Kita harus GR

Bagaimanapun juga, yang namanya GR selalu lebih baik daripada minder. GR itu menguntungkan. (Asal dosisnya tepat)
.
Contoh sederhananya begini, kamu suka sama seseorang. Lewat perhatian-perhatian kecilnya kamu mulai ke-Geeran kalau dia juga suka sama kamu. Kalau kegeeran tersebut akhirnya terbukti, ke Geeranmu tidaklah sia-sia. Kalau pun ternyata tidak terbukti, paling tidak kamu mendapat bahan untuk tertawa. Menertawakan diri sendiri itu sehat loh
.
Beda halnya dengan minder duluan! Kan, kamu jadi tidak pernah tahu apakah orang tersebut suka sama kamu atau tidak. Kalau nantinya keminderan itu terbukti—bahwa dia memang tidak suka sama kamu—situasinya tidaklah membaik. Dengan terbuktinya keminderanmu itu, segala padangan negatif terhadap diri sendiri malah makin menjadi.
.
Padahal, belum tentu kamu seburuk yang kamu pikirkan, hanya karena dia menolakmu.

.
Parahnya, kalau keminderan tersebut ternyata tidak terbukti—ternyata dia juga suka sama kamu—maka dalam kasus ini kamu RUGI TOTAL. Semua masa-masa yang selama ini kamu habiskan sambil mendengar musik patah hati ternyata sia-sia saja (Damn if you do! Damn if you don't)

.
Minder itu tidak ekonomis
.
Dari segi ekonomis rasa minder juga sangat tidak menguntungkan. Keminderan masih ada hubungan darah dengan “depresi”. Mungkin mereka sepupu dekat, karena ayahnya minder adalah kakak kandung ibunya deperesi (halah). Saat depresi kita cenderung destruktif dan mencari penghiburan diri. Usaha menghibur diri inilah yang seringkali tidak ekonomis. Kita sering mencoba menghibur diri lewat makanan, lewat belanja, dan hiburan lainnya yang dengan licik mengeruk tabungan kita di bank
.
Kalaupun kamu mencoba menemukan penghiburan diri lewat teman-temanmu, mereka belum tentu senang mendengar ceritamu terus menerus. Sekali dua kali mungkin masih bagus. Tapi kalau sedikit-dikit kamu mencurahkan masalahmu ke mereka, kamu malah akan dinilai lemah. Tidak mampu membantu diri sendiri. Lagipula orang yang minder sering dimanfaatkan. Karena segan menolak ketika dimintai bantuan. Yah, bagus juga sih. Tapi masalahnya jadi lain ketika giliranmu butuh bantuan, tapi saking mindernya, kamu mencegah diri untuk meminta bantuan tersebut
.
Sikap minder membuat kita cenderung untuk menunjuk diri sendiri sebagai sumber permasalahan. Seolah-olah semua kemurungan di dunia adalah tanggung jawab kita. Sementara semua bentuk kebahagiaan adalah buah tangan dari orang lain. Si minder kadang senang menghibur dirinya dengan mengatakan pada diri sendiri bahwa dia adalah “orang baik”. Padahal orang lain melihatnya tidak lebih dari sekedar alas kaki yang dibutuhkan saat jalanan becek
.
Beda kalau GR. Dengan bakat “ke-artisanmu” kamu akan membantu orang lain dengan wajah ceria dan senyum khas. Yang namanya GR memang tidak pernah lepas dari cengiran tulus. Sejenis senyum yang lahir dari keyakinan bahwa semua orang mencintainya. Kalaupun ada yang tidak, mereka cuma minoritas. Kalaupun orang-orang disekitar mulai jengkel dengan “kengartisannya”, toh dia tidak akan tahu itu. Dia tidak punya cukup waktu untuk mengurusi pendapat orang-orang yang sirik dengan bakatnya yang luar biasa ngartis. Kalaupun ada yang ekstrim menghinanya di depan khalayak umum, ia bisa melihat ini sebagai momen untuk menarik simpati dari penggemarnya
.
Orang GR tidak akan pernah kehabisan ide untuk menjadi orang yang “paling disenangi”. Ia bisa menemukan hiburan dalam segala hal. Dan karenanya, senyumnya akan selalu hidup. Cengirannya akan selalau abadi
.
Jadi, marilah kita menjadi generasi muda Indonesia yang mudah GR dan hobi nyengir
.





....cuman pikiran iseng aja si..
.

Komentar

  1. kayanya bukan harus GR deh, tapi harus optimis, bukannya lawan minder itu optimis ya???
    hehhehe:P

    BalasHapus
  2. saya dulu ngakak denger penyiar radio bilang gini: daripada minder, mending GR :)

    Sepintas guyonan tapi ada dalemnya juga qeqeqe Minder juga nggak ekonomis, saya melihatnya dari sisi bahwa orang menutupi rasa kurang pada dirinya, bisa jadi, dengan mengejar materi dan menempelkan barang-barang mahal.

    Betul ada orang lain kemudian menghargai tapi sebatas pada materi itu bukan pada sosok kita :) jadi menggerus budjet kan qeqeqe

    BalasHapus
  3. nova@ sebenarnya beda nama aja kali ya? hehehe. GR kan punya banyak wajah. yang disebut-sebut positif thingking itu, sebutannya motivator aja. bisa aja GR-nya relijius, GR nasionalis, GR opo meneh.. hee

    Inung Gunarba@ betul betul betul. pokoknya ga ekonomis. makanya minder harus mulai ditinggalin. bila perlu, orang yang minder dikenai pajak aja. hehehe

    BalasHapus
  4. sama-sama tidak mengeluarkan modal,mending GR aja daripada minder,setuju sekali tuh...ha..ha..ha...

    BalasHapus
  5. saya kapok ke GR an.. seringnya gara-gara GR alias kepedean, jadinya malah nggak sukses sama sekali. Hiks.. *pengalaman buruk terlalu GR*

    ini layoutnya ganti-ganti gitu yah gambarnya?.. perasaan tiap mampir beda terus :D

    BalasHapus
  6. widodo@ haha iyoo.. trims kunjungannya

    gaphe@ oh ya? hahaha... saya ketawa aja deh. omong-omong soal lay out, yah, begitulah... yang punya masih labil. gampang bosen juga orangnya. hehehe. matur nuwun aats kunjungannya...

    BalasHapus
  7. john terro@ walah... ini si bukan GR, but RG: Ra Gnah.. heheh. trims

    BalasHapus
  8. ada award lagi buat rumah review di blog saya. kalau berkenan diambil yah..:D

    BalasHapus
  9. Sbg orang minder,saya akan menuruti perkataan anda, wkwkwkwk....

    XD

    tapi, beneran koq.saya lg bljr "GR".hwehehehehe.....

    BalasHapus

Posting Komentar