Buddha, Sebuah Novel

Ada dua ramalan yang diberikan pada Siddharta saat ia dilahirkan....

Oleh Brahmana tertinggi bernama Canki dan para astrolog, ia diramalkan akan menjadi raja. Bukan sembarang raja yang hanya memimpin Sakya seperti ayahnya. Ia akan menjadi raja yang memimpin keempat penjuru bumi.

Kemudian datanglah Asita, seorang pertapa yang sangat disegani. “Dia tidak akan menjadi raja agung….” kata Asita. “Anak ini memiliki dua takdir, dan para astrolog (jyotishi) hanya benar mengenai salah satunya.”

“Apa takdir yang kedua itu?” tanya Suddhodana, ayah Siddharta.

“Dia akan menguasai jiwanya sendiri.”

Sidharta Sang Pangeran
Novel ini dibagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama adalah Siddhartha Sang Pangeran.

Kisah dimulai di kerajaan Sakya, 563 SM. Siddharta terlahir sebagai pewaris tahta seorang raja bernama Suddhodana. Raja lalim yang haus kekuasaan (dalam novel ini).

Begitu mengetahui ada dua takdir yang menunggu putranya, Suddhodana langsung memutuskan untuk mempersiapkan anaknya menjadi seorang pemimpin empat penjuru bumi. Dia tidak peduli apa yang dikatakan Asita. Baginya, kekuasaanlah yang terpenting. Tidak ada kebahagiaan yang lebih besar daripada melihat pewarisnya menjadi raja yang kekuasaan melampui kekuasaan yang pernah ia miliki.

“Kau salah pertapa tua! Aku akan menjadikannya seperti yang aku inginkan,” begitu kata si Suddhodana kepada Asita.

Semenjak hari itu, ia memutuskan untuk melindungi Siddharta dari segala bentuk penderitaan. Dibangunlah tembok-tembok tinggi mengelilingi istana. Hari-hari dihabiskan Siddharta tanpa mengenal apa itu sakit, menua, apalagi menderita. Penghuni-penghuni istana yang mulai tua akan segera dibawa pergi dan digantikan oleh orang-orang yang lebih muda dan segar.Tapi justru hal tersebutlah yang membuatnya lebih peka pada penderitaan.

Bagian pertama ini bercerita tentang kehidupan Siddharta di istana. Waktu yang ia habiskan bersama Channa, sahabatnya—anak penunggu pedestal, serta Devadatta, sepupu Siddharta yang iri dan menjadi semacam rival Siddharta selama tinggal di istana.

Tentu saja ada kisah cinta yang membumbui bagian ini. Siddharta jatuh hati pada seorang gadis bernama Sujata. Siapakah Sujata? (pye yo? Masa’ saya spoiler di sini). Tapi dalam novel ini, Sujata memang agak misterius sih. Terutama masalah latar belakang dan motifnya di istana. Kelak, persentuhan pertama Siddharta dengan penderitaan tidak lepas dari hilangnya Sujatta secara misterius.

Upayanya untuk menemukan Sujata membuat Sang Pangeran diam-diam meninggalkan istana, dan terheran-heran saat melihat ada begitu banyak hal yang disembunyikan darinya.

Gautama dan Buddha
Bagian ke dua adalah saat sang pangeran akhirnya memutuskan untuk keluar dari istana dan menjalani sebagai pertapa. Bahkan meninggalkan anak dan istrinya. Ia bertemu dengan beberapa orang guru dan teman pertapa lain. Ia berjalan kaki keluar masuk hutan demi satu hal: ‘pencerahan’. dalam fase ini, ia menggantinamanya; menajdi 'Gautama'.

Bagian ketiga berjudul Buddha. Tentunya bagian ini merupakan bagian terpenting. Saat Gautama mulai putus asa dan akhirnya mendapat pencerahan di bawah pohon ara.

