Sebuah Kejutan Di Akhir Pekan

is that my writing?
Hari minggu kemarin, aku kebetulan menemani temanku ke Bantul nyari kos-kosan di belakang UMY untuk adiknya. Setelah deal dengan salah satu kos-kosan, kami langsung meluncur ke Gramedia.

Kebetulan temanku Hendra, sudah berniat membeli beberapa buku. Sementara aku yang tidak pernah berniat sebelum melakukan segala hal, waktu itu ngikut saja. Mengalir saja. Ide menghabiskan waktu di toko buku sama sekali bukan ide yang buruk.

Sesampainya di Gramedia temanku langsung mencari buku yang dia inginkan. Aku sendiri langsung menenggelamkan diri dengan buku yang menarik untuk dibaca. Melompat dari satu judul ke judul lain

Aku lebih banyak menghabiskan waktu di rak novel (tentu saja!). Kan, gratis kalau baca di tempat! Tapi tahu sendiri, kalau di Gramedia tuh kita tidak boleh baca sambil duduk.

“Bacanya berdiri saja mas!“ tegur seorang satpam saat beliau mendapatiku duduk leyeh-leyeh, bersandar di salah satu rak buku, pakai sandal jepit karet warna kuning pula. Pastinya aku terlihat sangat menyedihkan. Dengan rambut gondrong dan sandal jepit WC, duduk lesehan di situ, aku bisa memaklumi jika kehadiranku dianggap merusak citra toko buku bergengsi tersebut

Aku pun berdiri. Si Satpam kemudian ngobrol-ngobrol dengan salah satu petugas toko. Mereka ngobrol persis di belakangku. Aku yang tengah membaca buku berjudul “keep your hand moving,” tidak bisa berkonsentrasi

Pikiranku terbelah antara buku itu dengan percakapan antara satpam dan petugas toko di belakangku. Mereka tengah membicarakan soal madu sumbawa. Aku ingin sekali berbalik dan ikut nimbrung. Terutama saat mereka membahas soal ciri-ciri madu sumbawa yang asli. Well, aku bukan ahli soal madu sebenarnya. Tapi kalau soal, apakah madu sumbawa yang asli juga dikerubungi semut atau tidak, kurasa aku tahu jawabannya. Dialog mereka berputar-putar di bagian itu terus dan luar biasa menjengkelkan

Sebelum aku sendiri meledak sewot ke arah mereka, aku akhirnya memilih menyerah, lalu meluncur ke rak lain, rak-rak resep masakan. Mereka berdua pun langsung menyudahi dialog penting nan serius tadi. Apaan sih! Memangnya aku terlihat seperti kriminil yang mau ngutil buku?

Di rak buku resep masakan aku berkutat dengan foto-foto makanan. Bukan untuk baca resepnya. Cuma ingin mantengin foto masakannya saja; daging kambing kenari, gulai, aneka bubur dan salad, kue bulan jelly isi durian, puding dengan kelapa muda, kerstangles, kue cokelat—dan entah apa lagi namanya. Ada juga sirip ikan hiu yang dikasi bumbu kacang dengan udang dan jamur. Demi Tuhan, mereka semua terlihat indah sekali

Setelah bosan menyiksa diri dengan foto-foto masakan itu, akupun meluncur ke rak-rak buku import, melihat-lihat sebuah buku tentang lukisan impresionis. Menjelang ashar akhirnya kami meninggalkan Gramedia. Kemudian melaju ke Gejayan, menembus gerimis menuju Toga Mas

Di Toga Mas temanku melanjutkan pencariannya. Masih ada satu buku yang tadi tidak ia temukan di Toko Gramedia. Aku berputar-putar lagi di rak novel. Bosan. Akhirnya aku ke rak majalah. Kakiku sudah- benar-benar pegal saat itu. Dari tadi dipaksa berdiri dan berjalan. Untungnya, di dekat kolam dengan air mancur mini ada sebuah kursi kosong

Kursi antik berwarna cokelat itu lebih mirip sepotong martabak di mata kakiku. Lezat. Beberapa orang duduk di tepi kolam. Aku mulai membongkar-bongkar majalah national Geographic. Mengagumi foto-fotonya sambil duduk dan bersadar nyaman

Sampai kemudian aku melihat sebuah majalah film. Edisi September. Di sampulnya, foto close-up seorang tokoh Super Hero mengacungkan tinju dengan cahaya hijau berpendar. Waah ini majalah film edisi bulan ini yang kemarin tidak kubeli. Saat terbit awal bulan kemarin pengeluaranku luar biasa mepet

Langsung kubuka dan membaca review-review film di situ. Aku baca begitu saja. Lupa waktu. Sampai aku tiba di sebuah ribrik berjudul “just a thougth”. Judul tulisannya, ‘menonton itu penting’. Di ilustrasinya ada gambar Robert De-niro dari cuplikan film Everybody’s Fine. (omong-omong soal Robert De-niro, kurasa ayahku lumayan mirip dengannya….Heheh)

Dua paragraf pertama terasa ganjil. Rasanya aku akrab dengan kalimat-kalimat ini. Loh, ini kan tulisanku? Saat melihat nama penulis ternyata yang tertera adalah nama dan alamat emailku. Loh dimuat juga ya?

