tentang waktu

Yang dekat akan jauh dan yang jauh akan dekat
.
Aku ingat dulu sewaktu di bangku MI (madrasah Ibtidaiyah) ada mata pelajaran Khotj, semacam menulis indah kalau di SD. Bedanya, di MI—saat itu—kami menulis kata-kata mutiara atau kutipan hadits yang berbahasa arab serta artinya berulang-ulang. Aku tidak pernah mendapat nilai yang cukup bagus dalam pelajaran ini
.
Meski ibuku memiliki tulisan arab yang bagus dan kakak-kakakku juga, tulisanku sendiri tidak pernah bagus. Hingga di bangku kuliah pun begitu. Dosen al-Hadist saat semester dua kemarin pernah mengembalikan tugasku sambil berkata; “yang tulisannya jelek diketik pakai computer saja…”


.
Meskipun begitu, aku tidak pernah membenci pelajaran khotj sewaktu MI. I mean, dibanding pelajaran matematika, jauh lebih menyenangkan menghabiskan waktu menulis kata-kata mutiara berulang-ulang. Lagipula biasanya dalam pelajaran ini kami bebas duduk di manapun—kecuali di atas bangku tentunya. Selama kami tidak membuat keributan
.
Kelas ini semacam relaxing, seperti pelajaran menggambar, semua orang sibuk dengan diri mereka sendiri sampai bel berbunyi dan kami boleh pulang. Dari sekian kata mutiara yang pernah kutulis sewaktu MI dulu, satu kata mutiara yang paling kuingat; “yang jauh akan dekat dan yang dekat akan jauh”.Salah satu kata mutiara yang paling aneh
.
Pa’ Rohman, Guru Khotj-ku saat itu menceritakan kalau kata-kata muitara ini menjelaskan cara kerja waktu. Beliau menjelaskan, suatu hari kami akan melihat ke belakang dan melihat masa kanak-anak yang tengah kami alami saat itu akan menjadi ‘sesuatu’ yang jauh
.
Aku ingat sewaktu menuliskan kata-kata mutiara tersebut aku terus memikirkan maksudnya. Aku membayangkan kertas bergaris-garis yang tengah kutulisi, yang begitu nyata di depanku saat itu, suatu hari akan menjadi ‘sesuatu’ yang jauh. Begitu juga dengan teman-temanku di kelas itu, suatu hari mereka akan jauh. Keheningan kelas disaat setiap orang sibuk dengan tulisan mereka, suatu hari juga akan jauh
.
Saat di bangku MI, aku tidak pernah menyibukkan diri memikirkan masa depanku kelak. Seperti apa aku, kuliah di mana, bekerja di mana, kencan dengan siapa, hohoho, nope. Bagiku, setiap hari adalah selamanya! Saat menuliskan kata-kata mutiara itu, aku tidak mencoba memikirkan “yang jauh akan dekat”
.
Aku lebih sibuk dengan hal-hal yang kumiliki saat itu, yang suatu hari akan hilang dan hanya menjadi kenangan dalam pikiranku. Aku lebih takut dengan “yang dekat akan jauh…”
.

Yogyakarta, 17 Juni 2010

Komentar

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. mksh dah kunjungi blog sy mas... slm kenal y...

    komentny dah sy bls.

    blog ini bagus. inspiratif... :)

    by: tongsampah.dagdigdug.com

    BalasHapus
  3. hoho, iya trimaksih sudah berkunjung juga... sering-sering y, heheh

    BalasHapus
  4. hmmm, separah itukah tulisan tanganmu Hud? tulisanku jg ga bagus2 amat kok, tenang aja, ada temennya kamu :D


    mungkin akan lebih menyakitkan bila yang sudah dekat akan menjauh, karena yang jauh kemudian mendekat pastilah hal2 baru..."

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

10 Film Asia yang Tak Terlupakan

Sandikala

Film Korea Yang Layak Kamu Tonton