Lawan Dari Takdir


Pertama kali mengenal karya Amy Tan kira-kira dua tahun yang lalu. Pada sebuah pameran di Wanitatama. Persisnya di stand Gramedia. Selain stand Yusuf Agency, stand Gramedia memang menjadi stand wajib kunjung untukku dalam setiap pameran.

Tapi, FYI, di stand ini aku tidak pernah membeli buku, hehehe. Biasanya hanya sekedar melihat-lihat buku keluaran terbaru, atau membaca synopsis-sinopsis buku yang kelihatan menarik. Kalau mau beli, biasanya di Ucup Agency, atau stand lainnya.

Pada sebuah pameran

Kecuali hari itu. Pada pameran itu sesuatu yang ajaib terjadi. Gramedia mengobral sejumlah koleksi dengan harga 6000 rupiah saja. Kyaaaah, hahahaha. Salah dua yang diobral saat itu adalah karya Amy Tan: The Joy Luck club, dan The Kitchen Gods Wife.

Karena aku belum kenal Amy Tan, aku memilih asal saja, dan alih-alih membeli The Joy Luck Club (novel pertama yang mengangkat namanya), yang kubawa pulang hari itu adalah, The Kitchen God’s Wife (Istri Dewa Dapur).

Novel The Kitchen God’s Wife sama sekali tidak buruk. Sontak semingguan kuhabiskan dengan tiduran dan membaca novel ini. Meski diobral seharga lima ribu ternyata novelnya sangat bagus. Belakangan aku baru tahu kalau ternyata Amy Tan adalah salah satu penulis amerika yang sukses. Karya-karyanya pun banyak ditelaah dalam disertasi, thesis, dan kegiatan akademik lainnya.

Orang-orang di Amerika sana, menelaah karyanya sebagai karya penulis keturunan cina-amerika. Termasuk hubungan antara ibu dan anak yang sering ia angkat lewat ceritanya. Well, aku bukan ahli yang memiliki kemampuan dan suka membedah karya orang lain. Aku juga bukan orang Amerika maupun Cina.

Jadi, buku-buku Amy Tan, sepenuhnya kulihat sebagai karya yang asyik dan teman yang menyenangkan untuk menghabiskan waktu. Aku menyukai tokoh-tokoh yang ia hadirkan. Mereka sangat hidup. Hubungan yang terjalin di antara tokoh-tokoh ini terasa sangat nyata. Tentu saja ada humor-humor yang khas di dalamnya.

Intinya, bagiku, Amy Tan adalah seorang pencerita.

Kemudian aku pun memburu buku-buku Amy Tan lainnya. Mulai dari The Hundred Secret Senses, The Bone Setter’s Doughter, dan yang terbaru, Saving Fish From Drowning. Buku-buku ini bisa didapatkan dengan mudah di toko buku. Termasuk Yusuf Agency yang mengobralnya seharga 20 ribu. Hohoho, kalau nanti ada karya terbarunya, dijual mahal di Gramedia pun pasti akan kubeli.

The Opposite of Fate

Sampai sekarang aku belum juga membaca The Joy Luck Club. Kemarin sengaja ke Gramedia tapi ga nemu-nemu juga. Aku ke Shopping center untuk mencarinya di antara tumpukan buku-buku lama, tapi tetap saja tidak ada. Wahai The Joy Luck Club, di mana kah engkau! Baru-baru ini, aku membeli bukunya yang juga sudah cukup lama, The Opposite of Fate.

Berbeda dengan buku-buku lainnya, The Opposite of fate adalah kumpulan tulisan Amy Tan. Terdapat naskah pidato, essay, serta tanggapannya terhadap pemberitaan mengenai dirinya yang terkadang keliru. Buku The Opposite of fate ini tidak kalah menarik.

Bagi para writers wanna be, buku ini dianjurkan. Lebih-lebih kalau kamu sudah membaca karya Amy Tan sebelumnya. Dibading buku-buku metode menulis yang menjemukan, buku ini bisa menginspirasi dengan sendirinya.

Dari buku ini kita jadi tahu bagaimana Amy Tan menggunakan sejarah keluarga, serta pengalaman-pengalamannya dalam berkarya. Kita juga jadi tahu pengalaman-pengalaman serunya sebelum menjadi penulis, serta pengalaman-pengalaman serunya setelah menjadi penulis dan terkenal.

Buku ini ditutup dengan sebuah tulisan mengenai penyakit Lhyme yang ia derita. Penyakit yang cukup langka dan mengakibatkan penderitanya kebingungan. Amy tan sendiri tidak mau menyerah begitu saja dengan diagnosis dari dokter. Maka ia pun menghimpun sendiri informasi mengenai penyakitnya dan menyadari sejumlah kesalahan dalam dunia kedokteran.

Judul buku ini, diambil dari tulisan penutup tersebut; The Opposite of Fate (Lawan Dari Takdir).

Judul: The Opposite of Fate (Lawan Dari Takdir)
Penulis: Amy Tan
Penerbit: Gramedia
Cetakan pertama, Tahun 2006


Komentar

  1. revienya menarik, De
    sebenarnya aku suka buku2 thriller dan suspen kayak John Grisham, Dan Brown, atau Paul Shusman... atau Aghata Cristylah minimal....tapi ini boleh deh dicoba kapan2....


    lanjut review!

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

10 Film Asia yang Tak Terlupakan

Sandikala

Film Korea Yang Layak Kamu Tonton