Pesendirian VS Persahabatan

Manusia itu mahluk sosial, begitu katanya, yang berarti tak seorang pun sanggup hidup sendiri. Kalau katanya Dalai Lama sih, “manusia bisa hidup tanpa Tuhan ataupun tanpa Agama, tapi manusia tidak bisa hidup tanpa kasih sayang dari manusia lain.”

Anyway, diakui maupun tidak, ada kalanya kita membutuhkan waktu untuk sendirian, kan? Justru aku heran ketika seseorang begitu takutnya sendirian, sampai-sampai ke kantin beli makan siang dia tidak ingin terlihat berjalan tanpa teman
.
Sendiri identik dengan hal-hal menyedihkan. Seolah-olah kau tidak disukai oleh siapapun. Padahal, yang terjadi kadang sebaliknya. Kadang ‘kebersamaan’ bisa membuat kita letih. ‘kebersamaan’ Justru menjadi sumber masalah dan kesedihan itu sendiri. Kadang waktu ‘kebersamaan’ bisa lebih hampa daripada waktu yang dihabiskan sendirian. Pada saat semacam inilah kita butuh menepi

.
Terlebih lagi jika ‘kebersamaan’ itu adalah kegiatan yang itu-itu saja. Rutinitas akhir pekan yang sama juga. Berkumpul dan rapat untuk membicarakan hal yang sama seperti bulan kemarin atau tahun kemarin. Duduk melingkar dan mendiskusikan yang itu-itu juga. Acara jalan-jalan dengan orang-orang yang sama terus, sebagus apapun kedengarannya, tapi rasanya akan sama saja. Sementara dalam dirimu ada yang terus bersuara; “something more to life!”
.
Bosan is Normal
.
Ada satu kata yang cukup bagus menggambarkan situasi macam ini; bosan!
Masalahnya kita kadang salah tingkah dengan kata bosan ini. Terutama kalau menyangkut mahluk hidup bernama manusia. Tentunya akan kedengaran kejam kalau kita dengan jujur berkata ke seorang teman, “Aku sudah bosan denganmu.” Hohoho, mengamuklah dia. Bahkan kalau diungkapkan dengan bahasa inggris lewat sms pun kedengarannya bakal tetap kejam; “I’m done with you!”
.
Tapi kalau dipikir-pikir, yang namanya bosan dalam bergaul pun wajar-wajar saja. Secara halus kita akan menarik diri dari suatu pergaulan. Bukan menghilang tiba-tiba. Tapi lewat penolakan sedikit demi sedikit. Biasanya aku tidak mengalami masalah. Seumur-umur tidak pernah. Baru kali ini ada yang protes-protes dan menuduh egois. Dan semua itu berada di bawah bendera bernama “sahabat”
.
Sahabat itu apa sih?
.
Kelak, kalau kau berniat menjalin persahabatan dengan seseorang, jangan ragu-ragu membuat MOU dari awal terlebih dahulu. Bila perlu diprint, dilaminating, terus dibingkai di kamar masing-masing (trauma). Sepertinya setiap orang punya definisi yang berbeda tentang apa itu ‘sahabat’. Labih konyolnya lagi, semua orang menginginkan definisinyalah yang berlaku. Memaksakan definisi tersebut dan marah-marah kalau ‘persahabatan’ dalam versinya dilanggar
.
Menurutku, persahabatan itu memang dibutuhkan, tapi itu tidak otomatis menjadikan ‘sahabat’ kita sebagai kebutuhan layaknya sembako. Persahabatan itu bukan bergantung secara emosional seratus persen. Apalagi sampai depresi berat begitu sahabat kita itu tidak lagi available
.
Sahabat itu tidak harus bersama kita dua puluh empat jam! Sahabat juga bukan berarti dia tidak boleh punya teman sendiri apalagi kehidupan sendiri (ini sih posesif). Dan yang terpenting, karena sahabat juga manusia biasa, ia bisa bosan dengan Anda. Sekejam apapun kedengarannya, tapi yah, kadang itulah yang terjadi. Dan kalau seseorang mulai bosan, ia akan mencari sesuatu yang baru (dan jangan marah kalau anda bukan sesuatu yang baru tersebut)
.
Persahabatan itu bukan saling menggantungkan nasib masing-masing (yang ini sih pernikahan namanya). Persahabatan itu….mmm…kalau dalam lagu yang pernah populer, “mengubah ulat menjadi kupu-kupu”. Nah loh, kalau sudah jadi kupu-kupu, ngapain ngotot mendekam di dalam kepompong? Padahal dunia begitu luas untuk dijelajahi
.
Persahabatan itu Abadi?
.
When it’s done, it’s done! Apa sih yang abadi di dunia ini? "tidak ada keabadian dalam segala sesuatu yang kita senuh. Tidak ada yang dapat kita genggam di dunia ini," ini adalah salah satu kutipan favoritku.
.
Kalaupun ada yang ngotot bahwa persahabatan itu abadi. Kurasa, letak ‘keabadian’ dari suatu persahabatan itu bukan pada frekuensi “kebersamaan” kita. Bukan pada seberapa banyak kita menghabiskan waktu bersama. Tapi bagaimana persahabatan itu ‘mengubah’ kita. Menjadikan kita bukan lagi orang yang sama seperti sebelumnya. Dengan begitu, kemanapun kita pergi, kita membawa ‘persahabatan’ itu bersama kita
.
Mestinya ‘persahabatan’ tuh, membantu kita agar mampu membantu diri sendiri. Lebih baik lagi jika persahabatan itu membantu kita belajar menjadi sahabat bagi diri sendiri. Jika ada orang lain yang mau menjadi sahabat kita, mengapa kita tidak bisa menjadi sahabat bagi diri sendiri? Jika kita bersedia meluangkan waktu bagi orang lain, mengapa kepada diri sendiri kita enggan meluangkan waktu?
.
Kita tidak selamanya bersama orang lain, tapi kita, selama masih hidup akan selalu bersama diri sendiri.
.
Viva Solitaire
.
So, tidak perlu ngamuk-ngamuk kalau temanmu atau sahabatmu memutuskan “menyepi” atau semacamnya. Kadang kebersamaan itu melelahkan. Dan sikap obsesif dan marah-marah dengan alasan apapun, semakin membuat ‘temanmu’ itu letih
.
Kadang justru saat sendirian kita merasa lebih damai. Setelah bertahun-tahun terlibat dalam hiruk pikuk dan keramaian. Saat berdiri di tengah kesibukan kita kadang merasa sepi. Kadang jiwa kita merasa sendirian meski saat itu kita tengah duduk menertawakan sebuah kelakar dari seorang teman. Kadang yang paling kita butuhkan adalah diri kita sendiri, bukan siapa-siapa. Kita tidak bisa selamanya mengandalkan orang lain untuk mendengar keluhan-keluhan kita. Siapa pula yang mau mendengar radio rusak yang mengulang keluhan-keluhan yang sama?
.
Dan satu lagi, sahabat kita bukanlah milik kita. Dia bukan barang yang bisa kau miliki selama-lamanya.


