Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2010

Merekam Jejak pikiran

Gambar
Setelah membaca status history-ku di facebook, pertanyaan yang kemudian muncul adalah: apa sih, yang sebenarnya kulakukan di facebook ini? Membaca status yang total jenderal menjadi sepuluh halaman itu nyaris semuanya sampah. Tidak ada yang penting sama sekali. Semacam lanturan yang tak menentu.

Setelah berpikir dan berpikir dan berpikir, berikut adalah pikiran sederhana yang akhirnya muncul....
Iseng adalah kebutuhan
Kata orang, waktu adalah uang. Dengan keyakinan semacam ini, tentunya tidak ada tempat bagi perbuatan iseng. Segala kegiatan yang tidak menghasilkan uang adalah sia-sia. Kalau kita menghabiskan waktu untuk kegiatan tak berguna biasanya kita merasa bersalah.
Kenyataannya kebutuhan kita tidak melulu uang kan? Lagipula, setelah mengumpulkan uang sebanyak mungkin, apa juga yang sebenarnya ingin kita beli? Ujung dari semua usaha kita adalah kebahagiaan. Sementara kebahagiaan tidak melulu bersemayam dengan rekening kita di bank.
Kebahagiaan tidak selalu kita temukan dalam ben…

the Gossip Mums

Gambar
Belakangan ini, salah satu alarm yang paling sering membangunkanku tiap hari adalah ledak tawa ibu kos dan teman-temannya. Sejak jam tidurku bergeser menjadi semakin larut, jam bangunku pun ikutan bergeser semakin siang.

Biasanya aku bangun antara jam sepuluh sampai jam sebelas. Dan tebak suara apa yang pertama kali ku dengar?


The Gossip Mums

Saat aku baru saja membuka mata dan berbaring dengan gamang menunggu kesadaranku pulih, suara para ibu-ibu menjadi suara yang pertama kali kudengar.

Kadang suara-suara mereka malah masuk ke dalam mimpiku, persis sebelum aku terbangun. Seperti mendengar suara seorang pembaca berita saat kita jatuh tertidur di depan televisi. Biasanya suara-suara inilah yang membangunkan kita.
Agak menyedihkan memang. Tapi salahku juga sih sering bangun kesiangan persis di saat para ibu-ibu menjalankan riitual gosip mereka.

Ritual Gosip Harian
Sambil menggendong anak balitanya, ibu-ibu ini duduk di depan warung. Entah kenapa warungnya ibu kosku menjadi tempat mangka…

Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya

Gambar
Judul: Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya
Penulis: Ajahn Brahm
Penerbit: Awareness Publication Cetakan ke-13, Agustus 2010. 
sebenarnya, saat pertama kali melihat buku ini aku tidak terlalu tertarik. Tadinya kupikir isi buku ini akan sama saja dengan buku-buku motivasi lainnya. Lagipula saat itu aku belum tahu menahu siapa si Ajahn Brahm.

Disampulnya ada label dengan tulisan: garansi 100% uang kembali jika anda tidak mendapat manfaat setelah membaca buku ini. Well, kita tidak boleh berburuk sangka juga sama label tersebut. Mungkin niatnya benar-benar baik. Benar-benar bermaksud mengembalikan uang kita 100% kalau tidak mendapat manfaat.
Namun saat pertama kali melihatnya kesan yang muncul adalah; gila….ini strategi marketingnya maksa banget! (seolah-olah aku paham strategi marketing yang bagus itu seperti apa). Temanku yang sempat melihat sampul buku ini juga menjadikan label tersebut sebagai lelucon.

Tapi yang terpenting, aku akhirnya mendapat kesempatan membaca buku ini. Dikasih minje…

Sebuah Kejutan Di Akhir Pekan

Gambar
Hari minggu kemarin, aku kebetulan menemani temanku ke Bantul nyari kos-kosan di belakang UMY untuk adiknya. Setelah deal dengan salah satu kos-kosan, kami langsung meluncur ke Gramedia.

Kebetulan temanku Hendra, sudah berniat membeli beberapa buku. Sementara aku yang tidak pernah berniat sebelum melakukan segala hal, waktu itu ngikut saja. Mengalir saja. Ide menghabiskan waktu di toko buku sama sekali bukan ide yang buruk.

