Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2010

Apakah Tuhan Pernah Tertawa?

Dari segala hal yang bisa dilakukan Tuhan, tentu tertawa adalah salah satunya. Kita percaya bahwa Dia maha kuasa. Kuasa dalam melakukan segala sesuatu. Termasuk tertawa. Tapi, apakah Ia sendiri pernah menyatakan hal ini dalam wahyuNya?
.
Bisakah kita menemukan kata Tuhan yang kemudian diikuti kata verbal ‘tertawa’ dalam kitab-kitab suci?. Atau mungkin pernyataan pribadi semacam….’dan Aku pun tertawa…’ dengan ‘A’ besar baik dalam al-quran, Injil, atau Taurat? Atau dengan ‘D’ besar seperti…”dan Dia pun tertawa…”

tentang waktu

Yang dekat akan jauh dan yang jauh akan dekat
.
Aku ingat dulu sewaktu di bangku MI (madrasah Ibtidaiyah) ada mata pelajaran Khotj, semacam menulis indah kalau di SD. Bedanya, di MI—saat itu—kami menulis kata-kata mutiara atau kutipan hadits yang berbahasa arab serta artinya berulang-ulang. Aku tidak pernah mendapat nilai yang cukup bagus dalam pelajaran ini
.
Meski ibuku memiliki tulisan arab yang bagus dan kakak-kakakku juga, tulisanku sendiri tidak pernah bagus. Hingga di bangku kuliah pun begitu. Dosen al-Hadist saat semester dua kemarin pernah mengembalikan tugasku sambil berkata; “yang tulisannya jelek diketik pakai computer saja…”

tentang pertanyaan dalam hidup

.
Mungkin karena dunia memang dibentuk oleh pertanyaan. Karena ilmu pengetahuan lahir dari rasa ingin tahu. Karena peradaban kita kini juga dibangun di atas beribu pertanyaan. Jika tidak ada pertanyaan, kita tidak akan mencapai apapun hingga saat ini
.
Dan mungkin itu juga alasannya kenapa selalu ada saja pertanyaan yang diajukan orang lain kepada kita. Mulai dari pertanyaan remeh, seperti jam berapa sekarang? Sampai pertanyaan yang bisa membuat kita mendidih, jenis pertanyaan sensitif yang sebaiknya tidak ditanyakan, seperti ‘kapan wisuda?’ ‘sedang sibuk apa sekarang?’, ‘kapan nikah?’. 'kapan punya anak?' Serta banyak jenis pertanyaan lainnya

Terus terang salah satu pertanyaan yang paling ajaib adalah pertanyaan; ‘sedang sibuk apa sekarang?’. Mungkin karena kata ‘apa kabar’ sudah kehilangan makna. Ketika kita menggunakan pertanyaan ‘apa kabar?’ semuanya begitu spontan, dan jawaban yang diberikan seperti ‘baik’, atau ‘biasa aja’, tidak banyak memberikan informasi apa-apa.…