.

Komentar

  1. Jujur..karena sekarang saya lagi dalam kesendirian *literally*

    makanya yaa dinikmati aja.. pas kalo lagi banyak temen yaa nikmatin, nggak selamanya kayak gini.

    *Saya lagi mencoba mensyukuri setiap keadaan sih..

    BalasHapus
  2. Mantepb abiz.. B2 sangat setuju dgn pendapat Naken Uda mengenai sahabat, terkadang orang mengasumsi sahabat itu berlebihan, Klo B2 pribadi bisa dibilang tak punya sahabat yg banget2..__Bukan tak mau bersahabat tp takut terlalu merasa kehilangan saat sahabat mulai berkhianat..Bukankah itu mungkin saja terjadi..__
    (Agen dendek te sakit angen lalok)
    Bertemanlah secara wajar, akrab boleh saja tp jgn menjadi terikat hanya karena status "Sahabat"..__

    BalasHapus
  3. Gaphe@ emang enaknya gitu sih. inginnya santai aja menikmati tiap keadaan. but kadang pas bosan atau capek inginnya menarik diri. atau emang ingin ke level "keseharian" yang berbeda aja. istilahnya siy, "moving on", begitu katanya.

    Bi lIna@ Iya bi. pengennya yang wajar-wajar aja. bukannya malah saling ngatur atau salaing nuntut gitu. cape'.

    BalasHapus
  4. Kalo' aq ma sahabatQ sih, dari awal kita kenal, qt sama2 kasih warning tentang kekurangan masing2.Trz, qt sering banget bertukar pikiran.Jadi, masing-masing dapat ngenalin pemikiran masing2.Lama2, saling "membuka" diri.Klo dari aku-nya, aq putuskan, klo bersahabat tidak hanya sekedar untuk saling menemani, tapi maju bersama.Aq g pingin persahabatan ini cuma bernilai sekadar relasi, jadi harus bernilai sesuatu.Mungkin, karena sifat qt banyak kesamaan, dan qt juga sama2 tipe soitaire, jadi qt bisa ngerti masing2 soal butuh sendiri,walaupun gak selamanya langsung paham "sign"-nya sih. Toh, masing2 juga sering berbagi soal itu.

    Memang, pada perkembangannya, banyak deh konflik terjadi.Tapi, selama itu untuk kebaikan, ya kita harus hadapi,kn?EMang sih, bosen itu wajar.Tapi, karena serigkali dari awal kita udah kasih nilai pentingnya, dan yah mungkin bisa dibilang komitmen jg sih.Aq rasa, saat qt bener2 bisa ngisi persahabatan kita n bener2 terbuka satu sama lain, kebosanan itu gak akan sampe mengakhiri persahabatan.G bisa dipungkiri, kita butuh orang yang mengerti kita, yang ada saat qt butuhkan, yang paham setiap "sign" dari kita.Reaksi sahabat yang seperti itu, aq rasa wajar aj.Tapi, klo emang dari awal udah ada saling mengenal n memahami, pastinya saat kita utarakan alasannya dia bisa nerima, meski g gampang juga.Qt juga harus paham, g smua orang bisa mengerti keinginan kita, termasuk sahabat.

    Dalam perjalanan persahabatanQ, aq rasa kata2 "sahabat selalu ada disaat kita membutuhkan", atau "sahabat itu abadi", itu mmg g spenuhnya benar.Sahabat itu manusia, bukan bagian tubuh kita, yang selalu ngikut kemanapun mereka mau(anggota tubuh aj juga bisa "meninggalkan" qt).Begitu pula, mereka punya kehidupan sendiri.Pun, persahabatan itu bukan sesuatu yang selalu stabil selamanya. Sama kayak tumbuhan, kalo gak dipupuk , dirawat, ya bisa aja mati, apalagi kena sinar matahari terus menerus.Dan, psahabatan itu bukan tumbuhan yang mudah untuk dirawat.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

10 Film Asia yang Tak Terlupakan

Sandikala

Film Korea Yang Layak Kamu Tonton