Menjadi Beda

Bayangkanlah, saat semua mata mengarah kepadamu. Dan kau, tiba-tiba merasa sendirian sebagai terdakwa di bawah tatapan orang lain. Sebagai alien, asing, dan tak terpahami.

Aku tidak tahu apakah setiap orang pernah mengalami fase semacam ini. (katakanlah saya menulis hal ini berdasarkan pengalaman). Tapi percayalah, rasanya seperti….seperti mengunyah karpet—silahkan anda coba sendiri bagaimana rasanya mengunyah karpet.

Tidak mudah menjadi berbeda. Apalagi ketika ke-‘bedaan’mu dicap aneh oleh orang-orang di sekitarmu. Kata ‘aneh’ ini pun sebenarnya bisa menjelma menjadi kata-kata yang lebih kejam di kehidupan nyata.

Kata ini semacam kata yang terus mengikuti kita. Tak terlihat, namun setiap orang bisa membacanya. Kadang aku membayangkannya seperti balon transparan yang menggayut di atas kepalaku.

Sebagian orang tidak terlalu ambil pusing dan tidak menilaiku dari ‘kata’ yang terus membuntuti itu. Tapi sebagian lain menganggapnya masalah. Hanya masalah waktu sampai seseorang mengatakan apa yang ia lihat, menunjuk balon itu entah dengan ketus maupun dengan perasaan geli. Bagaimanapun caranya, ‘kata’ ini seketika akan membuatmu merasa cacat. Hanya masalah waktu sampai luka lamamu disirami jeruk nipis dan membuatmu perih semalaman.

(Setelah termenung beberapa saat, ternyata aku belum sanggup menulis kata-kata yang pernah dilekatkan padaku—yang kuanggap kejam itu tadi, yang menggayutiku kemanapun pergi. Mungkin kelak aku akan mendapat kekuatan untuk membicarakannya secara gamblang).

Dalam salah satu teori psikologi—maaf saya lupa teori apa—setiap manusia memiliki gambaran ideal mengenai dirinya. Gambaran ideal ini bisa jadi gabungan semua harapan terhadap diri kita sebagai individu. Mulai dari harapan lingkungan, keluarga, sampai harapan atau ambisi pribadi. Dalam diri yang ideal itu, kita menjadi sosok yang memenuhi semua harapan tersebut. Menjadi manusia sempurna.

Semua orang! Meski mungkin banyak dari kita yang dengan lantang mengumumkan bahwa kita tidaklah terobsesi menjadi sempurna.

Di kala kita duduk berintropeksi, meraba kembali realitas diri, mungkin kita mendapati diri kita jauh dari diri ideal yang kita harapkan itu. Selanjutnya mungkin kita akan mengisi hidup dengan berusaha menutupi lubang-lubang kosong yang membuat kita cacat. Berharap suatu hari kita berhasil menutup kekurangan-kekurangan itu dan menjadi lengkap. Berharap kita akhirnya memenuhi semua harapan itu. Dan mungkin, saat semua itu terpenuhi, kita pun akhirnya bahagia. Mungkin.

Tapi adakalanya kita terhenyak dan gamang melihat realitas diri ini. Ada beberapa bagian yang entah bagaimana, mustahil untuk diubah. Dan karenanya kita tidak akan pernah berhasil. Kita telah menjadi semacam mahluk terkutuk yang tidak akan pernah bahagia. Huahahahaha. Lebay banget yak?

Tapi aku sendiri, I’m done whith this. Ini bukan lagi soal menghibur diri dengan kata-kata manis bahwa menjadi ‘berbeda’ adalah anugerah. Menjadi ‘berbeda’ adalah suatu kelebihan, jika hanya jika kita mau melihatnya dengan cara itu. Nope! Bukan begitu. Aku sudah bosan menghibur diri. Ini juga bukan soal memafkan diri sendiri.

Aku hanya ingin menikmati hidup. itu saja! Hidup ini cuma satu kali. Oh ayolah! Kalau hidup demi memenuhi harapan orang lain, kita tidak akan pernah punya waktu untuk hidup. Bersenang-senang bukanlah dosa. Meski caramu bersenang-senang tak selamanya disukai orang lain. Hidupmu adalah hidupmu. Singing: Ya serra serra……Whatever will be, will be….


