Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2010

Anak Yang Kayang di tengah Jalan

Pagi kemarin, saat jalan-jalan aku melihat ada seorang anak yang kayang di tengah jalan (Alhamdulillah hari ini berhasil bangun pagi). Sempat kaget juga. Tapi kekagetanku hanya beberapa detik saja, karena detik berikutnya cahaya blits menerpa tubuhnya. Ealaaah, ternyata dia lagi berfoto. Beberapa langkah kemudian, barulah kelihatan temannya yang memegang kamera.

“Giliranku!” kata si anak yang memegang kamera, menyerahkan kamera tersebut dan bergegas melakukan aksi. Dalam hitungan ketiga dia melompat, dan blits menerpa tubuhnya lagi. “masih jelek! Sekali lagi!” ujar temannya. Dan dalam hitungan ketiga dia pun melompat lagi. Aku tidak tahu kenapa dia tidak memilih gaya lain saja. Maksudku, kalau temannya memakai gaya kayang, bukankah sebaiknya dia bergaya dengan lebih heboh lagi? Gaya melompat kan sudah pasaran banget? Kenapa bukan gaya hole on the gorund misalnya (halah)

Saat pagi begini memang masih aman bergaya di tengah jalan. Dan jangan tanya aku kenapa bergaya di tengah jalan jadi…

Review Novel: Dari Arsip Campur Aduk Mrs. Basil E. Frankweiler

Gambar
Sebagai anak sulung dan satu-satunya perempuan membuat Caludia Kincaid merasa sebagai korban ketidakadilan di keluarganya. Dia harus mengosongkan mesin pencuci piring sekaligus menata meja pada malam yang sama. Padahal ketiga adiknya bebas bermain. Ia juga bertugas mengsongkan bak sampah tiap Sabtu dan bergantian dengan Steve untuk mengawasi adik terkecil mereka Kevin. Uang sakunya juga tidak terlalu banyak. Untuk itu ia harus memberi pelajaran kepada orang tuanya, dan berniat kabur dari rumah.

Dengan jauh dari rumah, orang tuanya akan sadar dan akan belajar menghargainya. Tapi dia tidak hanya sekedar kabur. Dia ingin kabur dengan nyaman. Maka ia memilih Museum Seni Metropolitan New York sebagai tempat bersembunyinya nanti. Ia juga tidak ingin pergi sendirian. Lagipula uangnya tidak banyak. Ia membujuk adik keduanya, Jamie yang masih sembilan tahun untuk ikut dengannya dalam 'petualangan besar'.
Ia punya alasan sendiri untuk memilih adiknya Jamie. Adiknya yang satu ini terken…

Berfoto Sama Bule itu keren?

Salah satu kebiasaan aneh kita sebagai orang Indonesia adalah kesenangan kita berfoto dengan turis. Terutama bule. Kalau turis lokal mah….LEWAT! Tidak harus turis sebenarnya. Pokoknya selama dia berkulit putih, tinggi, lebih-lebih lagi kalau pirang, kita akan senang bisa berfoto dekat-dekat dengan mereka. Saat ke tempat-tempat wisata, ngajak turis asing berfoto sama menariknya dengan tempat wisata tersebut. Semacam bonus lah….
Agaknya akan berbeda kalau yang diajak berfoto tersebut seorang selebritis. Tapi bagaimana kalau dia hanya turis? Atau mahasiswa pertukaran pelajar dari luar negeri yang kebetulan jalan-jalan ke Prambanan? Kemudian sekelompok remaja tiba-tiba mendatanginya. 
Biasanya satu dari kelompok tersebut malu-malu minta foto bareng sementara teman lainnya berkumpul tidak jauh dari situ, bergerombol menanti jawaban. Kalau sang bule setuju—entah dia memang setuju atau mungkin bingung—mulailah ritual berfoto-foto itu. Awalnya berkelompok, dengan sang bule di teng…

