Membeli Kekhawatiran

Salah satu hal paling menggembirakan saat membaca berita beberapa hari terakhir ini adalah, menurunnya aktifitas merapi. Yah, boleh lah. Saya pura-pura tidak membaca berita politik soal si gayus, atau soal TKW, agar kegembiraan saya tidak berkurang.

Sebenarnya, meletakkan kegembiraan pada headline surat kabar tidak sepenuhnya tepat. Karena, berita yang menggembirakan tidak selalu mendapat kolom paling besar di surat-surat kabar (kecuali di negara komunis, saya rasa). Biasanya mereka terselip di pinggir surat kabar. Hal-hal “mendesak dan mengkhawatirkan” memang lebih layak disimak.  

Anda tentu tahu insiden yang menimpa program silet beberapa waktu lalu. Anda pasti tahu! siapa sih yang tidak tahu? Tentang peramal yang mangatakan tanggal 8 November akan terjadi erupsi dengan awan panas mencapai 60 kilometer. Gila…. Berarti riwayat kos-kosanku bakalan tamat….

“Kurang kerjaan,” celetuk ibu kosku kesal.


Tapi, tidak mungkin ada asap kalau tidak ada api. Lahirnya berita heboh semacam itu karena memang ada yang mau mengkonsumsinya. Ada yang mau duduk atau berdiri berjam-jam di depan rumah untuk membicarakannya.

Mungkin kita tidak mengakuinya, tapi diam-diam atau tanpa sadar, kita senang dibikin khawatir. Kita senang mendapati diri kita berada di antara bahaya. Setelah bertahun-tahun melewati hari yang biasa-biasa saja, kita senang saat suatu hari hujan abu turun di rumah kita. Mirip salju. Tidak persis, tapi boleh lah…. (aku lihat anak-anak pada antusias banget bermain pakai masker, ehehe).

Bad News is a Good News

Dalam dunia jurnalis ada kalimat yang cukup populer: bad news is a good news. Bahwa kejadian-kejadian seperti bencana alam, kelaparan, perang, pembunuhan, skandal, dan sebagainya adalah “good news”. Karena kejadian-kejadian seperti itu memang mengundang rasa ingin tahu publik yang tinggi. Masalahnya, sejauh mana kita ingin tahu kejadian-kejadian itu?

Apakah kehidupan kita menjadi lebih baik saat kita tahu berapa banyak orang yang mati dalam sebuah pembantaian? Apakah kita perlu tahu bagaimana persisnya seseorang disayat, dikuliti, dipotong-potong?

Sampai batas tertentu “tahu” memang sangat penting. Tahu bahwa saudara kita membutuhkan pertolongan. Tahu bahwa suatu kecelakaan diakibatkan oleh kelalaian pengendara motor. Tahu bahwa kekerasan antar remaja di sekolah marak terjadi. Tahu bahwa kekerasan TKI di luar negeri juga masih terjadi. Tahu bahwa banyak makelar kasus yang berkeliaran di negeri ini. Tahu bahwa keadilan dapat dibeli. Tahu bahwa dunia yang kita tempati saat ini bukanlah dunia yang baik-baik saja. Tahu bahwa segala jenis masalah itu bisa saja menimpa kita atau orang-orang yang kita cintai.

Tahu bahwa kita bisa saja menjadi korban berikutnya. Maka kita berhak khawatir. Dan karena khawatir dijual murah, kita pun membelinya dengan merecoki diri di depan TV atau surat kabar.

Kotak Pandora     

Konon.. dahulu dunia ini adalah tempat yang aman. Tak ada kesedihan, kejahatan, atau hal-hal buruk lainnya. Saat itu manusia dalam keadaan kesepian. Kemudian dewa menciptakan seorang wanita bernama “Pandora”. Gadis bernama Pandora ini luar biasa cantik. Saat diundang makan malam oleh dewa, ia dihadiahi kecantikan (lagi? padahal dia sudah cantik!), suara yang indah, kepintaran, rasa ingin tahu, dan banyak hal lain yang menjadikan ia sempurna.

