mengapa menulis

Mengapa aku menulis?

sebagai anak baru blogger pertanyaan ini kadang muncul di kepalaku. iya, ya? kenapa aku menulis? lewat blog pula.. Apa ini ada hubungannya dengan hobi membaca?

Biasanya, seseorang yang hobi membaca akhirnya ingin menulis juga. Tapi bagaimana persisnya hobi membaca ini mempengaruhi kita? Apakah seseorang menentukan apa yang keren dan apa yang tidak keren berdasarkan hobinya?

Kalau hobimu bermain basket, kamu akan menganggap menjadi kapten tim basket itu keren. Mungkin dengan sendirinya kamu banyak menghabiskan waktu dengan menonton pertandingan basket di TV, atau menontonnya secara langsung. Sesekali, beberapa menit dalam hari-harimu, kamu akan menghayal menjadi pemain basket professional suatu hari kelak.

well, saya sendiri, sama sekali tidak cukup keren untuk menjadi kapten tim basket.


Kurasa orang yang suka membaca juga begitu. Dia akan menganggap menulis itu keren. Buku itu keren. Anak-anak yang berhasil memenangkan lomba cerpen juga keren. Dia mulai menghayal suatu hari akan memenangkan lomba cerpen. Menghayal tulisannya akan dimuat. Dan tentu saja, menghayal bukunya suatu hari akan diterbitkan. Sementara anak-anak yang hobi bermusik mungkin menghayal punya band dan mengeluarkan album.

Mungkin, begitulah impianku terbentuk. Mungkin aku akan menjadi sesorang yang berbeda seandainya ibuku menghadiahiku sebuah gitar saat ulang tahunku yang ke 12. Mungkin jika ayahku tidak mengajariku menggambar dengan kapur tulis dan mencoreti lantai seluruh rumah saat usiaku empat tahun, aku tidak akan bermimpi menjadi pelukis. Seandainya ia dulu membawaku memancing, tentu obsesiku akan sangat berbeda.

Kembali ke soal menulis.

Sebenarnya menulis tidak hanya soal mimpi. Maksudku, ini benar-benar hobi. Aku ingin menulis laiknya anak lain ingin bermain playstation. Menulis tidak hanya soal lomba cerpen yang ingin kumenangkan, atau menaklukan editor surat kabar bergengsi. Ini soal bagaimana aku ingin menikmati waktu yang kumiliki.

Berdiam diri di kamar. Duduk berjam-jam di depan computer. Sesekali jalan-jalan mengitari kompleks dengan sepedaku. Tidak banyak bergaul. Well, ada kalanya caraku menghabiskan hari-hariku terlihat menyedihkan. Tapi jika dengan cara ini aku lebih menikmati hidup, tidak apa-apa, kan?

Bukannya aku anti sosial sebenarnya. Cuma saja, kadang orang-orang mulai menjengkelkan ketika mereka merasa lebih tahu bagaimana seharusnya kita menikmati hidup. Adakalanya aku sendiri menikmati obrolan kecil. Kalau boleh jujur, terkadang kebahagiaan juga tumbuh dari percakapan ringan kita sehari-hari. Tapi ada kalanya kita menginginkan sesuatu yang lebih. Sebuah penjelajahan yang lebih dalam. Pencarian makna, atau apalah namanya.

Dialog-dialog serius. Kuliah filsafat. Ceramah tertentu terkadang membantuku membentuk pemahaman ini. Tapi tetap saja tidak se-intense membaca buku. Kalau aku mulai bosan membaca buku, ya itu tadi, aku mencoba menulis…atau bengong sendiri, berjam-jam.

Well, mungkin cara kita saja yang berbeda-beda menikmati hidup. Kita lahir dan tumbuh dalam lingkungan yang berbeda. Setiap keluarga memiliki sejarah, kultur, dan karakter yang berbeda.

Kita memiliki kebutuhan yang berbeda. Kehausan yang berbeda. Pertanyaan yang berbeda. Rasa ingin tahu kita mungkin sama. Namun kadang pertanyaan yang kita ajukan berbeda. Atau jawaban yang kita harapkan berbeda. Tidak ada standar pasti mengenai keren tidak kerennya seseorang.

Setiap orang memiliki obsesi sendiri serta caranya sendiri untuk mewujudkan obsesi itu. Dalam kasusku, salah satu jawabannya adalah; menulis!

Sungguh, aku merasa sangat keren!

related post:
free association Writing

Komentar

  1. oke kunjungan balik

    lanjutkan menulis bro

    terus kejar impianmu

    hidup menulis

    mohon ijin untuk link blognya

    BalasHapus
  2. Jujur ya.
    Aku suka tulisan ini. Hahahah..

    terutama bagian yang ini nih
    "Sebenarnya menulis tidak hanya soal mimpi.....dst"

    BalasHapus
  3. @gajah besar: hei trims sudah mengunjungi balik. tentu saja, silahkan di link, hehee, tulisan-tulisan di blogmu juga keren.

    @habibi: trims juga sudah mampir,dan menyukai tulisan ini. saya juga menantikan tulisan-tulisanmu berikutnya.

    BalasHapus
  4. Ude kunjungan nh, wah nulis sesuai dgn apa isi hati dan otak lebih baik kan dri pd dipendam ntar jadi mluap dh. Mnrut ku tulisan2 kita mncrminkan tntang diri kita sendiri, so keep writing and being positive :)

    BalasHapus
  5. iya deh iya..mz huda keren!!! (wkwkwk, ne reply 4 your last sentence lho)^^

    BalasHapus
  6. @hendra: iya hen, kalau dipendam emang bisa jadi penyakit. penyakit sekarang lebih banyak diakibatkan oleh pikiran. so... menulis juga penting demi kesehatan, lahir maupu batin.

    trims kunjungannya Hen.

    @rapi: hahaha, maksa banget y? terserah deh, pokoknya saya yakin saya ini keren, hehehe

    BalasHapus
  7. Iya, setuju dengan "Dialog-dialog serius. Kuliah filsafat. Ceramah tertentu terkadang membantuku membentuk pemahaman ini. Tapi tetap saja tidak se-intense membaca buku."

    lebih banyak yang membuatQ berpikir itu diilhami dengan komik, yang bagi sebagian orang hanya buku bacaan hiburan anak-anak

    BalasHapus
  8. well, menulis juga perihal menikmati hidup bukan. :D
    saya pribadi, bahkan lebih sering menulis untuk diri sendiri tanpa peduli pendapat dan pikiran orang lain. entah kenapa, saat menulis benar2 terasa nikmat, serasa hanya ada saya dan jiwa sya di dunia ini. dialog dari hati ke hati dengan diri sendiri. *bah, ngemeng opo to iku? hehheee..

    makasih linknya mas.

    BalasHapus
  9. Accilong@
    sepakat...
    kalau mau bciara manfaat menulis, sepertinya ga ada habisnya ya?

    BalasHapus

Posting Komentar