Dan ah ya….aku juga sering bertanya, apakah Tuhan pernah tertawa? Kadang aku melihat ada ketidakadilan dalam cara kita memikirkan Tuhan. (Bukan Tuhan yang tidak adil, tapi kitalah yang tidak adil menilai-Nya). Kita lebih sering menilainya sebagai Yang Maha Serius, Yang Maha Membalas, alih-alih sebagai Yang Maha Lucu. Dan karena Tuhan seringkali kita yakini dengan kaku, setiap perbuatan yang kita lakukan, kita lakukan dengan penuh perhitungan dan pengharapan.

Setiap langkah kita isi dengan rasa takut dan doa. Tuhan seolah-olah Sang pencipta Yang sentimental dan Peritungan. Kita lebih sering dijejali kesan bahwa Tuhan adalah Hakim yang akan kita hadapi kelak di hari pembalasan. Mungkin itu sebabnya, hakim-menghakimi menjadi hobi kita dalam kehidupan sehari-hari. Kita menemukan kesenangan lewat penghakiman-penghakiman kecil pada orang lain yang kita anggap biasa, padahal bisa jadi membuat orang yang kita hakimi tersebut tidak bisa tidur semalaman.

Kita menemukan rasa aman dalam kekurangan orang lain yang kita lihat. Kehidupan ini seolah tak lebih dari sekedar tarik menarik antara perasaan iri dan syukur. Iri ketika ada yang melebihi kita, dan syukur disaat kita melebihi orang lain. Mungkin karena kita dididik dengan cara yang kelewat matematis, dengan Tuhan Yang Maha Manghitung sebagai rajanya. Siapa yang beruntung adalah mereka yang memiliki apa yang tak dimiliki orang lain. Entah kepemilikan ini berupa kualitas (keberagamaan, kealiman, intelektualitas, kebijaksanaan, kepribadian) maupun kuantitas (materi/kekayaan/fisik)

Tanpa sadar kita menyandarkan kebahagiaan kita di atas rasa iri orang lain (meski kita tidak akan pernah mau mengakuinya). Sementara kesedihan kita bergelut dengan rasa iri atas hidup orang lain. Kalau sudah begini, kita tidak akan pernah benar-benar bahagia, maupun benar-benar sedih. Karena selalu ada orang yang lebih baik dari diri kita dan selalu ada yang lebih buruk. Terus apa menariknya kehidupan macam ini coba?

Kita mulai bosan. Hidup ini mulai pekat dan kebahagiaan kita hanya setipis kertas yang dengan mudah diterbangkan angin. Maka kita pun mulai mengumpulkan kebahagiaan sebanyak-banyaknya dengan mengumpulkan rasa iri dari orang lain. Mungkin di saat seperti inilah kita menunjuk balon-balon transparan yang menggayuti kepala tiap orang. Kamu gendut! Kamu banci! Kamu bodoh! Kamu miskin! Masa depanmu suram! Heh dasar Alay! Heh Cebol! Kurus! Jangkung! Raksasa! Paus Biru! Serta banyak kata-kata lainnya yang tidak akan sanggup saya tulis di sini (huahahaha).

Mungkin hidup tak seserius itu. Mungkin Tuhan tidak se-seram itu. Mungkin kekurangan-kekurangan yang ditanamkan Tuhan dalam diri kita bertujuan agar kita tak lagi menghitung keluar. Agar kita mulai melakukan perjalanan ke dalam. Malah, kita jadi dipaksa berpikir! Yang pasti, aku yakin Tuhan tidak akan pernah salah menciptakan mahluk-Nya. Jika ada yang mencapmu ‘aneh’ atau ‘salah’, memangnya dia bisa menciptakan yang lebih baik lagi?




Akhirnya, kita sampai ke pernyataan klasik: semua kembali ke pada diri masing-masing. kalau seandainya hidup ini sebuah pertempuran, terserah kau ingin menggelar pertempuran itu di mana. Apakah kau menginginkan sebuah pertarungan seumur hidup dalam diri dengan kau dan segala kekuranganmu sebagai musuhmu. Atau menggelar pertarungan itu di luar, melawan orang-orang yang tidak suka ‘caramu’, tapi tentu saja selalu ada orang yang menerimamu apa adanya sebagai tamanmu.

Ah, tapi kurasa hidup juga tak seserius itu. Biar saja orang berang dan saling mencakar. Berkelahi demi apa yang mereka anggap benar. Beranjaklah ke kursi penonton, duduk dan tertawalah bersama Dia, yang Maha Lucu, Yang Maha Tertawa, Tuhan yang Menciptakanmu, yang tidak pernah salah. Yang menciptakan dunia ini tidak lebih dari tempat permainan belaka.





