Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya


Judul: Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya

Penulis: Ajahn Brahm
Penerbit: Awareness Publication
Cetakan ke-13, Agustus 2010. 


sebenarnya, saat pertama kali melihat buku ini aku tidak terlalu tertarik. Tadinya kupikir isi buku ini akan sama saja dengan buku-buku motivasi lainnya. Lagipula saat itu aku belum tahu menahu siapa si Ajahn Brahm.

Disampulnya ada label dengan tulisan: garansi 100% uang kembali jika anda tidak mendapat manfaat setelah membaca buku ini.
Well, kita tidak boleh berburuk sangka juga sama label tersebut. Mungkin niatnya benar-benar baik. Benar-benar bermaksud mengembalikan uang kita 100% kalau tidak mendapat manfaat.

Namun saat pertama kali melihatnya kesan yang muncul adalah; gila….ini strategi marketingnya maksa banget! (seolah-olah aku paham strategi marketing yang bagus itu seperti apa). Temanku yang sempat melihat sampul buku ini juga menjadikan label tersebut sebagai lelucon.

Tapi yang terpenting, aku akhirnya mendapat kesempatan membaca buku ini. Dikasih minjem. Gratis pula. Sekarang aku malah siap-siap memburu buku-buku Ajahn Bram yang lain.


108 Kisah
Ada 108 kisah dalam buku ini. Judul buku: Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya adalah kisah ke 108, atau kisah penutup. Secara anatomis, (kalau seandainya kata ‘anatomis’ membuatku kedengaran lebih cerdas), buku ini terbagi menjadi sebelas bagian. Kisahnya sambung menyambung, atau berkaitan satu sama lain. Atau entah apa istilahnya. Yang pasti, membacanya seperti mengadakan sebuah perjalanan. Sebuah perjalanan mencari kebijakasanaan dengan seorang biksu yang, mmm…. ‘gokil’!

Meskipun beliau seorang biksu, bukan berarti cerita-cerita dalam buku ini hanya diperuntukkan bagi penganut Buddhis saja. Tema-temanya universal dan tidak ada semacam doktrin yang memaksa dan arogan. Sebagian besar kisah adalah pengalaman sang penulis sendiri. Ada juga beberapa kisah yang ia ambil dari kisah-kisah kuno Buddhis, ataupun kisah rakyat. Kemudian dengan bahasa yang ringan dan jenaka ia menyampaikan pandangannya mengenai kisah tersebut.
Tiga Pertanyaan Kaisar
Agak sulit memilih mana kisah yang paling kusukai. Aku suka semua kisahnya. Tapi yang satu ini lumayan istimewa; Tiga Pertanyaan Kaisar.


Kisahnya tentang seorang kaisar yang mencoba menemukan sendiri falsafah hidupnya, karena agama dan filsafat yang ada masa itu tidak memuaskannya. Sang kaisar pun menyadari bahwa yang ia perlukan sebenarnya adalah jawaban atas tiga pertanyaan berikut:
  1. Kapankah waktu yang paling penting?
  2. Siapakah orang yang paling penting?
  3. Apakah hal yang paling penting untuk dilakukan?
Anda tentu bisa menjawab sendiri pertanyaan ini. Atau anda bisa juga mencari tahu jawaban apa yang didapat sang kaisar dan mencocokkannya dengan jawaban sendiri. Saya tidak mau spoiler di sini, jadi alangkah baiknya kamu membaca sendiri bukunya, hehehe.
Gokil dan tidak Ja’im

Menurutku, inilah yang membuat buku ini istimewa. Penuturannya lucu, kadang konyol, dan sama sekali tidak ja’im. Banyak bagian cerita yang bikin kita geli dan tergelak. Mungkin beberapa kisah pernah kita dengar atau baca di buku lain. Mungkin juga beberapa butir kebijaksanaan di sini sama sekali tidak baru bagi pembaca. Tapi, dengan cara bertuturnya yang jenaka membuat buku ini istimewa
Kalau Kamu suka baca bukunya Gede Pramana atau Jusuf Sutanto misalnya, ada baiknya kamu mencoba yang satu ini
Adakah hal-hal baru? Mungkin kalau pertanyaan yang ini jawabannya relatif. Yang membuatku malas membaca buku motivasi adalah; sering kali hal yang kita temukan pada satu buku sudah pernah kita baca dibuku lain. Tapi kalau boleh jujur, memangnya di dunia ini masih ada yang benar-benar baru? Atau pertanyaan yang lebih memalukan lagi adalah; jika kebijaksanaan lama saja belum becus diterapkan, kenapa masih mencari yang baru juga?
Jadi adakah hal-hal baru di buku ini? Sekali lagi jawabnnya relatif. Hal baru yang kutemukan dalam buku ini siapa tahu merupakan hal usang dan membosankan bagi pembaca lain. Setiap kisah dan kebijaksanaan menyentuh kita dengan cara yang berbeda-beda. Yang terpenting sih, selalu ada pelajaran yang bisa kita ambil dari segala hal selama kita memang ingin mengambil pelajaran darinya. (hahahaha, ko’ saya jadi so’ bijak begini yak?)
Siapa Ajahn Brahm?

