#139


hak asasi kata-kata
Mungkin aku terdengar seperti radio rusak kali ini (atau dari dulu memang selalu begitu). Tapi, sudah terlalu banyak kata yang selama ini terpenjara di kepalaku. Aku belum menemukan cara untuk membebaskan mereka

Kau tentu tahu, ada jutaan kata dalam bahasa Indonesia. Dari yang jutaan itu, tidak semuanya pernah kutulis atau terungkap. Mereka bosan menanti datangnya kalimat yang akan membawa mereka meluncur keluar. Mereka muak karena terus mengantri di salah satu lipatan otakku dan nyaris membusuk di sana. Ia dengki dengan kata-kata yang itu-itu terus.

Setiap kata sejatinya memiliki hak yang sama untuk dipakai. Untuk dibebaskan. Untuk menjadi berguna. Apalah arti sebuah keberadaan jika hanya berderet rapi di kamus. Apalah arti sebuah eksistensi jika hanya terpaku di salah satu sudut benak dan terlupakan.

Seandainya aku menemukan cara yang tepat untuk menyampaikan mereka dari dulu, mungkin tidak akan sekacau ini jadinya. Namun karena aku terlalu sibuk mengeluh dan memikirkan kesenanganku sendiri, akhirnya kata-kata itu terbengkalai. Karena aku terlalu disibukkan oleh tata bahasa dan keharusan menulis dengan runut dan logis, mereka pun tertinggal, berjamur tak bertuan

"Kali ini, sekali saja, tuliskan semua kata yang kau tahu yang ada di kepalamu," begitu rengek mereka. Bertahun-tahun mereka lelah menanti kalimat yang akhirnya datang dan membawa mereka keluar. Kuatir jangan-jangan kalimat itu tak akan pernah tersusun seumur hidupku. Itulah yang paling mereka takutkan

Maka kali ini aku akan membiarkan mereka lepas. Membiarkan mereka berlarian dengan liar. Membiarkan mereka menjadi diri mereka tanpa harus melekat dengan kata lain. Kubiarkan mereka meski belum kutemukan judul untuk kebebasan mereka. Katanya mereka juga tidak butuh judul. Mereka ingin dikeluarkan tanpa alasan. Mereka tidak butuh kalimat untuk membawa-bawa mereka. Mereka ingin keluar, TITIK.

Mereka bosan dengan kata-kata manis dan indah yang kupilih selama ini. Kali ini mereka yang nyalang, yang tak berbentuk, yang berlumpur, berlendir, dan tak berjumlah. Mereka yang belum punya bunyi tapi mereka ada. Mereka yang belum ditemukan tapi mereka menunggu

Akan kubiarkan si putih, kuning, ungu dan biru. Kubiarkan batu, telaga, sungai dan langit. Kubiarkan abstrak, kontras, corak dan absurd. Kubiarkan lelah, segar, baru dan basah berdampingan. Kubiarkan memijar, meminjam, meletup, merabun, melesak, dan melengkung berderetan. Kubiarakan mereka duduk rapat tanpa makna. Si hijau dan kayu manis. Si hitam dan tetes embun. Si selokan dan atap rumah. Gang sempit dan hujan. Kering dan kaktus. Sumur dan karpet. Jalan dan jendela. Si tampan dan si jumlah. Si nyata dan merusak. Si keram dan si belalang. Ah, mereka banyak sekali

Putih dan linglung. Biru dan senyum. Semak dan karton. Tebal dan kejang. Hina dan bukit. Botol dan merangkak. Menggantung dan bersinar. Lemas dan paku. Tegak dan sakit. Rapi dan melompat. Kacau dan menunggu. Ah, banyak sekali. Nanti akan aku usahakan mereka keluar sebanyak mungkin. Tak adil jika seumur hidupku mereka mendekam tanpa pernah disadari di sana. Mereka dulu datang menghampiriku lewat kalimat-kalimat yang ku baca. Atau ia masuk lewat telingaku saat aku mendengar orang-orang berbicara

Mereka keluar masuk pikiran satu orang ke orang lain. Mereka tidak ingin selamanya berdiam dalam kepala satu orang saja. Mereka adalah petualang. Mereka bukan pertapa. Mereka bisa bosan dan lapar. Mereka butuh energi dan cahaya mata untuk membaca mereka. Mereka butuh jalan untuk terpelanting dari mulut seseorang dan hinggap di telinga pendengarnya. Kadang meski si pendengar menolak kehadiran mereka, mereka akan tetap merayap dan mencari tempat di kepala kita

Mereka adalah petualang. Mereka tidak bertualang untuk mencari apa-apa. Mereka bertualang untuk bertualang. Di dunia yang tanpa alasan. Mereka meraba-raba apa saja yang mereka sukai dan apa yang tidak. Mereka tak menyusun alasan. Mereka ingin bertualang. Itu saja

Aku tahu aku kedengannya seperti radio rusak, tapi aku tidak peduli. Aku perlu menulis ini. Aku perlu mengamuk lagi. Aku perlu mencakar dan menghajar tuts-tuts keyboard ini lagi. Aku perlu ini dan karena aku memang perlu. Sebelum aku lebih gila lagi....


