loq kumbe'ne

Loq kumbe'ne” adalah julukan yang diberikan ibuku kepadaku. Kalau dibahasa-Indonesiakan, secara harfiah berarti: “si kenapa”. Tapi akan lebih tepat kalau diartikan “si tukang tanya.”

Yups, meskipun di luar saya ini tergolong pendiam, di rumah saya malah tergolong cerewet. Terutama saat kecil dulu.

Baiklah, mungkin Anda yang mengenal saya tetap berpendirian kalau sampai sekarang pun saya masih cerewet. Tapi saya sendiri yakin saya ini anak baik-baik yang memang tidak banyak bicara dan ulah. Iya, kan? (mokso.....)



Memangnya kenapa?
Kembali ke julukan tadi. Ibuku kadang menyatakan hal tersebut dengan sedikit jeri. Tiap kali dinasihati atau diberi tahu sesuatu, aku selalu bertanya balik, “kumbe'ne?” yang berarti, “kenapa?”. Pertanyaanku sangat tulus. Tanpa maksud mengerjai atau kurang ajar. Benar-benar lahir dari rasa ingin tahuku. Terlebih lagi banyak nasihat yang terkesan tidak masuk akal.

Aku bertanya, untuk tahu lebih persisnya bagaimana sebuah larangan dibentuk. Tapi kalau orang tua kita sudah ngomong begitu, ya begitu!

Mereka pun tidak salah. Mereka mendengar hal-hal tersebut dari orang-orang sebelum mereka. Larangan aneh seperti: jangan makan pakai cobek! Jangan makan pakai penutup/tutup panci or whatever! Kalau makan, piringnya harus sampai bersih! Jangan sisa!

Saat itu pikirku, memangnya kenapa kalau aku makan di cobeknya langsung? Atau memangnya kenapa kalau makan pakai tutup panci? Kadang malas mengambil piring, dan dalam posisi duduk di dekat panci, aku mengambil tutup panci tersebut dan menjadikannya piring alternatif. Memangnya kenapa kalau makan tidak sampai habis? Kalau sudah kenyang, kenapa harus dihabiskan? Lagipula saat itu kami memelihara bebek. Sisa makanan bisa menjadi makanan para bebek ini.

Jadi nasihat makan sampai bersih agar anak bebekmu tidak mati, kedengarannya tidak masuk akal. Sebuah cara yang berbahaya untuk menakut-nakutiku. Sebenarnya banyak 'kenapa-kenapa' lain yang kuajukan. Makanya aku mendapat julukan “loq kumbe'na” tersebut. 'Kenapa-kenapa' yang lain ini terlalu memalukan untuk diceritakan di sini, dan tulisanku nanti jadi lebih panjang.

Ibu Lasmi.
Lalu, mengapa yang kubahas di sini semuanya menyangkut makanan?
Hmm.. begini, di dekat kosku, pernah ada sebuah warung makan dengan ayam gorengnya yang khas. Diberi bumbu khusus gitulah. Selain gurih, ada semacam aroma jeruk nipis di tepungnya. Ibu Lasmi, nama sebenarnya, adalah pemilik warung tersebut dan telah berjualan puluhan tahun. Dia baru pensiun bulan Mei kemarin dan pindah ke Kalimantan.

Saya adalah langganan paling setianya. Karena dibiasakan makan sampai bersih semenjak kecil, tiap kali makan di warung ini saya selalu makan sampai bersih. Selalu tanpa sisa. Termasuk tulang-tulangnya? Iya! 

Salah satu teknologi memasak di Jogja yang paling saya kagumi adalah teknologi 'presto'. Sering dengar istilah Bandeng Presto kan? Bandeng yang dimasak dengan cara tertentu sehingga tulangnya empuk. Di warungnya Bu Lasmi juga menerapkan teknologi ini. Ayamnya empuk sampai ke tulang. Selesai makan, piringnya sudah dalam keadaan bersih kembali.

Ternyata eh ternyata, Ibu Lasmi merasa tersanjung dengan kebiasaan saya ini. Makan sampai bersih merupakan bentuk penghargaan. Bentuk pernyataan yang jujur bahwa makanan tersebut tidak hanya mengenyangkan, tapi juga membahagiakan. 

Karena kami cukup akrab, Ibu Lasmi pernah bercerita tentang anak kos dekat situ yang makan selalu tidak sisa. Baginya, ini bukan masalah enak-tidaknya masakan beliau. Makan sampai habis ataupun sisa, toh bayarnya tetap sama. Tapi memang bukan di situ masalahnya. Baginya, ini merupakan penghinaan terhadap rejeki yang diberikan Tuhan.

Ibu Lasmi yang sudah bertahun-tahun berjualan tentunya kenal betul harga jerih payah. Kenal betul nilai yang terkandung di balik sebutir nasi. Ia tentu banyak berinteraksi dengan para pedagang di pasar yang sering terpukul dengan harga tak menentu.

Ibu Lasmi yang menggeluti hari-harinya bersama makanan melihat makanan tersebut dengan cara yang berbeda. Makanan yang terhidang di hadapan kita telah melalui perjalanan panjang. Mereka memiliki sejarah tersendiri. Mereka mengalir bersama keringat dan jerih payah banyak orang. Petani, pedagang, penyalur, buruh, dan Ibu Lasmi sendiri yang bangun tiap jam tiga dini hari agar makanan tersebut sudah terhidang pada jam sarapan.