Mara
Mara adalah raja setan yang paling terganggu dengan kelahiran sang Buddha. Mara adalah kejahatan. Adalah Nafsu. Atau segala hal buruk yang bisa kita katakan. Ia terus membuntuti siddharta semenjak ia hanya seorang pangeran kecil sampai pada detik-detik sang pertapa menjadi Buddha.

Well…peran Mara dalam novel ini cukup penting. Dengan kelicikannya ia memanfaatkan orang-orang di sekitar Siddharta untuk menjatuhkannya. Siapakah Mara? Hmm…. Baca sendiri aja deh.

Ringan dan Mengalir
Ringan dalam artian penceritaan dalam novel ini tidak terlalu berat. Bagiku, penulisnya adalah pencerita yang baik. Novel ini tidak menyiksa orang awam sepertiku yang tidak banyak mengenal ajaran Buddha (paling banter lewat pelajaran sejarah saat SMP dan SMA dulu). Pokoknya mengalirlah. Tidak terlalu banyak istilah-istilah asing yang bikin pusing.

Pernah dulu aku membaca majalah Buddha aliran apa…. gitu. Majalah itu bertaburan istilah-istilah asing, entah bahasa jepang atau bahasa Snaskrit, atau bahasa apa, pokoknya aku dibingungkan. Untungnya Novel ini cukup bersahabat dengan orang-orang yang awam dan ingin mengenal ajaran Buddha atau sekedar mencari bacaan bermutu untuk meluangkan waktu mereka.

Worth Reading
Yups, novel ini termasuk worthed. Paling tidak dalam listku ia masuk dalam kategori novel yang bikin betah. Banyak kebijaksanaan-kebijaksanaan yang bertaburan di sini. Kata-kata bijaknya tidak hanya asal tempel. Bagiku novel ini lebih dari sekedar hiburan….

Karena selesai membacanya, kita seperti mendapat cara yang baru dalam memandangi kehidupan. Terutama saat melihat ke dalam diri sendiri.

Sebuah Novel
Jangan lupa, ini adalah sebuah novel. Dibawah judulnya yang besar di sampul ada tulisan kecil-kecil: sebuah novel. Jaid ini bukanlah kumpulan catatan sejarah, apalagi buku paket sejarah.

Satu lagi yang perlu dicatat mengenai novel ini adalah penggambaran Buddha di sini tidaklah melangit. Buddha digambarkan sebagai sosok yang membumi.

“Ia manusia biasa seperti Anda dan saya, namun ia terangkat sama tingginya dnegan mahluk abadi. Yang ajaib adalah, ia mencapai posisi itu dengan mengikuti hati yang sama manusiawinya dengan Anda dan saya, hati yang juga sama rapuhnya.” Begitulah tulis si Deepak Chopra dalam pembukaannya.


Deskripsi buku:
Judul: Buddha, Sebuah Novel
Penulis: Deepak Chopra
Alih Bahasa: Rosemary Kesauly
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan ke dua, Juni 2008


.

Komentar

  1. banyak punya buku bagus ya mz?? mau donk pinjem kalo boleh..
    aq ne kurang banget minat bacanya, tapi kalo baca review2 diblog mu jadi ngiri deh dapet banyak hal baru dari baca..syapa tau bisa ketularan minat bacanya.. :)

    BalasHapus
  2. boleh-boleh..
    itungannya 5 ribu sehari? heheheeh

    BalasHapus
  3. ini novel yang menggabungkan antara sejarah dan biografi bukan?.. tapi koq saya belon nemu di beberapa toko buku yak?.. apa emang bukan buku laris...

    BalasHapus
  4. Gaphe@ makasi dah mampir mas...hehehe. kalau dibilang laris banget si mungkin nggak juga. but g tw kalau di luar negeri. Yang saya baca tuh cetakan ke dua.... tapi bagus ko' worth reading pokoknya...

    BalasHapus
  5. boleh2..ntar tnggal diitung.. ;D
    (diitung doank lho, hehehe)

    BalasHapus
  6. wkwkwkwk... ni anak kalau soal ngeles, bisaaaaaaaaa aja

    BalasHapus

Posting Komentar