Postingan

Tatapan Yang Lain

Gambar
I

Perempuan itu menatap saya dengan cara yang berbeda. Ia menatap saya seperti ibu saya menatap saya. Bahkan ayah dan kakak saya pun tak akan sanggup menatap saya seperti itu. Apalagi oleh ibu-ibu tiri saya. Karena ibu saya sudah lama sekali meninggal, maka sudah lama sekali saya tidak mendapat tatapan dengan cara itu.

Ah, mungkinkah perempuan itu memang diciptakan oleh Tuhan untuk saya? Seperti yang diyakini orang-orang kalau perempuan diciptakan dari tulang rusuk laki-laki, mungkinkah perempuan itu dahulu diciptakan dari tulang rusuk saya?

Sebenarnya saya takut meyakini kalau perempuan memang diciptakan dari tulang rusuk laki-laki. Selalu saya hati-hati dengan apa yang saya yakini. Meskipun saya diharuskan percaya, tapi seringkali kepercayaan itu hanya mengecewakan orang seperti saya ini. Lihat saja bagaimana ayah saya menikahi banyak perempuan. Tak jelas jumlahnya sudah selusin ataukah lebih. Mestinya tulang rusuk ayah saya sudah tidak ada lagi yang sisa jika digunakan untuk menci…

Collective Storytelling

Gambar
Saya dihubungi Kenta dua hari sebelum saya pulang ke Lombok bulan Juli kemarin. Oleh salah satu temannya di New York, dia mendapat tawaran untuk berpameran dan mengadakan pemutaran film di sebuah artspace bernama Synesthesia. Tentu saja langsung saya iyakan. Setelah mendapat gambaran seperti apa tempat pameran ini kelak dan hal-hal yang berhubungan dengan pengiriman karya, saya pun berpamitan dan mudik gembira dengan bis patas. Omong-omong, ini pertama kalinya saya mencoba bis patas dan nyebrang Surabaya-Mataram. Biasanya saya naik bis yang mampir ke Bali dulu, baru kemudian nyebrang ke Lombok.

Seperti yang saya ceritakan di sini, acara pameran Silaturrasa berjalan lancar.

Saat kembali ke Yogya, saya lumayan tergesa-gesa. Saya juga tidak jadi mengadakan kopdar dengan dua orang blogger di Surabaya (mungkin lain waktu 😁). Alasannya, pertama saya mengejar persiapan untuk pameran ini, ke dua; badan kurang fit, dan tentu saja waktu kapal merapat dengan waktu keberangkatan bis DAMRI Tanju…

Rindu Lindu

Gambar
Judul: Rindu Lindu: Kumpulan Cerita Pendek
Penulis: Lalu Abdul Fatah
Diterbitkan Secara Indie
Cetakan Pertama, Juni 2019

Saya kenal penulisnya karena satu sekolah saat SMP dan SMA. Saat itu Fatah juga sudah aktif menulis, dan seingat saya waktu SMA, cerita pendeknya pernah menghiasi sebuah majalah dakwah (saya lupa-lupa ingat, itu majalah beredar secara nasional atau daerah). Sekitar tiga atau empat tahun lalu, saat pulang kampung, saya sempat membaca ulasan travelingnya di sebuah  majalah langganan kakak saya. Saya agak-agak ketinggalan berita kalau dia sudah menerbitkan 3 buku solo dan 15 antologi. Saya bahkan baru tahu kalau dia masih aktif di dunia blog: Setapak Aksara.

Well, buku terbarunya yang berjudul Rindu Lindu ini mengambil momen kejadian gempa di Lombok kemarin. Cerpen yang berjudul sama dengan buku kumcer ini menjadi cerpen pembuka dan cukup singkat. Tentang seorang bayi yang ditemukan di antara akar pohon asam yang tumbang. Di tengah kegusaran orang-orang yang berusaha meny…

Silaturrasa

Gambar
Ide mengadakan pameran ini muncul saat kami berbenah untuk menutup pameran URES di Tembi. Mengingat pameran kami saat itu cukup diapresiasi, dan mengingat SakArt adalah perkumpulan perupa yang berasal dari Lombok, kami pikir bakal seru juga untuk mengadakan pameran di kampung halaman.

