Seandainya Penting Tidak Terlalu Penting


Kyaah… sudah lama juga aku tidak memposting di sini. Setelah sepuluh harian berpuasa menulis dan  sepuluh harian tidak melakukan apa-apa karena memang sedang tidak ingin melakukan apa-apa, hehehe (dasar Pemalas!)
.
Sebelum aku terseret lebih jauh dalam pusaran rasa malas dan jenuh, kurasa aku perlu menulis satu atau dua postingan. Kasihan juga ini blog terbengkalai. Dan, setelah merenung  dan merenung, masih saja belum ada semangat untuk menyentuh tuts-tuts keyboard ini

Saya tidak tahu apakah tulisan ini penting atau tidak. Kalaupun menurut anda tidak terlalu penting, yah tidak apa-apa. Memangnya sejak kapan saya menulis hal-hal penting di sini? Sejak kapan pula saya begitu peduli dengan yang namanya penting dan ga’ penting?
.
Kata “penting” sudah saya hapus dari kamus saya. Pertama, saya benci kata ini. Kedua, saya benci orang yang berlagak so’ penting. ketiga, saya benci “penting” itu sendiri. Makanya saya mencintai diri saya sendiri berikut tulisan-tulisan yang saya buat di sini karena memang tidak ada yang penting dalam tulisan saya dan diri saya sendiri.

 .
Kenapa ‘penting’ begitu penting?
.
Kenapa sih kita selalu memberi nilai pada segala hal dan setiap orang? Kita selalu memberi label mana yang penting dan mana yang tidak penting. Membedakan mana orang yang penting dan layak diajak bicara dengan mana orang yang tidak penting dan sebaiknya diabaikan saja.
 .
Bayangkan kalau seandainya di dunia ini kita tidak lagi memusingkan mana yang penting dan mana yang tidak penting? Mungkin, sedikit banyak, hidup kita bisa lebih ringan.
 .
 “Penting” telah membuat kita terpenjara. Ketika kita menganggap bangun pagi itu penting, kita akan merasa bersalah kalau bangun kesiangan. Kalau yang bangun kesiangan itu orang lain, kita akan menegurnya dan menganggap teguran kita sebagai kegiatan yang sangat penting. Kalaupun orang tersebut belum juga berhasil bangun pagi, akhirnya kita menyimpulkan dia bukan orang penting. Karena orang yang tidak berhasil melakukan kegiatan yang sangat penting seperti bangun pagi  bukanlah orang penting (lost).
 .
Kurasa, setiap orang kini sudah terobsesi dengan yang namanya “penting”. Kita selalu mengukur kadar penting-tidaknya setiap hal dan setiap orang. Kita mati-matian berjuang untuk menjadi orang penting. Dalam dunia yang serba penting ini, siapa sih yang mau dianggap tidak penting?
 .
Jalan Pintas Menjadi Penting
.
Untuk menjadi orang penting ada banyak cara yang harus ditempuh. Mulai dari pendidikan formal, segepok uang, tebar pesona, operasi plastik, bikin skandal, menulis, berkarya, menipu (orang lain maupun diri sendiri), punya mobil atau motor merk tertentu, punya gadget paling canggih, menduduki jabatan tertentu dan yang paling umum dilakukan adalah “memberi nasihat”.
 .
Dari sekian banyak hal yang membuat orang terlihat penting, “nasihat” adalah cara paling umum dan mudah. Orang-orang yang  terobsesi menjadi orang penting biasanya hobi banget ngasi nasihat. Meskipun tidak diminta. Nasihat adalah jalan pintas yang tidak membutuhkan banyak modal. Modal mulut dan ego  doang, modal otak kadang tidak dibutuhkan. 
 .
“Saya, kan cuma ingin memberi nasihat,” ujarnya  setelah ngomel-ngomel selama setengah jam. Seolah-olah kita bersalah kalau tidak menghargai nasihat tersebut. Syukur-syukur gue nasihatin elu, gratis, ga usah protes!—begitulah kira-kira pesan yang tersirat dari orang-orang yang terobsesi menjadi penting ini.
 .
Biasanya nasihat yang paling bernilai atau yang paling kita pertimbangkan adalah nasihat dari orang tua kita. Dan karenanya, orang tua terutama ibu adalah orang terpenting dalam hidup kita. Untuk menjadi orang terpenting tersebut, dia tentu saja telah cukup sabar membesarkan kita selama bertahun-tahun (pokoknya ga’ gampang banget deh jadi ibu itu). Makanya, ‘nasihat’ darinya selalu penting.
 .
Tapi, orang-orang ini, yang tidak pernah melahirkan Anda, tidak pernah menyusui Anda, tidak pernah memberi Anda uang jajan, dan tidak pernah terbangun di tengah malam karena tangisan Anda, memberi anda nasihat tanpa diminta. Dia juga bukan bos atau atasan yang menggaji Anda. Siapa sih yang tidak jengkel? Kalau anda diperlakukan seperti ini dan Anda punya blog, Anda pasti akan ngomel-ngomel lewat blog tersebut, hehehe.
 .
Well, aku sih tidak tahu kenapa ‘dia’ begitu terobsesi menjadi orang terpenting dalam hidupku. Dan obsesi tersebut membuatnya menyebalkan dan secara rutin memberi nasihat tanpa diminta. Kadang meledak juga pertanyaan kejam: “who you think you are?”
 .
Dalam skala tertentu, mengukur penting tidak pentingnya suatu urusan memang ada baiknya. Tapi kalau sudah sampai pada level ekstrim, biasanya orang ini cenderung menyebalkan, hobi men’judge, dan merasa paling benar sendiri. Yang paling menjengkelkan dalam kasusku adalah, ‘dia’ merasa sangat dibutuhkan, dan karenanya dia percaya nasihat dan semua perhatian gratisnya adalah bentuk kemurahan hatinya sebagai sahabat. Sudah gitu, kalau dicuekin, saya malah dituduh kejam dan tidak berprasaan. Kalau sudah begini, kiamat dah….
 .
Akhirnya saya cuekin juga anak itu dan belakangan ini hidup saya jauh lebih tentram. (Diam-diam saya berdoa, mudah-mudahan dia bukan psikopat. Serem juga kalau nanti tahu-tahu dia datang ngebacok saya).
 .