Komentar

  1. Itu yg kadang susah Sob... banyak yg ingin dikeluarkan tapi kadang gak bisa keluar semua .... gak perduli kaya radio rusak atau apapun.... keluarkan aja sob hhe....

    aku Follow sekalian ya(DJ Site)... Klo sempet Follow balik ya sob.. Thnx... happy blogging :)

    BalasHapus
  2. ok! trims akan kunjungannya. saya sudah ke blogmu... sepertinya saya mesti banyak belajar nih...

    BalasHapus
  3. Coba ambil napas yang dalam sobat, dan keluarkan lewat belakang. Semoga saran saya membuat anda lebih baik dan lebih gila. :D

    BalasHapus
  4. A vip@ sudah saya coba, ahhaha... legaaaa...
    trims atas masukannya.

    BalasHapus
  5. Siank Sob... keputus sama kerjaan nie hhe... Makasih udah mau mampir balik sob...

    untuk pertanyaannya>> PR itu Rank yg dikasih Google untuk website atau Blog kisarannya 1 sampai 10 ... tapi itu bukan patokan jadi gak perlu dikejarpun gpp hhe.... lha itu sobat udah masang Widgetnya kan dibawah hhe..

    happy blogging ya Sob.. :P

    BalasHapus
  6. dj site@ oh gitu? hahahaha, makasi banget ya..

    BalasHapus
  7. kata-kata....lewat posting anda menjadi seperti bernyawa, hidup dan berangan-angan...__Dan saya membacanya bukan seperti suatu kata yg acak, bukan juga suatu yg kacau atau bukan suatu yg asal dan tak berguna. Saya menikmati tulisan anda ini seperti anda sedang mencurahkan isi hati yg teramat dalam, yg anda pendam sejak lama dan tersusun seperti kata2 romantis sebagai ungkapan cinta anda pada seseorang yg sangat berarti...Hohoo...tapi tak mesti seperti itu, ini hanya perumpamaan saya...
    Anda sangat kreatif menyusun kata-kata, menceritakan isi hati si kata-kata dan menghidupkan mereka dalam dunia tak berbias...tak bercahaya namun bermentari...wkwkwk...kok saya jadi ngigau, maksud saya..?? Hmm...entahlah, yg jelas...__Mantappbb...__

    BalasHapus
  8. kata-kata adalah untaian penuh makna berasa :D

    BalasHapus
  9. coba bawakan orang ini kertas dan pensil. mungkin akan terjadi ereksi kata - kata.. :)

    BalasHapus
  10. Meina Hafs@ btw, kata-kata yang anda susun di komen ini juga sangat bernyawa.... mereka berdenyut dan berpijar. trima kasih kunjungannya yaa....

    john terro@ yupz! trims atas kunjungannya.

    Kakve santi@ ereksi? hohoho.... ntar malam deh. bercinta dengan kata-kata (halah). trims atas kunjungannya...

    BalasHapus
  11. ereksi? semacam e-rection? electronic reaction ... wekeekke

    BalasHapus
  12. John terro@ beda istilah, but esensinya masih sama kaya'nya, ya? heheh.

    BalasHapus
  13. saya juga sering mengalami itu, susah mengungkapkan kata2...

    BalasHapus
  14. enggak seLaLu harus bersedih ataupun bahagia, dengan perpaduan keduanya akan Lebih terasa pada esensi mixing yang pekat daLam mecampuradukan berbagai perasaan hati dan pikiran.
    kesemerawutan bukan berarti suatu keburukan, tetapi bisa juga menimbuLkan ruh tersendiri. sesuai dengan guratan2 di atas, memiLiki ciri khas tersendiri dari cara penyampaian yang Lugas. yakni Luwes dan kaku, Luwes daLam menyampaikan pendapat dan kaku pada prinsip2 daya imajiner sesuai dengan kapasitas masing untuk tetap bisa mempertahankan kepercayaan diri.

    BalasHapus
  15. Nova@ hehehe... minimal, kalau dah bingung, ngelantur aja. (blog-blog dewe, sa' karepe dewe, lah..) seperti postingan ini...hehe. trims ya kunjungannya

    om-rame@ wuih, betul sekali om. kadang yang semrawut juga memiliki ruh tersendiri. (saya tidak tahu apakah tulisan ini juga memiliki ruh), yang pasti, salah satu contohnya adalah saat kita terpaku di depan sebuah lukisan abstrak.

    meski kita tidak akan pernah benar-benar tahu makna dari sebuah lukisan (yang paling tahu hanya pelukisnya sendiri), paling tidak, selama beberapa menit atau detik, lukisan itu berinteraksi dengan kita. (hohoho, saya ngelantur nih). trims kunjungannya...

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sandikala

10 Film Asia yang Tak Terlupakan

Review Buku: Bibir Dalam Pispot