Ini kali keduanya saya berpameran di Lombok. Sekitar tiga atau empat tahun lalu, kami juga ikut rangkaian acara festival budaya. Pameran kami adakan di lantai dasar Lombok Epicentrum Mall. Saat itu keinginan saya untuk mendokumentasi belum seperti sekarang--masih dipusingkan dengan urusan kuliah. Dua lukisan yang saya pamerkan saat itu adalah lukisan tugas, yang satunya berjudul "Pisau" (kalau di tugas seni lukis judulnya "bimbang"), dan yang satunya lagi berjudul "Kelingking".

Kali ini kami berpameran di Taman Budaya NTB.


Sama seperti pameran di Tembi, apresiasi masyarakat atas pameran ini juga lebih dari yang kami harapkan.





Kami juga mendapat tawaran untuk mengadakan pame…

Dewa Kecil Kami

Gambar
Kami adalah manusia-manusia kerdil yang hidup di daerah terpencil. Tempat yang  mudah diabaikan orang saat membuka peta. Tak hanya orang-orang saja yang mengabaikan kami, tapi juga para dewa. Setidaknya, kami punya dewa kami sendiri. Dewa kecil.

Dewa ini kami sembah setiap pagi. Ia bersemayam pada gunung batu di sebelah utara desa. Mungkin bagi orang-orang besar gunung batu itu cuma bukit kecil saja. Tapi itu tak mengapa. Kami akan tetap datang membawa sesembahan setiap pagi kepada dewa kecil kami.

Pernah aku bertanya, mengapa dewa kami cuma kecil saja? Kutanyakan ini kepada Teutua, laki-laki yang kami percaya untuk memimpin upacara persembahan. Kata Teutua, “Tentu saja dewa kita harus kecil. Karena yang diurus orang-orang kerdil maka ia tahu betul kebutuhan-kebutuhan kita. Kalau Dewa-Dewa Besar yang kita sembah, mereka tak akan mengerti persoalan-persoalan kecil kita. Mereka hanya mengerti persoalan-persoalan besar dan hanya mendengar keluhan orang-orang besar.”

Saat kutanya, apakah…

One Step Forward

Gambar
Waktu itu saya lagi bosan-bosannya menunggu cerpen yang saya kirim ke media massa dimuat. Saya lagi mirip-miripnya dengan si "aku" dalam novel Lapar, Knut Hamsun; menolak pekerjaan lain sebelum mendapat penghasilan dari menulis. Namun rasa lapar saya yang menang. Terlebih lagi saya tidak sebebas si 'aku'. Saya masih terikat sebagai mahasiswa semester akhir di ISI dan saya pikir waktu itu, mungkin bekerja sampingan di sebuah restoran akan membuat tulisan saya kelak lebih menarik. Apalagi Via-Via restauran kerap menjadi tempat bagi seniman-seniman lokal menguji karya mereka. Pada dinding cafe, sepanjang tahun, terpajang karya lukis atau fotografi. Sejumlah event kesenian di Yogya juga bekerja sama dengan Via-Via.

Anyway, itu tahun 2015. Setelah itu ketertarikan saya ke seni bercerita juga mulai saya kolaborasikan dengan tugas akhir. Bahkan sampai ada rencana untuk melaunching buku saya di sini. Kebetulan, chef yang memegang cooking class di Via-Via masih keluarga istr…

Memasang Jaring Di Pohon Asam

Gambar
Sekitar seminggu sebelum ibu saya meninggal, sebuah pohon asam di sawah kami tumbang karena hujan lebat dan badai. Itu tahun 2009 dan saya masih di Jogja. Saat kembali ke Lombok, saya mendapat cerita dari kakak kalau debum keras saat pohon itu tumbang terdengar sampai ke kampung-kampung sekitar.

Karena rumah kami di Pancor cukup jauh dari sawah (terpisah satu kecamatan), tumbangnya pohon asam itu diketahui keluarga saya esok hari. Ibu saya waktu itu masih cukup sehat untuk mampir dan melihat pohon asam yang tumbang. Batang kayunya seperti raksasa yang terbaring di antara belukar dan pohon-pohon lain yang lebih kecil.

Pohon asam ini sudah melekat dalam ingatan saya sejak masih anak-anak. Seperti pohon dari alam dongeng yang kita ingat sewaktu-waktu saat mendengar sebuah cerita. Pohon itu sudah tak ada di sana, namun dalam alam pikiran saya akan langsung saya ingat tiap kali mendengar kata "pohon asam". Begitu juga dengan kata "cerita", serta-merta yang saya ingat a…