Kurasa nama aslinya Peter Bets. Kalau aku tidak salah ingat, dalam salah satu kisah di buku ini ia menyebutkan bahwa ibunya tetap memanggilnya ‘Peter’. Ajahn Brahm dulunya kuliah di Cambridge dan penyandang gelar sarjana Fisika Teori
Dia dulunya satu kelas dengan illmuwan kini terkenal; Stepehen Hawking. Dia juga salah satu ilmuwan muda yang sempat mengajar selama setahun. Tapi akhirnya ia memilih menjadi Biksu dan belajar pada salah seorang guru Buddhis paling tersohor dari Thailand; Ajahn Chah

Kini ia mengepalai sebuah Wihara di Australia dan terus mengabdi kepada masyarakat. Salah satu bentuk pengabdiannya adalah dengan mengunjungi penjara-penjara, memberikan ceramah dan mengajarkan meditasi. Beberapa kisahnya yang kocak dalam buku ini adalah pengalamannya saat mengabdi di penjara

Satu lagi yang saya suka, ilustrasinya…. Mungkin karena belakangan ini lagi belajar bikin ilustrasi, jadinya aku memperhatikan setiap ilustrasi dalam buku-buku ini. (ilustrasi-ilustrasinya tidak kalah kocak. Lihat saja di sampulnya! Seekor cacing centil yang tersenyum, memegang sendok dan dan mengacungkan tanda victory dengan tangan kirinya)




.

Komentar

  1. koq aneh gitu judulnya,
    jadi kesimpulannya? Huda dapet manfaat gak setelah baca buku ini??...

    *ya ada laah.. : mengisi waktu luang*

    BalasHapus
  2. hehehehe...
    dapat ko'. coz kalau ga dapat kan saya ga bisa nuntut uang kembali 100%. soalnya kemarin nebeng. heheh

    tapi bukunya keren Gila!

    BalasHapus
  3. Ho..hoo..Sbelum membaca tulisan Huda alias br lihat gambar si cacing yg terpajang dgn senyum manisx sy pikir itu buku dongeng utk anak2 SD, hehey...trnyata dan trnyata, sbenarx ngk ada rugix Qt membaca...pasti ada manfaatx walo trkadang kurang mnarik, tp setidaknx membaca masih lbih baik drpada nonton film porno sprti kebanyakan yg digemari anak muda skarang...

    BalasHapus
  4. Si cacing yg Kerren...heheey...kasih manfaat jg tuch buku pinjeman, tp dipikir2 buku/kertas bungkus kacang klo dibaca pasti dpt manfaatx jg...Mari mencintai budaya membaca...

    BalasHapus
  5. iya Bi.. emang membaca itu tidak ada ruginya. apalagi buku yang satu ini.

    recommended

    BalasHapus
  6. yang lebih mantap lagi, mas huda ini membaca sekaligus menulis! hehe, mantap, kang!

    keep reading writing!!

    BalasHapus
  7. mishbah@ hehe..
    makasi ya! keep writing juga bro!

    BalasHapus
  8. Salam, Ude nice review, hmm..stlah baca buku itu Saya jadi minder skligus sdih sndiri, org yg non-Muslim sgt mengamalkan ajarn yg kita pahami sgt baik dan menggugah. Kpn kita book hunting lg? :)

    BalasHapus
  9. Hendra@ makasi hen. kapan diambil bukunya nih? hehehe. emang buku ini keren banget. kapan kita hunting lagi? kapan saja! tiang juga lagi pengen beli buku. nunggu kiriman dulu ding

    BalasHapus
  10. Oke Ude, Hmmm...scpatnya akn Sy kbari. wah buku2 yg dibeli kemarin sdh ada yg hbis Sya baca sbgian, isinya ngga' klah sm yg sblumnya. Keep contact yh :)

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

10 Film Asia yang Tak Terlupakan

Sandikala

Film Korea Yang Layak Kamu Tonton