Review Novel: The Book of Lost Things

Gambar
Bayangkan, kalau ada seorang laki-laki bungkuk nan jail memakai topi runcing, keluar masuk mimpimu, keluar masuk kamarmu, dan ia bisa berubah menjadi burung Gagak. Laki-laki bungkuk ini tengah menyusun cerita dan ia bisa memasukkan apa saja dan siapa saja ke dalam ceritanya selama ia menginginkannya.
Itulah yang terjadi pada David.
Karena kota London tak aman lagi dari serangan tentara Jerman, ia dan ayahnya pindah ke rumah ibu tirinya, Rose, yang terletak di pinggir hutan.  Di rumah tua ini mulai ia melihat laki-laki bungkuk itu  berkeliaran dan masuk ke kamarnya. Hingga suatu malam, saat sebuah kapal perang Jerman melakukan penyerangan, David berlari berlindung ke halaman belakang. Ke kebun cekung dan bersembunyi di sebuah celah di kebun tersebut.

Kita harus GR

Bagaimanapun juga, yang namanya GR selalu lebih baik daripada minder. GR itu menguntungkan. (Asal dosisnya tepat) . Contoh sederhananya begini, kamu suka sama seseorang. Lewat perhatian-perhatian kecilnya kamu mulai ke-Geeran kalau dia juga suka sama kamu. Kalau kegeeran tersebut akhirnya terbukti, ke Geeranmu tidaklah sia-sia. Kalau pun ternyata tidak terbukti, paling tidak kamu mendapat bahan untuk tertawa. Menertawakan diri sendiri itu sehat loh
.
Beda halnya dengan minder duluan! Kan, kamu jadi tidak pernah tahu apakah orang tersebut suka sama kamu atau tidak. Kalau nantinya keminderan itu terbukti—bahwa dia memang tidak suka sama kamu—situasinya tidaklah membaik. Dengan terbuktinya keminderanmu itu, segala padangan negatif terhadap diri sendiri malah makin menjadi.
.
Padahal, belum tentu kamu seburuk yang kamu pikirkan, hanya karena dia menolakmu.
. Parahnya, kalau keminderan tersebut ternyata tidak terbukti—ternyata dia juga suka sama kamu—maka dalam kasus ini kamu RUGI TOTAL. Semua m…

Membeli Kekhawatiran

Salah satu hal paling menggembirakan saat membaca berita beberapa hari terakhir ini adalah, menurunnya aktifitas merapi. Yah, boleh lah. Saya pura-pura tidak membaca berita politik soal si gayus, atau soal TKW, agar kegembiraan saya tidak berkurang.

Sebenarnya, meletakkan kegembiraan pada headline surat kabar tidak sepenuhnya tepat. Karena, berita yang menggembirakan tidak selalu mendapat kolom paling besar di surat-surat kabar (kecuali di negara komunis, saya rasa). Biasanya mereka terselip di pinggir surat kabar. Hal-hal “mendesak dan mengkhawatirkan” memang lebih layak disimak.  
Anda tentu tahu insiden yang menimpa program silet beberapa waktu lalu. Anda pasti tahu! siapa sih yang tidak tahu? Tentang peramal yang mangatakan tanggal 8 November akan terjadi erupsi dengan awan panas mencapai 60 kilometer. Gila…. Berarti riwayat kos-kosanku bakalan tamat….
“Kurang kerjaan,” celetuk ibu kosku kesal.

Perjalanan Dua Purnama

Gambar
Salamanca Hiddle enggan luar biasa saat ayahnya mengajak pindah ke Euclid, Ohio. Ia enggan meninggalkan desanya di Bybanks, peternakannya, pohon willow, maple, gudang jerami dan lubuknya.

Apalagi tempat tinggalnya yang baru di Euclid hanya memiliki halaman sempit tanpa pepohonan. Kalaupun ada yang tumbuh, hanya sepetak rumput yang berdempet dengan trotoar. itu saja.

Tapi kalau tidak pindah ke Euclid, ia tidak akan bertemu dengan Phoebe. Gadis yang tinggal bersebelahan dengan Margaret Cadaver. Siapa gerangan Margaret Cadaver?

Bagi Salamanca, dia adalah wanita yang akan menggantikan posisi ibunya. Sementara bagi Phoebe, Maragaret Cadaver adalah wanita pembunuh yang mengubur mayat suaminya di halaman belakang. Makanya, Phoebe sering mengingatkan Salamanca agar memberitahu ayahnya untuk menjauhi wanita berbahaya seperti Margaret.

bayar utang...