*Gila, antara curhat, marah dan sikap so’ tahu saya mulai kumat lagi… hehehehe


Komentar

  1. Kalau hidup demi memenuhi harapan orang lain, kita tidak akan pernah punya waktu untuk hidup.

    You just can't please everyone. :-)

    BalasHapus
  2. Kimi@ yupz! trims ya kimi.

    (alhamdulilah ada yang mau baca panjang begini...:')

    BalasHapus
  3. kebutuhan, kepentingan, bahkan pertarungan yang sesungguhnya adaLah pertarungan meLawan diri sendiri. yakni, meLawan "keinginan" yang beLum tentu mampu untuk di capai. sehingga semua terkesan dipaksakan.

    BalasHapus
  4. Om Rame@ katanya sih, musuh terbesar kita adalah diri sendiri. hmmm.. tapi mungkin perlu juga bersikap adail pada diri. atau lebih bagus lagi tak perlu memusuhi diri, kali ya?

    BalasHapus
  5. pas banget baca artikel ini pas dengan kondisi yang saya rasakan.. kadang ngejudge Tuhan nggak adil, iri kenapa si anu begini begitu.. hemm.. tapi yah, setuju dengan kamu.

    buat saya : menjadi beda itu seksi!

    BalasHapus
  6. Gaphe@ oh ya? met merasa seksi deh kalaw gitu! have fun!

    BalasHapus
  7. Oke. Saya akui bahwa saya sangat menyukai tulisan ini terlepas dari apapun.
    Dan karena tulisan ini saya pun memutuskan akan menjadi pembaca setia blog ini.

    Terus terang tulisan ini membuat saya begitu tersentuh. Tertawa dan berpikir. Membenarkan dan sekali lagi merasakan bahwa karena perlakuan orang lain terhadap situ sendiri yang melahirkan tulisan ini.

    Bosan menghibur diri sendiri? kalau istilah saya sih beda, yaitu "Sedang gagal menghibur diri sendiri" Hahahahahaa...

    Saya jadi ingin menulis lagi (tapi sekarang kondisi sedang tidak memungkinkan - lagi gak fit), segera deh.

    Komentar-nya gak usah panjang-panjang deh. Akhir kata TERIMA KASIH ATAS TULISAN INI. Saya benar-benar menyukainya dan membuat perasaan lebih ringan.

    BalasHapus
  8. Habibi@...pertama-tama, terima aksih sudah menyukai tulisan ini. kedua-dua, asya ga tahu mau komen balik apa ya?

    ke tiga: "gagal menghibur diri?", mungkin... itu artinya sudah saatnya berhenti menghibur diri. life goes on.. tak perlu lagi menghibur diri, akrena tak ada jiwa yang sedih.. (hoho, Lebui)

    BalasHapus
  9. hahaha..
    saya malah meyakini MENGHIBUR DIRI itu akan tetap ada. entah kita sadari atau tidak kita sedang melakukannya. Justru kadang kalau sadar bahwa kita sedang menghibur diri itulah kegagalan kadang ditemui.

    Btw, soal hakim itu.
    Hakim kan harus adil. makanya kalau mau main hakim-hakiman juga harus adil. hehehe..

    BalasHapus
  10. Tulisan yg sangat bagus...saya sangat suka..__Banyak makna yg dapat dipetik di dalamnya, banyak pelajaran dan banyak kesadaran...__
    Saya tak berkomentar banyak yg pasti "SAYA SUKA" dan trimakasih saudara memposting tulisan ini...__ Sangat bermanfaat buat saya pribadi..__

    BalasHapus
  11. Miena hafs@ trima kasih.. kunjungan anda sangat berarti buat saya. hehehe

    BalasHapus
  12. hahahaha...
    tidak memusuhi diri adaLah dengan tidak meLawan pada kehendak hati, ikuti sesuai aLunannya iramanya. tetapi tetap kontroL biLa rotasi sudah tidak berjaLan sesuai sirkuitnya.