Hal pertama yang muncul di benakku adalah; tulisan ini jelek sekali! Sikap perfeksionisku-lah yang pertama kali menyerang. Atau mungkin karena di halaman-halaman sebelumnya aku dimanjakan oleh tulisan yang lebih qualified, sehingga tulisan satu halaman itu terlihat cuma numpang ‘nyempil’.

Pokonya, tulisan itu kelihatan sangat norak saat bersanding dengan tulisan lainnya di majalah tersebut. Aku sendiri tidak mengerti kenapa dulu aku bisa dengan PD-nya mengirim tulisanku?

Selain itu, aku tidak mengira saja tulisanku akan dimuat. Kelewat emosional gimanaa…gitu. Beberapa paragrafnya dipotong—mungkin terlalu panjang atau memang tidak layak. Apalagi seingatku, tulisanku kukirim lewat email tanpa menyertakan alamat dan nomor telepon. Padahal, sama majalah itu ditegaskan tulisan harus dikirim lewat pos beserta alamat dan nomer telepon.

Makanya aku benar-benar lupa, sambil diam-diam berharap majalah itu tidak memuat tulisan yang dengan ceroboh ku kirim lewat email. hehehehe…. (tapi ternyata dimuat juga). Sebenarnya ada niat lagi mengirim tulisan tentang film. Tapi belum ada ide sih. Mungkin nanti lagi saja—dan kali lain aku akan ikuti peraturannya

Pulangnya, aku jadi lebih bersemangat menulis (dan nonton film). Dan kurasa, aku juga harus behenti bersikap under-estimate dengan kemampuan menulisku. Aku memang belum terlalu menyukai tulisanku. Maksudku, masih banyak kekurangan dalam tulisan-tulisanku. Entah tulisan yang dimuat di majalah itu, maupun di Blog ini.

Yang aku tahu, apa yang perlu kulakukan adalah terus menulis sebanyak mungkin. Karena seperti yang telah kubaca dari buku di Gramedia pagi itu; “just keep your hand moving”. Teruslah menulis! Cara terbaik untuk mengasah kemampuan menulismu, ya dengan menulis! Tapi aku juga berjanji akan banyak-banyak nonton film mulai sekarang, sebanyak aku membaca buku! (halah, gaya!)

hmmm….




__
nb, nama penulis yang tercantum di situ masih tergolong alay. email di masa-masa awal mengenal internet :)) 

Komentar

  1. wew.. jadi pengen baca tu review + nonton filmnya, ntar klw pulang bw stok film yg banyak yach!

    [omong2, apa bener ayah mirip Robert De-niro? dan bukannya aku sdikit mirip ayah?...mmmmmmmmm/hohohohohoho]

    BalasHapus
  2. mishbah@ mmm... bedanya novel ma roman apa yak? (mencoba mengingat kembali pelajaran sewaktu SMA dulu). saya suka novel. asal novelnya bagus aja si....hehehe

    Barock@ secara fisik...mmm mirip kayaknya. tapi kalau d\karakter di film itu agak beda. ga persis gitu juga sih. (apaan sih, jd bingung).
    btw, tulisanku bukan review film si. cuman artikel gitulah... entahlah. ga sempat beli majalahnya si

    BalasHapus
  3. lho?
    itu tulisan epe to?

    tiang kan selalu beli majalah Cinemags, cuma gak sadar kalau itu tulisan epe. Langsung tiang buka Cinemags tiang dan baca neh. Heheheh..

    Siapa bilang tulisan itu jelek?
    terus terang, karena tulisan itu (sebelum tahu kalau itu tulisan epe) membuat tiang ingin mengirimkan tulisan ke Cinemags, cuma masih belum ada ide.

    Hahahah, selamat.

    BalasHapus
  4. Wah, ke daerah UMY koq nggak mampir rumah saya?..deket tuh, masih satu kelurahan :P

    Masa di Gramedia Jogja masih nggak boleh duduk?... di Surabaya, di gramedia mana-mana disediain tempat duduk looh.

    BalasHapus
  5. habibi@ oh y? pembaca cinemags juga? hehehe. tiang ingin nulis lagi nih, tapi y itu tadi, belum ada ide juga.

    Gaphe@ oh y? smpeyan rumahnya dekat UMY po? hehehe. tw neh, Gramed di Yogya masi katro'. padahal saingannya: Toga mas dah mulai nyediain tempat duduk. Toga mas depan empire malah nyediain bangku panjang di tengah-tengah toko.

    trims dah mampir

    BalasHapus
  6. Waaaah jadi penasaran, pinjem dunk...!! Ikutan Barock nech...
    Huda bakat jg yaa...Ntar jd penulis terkenal dech.

    BalasHapus
  7. Bi Miena, Trims...
    pinejm gimana y? saya kan ga beli kemarin. Habibi yang beli.

    amien, mudah-mudahan bisa jadi penulis. hohoho

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

10 Film Asia yang Tak Terlupakan

Sandikala

random#9