Gambar
Sebenar-benarnya, saya ingin menulis 'sesuatu'. Maklum, belakangan ini hasrat saya ngeblog menyala lagi. Setelah bulan Oktober kemarin sempat kendor. Namun... sebelum saya mulai nulis yang aneh-aneh, tiba-tiba saya ingat kalau saya masih punya utang.

utang?

Yak betul, sebagai blogger kita mengenal istilah "berbagi award". Dan...meski yang ngasih ga pernah maksa, adalah kewajiban untuk memajang award tersebut di blog.

Sepotong Pelangi yang Lumer

Gambar
Tiba-tiba aku ingin makan es krim. Bukan eskrim biasa. Tapi aku mau paddle Pop rasa pelangi. Aku pun berlari ke warung swalayan Indomaret terdekat.

“Sudah habis paling, mas. ‘itu’nya belum datang" (itu di sini, mungkin maksudnya agen, atau mobil khusus pembawa es krim).

“oh,” jawabku.

Terpikir untuk mengambil eskrim lain saja. Yang rasa apalah namanya. Tapi sekali lagi aku mengaduk-ngaduk eskrim dalam box. Beberapa menit kemudian… di situ dia. Satu-satunya eskrim rasa pelangi yang tersisa di toko ini. Mendekam kesepian di dasar box. Menunggu. Aku mengambilnya dan langsung nyengir ke petugas toko. Dia membalas cengiranku dengan geli dari meja kasir. Mungkin dia pikir aku pelanggan paling ngotot hari ini—atau seumur hidupnya. Tapi, dia kan tidak tahu bagaimana panjangnya kisah yang aku miliki bersama eskrim, terutama Paddle Pop rasa pelangi.


Aroma Kebahagiaan

Gambar
Saat aku bangun sore tadi, aku mendengar bisik-bisik dari salah satu buku yang tergeletak di samping tempat tidur. Atau lebih tepatnya keluhan. Masih dengan mata setengah terpejam aku menggapai buku itu. Ternyata kamus. Dari dalam kamus ungu yang kubeli loakan di shoping center itu keluhan-keluhan ramai bersahutan. Ada apa ini?

Tanpa pikir panjang kubuka kamus itu dan kata-kata dalam kamus langsung berhamburan menimpa wajahku. Mereka mulai mencakar, menggigit, menjambak rambutku. Kukira aku sedang bermimpi. Tapi sebelum aku cukup sadar untuk memahami apa yang tengah kualami, mereka berkumpul di atas kepalaku. Setiap kata itu mengenggam sehelai rambutku.

Lalu dalam tarikan yang membuat kepalaku nyaris copot, mereka, kata-kata yang sedang marah ini menyeretku. Menembus dinding kamar. Menggelinding di tangga. Menabrak tetangga kosku yang tengah memeluk seember cuciannya. Membuatnya terjengkang dan ikut berguling bersamaku, di antara kata-kata dan pakaian kotor. Kami berdua pun menghantam l…

Saat Kita Membaca

Gambar
Apa sih sebenarnya yang terjadi saat kita membaca? Seringkali, kalau buku yang kita baca luar biasa bagus, kita jadi lupa sekeliling. Tahu-tahu sudah sore. Atau tahu-tahu sudah pagi. Tahu-tahu tubuh kita lemas, atau punggung kita sakit dan leher nyeri.

Yah, mudah-mudahan Anda tidak mengalami yang saya alami. Tapi kalau anda pembaca setia serial Harry Potter, saya yakin anda pernah melakukan ritual penyiksaan diri macam ini.

Aku mengenal novelnya JK Rowling saat kelas dua SMP. Saat itu yang baru terbit sampai seri keempat. Jadi dalam waktu yang relatif berdekatan, aku reli membaca keempat novel ini sekaligus. Orang tuaku, tentu saja luar biasa heran dan jengkel. Apalagi aku tidak sendirian. Dua kakakku juga membaca serial ini. Malah, sering ia mengancam akan membakar novelku yang keempat (coz yang seri satu-tiga dapat nebeng).

Pokoknya, bagi beliau sangat aneh kalau kita duduk atau tiduran berjam-jam sambil membaca buku. Selain merusak mata, jauh lebih bermanfaat membaca al-Qur’an, gitu k…