sementara ia melangkah. 
Ia memeriksa pakaian yang ia kenakan. Celana panjang dengan bekas tumpahan cat di bawah lutut. Yakin masih mengenakan celananya sendiri. Kemudian kaos tanpa …