Salah satu dewa menghadiahinya sebuah kotak yang tidak boleh dibuka. Aneh memang, memberikan hadiah dalam kotak tapi tidak boleh dibuka (niat ga?). Dengan bekal rasa ingin tahunya, Pandora akhirnya membuka kotak tersebut. Kemudaian begitu kotak terbuka, dari dalam kotak tersebut keluarlah segala macam keburukan, penyakit, kejahatan, dan segala hal hitam yang menjadikan dunia ini tak lagi nyaman. (Pokoknya, industri media harus berterima kasih kepada Pandora).

Tapi, ada satu hal baik yang ikut berasama hal-hal jahat tersebut, yakni: asa, atau harapan. Makanya, seburuk apapun dunia yang kita tempati saat ini, selalu ada harapan bahwa suatu hari dunia ini, entah dengan bagaimana akan membaik. Dengan harapanlah, kita bisa terus hidup. “Because hope is the most dangerest thing to loose,” begitu kata si Sayid, salah satu tokoh dalam serial film LOST. Saat itu mereka baru saja menyadari bahwa keluar dari pulau itu nyaris mustahil. Tapi mereka harus tetap berharap. Dan dengan begitu mereka pun terus hidup.

Jika berasama hal-hal jahat itu terdapat harapan, lalu bersama hal-hal baik apakah yang diam-diam ada? Di antara pagimu yang sempurna, senyum anak-anakmu yang menggemaskan, rumahmu yang nyaman, gagdetmu yang canggih, apa kah yang ikut menyertai mereka?

 “kekhawatiran”.  

Dan kekhawatiran inilah yang aku bilang tadi, dijual oleh media. Khawatir kalau anak kita diculik. Khawatir kalau tabung gas meledak. Khawatir kalau gadget kita dicuri. Kahawatir kalau rumah kita dirampok.

Where is the Hope?

Pertanyaan berikutnya, sebenarnya kita ini hidup di dunia yang serba aman atau serba bahaya sih? Kita semua sudah tahu bahwa bencana bisa datang kapan saja. Kita tahu banyak psikopat yang berkeliaran diluar sana mengincar anak-anak kita. Dari semua berita yang kita lihat di media, akhirnya kita tahu bahwa kita hidup di dunia yang sangat rapuh dimana hal-hal buruk bisa terjadi kapan saja dan di mana saja. (Waspadalah! Waspadalah! Waspadalah!)

Kita hidup di dunia pasca kotak pandora dibuka. Lalu kemana perginya harapan yang dulu ikut bersemayam bersama hal-hal jahat itu? Sementara media menjual kehawatiran dengan murah meriah, siapa gerangan yang menjual harapan? Kemana kita harus membeli harapan agar kita bisa terus hidup meski dunia ini sarat akan hal-hal membahayakan?






.

Komentar

  1. Tulisan anda menjelaskan bahwa Tuhan menciptakan syetan itu sengaja, syetan yang masuk ke aliran darah dan membuat waswas manusia adalah kehendak-Nya, sesuatu yang kalau disikapi positif pasti akan memuliakan. Jadi apapun keadaannya layak disyukuri. Hihihi

    BalasHapus
  2. baca ini jadi ingat cerita saya waktu mudik baru2 ini. Sempat khawatir karena baca di koran jalan pulang ke kampung saya banjir besar, banyak korban jiwa, dll
    tapi, setelah di cek, ga ada tuh.Lebay banget pemberitaanya:(

    BalasHapus
  3. kalo ane sih ga percaya ama yang kayak gtuan gan :P

    BalasHapus
  4. muhammad A vip@ oh ya? kedengarannya seperti mengkambinghitamkan setan atas rasa khawatir kita. tapi toh, khawatir juga sudah jadi barang dagangan. ada industri yang mengolah dan menjual rasa khawatir

    Nova@ heehehe, pemebritaan merapi juga bikin keluarga di rumah sempat khwatir kemarin. yah, kebanyakn nonton TV sih. (BTW mudiknya seru kan?)

    John terro@ bagus lah... baca berita seperlunya aja..

