Perang Itu Tabu

Belakangan ini yang lagi ramai menghiasi berita adalah ketegangan antara RI dan Malaysia. Ini bukan pertama kalinya terjadi, kan? Dan sepertinya bukan yang terakhir. Sangat mungkin kedepan-depannya akan ada ketegangan lagi.

Sumber ketegangan bisa apa saja. Masalah perbatasanlah, masalah TKI-lah, masalah kebakaran hutan-lah. Yang paling mengkhawatirkan adalah, adanya teriakan untuk perang melawan Malaysia. Slogan lama dari zaman bung Karno kadang terdengar lagi: Ganyang Malaysia!

Apakah perang memang diperlukan?


Umberto Eco: Renungan Atas Perang
Essay pertama dalam buku Lima serpihan Moral-nya Umberto Eco (sekaligus satu-satunya essay yang kubaca sebelum mengembalikannya lagi ke Perpus) berjudul; Renungan Atas Perang. Melalui essay ini, Umberto Eco mengajukan pertanyaan besar mengenai perang; apakah perang memang dibutuhkan? Mungkin ini adalah salah satu pertanyaan terbesar kita, umat manusia. Hampir semua orang membenci perang. Kenyataannya perang tidak pernah absen di muka bumi. Ia masih saja terjadi hingga detik ini.

Selama berabad-abad apa sih sebenarnya tujuan perang?

Perang dijalankan untuk mengalahkan musuh dan memperoleh keuntungan dari kekalahannya. Bahkan sekarang perang tidak hanya soal mengalahkan musuh. Perang juga melibatkan bisnis senjata: yang diproduksi besar-besaran di dunia barat, Perang juga merupakan lahan yang subur bagi industry media. Kalau tidak ada perang, media akan membosankan. Serta banyak kepentingan lain yang bermain di dalamnya.

Disamping itu, selalu ada alasan untuk melancarkan perang. Perang untuk membela diri, membela agama, membela Negara dari ancaman teroris, mempertahankan wilayah, menjaga sumber daya alam, dsb. Melihat alasan-alasan yang muncul, perang terkesan sebagai solusi yang masuk akal. Tidak peduli sebenci apapun kita terhadap perang.

Perang Itu Tabu
Akhirnya Umberto Eco membawa kebencian kita terhadap perang kedalam pengertian tabu. Tabu tidak dinyatakan, ia menyatakan dirinya sendiri, begitu tulisnya.

salah satu contoh tabu adalah incest (pernikahan sedarah). Incest telah menjadi tabu selama berabad-abad. Meski jaman dulu belum ada sains yang bisa membuktikan pernikahan sedarah tidak sehat, namun manusia telah menerapkan aturan yang ketat agar tidak terjadi perkawinan jenis ini. Hampir semua budaya—kecuali mesir kuno—menabukan incest.

Berabad-abad kemudian, lewat ilmu pengetahuan incest terbukti berakibat negatif.

Mungkin perang juga begitu. Kita membenci perang karena sebenarnya ia memang tidak dibutuhkan. Mungkin suatu hari kelak, kita menemukan rumusan ilmiah, rumusan moral, atau apalah namanya, sebuah rumusan tak terbantahkan yang menyatakan bahwa perang sebenarnya tidaklah diperlukan.

Perang Adalah Kesia-siaan
Menanggapi pertanyaan tersebut, Umberto jelas mengatakan perang tidaklah penting. Perang adalah kejahatan besar-besaran terhadap kehidupan manusia. Perang adalah kesia-siaan. Sebanyak apapun alasan yang diajukan para pendukung perang.

Tapi aku juga teringat sebuah pernyataan yang mendukung perang. Sayangnya aku lupa dimana aku telah membaca pernyataan ini; Perang tidak mungkin dihindari. Perang merupakan bagian dari peradaban manusia yang alami. (kalau tidak salah di blognya Paulo Coelho).

Kalau dipikir-pikir, iya juga. Perang selalu ambil bagian dalam sejarah peradaban kita. Perang turut serta membentuk kita. Perang sepertinya lahir dari naluri alamiah kita yang kompetitif dan kecenderungan kita untuk membalas dendam.

Tapi aku tetap setuju dengan pernyataan si Umberto Eco, perang itu kesia-siaan. Lihat berapa juta manusia yang tidak berdosa menjadi korban. Kalau dihitung semenjak peradaban manusia dibangun pertama kali, mungkin sudah milyaran nyawa yang telah terbuang sia-sia. Belum lagi kerusakan ekosistem yang diakibatkan. Saat ini kita sampai pada teknologi nuklir. Kalau semua negara memakai teknologi nuklir mereka dalam berperang, bisa-bisa bumi lenyap dari tata surya.

Tapi toh…perang masih saja terjadi. Masih saja ada yang nafsu untuk berperang. Masih saja ada alasan untuk melancarkan serangan.

