Kamera: Kawan atau Lawan?


pink becak
Sebenarnya aku ingin menjelek-jelekkan kamera dalam tulisan ini. Menjadikannya semacam penjahat dalam beberapa paragraf ke depan.


Namun belakangan aku menyadari keinginan tersebut sebenarnya tumbuh dari dendamku yang belum juga punya kamera. Ugh! (kenapa aku belum juga punya! SIAL!)
Jadi aku akan berusaha senetral mungkin, apakah kamera itu kawan, ataukah lawan?


  • Mengapa kamera itu kawan…
Bagiku, kamera itu kawan yang menyenangkan. Ia lebih dari sekedar mesin untuk mengabadikan momen dalam gambar. Kamera juga tidak cerewet. Ia tidak membuat kuping kita panas oleh cerita yang membosankan. Pada sebuah pesta, atau sebuah acara, aku sering memilih memegang kamera. Ini jauh lebih baik daripada mendengar lelucon hambar dan memaksa kita nyengir.
Oh, ya… dalam keramaian saya ini termasuk autis. Kecuali orang-orangnya sudah saya kenal. Tapi dasar kuper, orang yang saya kenal pun tidak banyak. Akhirnya, kamera adalah kawan terbaik untuk melarikan diri dari kewajiban beramah tamah.
Kamera juga membantu kita menjadi pengamat. Kadang dengan sendirinya, kita lebih merasa menjadi bagian dari suatu peristiwa. Dalam acara kumpul-kumpul, kamera akan menjadikan acara tersebut lebih semarak.
Hal lain yang sangat kunikmati dengan kamera adalah, dibantunya kita untuk melihat segala hal lebih dekat. Pernah aku meminjam kamera temanku selama dua hari. Dengan ajaib, satu hari rasanya berlalu begitu saja. Aku lupa waktu! Pagi-pagi, aku bangun dan jalan-jalan keliling kompleks. Memotret apa saja. Hal-hal yang biasanya kuabaikan tiba-tiba saja menjadi menarik
Memotret kuburan bayi yang sudah tua. Memotret pagar perpus yang dirambati dedaunan. Memotret becak berwarna pink. Memotret seorang anak dengan baju merah, celana kuning, dan sandal hijau....
Segala hal menjadi menarik. Segala hal di sekitar kita seolah-olah bisa bercerita. Inilah ajaibnya punya teman kamera. Kita melihat hal-hal di sekeliling kita dengan cara yang berbeda. Kamera bisa membuat kita melupakan waktu, dan lebih menghayati sekeliling (ruang).

  • Kamera itu Lawan…
Kira-kira satu tahun yang lalu, salah seorang temanku menikah. Acara pernikahannya di Wonogiri, kampung halamannya. Sewaktu aku diajak untuk hadir, aku dengan semangat mengiyakan. Hitung-hitung jalan-jalan dan mengisi akhir pekan.
Kekeliruanku saat itu adalah, aku menyamakan Wonogiri dan Wonosari. (persisnya aku dan seorang temanku yang dari Padang). Yang lebih ajaib, dari enam orang yang berangkat dengan motor pagi itu, tak satupun dari kami yang pernah ke rumah si pengantin. Tidak ada yang tahu persis rumahnya di mana.
Akhirnya, perjalanan memakan waktu lima jam! Di atas motor! Tersesat! Sempat menghindari razia segala, dan berputar-putar di dalam perkampungan yang ndeso….tenan! Aku ingat rumah-rumah joglo itu. Pagar-pagarnya tersusun dari batu granit. Eksotis. Rasanya seperti kembali ke jaman majapahit.
Saat itu, aku sangat menyayangkan ketiadaan kamera. Kalau saja….
Tiba di rumahnya.. acara mantenan sudah bubar. Kalau ada lotere pengunjung paling telat, kami pasti menang! Waktu yang kami habiskan di sana hanya dua jam dan dihabiskan dengan tidur karena kecape’an muter-muter.
Sorenya, kami mampir sebentar ke sebuah danau (waduk gajah mungkur) dan melihat matahari tenggelam. Ini adalah pengalaman pertamaku melihat matahari tenggelam di antara kabut. Semuanya serba jingga, berkabut, anggun dan mistis. Kemudian salah seorang nyeletuk, aku lupa siapa—semoga saja bukan aku—celetukannya: “coba ada kamera!”.
Dan semua keindahan itu pun runtuh begitu saja...
Sebenarnya saat itu ada yang bawa kamera. Si Bowo—mungkin karena namanya bowo, maka diapun mem’bowo’ kamera, hehehe. Namun baterainya sudah habis dan belum di-charge. “Ealaah… mending ga usah dibawa sekalian!”
Akhirnya kami meninggalkan tempat itu dengan sedikit kesal. Aku terutama. Karena tidak mendapat kesempatan mengabadikan sore yang langka itu….
Kamera itu lawan. Karena seolah-olah tanpa kamera pangalaman kita yang luar biasa menjadi tidak berarti. Seolah-olah soreku saat itu tidak berguna tanpa diabadikan. Seolah-olah semuanya sia-sia…
Kamera itu candu. Kita begitu ketagihan. Sampai-sampai dalam acara liburan, kita lebih sibuk mengambil gambar daripada menikmati liburan itu sendiri. Kita lebih sibuk dengan sebuah pembuktian. Dengan gambar-gambar itu, kita hendak membuktikan dan memamerkan ke teman-teman kita kalau kita pernah ke tempat-tempat hebat.
Saat jalan-jalan ke candi Borobudur atau Prambanan, berapa banyak waktu yang kita habiskan untuk mengagumi tempat itu? Kadang tidak sama sekali. Kita cuma berputar-putar sebentar, mengabaikan reliefnya, kemudian mengambil gambar. Tidak. Kita tidak ke situ untuk mengagumi keindahannya. Kadang, bagi kita mereka tidak lebih dari tumpukan batu yang berukir dan tua.
Yang sebenarnya ingin kita lakukan adalah mengambil gambar di situ sebanyak mungkin, kemudian pulang dan menunjukkannya kepada teman kita. Tanpa sadar, kamera justru membuat kita mengabaikan ruang. Kita fokus pada waktu, pada realitas di masa depan, saat kita dengan sombongnya menunjukkan foto-foto tersebut…
Jadi, apakah kamera itu kawan, ataukah lawan?

Komentar

  1. kalau kamera tu kawan, benar tu kmu sendiri dah mengakuinya. tapi kalo dibilang lawan sih kurang bagus coz yg salh kan kamu sendiri, kenapa g' bawa kamera.
    pi tu pengalaman yang bgus juga ya.
    I like it.

    BalasHapus
  2. hehehe.. trims ida...
    kenpa sih namanya dibikin jerink? bangga banget sih? heheh

    BalasHapus
  3. baru baca ini gw ada pemikiran semacam ini. kalo gw, ga semua momen pengen gw abadi'in. misalnya pas acara mantenan. soalnya akhirnya gw malah asik motret, bukannya nyicipin es krim, sate, bakso, plus makanan yang lain-lain. rugi. :)

    BalasHapus
  4. cho@
    hahaha... pan makanannya bisa diamanin dulu. siapkan kresek hitam yang gede..

    btw trims sudah berkunjung ke sini. salam kenal...

    BalasHapus

Posting Komentar