Sesampainya di Gramedia temanku langsung mencari buku yang dia inginkan. Aku sendiri langsung menenggelamkan diri dengan buku yang menarik untuk dibaca. Melompat dari satu judul ke judul lain

Aku lebih banyak menghabiskan waktu di rak novel (tentu saja!). Kan, gratis kalau baca di tempat! Tapi tahu sendiri, kalau di Gramedia tuh kita tidak boleh baca sambil duduk.

“Bacanya berdiri saja mas!“ tegur seorang satpam saat beliau mendapatiku duduk leyeh-leyeh, bersandar di salah satu rak buku, pakai sandal jepit karet warna kuning pula. Pastinya aku terlihat sangat me…

Buddha, Sebuah Novel

Gambar
Ada dua ramalan yang diberikan pada Siddharta saat ia dilahirkan....

Oleh Brahmana tertinggi bernama Canki dan para astrolog, ia diramalkan akan menjadi raja. Bukan sembarang raja yang hanya memimpin Sakya seperti ayahnya. Ia akan menjadi raja yang memimpin keempat penjuru bumi.

Kemudian datanglah Asita, seorang pertapa yang sangat disegani. “Dia tidak akan menjadi raja agung….” kata Asita. “Anak ini memiliki dua takdir, dan para astrolog (jyotishi) hanya benar mengenai salah satunya.”

“Apa takdir yang kedua itu?” tanya Suddhodana, ayah Siddharta.

“Dia akan menguasai jiwanya sendiri.”

Sidharta Sang Pangeran Novel ini dibagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama adalah Siddhartha Sang Pangeran.

Kisah dimulai di kerajaan Sakya, 563 SM. Siddharta terlahir sebagai pewaris tahta seorang raja bernama Suddhodana. Raja lalim yang haus kekuasaan (dalam novel ini).
Begitu mengetahui ada dua takdir yang menunggu putranya, Suddhodana langsung memutuskan untuk mempersiapkan anaknya menjadi seorang …

Tentang Suara

Gambar
Disadari maupun tidak, sebenarnya ada banyak suara dalam diri kita. Bagi kalian yang suka menulis cerpen atau novel, pasti tahu maksudku. Kadang aku sendiri heran, bagaimana orang-orang itu bisa muncul dalam cerita kita? Tokoh-tokoh yang bukan kita sekaligus diri kita. Malah kadang berbeda sama sekali dengan diri kita.

Saat aku membongkar tulisan-tulisanku yang sudah lama sejak aku SMA atau semester-semester awalku dulu (cerpen-cerpen yang belum juga berhasil kuselesaikan),aku seringkali heran dengan orang-orang yang membentuk cerita itu.

Yang lebih mengejutkan lagi, akulah yang telah menulis mereka.


Kadang alasan utama kenapa cerita yang ku tulis tidak juga selesai adalah karena aku belum tahu apa yang benar-benar diinginkan oleh tokoh-tokoh itu. Kadang aku mendapat ide atau sesuatu yang ingin kusampaikan lewat ceritaku, tapi sampai di tengah cerita aku kehilangan arah. Kadang si tokoh seperti punya keinginannya sendiri.

Tak tahulah... mungkin karena aku masih penulis amatir.
Tapi hal …

Menulis bebas (Free Association Writing)

Pertama kali aku dengar istilah free association writing saat nonton filmnya bruce willis, The Sixth Sense. Di film produksi tahun 1999 ini Bruce willis berperan sebagai seorang psikolog bernama Malcom. Si Malcom mencoba membantu seorang anak laki-laki bernama Cole yang mengaku bisa melihat hantu.

Salah satu dialog dalam film itu membicarakan Free Association Writing. So, apakah yang dimaksud dengan Free Association Writing?

