Postingan

Dosa Kita Semua

Judul: Dosa Kita Semua Penulis: Motinggo Busye Penerbit: Balai Pustaka Cetakan VI 2001

Cerita ini dibuka saat Wahab masih berada di atas kapal. Sambil menunggu ijin merapat dari syahbandar, Wahab sempat berbincang dengan sang kapten kapal, Berek Kandilla. Begitu tahu kalau Wahab telah meninggalkan rumahnya tanpa kabar selama dua tahun, sang kapten menasihatkan begini, 

“Kalau kau akan berangkat meninggalkan istri, janganlah terlalu lama. Kalau lebih dari 40 hari, taruhlah abu di sekeliling tempat tidurnya.”

Kata-kata dari Berek Kandila sempat membuat Wahab khawatir, “tetapi istri saya perempuan yang setia,” balas Wahab. Saat kapal itu merapat, Wahab langsung menuju rumahnya di balik Gunung Kunyit dan menemukan pada gerbang rumahnya terpasang rumah ini dijual.

Akhirnya ia terpaksa menginap di hotel dan lagi-lagi bertemu dengan Berek Kandilla. Kapten yang telah melaut selama dua puluh tahun, dan sambil meramal sendiri kondisi kapalnya, ia mengatakan kalau kapalnya rusak banyak, dan Wahab menda…

chapter 16: Amphibi

Chapter 16
“Semalam saya mengunjungi pusat kota,” kataku pada Lagne. Ia baru saja memberitahuku kalau ia perlu menunda sementara penelitiannya mengenai amphibi. Sepertinya surat dari Filo sangat mempengaruhinya. “Aku baru tahu kalau masih ada sebuah pohon besar yang tumbuh di sekitar sini.”
“Pohon itu menjadi magnet pertama yang membuat orang-orang dulu berdatangan.” ujar Lagne. “pastinya kamu juga sempat melihat prasasti di sana. Benda itu sudah lama di sana sebelum orang-orang gelombang pertama datang kemari.”
“Saya mendatanginya malam hari,” kataku. Di bawah temaram lampu tak banyak yang dapat kulihat. “Menurut Anda apa artinya?”
“Tempat ini pernah menjadi semacam pusat ilmu pengetahuan. Kemungkinan semacam laboratorium.” Kilma menunjuk ruangan tempat tinggalnya. “Kamu pasti sempat melihat jam dinding besar di sana.”
“Ya! Jam itu sangat terawat sekali. Saya tidak mengerti mengapa waktu begitu penting di sini.”
“Di manapun waktu itu penting,” balas Lagne. “Aku tidak tahu apakah kita…

Belit Belukar

Semula ia kira pohon itu pohon dalam mimpi. Dahannya meninggi. Rerantingnya menggapai-gapai daun yang menggeletar dari biru ke hijau, hijau ke biru. Jika ia terus membuka matanya, daun-daun di atas sana seperti terhenti. Tetapi nyeri di punggungnya akan menjalar lari dari pinggang ke pundaknya, sampai ke kepalanya dan ia mulai menjerit. Tak ada suara. Hanya belukar dan pakis yang berbisik bersama angin.  Tangannya meremas tanah. Kemudian terkapa-kapa ia mencari akar kayu agar bisa berdiri. Namun ia tak bisa berdiri. Tulang-tulangnya patah dan ada luka memanjang dari lutut ke pahanya. Tulang kering kaki kirinya mencuat keluar seperti ujung runcing patahan ranting meranti. Ia berhasil bersandar di akar pohon. Menonton darahnya yang mengental di celah luka. Tak jauh dari tempatnya, ada dua tubuh manusia lain yang terbaring. Satunya memeluk senapan dengan kepala berlubang. Satunya lagi telungkup dengan luka menganga di punggung. Kepalanya terteleng, dengan mata yang masih terbuka. Jejak k…

Chapter 15

chapter 15
Terdapat sebuah jam besar di pusat kota. Terpasang pada sisa sebuah bangunan yang setengah hancur. Terletak di tengah-tengah persimpangan dengan taman kecil yang mengitari. Kilat yang terpantul dari jam dinding besar itu menandakan kalau benda itu sangat terawat. Kubayangkan ada petugas seperti Sadri yang rutin merawatnya setiap hari. Kukitari tempat ini sebentar untuk mencari semacam prasasti. Tak ada lempengan tertulis yang menjelaskan, kecuali sebuah relief yang nampak lebih baru daripada bangunan tempat jam itu terpasang. Sulit mengenali gambar apa yang tercetak disitu di bawah temaram lampu seperti ini. Aku hanya bisa mengenali figur-figur hewan yang terlihat berebut merangkak keluar dari genangan air. 
Sudah berhari-hari aku di Q, namun baru sekarang menyadari kalau ada tempat semacam ini. Aku memasuki taman kecil yang mengitari puing bangunan tersebut. Tetumbuhan yang nampak keemasan di bawah sinar lampu. Aku nyaris kehilangan nafas saat menyadari sebuah pohon yang…

random #8

Salah satu hal yang belum bisa saya pecahkan mengenai blogging adalah ketika berurusan dengan font. Posting-posting tertentu yang saya copy dari tulisan lama (dalam rich text format) akan berwujud huruf yang lebih kecil.

Hm...

S

Belakangan, ia jadi tahu kalau nama perempuan babu itu adalah Maisun. Pertama kali bertemu dengannya saat Maisun membuka pintu untuk Pat. Ditatapnya Pat seolah ia datang hendak mengemis ke rumah itu. “Lewat sini!” katanya, dalam nada seperti perintah kepada anak anjing yang tak bisa diam. Pat mengekori Maisun lewat pintu samping. “Gerbang depan itu cuma untuk tamu Tuan Besar!” tambah Maisun. Pintu samping itu seperti gang tikus. Diatapi seng plastik berwarna hijau, yang membuat gang itu berpendar dalam warna kehijauan.
Maisun membuka satu lagi pintu terali besi, dan di balik pintu itu, mereka memasuki taman yang cukup luas. Kolam kecil dengan air mancur dan ikan nila yang mondar-mandir di dalamnya. Sebuah pohon kamboja merunduk dari sudut halaman. Pat hampir terjengkang ke dalam kolam saat melihat wanita yang disangkanya patung porselain tersenyum ke arahnya. Wanita itu mengenakan kimono longgar berwarna putih. Saat Pat akhirnya duduk, ia bisa melihat urat kebiruan seperti akar pakis …

Brainwashing

Judul: Brainwashing, Ilmu tentang Pengendalian Pikiran Penulis: Kathleen taylor Penerbit: Pustaka Baca Cetakan I 2010 637 Halaman
Bapa Francis Luca, adalah salah satu misionaris katolik yang tertarik dengan China, tinggal di China dalam lingkungan yang hanya mengakui satu doktrin bahwa komunis adalah benar. Salah satu kesalahan yang membuatnya kemudian tertangkap adalah karena ia menjalin hubungan dengan Bapa C yang terlibat dalam gerakan anti komunis.
Di dalam tahanan Bapa Luca menempati sel bersama tahanan lain yang diwajibkan untuk “memerangi” Bapa Luca melalui serentetan pertanyaan dan penghakiman. Serta mengkritisi setiap hal yang dilakukan Luca. Selain itu ia juga harus menghadapi interogasi yang disertai siksaan yang memanfaatkan rasa kantuk (ia dilarang tidur), kaki yang dirantai seberat 10 kg dan lengan yang terbelenggu, serta deraan fisik jika jawabannya tak sesuai dengan yang diinginkan oleh para interogator. Ia kemudian bebas dari siksaan semacam ini setelah membuat pernyat…