Menjadi Realistis

days of emptyness
Semakin bertambah umur kita, semakin kita dipaksa menjadi realistis. Kewajiban yang dibebankan pada kita otomatis semakin banyak. Kewajiban pada diri sendiri dan kewajiban pada orang lain. Terutama kewajiban untuk tidak lagi membebani orang lain.

Intinya, agar kita bisa bertanggung jawab penuh pada diri sendiri, dan sebisa mungkin bermanfaat bagi orang lain. Salah satu cara yang paling populer adalah, ya itu tadi, menjadi realistis.

Menjadi realistis berarti tidak mengawang-ngawang. Meraih apa yang memang mungkin. Ga usah muluk-muluk! Kamu sudah tua nak.... saatnya memijakkan kakimu di bumi. Lupakan impianmu. Karena mimpi hanya boleh dimiliki oleh anak-anak.

Melihat detik-detik pertambahan usia adalah melihat detik-detik kematian mimpi.

Dicurangi?
Tapi, tahukah anda, bahwa sebenarnya kita seringkali dicurangi. Tidak perlu disebutkan siapa yang mencurangi kita di sini. Ia bisa saja sekolah. Bisa saja kurikulum. Bisa saja tren. Bisa saja sistem pendidikan, dan tentu saja, ia bisa saja keluarga
.
Seringkali mimpi yang kita miliki sudah mulai diracuni jauh sebelum kita menyadarinya. Saat kita tahu apa yang benar-benar kita inginkan, mimpi itu sudah sekarat. Kita merasa dikhianati. Tahu-tahu kita sudah berada di sebuah persimpangan jalan. Jalan yang satu adalah jalan untuk melepas mimpi-mimpi itu, diiringi lagunya Bondan sebagai soundtrack (ketika mimpimu yang begitu indah….), sementara jalan yang satu adalah jalan dimana kau bisa melompat, terjun, dan mengakhiri hidupmu
.
Aku tidak frustasi. Aku hanya sedikit jengkel. Jengkel karena diusia 23 tahun tidak banyak pilihan yang bisa diambil. Baiklah, mungkin aku frustasi….aku merasa dibohongi. Yang benar saja, diusia 23 tahun apakah sudah terlambat untuk memiliki mimpi? Maksudku, aku belum terlalu tua, kan?
.
Gnothi Seauton
Aku tidak tahu bagaimana persisnya dunia ini terbagi. Tapi dalam benakku yang sederhana, dunia terbagi menjadi dua. Dunia kita sendiri, yang kita impikan, yang ada dalam benak kita, yang berisi keinginan dan obsesi, serta dunia luar yang berisi kewajiban-kewajiban kita sebagai anggota masyarakat atau keluarga. Mereka menyebutnya realitas
.
Ketika kedua bentuk dunia ini berhadapan, yang paling sering menang adalah dunia di luar tersebut. Realitas kolektif. Aku tidak menyebut dunia luar ini sebagai realitas sebenarnya, karena apa yang dianggap benar oleh masyarakat belum tentu real. Kadang ia semu, terutama dalam menilai apa sebenarnya yang kita butuhkan untuk membuat kita bahagia
.
Si Socrates pernah bilang; Gnothi Seauton, atau kenali dirimu. Kalau Ali bin Abi Thalib bilang; barang siapa yang mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya. Yeah, kalau kita yakin Tuhan itu Maha Adil, kita pasti mengamini bahwa semua orang memiliki keistimewaan sendiri. Setiap orang memiliki kecenderungan sendiri. Setiap orang punya bakat dan keahlian. Setiap orang memiliki standarnya sendiri untuk merasa bahagia
.
Tapi toh, nasihat untuk menegenali diri itu lebih sering dianggap sepi. Semenjak memasuki sekolah, kita dijejali dengan apa yang harus dan apa yang tidak boleh kita lakukan. Apa yang harus dipelajari, dan apa yang tidak. Apa yang penting untuk diketahui dan apa yang sebaiknya dilupakan. Yups, kita dipersiapkan untuk menjadi manusia unggul, begitu katanya. Manusia yang bisa memenuhi kewajibannya sebagai warga masyarakat, warga bangsa dan negara
.
Hal itu tidak buruk sebenarnya. Tentu saja manusia yang baik adalah manusia yang memberi manfaat sebanyak-banyaknya. Tapi sebagai manusia yang utuh, kita juga memiliki keinginan, kan? Kita memiliki gambaran sendiri tentang diri yang ideal. Oh, ayolah…siapa sih yang tidak punya keinginan?