War is suck!
Mungkinkah suatu hari kita bisa benar-benar terlepas dari perang? Mungkin kah suatu hari kita membawa nafsu kompetitif kita ke level yang berbeda? Ke level yang jauh lebih positif? Alih-alih berlomba-lomba memproduksi senjata, kita mungkin berlomba-lomba menghijaukan kembali bumi ini. Alih-alih berlomba membunuh tentara musuh sebanyak-banyaknya, kita mungkin berlomba-lomba menjaga kehidupan setiap manusia apapun bangsa, warna kulit, dan keyakinannya.

Mungkinkah suatu hari perang tidak lagi bisa ditemukan di kehidupan nyata kita sehari-hari. Ia menjadi sesuatu yang usang, atau sekedar hiburan di video game, film, atau buku cerita?

Mungkinkah?
Seperti yang dikatakan John Lennon; you may say I’m a dreamer, but I’m not the only one….
Kalau Anda membenci perang, Anda tidak sendirian....

Komentar

  1. Mending enggak usah perang2 gitu lah.. emang yakin siap?.. not sure. Hemm.. sebaiknya energi itu disalurkan ke kegiatan positif..seperti mengaji
    *apaan sih?*

    thanks uda mampir..

    BalasHapus
  2. @Cerpenis and Gaphe:
    betul betul betul.. mending ga usah perang...yang rugi juga kita. mending menlu malaysia diajak tadarus bareng ja di istiqlal...
    hehehe

    trims atas kunjungan baliknya...

    BalasHapus
  3. Gak bisa dipungkiri, perang itu mengorbankan,juga menyakiti banyak hal.Gak hanya manusia, juga alam.Tapi, gak bisa dipungkiri juga, ada saatnya di mana mmg qt dituntut utk melakukannya sbg solusi yang terbaik, dan terakhir.Memang banyak penderitaan yang disebabkan oleh perang, tapi gak bisa dipungkiri juga, ada saatnya kebahagiaan itu hanya bisa didapatkan dengan berperang.
    Misal saja, perjuangan arek2 suroboyo, ataupun perjuangan Nabi dan para sahabatnya terdahulu, revolusi Perancis,dll.
    Perang dibutuhkan,misal ada penguasa lalim, yg bener2 gak bisa disadarkan, dia sukanya “nyiksa” rakyatnya,dll.Apa kita mau menunggu dia sadar, atau meminta orang lain atau diri kita sendiri menyadarkannya, dan kehilangan nyawa kita.Berapa banyak nyawa terbuang sia-sia dengan bgtu?
    Aq termasuk orang yang benci perang sih.Tapi, juga gak bisa Qpungkiri ada saat dimana memang itu harus dilakukan.Dan, memang tidak semua hal yang Qt tidak sukai atau kita benci sekalipun itu benar2 buruk, dan begitu pula sebaliknya, itu harus diakui.
    Seperti halnya sejarah manusia yang diwarnai dengan perang.Aq rasa “perang” itu akan terus terjadi.Mungkin, bukan lagi dengan cara kekerasan, tapi dengan cara yang lebih halus, tapi juga lebih berdampak secara signifikan.Dan, perang model baru itu sudah terjadi saat ini.Perang informasi,perang media, perang budaya dan ideologi.Bahkan kita tidak sadar saat ini kita sedang “diperangi”.Luar biasa,kan? Dan, sama halnya dengan perang dg kekerasan, perang dengan cara ini tidak kalah.Banyak yang secara tidak sadar “menjadi korban” dari perang ini.
    Perang sendiri pun tidak selamanya dipicu oleh motif balas dendam,kekuasaan atau motif2 negatif lainnya.Ada kalanya perang memang bertujuan agar kehidupan bisa menjadi lebih baik. Masih ingat, reformasi 1998, menurutQ itu adalah bentuk perang “kecil”, perang antara rakyat dan penguasa.Dapatkah kita sekarang merasakan demokrasi,kebebasan berpendapat melalui berbagai media maya seperti ini, jika pemerintahan yang dulu tidak digulingkan?Mungkin tidak.Dan, sekarang pun sedang terjadi perang, perang antara penguasa dan rakyat, media dengan media,media dengan pemerintah,para partai dan elit politik.
    Aq rasa potensi terjadinya perang akan terus ada,seperti halnya potensi manusia untuk kehilangan “kemanusiaannya”.Karena itu mungkin, yang harus dipelajari adalah pada saat bagaimanakan qt dituntut untuk berperang dan bagaimana agar perang tersebut meminimalisir kerusakan yang disebabkannya.
    Klo untuk ganyang malaysia sih, itu Qrasa karena emosi aja.Gak dipikirin juga ke depannya kayak gmn.Dan, memang gak pantes untuk hak kayak gt solusinya malah perang.G nyelesein masalah, malah nambah2in masalah klo itu.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

10 Film Asia yang Tak Terlupakan

Sandikala

Film Korea Yang Layak Kamu Tonton