islam ke?

Salah satu pertanyaan yang paling sering kuajukan saat usiaku 5 tahunan adalah; Islam ke? (apa 4 tahun y? Pokoknya sebelum aku masuk TK).

Saat itu aku sering bingung dengan kata 'Islam'. Apa arti dari kata 'islam' ini sebenarnya? Kemudian ibuku menjelaskan dengan cara yang paling sederhana. Bahwa saat kita mati kelak, kita akan dibagi dalam dua kelompok. Kelompok orang yang masuk surga dan kelompok orang yang masuk neraka.


Mereka yang masuk surga adalah orang Islam. Sementara mereka yang masuk neraka adalah orang-orang kafir, yang non Islam. “Surga itu apa?” tanyaku. Kemudian akupun diceritakan tentang surga ini. Tentang permintaan-pertmintaan yang dengan segera dikabulkan dalam sekejap mata. Tentang semangkok bakso yang akan muncul begitu saja bahkan sebelum kita selesai memintanya. Begitu juga dengan konsep dosa dan pahala.

Saat aku mendengar kata pahala, yang terbayang di benakku adalah semacam snack berbentuk bundar yang sangat besar. Sementara dosa adalah benda besar semacam batu dangan permukaan kasar dan berlubang-lubang. Katanya, pahala dan dosa ini nanti ditimbang. Kalau pahalanya lebih berat, kita masuk surga. Kalau dosanya yang lebih berat kita masuk neraka.

Tapi, katanya, meskipun kita berbuat dosa, selama kita Islam tetap saja kita akan masuk surga. Kita masuk neraka hanya sementara, sampai dosa kita habis. Setelah bersih, kita akan masuk surga dan berkumpul lagi dengan orang-orang yang kita sayangi. Sejak saat itulah aku mulai mengajukan pertanyaan ini; Islam ke? Atau dalam bahasa Indonesia, Islamkah?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut seperti; islam ke bebek ini? Islam ke pohon nangka itu? Islam ke pintu itu? Islam ke jendela itu? Islam ke rumah ini? Hampir segalanya kutanyakan. Segala hal yang melingkupiku saat itu. Tiap kali jawabannya; “Ya, mereka islam,” aku pun merasa lega.
Saat itu adalah saat pertama kalinya aku memahami bahwa dunia ini fana. Bahwa segala hal yang ku miliki saat itu suatu hari akan hilang. Tentu saja aku tidak berpikir serumit ini waktu itu. Aku cuma ingin memastikan apa-apa yang ada di sekitarku akan kutemui lagi kelak di surga.

Segala hal yang ada di sekitarku sudah cukup untuk membuatku bahagia. Keluargaku, rumahku, pohon nangka di halaman rumah kami, pohon jambu yang tumbuh di dekat pagar, serta bebek-bebek peliharaan ayahku.
Konsep surga dan neraka itu kemudian mulai menumbuhkan rasa takutku. Tumbuhnya kesadaran akan rapuhnya kehidupan. Makanya aku mulai menanyakan segala hal yang ada di sekitarku. Islamkah mereka? Apakah aku akan bertemu dengan mereka nanti di surga? Rumah kami? Pintu-pintunya? Jendela-jendelanya? Pepohonannya? Bahkan bebek-bebeknya?

Mungkin karena saat itu aku sudah merasa di surga, dan aku tidak menginginkan apa-apa lagi.

Komentar

  1. wah.... ude jadi religius dan kritis menjelang bulan puasa,,,,hehehehe
    selamat puasa..
    aku pasang link dirimu di blogku ya....
    aku follow juga..kurang baik apa?? hehehehehe


    lanjut nulis, bro!
    http://sketsabajang.blogspot.com/2010/08/saya-tuhan-dan-puasa.html

    BalasHapus
  2. hehehe...
    selamat berpuasa juga.

    saya juga sudah jadi follower di blog saudara. Keep Writing!

    trima kasih atas kunjungannya.

    BalasHapus
  3. hebat euy, masi bocah uda sibuk nanyain soal dosa dan pahala. saya mah umur segitu paling sibuk ngurusin ingus yg keluar masuk. ahhahaha

    tapi pertanyaan yg sama pun slalu terlontar, siapa2 saja kah teman2 saya di syurga kelak? dan ujung2nya saya di tendang dengan pertanyaan "apakah saya akan masuk syurga?"

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

10 Film Asia yang Tak Terlupakan

Sandikala

Film Korea Yang Layak Kamu Tonton