Tentang Suara

Disadari maupun tidak, sebenarnya ada banyak suara dalam diri kita. Bagi kalian yang suka menulis cerpen atau novel, pasti tahu maksudku. Kadang aku sendiri heran, bagaimana orang-orang itu bisa muncul dalam cerita kita? Tokoh-tokoh yang bukan kita sekaligus diri kita. Malah kadang berbeda sama sekali dengan diri kita.

Saat aku membongkar tulisan-tulisanku yang sudah lama sejak aku SMA atau semester-semester awalku dulu (cerpen-cerpen yang belum juga berhasil kuselesaikan), aku seringkali heran dengan orang-orang yang membentuk cerita itu.

Yang lebih mengejutkan lagi, akulah yang telah menulis mereka.

Kadang alasan utama kenapa cerita yang ku tulis tidak juga selesai adalah karena aku belum tahu apa yang benar-benar diinginkan oleh tokoh-tokoh itu. Kadang aku mendapat ide atau sesuatu yang ingin kusampaikan lewat ceritaku, tapi sampai di tengah cerita aku kehilangan arah. Kadang si tokoh seperti punya keinginannya sendiri.


Tak tahulah... mungkin karena aku masih penulis amatir.

Tapi hal lain yang membuatku sadar mengenai banyaknya suara dalam diri kita adalah situs jejaring sosial. Terutama Facebook. Tahu, kan Facebook? Di situ kita bertemu lagi dengan teman-teman dari jaman SD, SMP, SMA, sampai teman kuliah. Bertemu dengan keluarga, dengan saudara, dengan teman-teman yang kita kenal dari suatu pertemuan, dari tempat kursus, atau memang kenal lewat Fb karena kesamaan interest.

Kalau tidak salah aku pernah baca di Cinemags (lupa di edisi berapa,) sebuah kutipan dari Spielberg; “kita tidak pernah menjadi orang yang sama seumur hidup kita.” Tapi uniknya, saat bertemu dengan orang-orang dari masa lalu, SMP atau SMA, kita cenderung menjadi orang yang sama lagi. Mungkin secara fisik (penampilan) kita bisa menunjukkan perubahan yang terjadi pada diri kita dengan nyaman. Tapi lewat suara?

Cara biacara, atau pilihan kata yang kita pakai pada satu kelompok belum tentu sama saat kita berada di kelompok lain. Atau salah satu contoh sederhananya, saat kita memakai kata-kata makian.

Bisa saja di keluarga kamu menyetel diri untuk tidak memakai kata kasar jenis apapun. Tapi saat berada di kelompok lain, di antara teman-teman, dengan lancar kata-kata itu meluncur begitu saja. Tapi saat kamu berada lagi di antara keluargamu, kamu tidak akan mengalami kesulitan untuk menghindari kata-kata itu. Tidak melulu kata-kata kasar sebenarnya. Pasti banyak contoh lain yang teman-teman sudah mengerti sendiri.

All I’m saying is, kita membentuk image tertentu pada satu orang, dan image yang agak berbeda pada orang lainnya. Kpribadian ganda? Ku rasa tidak. Mungkin ini sebabnya saat kita memilih untuk berubah, jauh lebih nyaman untuk masuk ke lingkungan pergaulan yang memang mengakomodasi perubahan tersebut. Karena saat kita kembali ke teman-teman lama, dialog yang muncul adalah jenis dialog yang sama dengan dialog-dialog yang kita lakukan dengan mereka bertahun-tahun lalu.

Atau mungkin juga karena orang lebih fokus ke soal fisik. Saat reunian dengan teman-teman SMA, perubahan yang pertama terdeteksi adalah perubahan fisikmu. Kalaupun ada perubahan dalam dirimu, seperti kedewasaan atau pola pikir, mereka tidak akan terlalu ambil pusing. Selama kamu masih berpakaian dengan caramu saat terakhir kali bertemu dengan mereka dulu, bagi mereka kau adalah orang yang sama saja.

