Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2010

Sandikala

Gambar
Senja, kalau di Kampung halamanku dikenal dengan istilah “sandikala”.

Saat sandikala adalah saat kita harus pulang dan tidak boleh keluyuran. Saat-saat bake’ (sejenis jin yang serba merah), bebodo (lelembut yang suka menculik anak-anak), serta segala jenis mahluk jahat lainnya, keluar dari perut Bumi. Mereka berkeliaran pada saat-saat seperti ini--dan karenanya, anak-anak tidak boleh berada di luar rumah.

Tentu saja setelah bukan anak-anak lagi aku sudah tidak percaya dengan hal-hal semacam itu. Kalaupun aku masih takut-takut dengan yang namanya jin atau sejenisnya, aku tidak lagi melihat waktu-waktu sandikala sebagai waktu yang seram. Malah, saat mulai remaja—dan berlanjut sampai sekarang—saat Sandikala adalah saat yang agak membingungkan untukku.

Bingung mau diisi dengan kegiatan apa...

Pesendirian VS Persahabatan

Manusia itu mahluk sosial, begitu katanya, yang berarti tak seorang pun sanggup hidup sendiri. Kalau katanya Dalai Lama sih, “manusia bisa hidup tanpa Tuhan ataupun tanpa Agama, tapi manusia tidak bisa hidup tanpa kasih sayang dari manusia lain.”

Anyway, diakui maupun tidak, ada kalanya kita membutuhkan waktu untuk sendirian, kan? Justru aku heran ketika seseorang begitu takutnya sendirian, sampai-sampai ke kantin beli makan siang dia tidak ingin terlihat berjalan tanpa teman
. Sendiri identik dengan hal-hal menyedihkan. Seolah-olah kau tidak disukai oleh siapapun. Padahal, yang terjadi kadang sebaliknya. Kadang ‘kebersamaan’ bisa membuat kita letih. ‘kebersamaan’ Justru menjadi sumber masalah dan kesedihan itu sendiri. Kadang waktu ‘kebersamaan’ bisa lebih hampa daripada waktu yang dihabiskan sendirian. Pada saat semacam inilah kita butuh menepi
. Terlebih lagi jika ‘kebersamaan’ itu adalah kegiatan yang itu-itu saja. Rutinitas akhir pekan yang sama juga. Berkumpul dan rapat untuk m…

Seandainya Penting Tidak Terlalu Penting

Gambar
Kyaah… sudah lama juga aku tidak memposting di sini. Setelah sepuluh harian berpuasa menulis dan  sepuluh harian tidak melakukan apa-apa karena memang sedang tidak ingin melakukan apa-apa, hehehe (dasar Pemalas!)
.
Sebelum aku terseret lebih jauh dalam pusaran rasa malas dan jenuh, kurasa aku perlu menulis satu atau dua postingan. Kasihan juga ini blog terbengkalai. Dan, setelah merenung  dan merenung, masih saja belum ada semangat untuk menyentuh tuts-tuts keyboard ini

Saya tidak tahu apakah tulisan ini penting atau tidak. Kalaupun menurut anda tidak terlalu penting, yah tidak apa-apa. Memangnya sejak kapan saya menulis hal-hal penting di sini? Sejak kapan pula saya begitu peduli dengan yang namanya penting dan ga’ penting?
. Kata “penting” sudah saya hapus dari kamus saya. Pertama, saya benci kata ini. Kedua, saya benci orang yang berlagak so’ penting. ketiga, saya benci “penting” itu sendiri. Makanya saya mencintai diri saya sendiri berikut tulisan-tulisan yang saya buat di sin…