    BalasHapus
  5. hahaha ... buat apa baca berita duka ... mending baca berita suka
    udah hati sumpek ditambah lagi nanti jadi stress :D

    BalasHapus
  6. Hemm.... klo soal merapi akupun ikut lega denger berita merapi udah gak kaya kemaren2... dan untuk silet aku gak tau sampe skarang udah ditayangin lagi apa blum....

    pokoknya berita yg menimbulkan kekhawatiran gtu gak selayaknya dijual oleh media... apalagi blum terjadi dan baru ramalan...

    untuk pertanyaan terakhir jawabannya tergantung cara pandang masing2 hhe..

    Met weekend N happy blogging Sob :P

    BalasHapus
  7. setan emang dibuat sengaja oleh Allah. Untuk menguji hambanya, mana yang nurut sama Allah, mana yang nurut sama setan.. menurutku, itu memang skenario..

    Btw, emang kadang2 media lebay, biar ratingnya tinggi.. hihihihi

    BalasHapus
  8. john terro@ STUJUUU!

    sang cerpenis@ met wiken juga. trims

    ferdinand@ kalau ga salah, sekarang silet ganti nama. kena penalti kayanya. tapi kalau ga salah (saya ga nonton si)met wiken juga!

    mishbah@ nah loh? kalau kita menyamakan rasa khawatir dengan setan, berarti pekerjaan media yang lebai itu digayuti setan dong? hm?

    BalasHapus
  9. Greed, atawa keserakahanlah yang membuat dunia ini rapuh atas rasa was-was dan gelisah. Berita baik pun bisa disajikan menjadi kabar buruk demi tiras atau perolehan iklan media massa *_*

    Sejauh ini, publik sudah beranjak menguat daya kritis dan bisa turut mengontrol media yang bandel dan kebablasan. seperti melapor ke KPI atau Dewan Pers. Salam :)

    BalasHapus
  10. err... kalo bad news is a good news, berarti layaknya bersenang-senang diatas penderitaan orang lain yak?..

    makanya kenapa bangsa kita nggak maju-maju, yang diberitakan dan diekspos besar-besaran yang buruk-buruk aja sih.
    Coba ganti tentang prestasi, trus sistem mitigasi bencana, dll.. daripada gosip dan acara2 nggak jelas macem gituan.

    *ikut emosi kayak ibu kos :D*

    BalasHapus
  11. inung Gunarba@ semoga dengan meningkatnya daya kritis masyarakat, media jadi lebih bertanggung jawab dlm menyajikan berita. amiiin... salam juga...

    gaphe@ hahahha... iya banget. setuju. kita juga haus dengan berita yang mencerahkan, yang tidak melulu membuat kita khawatir, tapi juga semangat! trims..

    BalasHapus
  12. bestari@ ra po po kok. dia dah cantik.. sempurna pokoknya. but ku ga tw juga riwayat terakher si pandora jadi gimana. trims kunjungannya pok.

    BalasHapus
  13. Mungkin bisa dibilang, media sekarang melenceng dari fungsi sebenarnya ya? Kan seharusnya juga untuk membantu menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang ada,

    Mungkin "membeli kekhawatiran" itu adalah wujud "pelarian" kita terhadap masalah-masalah kita. Alih-alih menyelesaikannya, kita lebih memilih mengalihkan pandangan kita dan mencari "permasalahan" baru sebagai pelampiasan. Entah untuk diomeli, untuk disalahkan, atau yang lainnya. Sebagian lainnya, untuk memenuhi curiosity. Tetapi, yang seharusnya memang sebagai bentuk "simpati" dan "empati" kita. Gak tau juga, kenapa koq manusia gemar nglakuinnya.

    Pada dasarnya khawatir itu pun adalah sebuah sistem pertahanan diri manusia. Kadang memang jadi berlebihan, sehingga malah bikin masalah. Mungkin kitanya aja yang belum memahami fungsinya, tapi memang itu ciptaan Tuhan. Setan cuma memanfaatkan aja saat manusia gak waspada soal itu.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

10 Film Asia yang Tak Terlupakan

Sandikala

Film Korea Yang Layak Kamu Tonton