Review Novel: The Book of Lost Things

Bayangkan, kalau ada seorang laki-laki bungkuk nan jail memakai topi runcing, keluar masuk mimpimu, keluar masuk kamarmu, dan ia bisa berubah menjadi burung Gagak. Laki-laki bungkuk ini tengah menyusun cerita dan ia bisa memasukkan apa saja dan siapa saja ke dalam ceritanya selama ia menginginkannya.
Itulah yang terjadi pada David.

Karena kota London tak aman lagi dari serangan tentara Jerman, ia dan ayahnya pindah ke rumah ibu tirinya, Rose, yang terletak di pinggir hutan.  Di rumah tua ini mulai ia melihat laki-laki bungkuk itu  berkeliaran dan masuk ke kamarnya. Hingga suatu malam, saat sebuah kapal perang Jerman melakukan penyerangan, David berlari berlindung ke halaman belakang. Ke kebun cekung dan bersembunyi di sebuah celah di kebun tersebut.



Ketika si Gadis Bertudung Merah Menjadi Biang Kerok 

Ternyata celah tersebut membawanya ke dunia lain. Sebuah negeri tak bernama. Negeri ini dipimpin oleh seorang raja yang sudah sangat tua dan kekuasaannya mulai memudar. Di negeri ini, Snow white, Putri tidur, dan Gadis bertudung Merah tidak seperti yang kita baca selama ini.

Di negeri ini, dengan kecerdikan dan kepintarannya, si Tudung Merah disegani oleh semua orang. Tidak ada laki-laki yang cukup pintar untuk menjadi pasangannya. Tapi dalam suatu perjalanan menembus hutan untuk menjenguk neneknya, ia berpapasan dengan serigala. Apakah serigala ini mengincarnya dan menelan neneknya? Tidak juga. Malah serigala itu takut padanya. Sebaliknya, si tudung Merah malah jatuh cinta pada sorot mata sang serigala. 

Tidak sekonyol kedengarannya. Hubungan si gadis dan serigala ternyata awal dari sebuah bencana di negeri ini.

David dan Jonathan Tulvey

Anak laki-laki dalam Novel ini bernama David. Ia sangat suka membaca. Ia banyak menghabiskan waktu bersama ibunya untuk membaca dongeng bersama. Namun, karena suatu penyakit, ibunya meninggal.
Meski tahun-tahun telah lewat sejak ibu kandungnya meninggal, David tak bisa melupakan ibunya. Ia juga tidak bisa menerima Rose sebagai bagian dari keluarganya begitu saja. Lebih-lebih saat Rose melahirkan Georgie. Perang Dunia juga semakin menjadi dan menyerap perhatian ayahnya yang bekerja kepada pemerintah. David mulai merasa diabaikan dan menyibukkan diri dengan buku ceritanya. 

Bagian awal buku ini banyak mengulas tentang hubungan David dan ibu tirinya Rose (agak menjemukan juga sebenarnya, tapi ternyata penting). Dalam hubungan yang canggung tersebut sesekali Rose menceritakan tentang rumah warisannya. Termasuk soal Jonathan Tulvey, paman Rose yang menghilang bersama adik angkatnya, Anna.

David sendiri menempati bekas kamar Jonathan yang masih dihuni buku-buku. (buku-buku ini bisa berbisik). 

Tentang Kitab Yang telah Hilang

Saat pertama kali masuk ke dunia lain ini, David bertemu dengan sang Tukang Kayu. Di bawah lindungan sang Tukang Kayu lah David berhasil selamat dari incaran pra mansuia serigala. Lewat Tukang Kayu juga David mengetahui soal kitab Yang Telah Hilang milik raja. Konon kitab ini berisi pengetahuan-pengetahuan yang telah terlupakan. Dan david berharap, ia bisa mengetahui jalan pulang ke dunianya lewat kitab tersebut.

Dongeng yang diceritakan dalam buku ini diperuntukkan bagi orang dewasa. Bukan karena doengengnya mengandung unsur ponography. Tapi muatan ceritanya memang diperuntukkan bagi orang dewasa. Tidak jarang juga kita menemukan adegan kekerasan yang kurasa terlalu vulgar untuk dibaca dan dimajinasikan oleh anak-anak.