Kembali ke soal suara dan FB tadi. Di Fb itu… kita bertemu dengan semua jenis orang. Teman lama dan baru. Teman SMA dan SMP. Teman kuliah. Teman kerja, dan seterusnya-dan seterusnya. Nah… secara tidak langsung, perbedaan suara-suara yang kita pakai pada teman-teman itu akan bertemu di sini.

Efek perbedaan suara yang paling kentara di FB itu adalah saat kita kelimpungan dengan sebuah komen. Iya… komennya biasa aja sih sebenarnya. Bisa saja kata-kata yang dia pakai saat mengkomentari status kita adalah kata-kata yang sama dengan yang dia pakai di kehidupan sehari-hari.

Tapi akan sangat ribet jika itu komen nyempil di antara komen handai taluan atau teman-teman yang di mata mereka kita adalah mahluk baik-baik. Hehehe. Anda pasti pernah mendapat komen neraka semacam ini. Dan besar kemungkinan anda pun pernah menulis komen sejenis ini tanpa menyadarinya. Itulah hebatnya FB. Kata-katanya tidak mesti sarkastis. Kadang malah tidak sarkastis sama sekali. Kadang isu tertentu. Atau komentar apa saja yang menurut kita berbahaya dan bisa menghancurkan reputasi kita sebagai manusia indonesia yang baik dan benar. Halah.

Intinya sih… disadari ataupun tidak, apa yang dikatakan Spielberg benar, kita tidak pernah menjadi orang yang sama seumur hidup kita. Kita bisa menjadi orang yang luar biasa jutek pada satu orang, tapi pada orang lainnya mungkin kita menjadi orang yang ramah dan murah senyum.

However, tidak usah blingsatan kalau menerima komen ga jelas. Karena orang lain tidak akan mengubah sudut pandanganya mengenai Anda dalam waktu sekejap hanya gara-gara satu-dua komen. Lebih dari itu orang juga bisa memakluminya. Karena setiap orang pasti punya sisi gelapnya sendiri-sendiri—yang kadang diam-diam sudah ditahu oleh orang-orang terdekat anda, tapi demi alasan sopan santun mereka pura-pura tidak tahu. (atau mungkin karena mereka mengenal anda lebih baik dari si cecunguk yang nulis komen itu)

Ada temanku yang secara memprihatinkan dihina habis-habisan oleh mantannya. Kenyataannya, hinaan itu tidak begitu saja membuat orang-orang yang baca komen itu ikut-ikutan membenci temanku ini. Atau tidak mengubah sama sekali sudut pandang kami terhadapnya. Karena kita mengenal orang-orang dengan cara yang berbeda. Karena suara yang ia pakai pada anak itu mungkin suara yang berbeda saat berinteraksi dengan kami selama ini.

Karena aku yakin hampir semua orang sudah punya akun FB saat ini, tentunya mereka lebih mudah mengerti apa yang kumaksud. Saat berselancar ke page-page tertentu mereka berbicara dengan bahasa yang sama sekali berbeda. Saat mengomentari status satu teman dengan status teman lainnya, ia akan mengetikkan kata-kata yang berbeda. Atau ada sikap tertentu yang dengan sendirinya nampak dari kata-kata yang mereka pilih.

Apaan sih, tulisanku jadi ga’ jelas gini. Heheheh. Lagi bingung mau posting apa


.

Komentar

  1. sepertinya saya merasakannya....

    yeaaach...!

    BalasHapus
  2. hmm...bingung, hehehe

    tapi, aku jadi inget kata abiqu ne yang rada-rada nyambung ama artikel ini, kata beliau, "manusia itu ibarat huruf abjad, sangat berbeda satu dengan yang lainnya, begitu pula jika bertemu dengan huruf lain, tidak akan sama bunyinya antara bertemu dengan yang satu atau yang lainnya"
    agak ribet sih, tapi kayaknya bisa dimengerti deh..(maksa)

    btw, sarkatis itu arti simple nya apa si???

    BalasHapus
  3. setaiap orang ibarat huruf abjad?
    That's a very cool thought! keren abnget itu apa yang dikatakatan abi-mu..

    sarkastis? mmmm... googling aja deh. hehehehe

    BalasHapus

Posting Komentar