Hanya untuk terhidang di hadapan kita, pagi ini, atau siang ini, atau malam nanti, butir-butir nasi, lauk pauk, sayur, dan daging, telah lebih dulu memulai perjalanan mereka. Mereka harus kebal terhadap hama dan perubahan cuaca. Mereka harus dipanen pada waktunya. Mobil yang mengangkut mereka ke pasar pagi-pagi juga harus sampai di pasar dengan selamat. Sepiring nasi sama sekali bukan masalah sederhana.

Sepiring nasi adalah hidangan Tuhan!

Berdoa sebelum makan
Aku tidak tahu apakah ini berkaitan dengan kebiasaan berdoa sebelum makan yang mulai kita abaikan. Biasanya sih lupa. Aku sendiri—meski makan selalu tanpa sisa—sering lupa berdoa sebelum makan. Padahal dalam doa terkandung rasa syukur. Doa kita mengandung kesadaran bahwa, apa yang terhidang di hadapan kita saat itu merupakan rizki.

Terlebih lagi, kita juga harus bisa mengukur diri. Kalau memang tidak terlalu lapar, ya sudah jangan mengambil nasi segunung. Atau kalau memang belum lapar, jangan makan sekalian! Nanti saja kalau memang sudah lapar.

Apapun, itulah rizkimu. Memakannya sampai habis adalah bentuk rasa syukurmu. Menyisakannya sama saja meremehkan hidangan yang telah diberikan Tuhan hari itu. 

Kalaupun seandainya kamu tidak percaya Tuhan, jawaban logisnya adalah, dengan makan tanpa sisa kita membantu negara miskin ini untuk berhemat. Jika warung kecil seperti warung Bu Lasmi terpaksa membuang satu literan nasi sisa tiap hari, bagaimana dengan warung makan lainnya?

Belum lagi warung makan yang lebih besar. Mungkin untuk wilayah Jogja saja yang terbuang bisa lebih dari satu ton. Bagaimana dengan kota lain di indonesia? Kalikan dengan jumlah hari setahun. Pasti angka yang kita dapatkan sangat mengerikan. Kita membuang begitu banyak pangan gara-gara tidak pandai mengukur diri.

Makanya, saat kecil dulu, kita dibiasakan untuk berdoa sebelum makan. Nasihat agar makan sampai bersih dengan sendirinya berkaitan langsung dengan nasihat berdoa sebelum makan. (adapun mengenai larangan makan pakai tutup panci, bagi saya masih misteri)

Well, namanya juga hidup. Ada waktu-waktu di mana kita akhirnya melihat segala hal sebenarnya saling berhubungan. Waktu-waktu ketika kita berkata, wow! Waktu-waktu ketika kita menyadari bahwa seganjil apapun nasihat orang tua kita dulu, ternyata nasihat tersebut lahir dari proses berpikir yang luhur. 

Sebenarnya inilah saat-saat favoritku. Ketika aku dengan sedikit malu, terkadang harus mengakui bahwa orang-orang sebelum kita sudah memikirkan segalanya terlebih dulu...(dan wow! Ibuku dulu benar!)

Tentu saja kita tetap memiliki pilihan. Pilihan untuk menjadi anak baik-baik dan mendengar nasihat-nasihat tersebut tanpa syarat. Pilihan menjadi anak bandel dengan mengabaikan nasihat tersebut dan menganggapnya ketinggalan jaman.

Namun menurutku yang paling keren adalah mengulangi proses berpikir orang-orang tua kita dulu. Proses berpikir yang membantu kita memahami tempat kita di dunia ini. Membantu kita menyimpulkan potongan-potongan kehidupan yang terlihat terpisah tapi sebenarnya saling menjalin. Proses berpikir yang selalu dimulai dengan satu kata sederhana, “kumbe'ne?”

Komentar

  1. seandainya, menggunakan tutup panci untuk makan menjadi wajar atau dibiasakan.....
    WOW..!!! bisa2 pas para ibu mau menutup pancinya bingung mencari benda/alat alih2 memilih "piring" untuk menutup pancinya?
    jadi, mana tutup panci dan mana piring?

    BalasHapus
  2. hmm.. berarti misterinya terpecahkan..

    hehehehe, dulu bisanya dinasihatin; "kalau makan pakai penutup (tutup panci dsb.)hati kita akan ditutup."

    trims for cropping by brader!

    BalasHapus
  3. "hati kita akan ditutup", alasan yang bisa diterima?

    hehehehe....
    bkeh....(bukankah makna-nya deket2 situ?)

    BalasHapus
  4. iye-iye, maksud aye, dulu sering dikasi tahu, "lamun me' ngadu kekudeng baeh kudeng ne ate me'," gitu katanya bunda.

    and for me it wasn't make any sense at all. tapi jawaban logis saudara di atas bisa menguak sedikit misteri makan pakai tutup panci ini. begitu maksud saya....

    dan siapa tahu masih ada kemungkinan lainnya juga.

    BalasHapus
  5. haha.sama bang..
    aku juga suka banyak tanya, yang jawab sampe bosen, dan akhirnya ga mau jawab pertanyaanku lagi.hohoho..
    tapi kdg emg aku suka tanya yang ga penting sih.haha

    BalasHapus
  6. Yen@
    hohoho, cheers dulu dungs!
    cheers....

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

10 Film Asia yang Tak Terlupakan

Sandikala

Film Korea Yang Layak Kamu Tonton