Postingan

Dewa Kecil Kami

Gambar
Kami adalah manusia-manusia kerdil yang hidup di daerah terpencil. Tempat yang  mudah diabaikan orang saat membuka peta. Tak hanya orang-orang saja yang mengabaikan kami, tapi juga para dewa. Setidaknya, kami punya dewa kami sendiri. Dewa kecil.

Dewa ini kami sembah setiap pagi. Ia bersemayam pada gunung batu di sebelah utara desa. Mungkin bagi orang-orang besar gunung batu itu cuma bukit kecil saja. Tapi itu tak mengapa. Kami akan tetap datang membawa sesembahan setiap pagi kepada dewa kecil kami.

Pernah aku bertanya, mengapa dewa kami cuma kecil saja? Kutanyakan ini kepada Teutua, laki-laki yang kami percaya untuk memimpin upacara persembahan. Kata Teutua, “Tentu saja dewa kita harus kecil. Karena yang diurus orang-orang kerdil maka ia tahu betul kebutuhan-kebutuhan kita. Kalau Dewa-Dewa Besar yang kita sembah, mereka tak akan mengerti persoalan-persoalan kecil kita. Mereka hanya mengerti persoalan-persoalan besar dan hanya mendengar keluhan orang-orang besar.”

Saat kutanya, apakah…

One Step Forward

Gambar
Waktu itu saya lagi bosan-bosannya menunggu cerpen yang saya kirim ke media massa dimuat. Saya lagi mirip-miripnya dengan si "aku" dalam novel Lapar, Knut Hamsun; menolak pekerjaan lain sebelum mendapat penghasilan dari menulis. Namun rasa lapar saya yang menang. Terlebih lagi saya tidak sebebas si 'aku'. Saya masih terikat sebagai mahasiswa semester akhir di ISI dan saya pikir waktu itu, mungkin bekerja sampingan di sebuah restoran akan membuat tulisan saya kelak lebih menarik. Apalagi Via-Via restauran kerap menjadi tempat bagi seniman-seniman lokal menguji karya mereka. Pada dinding cafe, sepanjang tahun, terpajang karya lukis atau fotografi. Sejumlah event kesenian di Yogya juga bekerja sama dengan Via-Via.

Anyway, itu tahun 2015. Setelah itu ketertarikan saya ke seni bercerita juga mulai saya kolaborasikan dengan tugas akhir. Bahkan sampai ada rencana untuk melaunching buku saya di sini. Kebetulan, chef yang memegang cooking class di Via-Via masih keluarga istr…

Memasang Jaring Di Pohon Asam

Gambar
Sekitar seminggu sebelum ibu saya meninggal, sebuah pohon asam di sawah kami tumbang karena hujan lebat dan badai. Saya masih di Jogja waktu itu. Saat kembali ke Lombok, saya mendapat cerita dari kakak kalau debum keras saat pohon itu tumbang terdengar sampai ke kampung-kampung sekitar.

Karena rumah kami di Pancor cukup jauh dari sawah (terpisah satu kecamatan), tumbangnya pohon asam itu diketahui keluarga saya esok hari. Ibu saya waktu itu masih cukup sehat untuk mampir dan melihat pohon asam yang tumbang. Batang kayunya seperti raksasa yang terbaring di antara belukar dan pohon-pohon lain yang lebih kecil.

Pohon asam ini sudah melekat dalam ingatan saya sejak masih anak-anak. Seperti pohon dari alam dongeng yang kita ingat sewaktu-waktu saat mendengar sebuah cerita. Pohon itu sudah tak ada di sana, namun dalam alam pikiran saya akan langsung saya ingat tiap kali mendengar kata "pohon asam". Begitu juga dengan kata "cerita", semerta-merta yang saya ingat adalah k…

Pil Penua

Gambar
Ada yang menakutkan pada laki-laki itu. Entah senyumnya yang serba tahu, entah usia tuanya yang melampui seratus tahun, atau  pakaiannya yang selalu putih bersih; seolah ia membeli satu setel pakaian baru setiap hari sebelum naik bis. Mungkin juga karena rambutnya yang seputih kapas itu. Ia takut, namun tak bisa tidak, ia selalu mencuri lihat ke arahnya tiap kali naik bis ini.          Kini kursi di sampingnya kosong dan pria renta itu sudah duduk di sana. Tersenyum. Hanya ada satu gigi yang menggantung. Terkekeh. Merasa terpojok, ia melihat ke luar jendela. Sore itu jalanan ramai seperti biasa. Wajah-wajah pengendara motor yang kelelahan dan kusut di luar semakin membuat tak enak perasaan. Akhirnya ia melihat ke arah atap-atap ruko. Burung-burung terbang melingkar, seorang wanita gemuk mengangkut jemuran yang berjejer di balkon. Papan-papan reklame yang memerah bersama  sore.
     "Selalu saja sama, eh?” kakek itu bersuara.          Dari berkas pantulan wajahnya di kaca jendela…