*dah lama tidak posting, saya ko’ jadi marah-marah gini yak? Hehehehe.



Komentar

  1. penting gak penting tuh cuman cara manusia buat mempermudah aja.. ya bisa-bisanya manusia aja sih... jadi ngebayangin kalo nggak ada yg penting dan nggak penting kerjaan presiden cuman salaman sama semua orang aja waktunya dah abis..

    BalasHapus
  2. Gaphe@ iya sih mas... hehehe, harus ada yang penting dan ga penting. marah-marah juga penting, dan tulisan ini sebenarnya dalam rangka marah-marah tersebut.

    Her Long@ yak...

    Barock@ heeeeee....

    BalasHapus
  3. saya sering tuh begitu....!
    merasa cukup penting, jadi sok ngatur orng...suka marah2,
    hohohohoho,
    tapi gimana ya? tu kn krn saya peduli, klw gak peduli ma tu orang buat apa ngabisin energi ntuk ngingetin?

    klw dipikir2 bener juga seeeh...
    (jd pengen malu jg?!)

    BalasHapus
  4. Barock@ hhehehe... btw, hows your life now? hope everything is fine

    BalasHapus
  5. Hmmm...
    Komentar pertama saya membaca tulisan ini adalah saya merasakan luapan emosi yang sedang dikeluarkan (yang mungkin terjadi karena sedang merasa kesal akan seseorang atau kalau bisa disebut sesuatu).

    It's ok. hehehehe...
    Masalah 'penting' dan 'gak penting' itu menurut saya adalah sesuatu yang memang dibuat oleh manusia untuk membedakan sesuatu berdasarkan nilai di matanya.
    Bisa juga untuk mengatus sesuatu agar apa yang dia inginkan bisa terwujud (secepatnya atau lebih lama dari yang dia inginkan).
    Jadi istilah 'penting' dan 'gak penting' itu bukannya gak penting (lho?).

    Tapi, ini tentu saja berbeda jauh dengan hal 'SOK PENTING' itu.

    Begini kalau menurut saya sendiri (setelah melalui pemikiran, pengalaman dan pergolakan batin yang luar biasa - halah lebay ya?).
    ------- peringatan -----------
    -- sepertinya akan panjang sekali tulisan ini --

    Menasihati orang itu tentu saja perbuatan yang baik. Tapi, kita sebagai orang yang memberi nasihat harus tahu diri. Dalam artian, lihat siapa yang kita beri nasihat, kapan waktu memberikannya, hal apa yang kita tegur, dan tentu saja kedudukan kita sendiri terhadapa hal yang kita nasihatkan (atau keluarkan dari mulut kita) kepada orang lain.
    Nasihat atau kata-kata yang kita keluarkan biasanya itu menunjukkan diri kita (kamu adalah apa yang kamu katakan), nasihat itu sering sekali adalah sebenarnya untuk diri si pemberi nasihat itu sendiri (atau ini mungkin berlaku bagi saya saja ya?).