Thanatos
Masalahnya, apa yang kita jalani selama ini timpang. Kita lebih difokuskan pada apa yang harus kita lakukan, bukan apa yang kita inginkan. Sementara keinginan kita yang sebenarnya kabur atau bersembunyi jauh di dalam, entah dimana
.
Namun keinginan itu tidak mati. Malah, semakin ia diabaikan ia semakin berpotensi merusak kita dari dalam. Thanatos, kata si Freud. Keinginan tersebut kadang terpecah menjadi keinginan-keinginan kecil yang kerap kita lampiaskan melalui makanan, belanja atau kedang seks. Keinginan-keinginan kosong yang memberi kita kepuasan sesaat
.
Kita lupa siapa diri kita. Kita tidak tahu apa sebenarnya yang kita inginkan. Ini salah sistem pendidikan, keluhku so’ paham. Dari SD sampai SMA, memangnya kita mendapat semacam kurikulum untuk mengenali diri? Kita menghabiskan waktu menghitung angka-angka, menghapal teori, membaca bagan
.
Tapi kita tidak pernah belajar membaca diri kita. Menghitung kelebihan dan kekurangan kita. Kita terasing dari diri kita sendiri. Kalaupun tahu, kita tidak pernah yakin dan menggapnya tidak penting. Karena yang paling penting adalah nilai kita di raport. Yang paling penting adalah rangking
.
Makanya kita gagap saat memilih jurusan di bangku kuliah. Kita gamang. Kita bertanya sana-sini. Kadang kita cuma mengamini saja apa yang dianjurkan orang lain. Kadang cuma ambil aman. Yang penting keterima. Kita tidak pernah menanyai diri kita sendiri, karena kita memang tidak yakin. Dan…dengan sukses, masuklah engkau ke dalam perangkap itu
.
Jalan Terakhir: Kompromi?
Bersyukurlah bagi kalian yang tidak bingung. Bersyukurlah jika kamu beruntung memilih jurusan yang tepat dan memang kau inginkan. Bersyukurlah bagi yang pekerjaan impiannya menanti di depan. Bersyukurlah bagi kalian yang punya cita-cita mulia membahagiakan orang tua. Bersyukurlah bagi kalian yang ingin menjadi anggota masyarakat yang baik. Beruntunglah bagi kalian yang tidak pernah tahu apa yang sebenarnya kalian inginkan. Atau tidak ambil pusing…


Bersyukurlah jika kamu cukup konsisten sampai semester akhir. Tanpa gangguan mood bisa menyelesaikan kuliah dengan mudah, bahkan cum-laude. Bersyukurlah bagi kalian yang pandai berkompromi. Mengkompromikan antara kegamangan-kegamangan kalian dengan kepercayaan kuat bahwa dengan cara tertentu, kelak pada akhirnya, kalian akan bahagia
.
Yang paling beruntung adalah mereka yang dengan mudah bisa banting stir. Dengan langgeng pindah jurusan atau terjun langsung ke tengah kehidupan yang memang mereka inginkan.

Bagi yang tidak, hahahhaaha, anda tidak sendirian. Ironis memang. Justru saat di bangku perkuliahanlah kita perlahan mengetahui apa yang kita inginkan. Lewat kebebasan yang sebelumnya tidak kita miliki, entah dengan bagaimana, tahu-tahu kita terhenyak, menyadari bukan ini yang kita inginkan
.
Ada sesuatu yang lebih dari sekedar hidup. Lebih dari sekedar pekerjaan yang mapan. Lebih dari sekedar ijazah atau gelar. Lebih dari sekedar nilai IPK. Lebih dari sekedar gengsi. Something more to life!

Hidup ternyata tidak tersusun atas semester-semester di bangku perkuliahan. Diri kita ternyata tidak tumbuh dengan cara itu. Jiwa kita berevolusi lewat peristiwa yang diam-diam bersentuhan dengan minat kita. Atau mungkin kitalah yang tanpa sadar berinteraksi dengan minat tersebut
.
Kemudian secara perlahan, akhirnya kita tahu apa yang kita inginkan. Kita akhirnya sadar apa yang bisa membuat kita bahagia. Pada usia 23 tahun… sudah terlambat untuk menyadarinya?

“pekerjaanmu adalah untuk mengungkap duniamu dan kemudian, dengan segenap hatimu, kamu persembahkan dirimu untuknya.” (Sidharta Gautama, 563-483 SM)

Komentar

  1. yah, namanya juga dewasa pasti deh ada tanggung jawab yg lebih ketimbang masih kecil

    BalasHapus
  2. Sebetulnya hidup itu selalu dihadapkan pada pilihan-pilihan. Kayak pekerjaan, jurusan, dll selalu pasti ada pilihan. PAling mudahnya kan ya dan tidak.. ambil atau lepaskan. Yang jelas, bagaimana kita memilih dan apa pilihan kita menentukan resiko dan hadiah yang akan kita hadapi. Jadi..bersikap realistis itu perlu!

    BalasHapus
  3. sang cerpenis & gaphe@

    hehehe... iyo,
    bener juga si.

    trims

    BalasHapus
  4. Tuhan, selalu memberikan apa2 yang kita butuhkan, bukan apa2 yang kita inginkan...
    (hohohohoho sok te'he' neh)

    bukankah manusia diciptakan menjadi khalifah di bumi? (bukan saja karena rayuan syaitan dan memakan buah khuldi membuat adam keluar dari syurga)

    kita hanya mencoba meyakinkan, benarkah yang kita inginkan adalah yang kita butuhkan

    BalasHapus
  5. barock@ semoga kita benar-benar tahu apa yang kita inginkan dan apa yang kita butuhkan. so, do you?

    BalasHapus
  6. Aq termasuk orang yang gak suka dengan "sekolah".

    Aq kira menjadi realistis itu bukan berarti gak boleh muluk.Realistis itu bukan meraih yang pasti bisa diraih, tetapi mungkin diraih. Dan, yang mungkin itu, bukan "yang biasanya terjadi", tetapi yang memang persentasenya itu bukan 0%.

    Dan, Qrasa gak pernah ada waktu terlambat untuk bermimpi.Yang penting itu usaha dan stratehi untuk mewujudkannya. G peduli meskipun sekarang masih belum bisa, gak peduli sekarang masih ada setumpuk batu sandungan, gak peduli mungkin kita terlambat jauh dari yang lainnya,gak peduli berapapun umur qt, gak peduli kekurangan apapun yang kita miliki. Yang penting, pastikan bahwa kita harus dan pasti akan mewujudkan mimpi itu.

    G peduli yang lain mau ngomong apa, mereka kan bukan penentu nasib Qt. Bukan juga mereka yang menentukan apa yang terjadi pada diri kita.

    BalasHapus

Posting Komentar