Intinya, kita menulis sebebas mungkin. Kadang dalam tenggat waktu tertentu. Misal 15 menit. Selama lima belas menit tersebut tidak boleh berhenti. Satu-satunya yang harus dilakukan adalah menulis

Tidak perlu mengkuatirkan struktur kalimat, ataupun tata bahasa. Tidak harus runut dan logis. Bisa saja paragraf pertama kita menulis tentang suasana kamar yang berantakan. Kemudian di paragraf ke dua yang dibicarakan adalah salju, atau bisa apa saja. Awalnya menulis seperti ini berat. Terkesan seperti menulis sampah. Tapi, lambat laun menulis bebas semacam ini bisa menj…

Quarter Life Crisis

Gambar
Krisis paruh baya (Quarter life Crisis) adalah ketika kamu tidak lagi merasa terlibat dalam suatu keramaian dan mulai menyadari bahwa begitu banyak hal mengenai dirimu yang belum kamu ketahui. Sesuatu yang mungkin kamu sukai atu tidak sukai.
Kamu mulai merasa tidak aman dan kuatir mengenai keberadaanmu untuk satu atau dua tahun ke depan, tapi kemudian terhenyak karena kamu tahu betul di mana kamu berada saat ini.
Kamu mulai menyadari bahwa orang-orang pada dasarnya egois, dan mungkin, teman-teman yang kamu anggap dekat denganmu ternyata bukanlah orang-orang terbaik yang pernah kamu temui.

Sementara orang-orang yang kehilangan kontak denganmu, beberapa dari mereka adalah orang-orang terpenting dalam hidupmu.

Apa yang tidak kamu sadari adalah, mereka pun menyadarinya dan mereka tidaklah sedingin, kejam, ataupun sejahat yang kamu kira, tapi karena mereka juga merasakan kebingungan yang sama denganmu.
Saat melihat pekerjaanmu, kamu menyadari pekerjaan itu sama sekali bukan pekerjaan yang…

Harus Ada

Gambar
Harus ada sesuatu atau seseorang yang kita cintai melebihi kecintaan kita pada hidup

atau pada diri sendiri.

Dari situ kita akan mendapat kekuatan untuk berkorban dan menjalani kehidupan.

Kalau tidak, hari-hari kita akan membosankan

Harus ada sesuatu yang bisa membuat kita gila. Sesuatu yang menjungkirbalikkan dunia kita. Sesuatu yang menyalakan denyut hidup kita. Yang menyilaukan kita. Yang membuat kita takjub.

Sesuatu yang lebih luas dari kehidupan itu sendiri. Sesuatu yang menyingkap dunia kita. Yang mengelupas kulit kita dan menunjukkan siapa diri kita sebenarnya

Harus ada sesuatu yang kita cintai melebihi apapun. Yang membuat kita dengan sepenuh hati mengabdi padanya. Dengan begitu, waktu-waktu yang kita lalui tidak akan menguap tanpa makna.

Harus ada sesuatu yang bisa membuat kita panas dingin. Tidak bisa tidur. Sesuatu yang terus kita pikirkan tanpa henti. Sesuatu yang mengangkat kita sejenak dari rutinitas harian kita. Sesuatu yang tak bisa kita abaikan.

Harus ada sesuatu y…

Menjadi Realistis

Gambar
Semakin bertambah umur kita, semakin kita dipaksa menjadi realistis. Kewajiban yang dibebankan pada kita otomatis semakin banyak. Kewajiban pada diri sendiri dan kewajiban pada orang lain. Terutama kewajiban untuk tidak lagi membebani orang lain.

Intinya, agar kita bisa bertanggung jawab penuh pada diri sendiri, dan sebisa mungkin bermanfaat bagi orang lain. Salah satu cara yang paling populer adalah, ya itu tadi, menjadi realistis.

Menjadi realistis berarti tidak mengawang-ngawang. Meraih apa yang memang mungkin. Ga usah muluk-muluk! Kamu sudah tua nak.... saatnya memijakkan kakimu di bumi. Lupakan impianmu. Karena mimpi hanya boleh dimiliki oleh anak-anak.

Melihat detik-detik pertambahan usia adalah melihat detik-detik kematian mimpi.


Dicurangi?
Tapi, tahukah anda, bahwa sebenarnya kita seringkali dicurangi. Tidak perlu disebutkan siapa yang mencurangi kita di sini. Ia bisa saja sekolah. Bisa saja kurikulum. Bisa saja tren. Bisa saja sistem pendidikan, dan tentu saja, ia bisa saja k…