    Hmm, kadang kita menegur orang atas apa yang kita tidak sukai dari orang tersebut. Bagi saya sendiri hal ini sangat bisa dikatakan egois. Kita menegur orang lain berdasarkan ego kita sendiri, sudut pandang kita sendiri, perasaan sendiri terhadap sesuatu tersebut. padahal tidaklah bijaksana melakukan hal tersebut.

    Contoh : menegur orang karena sering terlihat malas-malasan, hanya bermain game dan tidak pernah belajar. Padalah benarkah seperti itu? kita hanya mengetahui apa yang kita tahu, lihat dan mungkin dengar. Tapi kenyataanya bagaimana? mungkin saja dia jauh lebih rajin daripada kita. bisa saja dia lebih pandai daripada kita. mungkin saja dia memiliki metode dia sendir yang dia rasakan nyaman untuk dirinya sendiri.
    Lalu berhakkah kota men'judge atau menasihati dengan keras atas apa yang dia lakukan. Kita kan tidak tahu orang secara keseluruhannya. bukan begitu?
    Okelah kita bisa saja menegur dan menasihatinya. Tapi seadanya, bukti kepedulian kita terhadapnya. sebagai teman, saudara, pacar atau apalah hubungan itu. Tapi lantas karena hal itu kita jadi marah sendir atau sakit hati , bukankah permaslah itu justru ada pada diri pribadi orang yang memberi nasihat? itu kan cuma ego dia sendiri yang dituruti.

    -- dipersingkat aja deh, kepanjangan ntar, lebih panjang dari isi blog-nya sendiri nanti. hehehehe.. --

    Sebagai orang yang dinasihati, tentu saja hal yang paling bijaksana adalah mendengarkan nasihat tersebut dan berusaha menghargai orang yang memberikan kita nasihat (saya tahu ini agak sulit, apalagi kalau nasihatnya kedengaran pedes di kuping, sok ngatur dan sebagainya. saya juga lagi belajar dan kok seperti pelajaran PPKn saja saran saya di atas itu). Hehehehe...

    Nasihat yang baik kita terima, yang jelek terserah deh mau diapakan. hehehehe..

    -- lama-lama saya jadi curhat sendiri di sini --

    BalasHapus
  6. saya mau nangis.
    sudah capek-capek nulis komen panjang banget. banget panjangnya.
    waktu mau dipublish error katena katanay TOO LARGE.

    belum saya copy. hilang deh semuanya.
    kecewa. huhuhuhuhu..

    ntar deh ta bales dari sebuah tulisan aja ya. heheheeee...

    BalasHapus
  7. habibi@ hahahaa, habibi ojo nangis! komen epe (or mungkin essay)epe kesimpen ko' and sudah saya publikasikan tuh.

    hehe, saya hanya bisa mengangguk@ membaca itu (setuju ma semua poinnya). emang, urusan nasihat-menasihati belakangan jadi ribet (dalam kasus saya).

    mungkin saya sendiri juga sering menjadi 'sok penting' dengan memberikan nasihat yang merendahkan logika berpikir orang lain. jadi, apa yang terjadi denganku kali ini, mungkin pelajaran aja sih. hehehe.

    ditunggu tulisannya ya....

    BalasHapus
  8. Ya mungkin dia ingin dapat "pengakuan" aja.

    mungkin butuh untuk ganti di beri saran?

    Sepertinya masalah utamanya karena lagi mangkel ya,,,,,Mungkin, klo aq lebih berpikir bahwa semua hal itu penting.

    Dan, karena itu juga aq suka memberi (anggap saja) saran ke orang lain. Ya mungkin sebagian karena ingin "eksis", dihargai, dll(tp,wjar,kan?).Selebihnya, aq berharap apa yang Qsampaikan bisa membantu.Seneng kan, klo liat orang lain seneng?Apalagi klo kita jg ikut membantu, jadi ada kebanggaan(wjar jg,kn?), jadi merasa hidup qt berarti.

    Tapi, g bisa dipungkiri jg, kadang jadi kelewatan ngasih sarannya,atau gak tau sikonnya, akan lebih baik klo langsung blg aj. Aq bsa tau kesalahan, n bljr memperbaiki, dan aq jg bisa memahami orang itu. Daripada qt ngmong trz dg mksud baik, gtwnya menyakiti orang itu.Nulung Menthung donk jadinya. G enak di dia, jg g enak di aq, apalagi klo tw2 orang itu menjauh n nyuekin.Jadi bgg sendiri, apa yg salah ya?Kadang justru qtnya malah bisa suudzon ma orang yg srg qt kasih saran itu.

    Yah, namanya juga masih belajar, jadi wajar kalo saling mengkritik n evaluasi.Yang penting biar jadi lebih baik,kan?Bukan untuk tujuan meremehkan, atau nge-judge.Atau cuma utk muasin hasrat untuk "cerewet", hehe..

    BalasHapus

Posting Komentar