Di sampul belakang juga dilabeli novel dewasa. Ada bagian bab yang membuatku bergidik. Bab XV Tentang si Gadis Kijang dan Bab XVI Tentang Tiga Ahli Bedah seolah mulai menegaskan dongeng ini untuk dewasa. Secara keseluruhan ceritanya sendiri memang cukup suram dan tidak semua dongeng dalam buku ini berakhir bahagia.

Plus-Minus

Kelebihannya, karena sepanjang cerita kita mengikuti perjalanan David yang masih anak-anak, kita terkadang lupa kalau cerita ini untuk dewasa. Jadi, ada semacam efek kejut yang muncul saat membaca tindakan tokoh-tokohnya, maupun filosofi yang mendasari tindakan mereka.

Kelebihan lainnya adalah setiap tokoh yang bertemu David dalam perjalanan bertemu raja tidak terkesan asal taruh begitu saja. Mereka tidak terkesan asal tempel atau sekedar pelengkap agar dongengnya ramai. Setiap tokoh memiliki motif dan cerita sendiri. Mulai dari tujuh kurcaci yang komunis, tempramental dan tertindas. Delapan kurcaci ding! Tapi kurcaci ketujuh tidak boleh disebut-sebut karena ia memilih menjadi kapitalis dan menjual roti kismis.  

Begitu juga dengan Roland, seorang perajurit terbuang yang membenci Tuhan dan agama. Ada juga Sang Pemburu yang menemukan gairah hidup dengan berburu dan berbuat kejam saat membunuh buruannya. Ia juga mulai melakukan eksperimen-eksperimen mengerikan terhadap hewan-hewan dan anak-anak untuk meningkatkan kesenangannya.

Kalaupun ada yang kurang kusukai, mungkin bab-bab awalnya. Enam bab berisi kehidupan David sebelum masuk ke dunia lain. Di bab-bab ini berisi tarik menarik antara rasa kangen dengan ibunya, hubungannya yang kaku dengan Rose, rasa iri pada georgie, serta penyakit David yang sesekali kumat (ia mengidap penyakit). Pengantarnya—menurutku—terlalu lambat. Atau mungkin juga penulisnya ingin memberi pondasi yang kokoh untuk karakter David. (mungkin! memangnya tahu apa gue?)

tentang penulisnya sendiri, ia juga menulis novel berjudul: The Black Angel, dan pernah menjadi New York Times Bestseller

Best Quote:

“Kita semua mempunyai ritual-ritual pribadi. Tapi ritual-ritual itu harus ada tujuannya dan memberikan hasil yang kongkret dan bisa memberikan penghiburan bagi kita; kalau tidak ada, semua itu tak ada gunanya. Tanpa itu, ritual-ritual itu ibarat langkah binatang yang mondar-mandir tanpa henti di dalam kandangnya. Kalau bukan kegilaan, maka itu bisa menjadi awal kegilaan.” (Si Tukang Kayu, halaman 134)

Jadi apakah buku ini bagus? Bagus! Meski bukan berarti buku ini sangat-sangat bagus. Tapi banyak renungan-renungan dan sikap hidup tokohnya yang cukup menggugah. Bolehlah… sebagai teman mengisi weekend.

Tentang Buku ini:
Judul buku: The Book Of Lost Things (Kitab Tentang Yang Telah Hilang)
Penulis: John Coonnolly
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan ke dua, November 2008.
472 halaman.

Komentar

  1. Sip sobat, review terus biar saya nggak salah beli buku. soalnya suka nyesel kalo beli buku.

    BalasHapus
  2. thx banget infonya
    salam persahabatan

    BalasHapus
  3. nuel@ trims... jadi tukeran link nih?
    Muahammad Avip@ oke! saya juga sering salah beli kok. hehehe
    kezedot@ trims yak! salam persahabatn juga...

    BalasHapus
  4. ritual aneh ... um ... apakah blogging adalah ritual aneh yang mendekati kegilaan?

    BalasHapus
  5. john terro@ bagaimana menurut anda? hehe. mengutip kata-kata di atas: ritual itu harus memberi manfaat konkret dan membuat hidupmu lebih baik? jawaban tiap orang tentu akan berbeda-beda

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

10 Film Asia yang Tak Terlupakan

Sandikala

Film Korea Yang Layak Kamu Tonton