Postingan

Belah Diri

Gambar
Ia saya jumpai lagi termenung sendiri di pasar malam. Melamun di antara bocah yang berlarian dengan kembang gula di genggaman. Seperti penyihir murung, ia menjaring satu-dua kata yang melayang di sekitar. Kata tentang tawa anak-anak. Kelap-kelip lampu dari kereta kuda yang berputar. Lalu kehangatan yang menjadi selimut bagi pasangan yang lalu-lalang berpelukan. Saya hampiri ia dan bertanya, “Kenapa Nona terlihat murung? Malam ceria begini, tapi wajah Nona seperti tangis hujan yang salah musim.”

Ia tersenyum dengan garis bibir yang masih melengkung murung. “Mungkin karena saya ini puisi,” jawabnya.

Kata-kata yang telah ia jaring ia bacakan sambil kami berjalan bersisian. Tanah di pasar malam itu kering. Meski tak terang, saya dapat melihat kakinya yang tak bersepatu dipupur debu. Kata-katanya terdengar manis sekaligus muram. Seperti petikan gitar yang berdenting menyanyikan kesunyian. Aroma manis dari stand roti bakar. Gerung mesin bianglala. Teriak jemu sekaligus senang dari penumpa…

Hujan-Hujan Gula-gula!

Gambar
Kami mengenal seorang laki-laki yang bisa menurunkan hujan gula-gula di depan jendela. Ketika hari-hari begitu kecut, kami memanggilnya. Atau pada hari-hari pahit di pertengahan musim panas, kami akan memanggilnya. Kadang tak perlu dipanggil laki-laki itu datang sendiri dan melakukan ritual di depan jendela. Hujan gula-gula turun. Semua orang senang. Semua orang mencintai laki-laki itu.
Ia hampir tidak pernah menolak jika diminta menurunkan hujan gula-gula. Aku sendiri tidak ingat kapan ia pernah menolak. Kami bisa saja memintanya menurunkan hujan gula-gula setiap hari untuk sekedar menyenangkan hati. Namun, seperti yang dikabarkan di tv dan surat kabar, terlalu banyak gula tidak baik. Orang-orang akan menderita kencing manis. Dan yang paling kami takutkan adalah kencing manis yang bisa membuat manusia buta. 
Kami tidak kuatir soal rasa kencing yang menjadi manis. Toh kami tidak meminum air kencing. Kecuali orang-orang dari Selatan yang pernah kami
dengar suka meminum kencing mereka s…

Email Dari Jogja

Gambar
Dua bulan setelah mengantarmu ke stasiun dan melihatmu menghilang sambil nyengir melewati petugas jaga stasiun, aku kembali ke stasiun itu. Aku membaca email yang kau kirimkan sebelumnya. Soal keluhanmu dengan kota B yang ternyata jauh lebih semrawut. Lalu jalannya yang masih banyak berlubang. Kalau hujan turun, kau dan orang-orang yang bekerja di sana harus berjalan di atas lumpur. Hanya dalam waktu satu bulan saja kau jadi kebal dengan cuaca. Padahal lima tahun hidup di kota ini, keluar rumah malam hari tanpa kaos kaki saja sudah bisa membuatmu masuk angin. Lalu kau melanjutkan keluhanmu. Di sana, saat hari kering dan tak ada hujan, seluruh kota jadi berdebu.


Kau bilang, kotamu dalam masa pertumbuhan. Seperti anak-anak yang sedang giat-giatnya bergerak, bermain dengan lumpur, dekil, dan malas mandi. Berbeda dengan Jogja yang sudah dewasa. Sudah matang. Bersih dan pandai menata diri. Kata-katamu itu justru membuatku jadi ingin cepat-cepat pergi dari sini. Surat lamaran kerja yang kus…

Balam Gerbera

Gambar
Yanwar sedang mengetik kata desain mozaik di kolom pencarian google ketika terdengar sebuah jeritan histeris. Jerit panjang ketakutan yang direnggut keluar oleh tangan iblis. Semula ia mengira jeritan itu cuma pikiran saja. Ia belum tidur, dan kadang deru mesin mobil terdengar seperti guntur. Namun teriakan histeris itu terdengar lagi. Kali ini Yanwar percaya pada telinganya. Ia bangkit dan menyingkap tirai jendela besar yang menghadap gereja. Jalanan masih sepi. Toko kembang di samping kiri dan kanan masih tutup. Dinding polos pagar gereja pucat kedinginan. Jeritan itu tak terdengar lagi.

Ia kembali melirik ke arah pagar gereja yang tak bergeming. Putih. Ia tak mendengar bisikan-bisikan hantu di situ. Tak ada bisikan apapun. Padahal selama ini ia selalu mendengar bisikan-bisikan di dinding. Ia yakin setiap bidang dinding menjadi rumah bagi hantu-hantu. Seperti pohon-pohon besar yang disembah. Seperti sebuah tikungan yang diberi sesajen atau danau gelap yang kerap menelan bocah.

Dind…