    BalasHapus
  13. habibi@ betul banget bi. anehanya, saat kita sadar kalau kita tengah menghibur diri, kita merasa gagal. but kadang situasinya ajdi emnggelikan, dan paling tidak kita jadi dapat bahan untuk ditertawakan. (menertawakan diri sendiri yg gagal menghibur diri)

    om rame@ yupz! hati emmang punya aturan sendiri. but kalau kebablasan, bisa modar. hehehe

    BalasHapus
  14. Em...aneh ya??Sepertinya itu udah jadi "cap" orang lain buatQ. Tapi, aku anggap itu sebagai pujian.Berarti aku unik donk.Yah, bisa dianggap sebagai penghiburan, tapi toh aq tidak bisa dan tidak pernah mau jadi sama seperti yang lainnya.Ya itu resiko, mau dibilang aneh,lemot,dll.Toh, dengan begitu aq masih bisa bahagia, dan untungnya masih punya sahabat setia(cie....).Aq ngerasa, mereka mengatakan aneh, hanya karena mereka tidak mengerti.Mungkin mereka gak akan seperti itu lagi, jika mereka mau dan bisa mengerti.Dan, daripada memikirkan anggapan mareka,Qrsa masih ada yang lebih penting. Qt g akan bisa membuktikan apapun kalo masih ribet dengan anggapan itu,kn?Krn itu, buktikan aj, bukan untuk mereka, tapi untuk kita sendiri.Qt g perlu terobsesi membuktikan pada mereka.Jadi, alih2 mikirin hal yang bikin down, lebih baik menjadikannya penyemangat qt.

    Pernah baca postinganQ tentang normal,kn?Nah, menurutQ gak masalah seaneh dan sebermasalah apapun orang itu, asal dia masih manusia.Tidak kehilangan secara ekstrim kemanusiaannya.Yang gak normal itu misalnya psikopat,itu baru bener2 gak normal.Tapi, y harus disadari juga, dia juga pernah normal.Jadi, itu bukan menjadi alasan untuk menghakimi seseorang.

    Sehingga, Qputuskan untuk gak menghiraukan lagi komentar seperti itu.Yang penting aq g merasa apa yang Qlakukan itu salah, dan toh, mereka tidak mampu membuktikan aq salah, kecuali (yang biasanya) hanya pra sangka.

    Aq rasa, gambaran sempurna itu, bukan manusia, entah apa.Karena manusia kan memang gak sempurna.Dan, yah, diakui aj, yang sempurna itu gak ada.CUma Tuhan, yang sempurna.Jadi untuk apa berharap seseorang menjadi sesuatu yang emang gak mungkin,apalagi diri kita sendiri.Dan, yah kebetulan aq juga tidak suka dengan sosok "manusia sempurna".

    Jadi menurutQ,kekurangan n kelebihan ya itu diri kita.Toh, kekurangan kita gak pernah menjadi sekat untuk melakukan sesuatu.Kekurangan dan kelebihan, menurutQ, gak lebih hanya memunculkan gaya yang berbeda dalam menyelesaikan masalah.Dan, itu adalah "keuntungan" bagi manusia,Qrasa.Qt gak bisa terus2an terjebak dalam kekurangan atau kelebihan, tapi manfaatkan itu semua.Toh, terus2an mikirin itu, g menghasilkan apapun, mending cari cara agar kita bisa melakukannya dengan cara kita.Pasti ada jalan.Tuhan gak akan memberikan cobaan yang lebih dari kemampuan makhlukNya, pun tidak pula Tuhan menciptakan sesuatu tanpa guna.Jadi, cukup cari "style" aj.Klo ada yang perlu diupgrade, ya upgrade aj.G perlu memaksakan untuk berubah 180 derajat.Memang g ada manusia yang sempurna,g ada manusia yang bisa benar2 seimbang.jadi sekalipun condong, jadikan kecondongan itu untuk kebaikan Qt.Pasti bisa koq.

    Untuk keadilan Tuhan, aq rasa kita butuh "mengubah" sedikit paradigma kita tentang adil dan keadilan Tuhan.Aq rasa keadilan Tuhan itu untuk menyadari bahwa qt semua punya "potensi kesempatan" yang sama.

    O ya, pada dasarnya iri itu gak masalah sampe kita menjadikannya dengki,Qrasa.Iri,aq rasa masih positif koq, dan yah itu sangat wajar sekali.Cuma memang, entah kenapa, masyarakat itu sukanya seperti itu.Entah untuk memuaskan hasratnya yang mana, atau sbg alih2 kelemahan mereka sndiri?Entahlah.

    em...semoga dapat dimengerti.Mungkin beberapa aq coba tulis di blog,kapan2(kapan-kapan,kapan?hehe...masih belum tau)

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sandikala

Gairah Untuk Hidup dan Untuk Mati

10 Film Asia yang Tak Terlupakan