Mimpi Meteor

Gambar
Sejak rutin mendapat mimpi ini tiap malam, ia seperti menjalani dua kehidupan. Hari itu dia baru saja bertengkar dengan Rukmi, gara-gara ia dipecat lagi. Sudah lima kali ia dipecat dalam setahun. Ibunya, mengabaikan pertengkaran itu, menyarankannya untuk mempersunting gadis saja. Sudah saatnya dia menikah. Kata ibunya, tak usah mengkhawatirkan rizki dari Tuhan. Setiap orang sudah dikasih jatah rizki. Menambahkan satu lagi orang ke rumah ini akan menambah jatah rizki mereka dari Tuhan.         Tak tega meneriaki ibunya, ia langsung ke kamar tidur. Menghempaskan diri di atas kasur. Berharap jatuh ke alam mimpi secepat mungkin. Saat terbangun, hari sudah cukup siang. Ia mendapati rumahnya sepi. Cepat-cepat ia mandi, takut terlambat. Tapi kemudian ia langsung ingat kalau baru kemarin ia dipecat.       Tak ada siapa-siapa di rumah. Rukmi mungkin sudah berangkat kerja ke pabrik sepatu. Ibunya mungkin sudah berangkat ke rumah Haji Sunar. Di meja dapur tidak terhidang apa-apa. Ia agak jengke…

Graha Pustaka, Erich Fromm dan Joseph Freiherr Von Eichendorff

Gambar
Saya lupa tanggal berapa. Sepertinya tiga hari usai tahun baru, saya mencoba menjalani hari di Jogja seperti turis. Bersepeda lumayan jauh sambil menikmati jalanan yang ramai. Tujuan saya datang ke perpustakaan ditemani maksud lain, yaitu membaca lagi bukunya Erich Fromm.

Saya juga perlu mengambil foto untuk buku-buku yang pernah saya review. Beberapa waktu lalu, saya membuka-buka album picasa dari akun google saya. Foto-foto lama sewaktu di Pare dan sewaktu mengganti laptop rupanya masih ada. Kemudian ada juga sejumlah ilustrasi yang saya kerjakan sewaktu masih bekerja di warnet. Sebagian foto itu saya unduh sementara foto ilustrasi yang terunggah double saya hapus untuk menambah ruang penyimpanan (saya tidak begitu mengerti mengapa ada yang tersimpan lebih dari satu). Sayangnya, ketika menghapus salah satu ilustrasi itu, tahu-tahu seluruh album terhapus. Secara otomatis semua gambar di blog ini pun terhapus.

Akhirnya saya punya pekerjaan ekstra untuk meng-upload foto-foto buku itu …

Suatu Hari Tanpa Cerita

Gambar
Suatu hari aku terbangun tanpa cerita. Tidak ada kata-kata. Tidak ada apa-apa. Aku juga mulai membenci kamarku yang berantakan. Aku mencoba merapikannya. Meletakkan barang-barang itu ke tempat seharusnya. Menyapu kamarku untuk kali pertama dalam tiga bulan terakhir. Tapi saat semuanya sudah rapi, kamar ini semakin sepi. Akhirnya kubuat semuanya berantakan lagi. majalah-majalah itu. guntingan-guntingan koran itu. buku-buku itu. pallet itu. cat air itu. kuas-kuas itu. kertas-kertas itu. aku tidur di atasnya.

Kemudian aku meraih pensil dan mulai menulisi dinding kamarku. Tidak ada yang bisa kutulis. benar-benar tak ada cerita. Ribuan hal berlarian di benakku, hanya saja aku tak dapat menulisnya. Mereka berkelebat tanpa nama. Akhirnya aku menggambar rumah, menggambar rumah, menggambar rumah, menggambar rumah. kemudian menggambar perahu. menggambar diriku. menggambar kucing itu. menggambar malam-malam itu. dinding kamarku jadi terlihat kumuh.






nb:
Ini postingan lama (mungkin sekitar tahun …