Saat Kita Membaca

reading
Apa sih sebenarnya yang terjadi saat kita membaca? Seringkali, kalau buku yang kita baca luar biasa bagus, kita jadi lupa sekeliling. Tahu-tahu sudah sore. Atau tahu-tahu sudah pagi. Tahu-tahu tubuh kita lemas, atau punggung kita sakit dan leher nyeri.

Yah, mudah-mudahan Anda tidak mengalami yang saya alami. Tapi kalau anda pembaca setia serial Harry Potter, saya yakin anda pernah melakukan ritual penyiksaan diri macam ini.

Aku mengenal novelnya JK Rowling saat kelas dua SMP. Saat itu yang baru terbit sampai seri keempat. Jadi dalam waktu yang relatif berdekatan, aku reli membaca keempat novel ini sekaligus. Orang tuaku, tentu saja luar biasa heran dan jengkel. Apalagi aku tidak sendirian. Dua kakakku juga membaca serial ini. Malah, sering ia mengancam akan membakar novelku yang keempat (coz yang seri satu-tiga dapat nebeng).

Pokoknya, bagi beliau sangat aneh kalau kita duduk atau tiduran berjam-jam sambil membaca buku. Selain merusak mata, jauh lebih bermanfaat membaca al-Qur’an, gitu katanya. Yah, mau bagaimana lagi, bagus sih!

kalau dipikir-pikir?

Tapi kalau dipikir-pikir keheranan beliau ada benarnya juga. Maksudku, bagaimana bisa kita menolak untuk melakukan segala bentuk kegiatan lain kecuali membaca? Tiduran berjam-jam dan malah begadang sampai pagi. Dalam kasusku, saat membaca novel ke tujuh, aku tidak tidur sama sekali.

Ko’ bisa ya, kita berbaring seperti orang mati dan terlepas dari dunia sekitar? Lagipula, buku setebal itu sebenarnya cuma berisi deretan simbol atau huruf. Huruf-huruf ini membentuk kata dan kalimat, kemudian paragraf. Dan selanjutnya membentuk bab-bab. Kalau dibanding melihat sebuah lukisan atau foto, mestinya melihat berlembar-lembar halaman dan deretan huruf jauh lebih membosankan, kan?

Kata yang Berbicara

Tapi mungkin juga yang terjadi sebenarnya adalah, “membaca tidak sama dengan melihat.” Meski kedua-duanya melibatkan mata. Saat membaca, proses yang terjadi jauh lebih rumit. Saraf-saraf di otak kita bekerja aktif sementara kita membaca. Kata-kata yang tersusun, entah dengan bagaimana, seperti bersuara dalam kepala kita. Kata-kata itu seperti berbicara.

Mungkin itu sebabnya kalimat yang sederhana dan mengalir lebih disukai daripada kalimat bercabang dan rumit.(Dan mudah-mudahan ini tidak berarti bahwa tulisan-tulisanku selama ini kedengaran seperti radio rusak di kepala orang yang tengah membacanya).

Nah loh, tanpa sengaja aku bertemu dengan buku kumpulan esai yang ditulis oleh Putu Laxman Pendit. Buku berjudul: Mata Membaca Kata Bersama ini diterbitkan oleh penerbit Cita Karya Karsa Mandiri (baru dengar, kan? Saya juga!) . Esai-esai dalam buku ini berbicara seputar buku dan baca-membaca.

Kembali ke pertanyaan awal, ‘apa yang persisnya terjadi saat kita membaca?’ . Di esai pertama yang berjudul “mata dan kata” proses membaca dibicarakan cukup rinci. Bahkan diawali dengan kisah dari zaman Yunani kuno mengenai mata.

Membaca, merupakan aktivitas manusia yang rumit. Setiap kali membaca kita melibatkan mata dan otak. Selain itu membaca merupakan kegiatan yang melompat-lompat. Maksudnya, saat membaca, kita tidak benar-benar membaca kata-kata secara berurutan dari kiri ke kanan. Sering kali kita melompat dari satu kata ke kata berikutnya (itulah kenyataan yang terjadi). Sementara membaca, otak kita juga. Menerawang ke masa lalu, mencari makna atas kata-kata yang tengah kita baca. Dan sering kali, apa pun yang kita “lihat” itu belum tentu kita pahami.

Jadi, tidaklah mengherankan kalau seandainya kegiatan membacapun bisa melelahkan. Meski kita terlihat leyeh-leyeh dan santai. Selain itu, karena kegiatan membaca termasuk kegiatan yang prosesnya rumit, jangan heran kalau orang-orang banyak yang ogah membaca.

Tentang buku

Terbit tahun 2007, dan saya tidak tahu apakah bisa ditemukan di toko buku. Yang pasti esai-esai dalam buku ini sangat menarik. Terutama bagi yang suka buku dan membaca, serta bagi insan perpustakaan (pustakawan). Banyak esai dalam buku ini yang membahas soal; “keberaksaraan/ melek huruf”, gerakan membaca, dan perpustakaan.

Mengenai penulisnya, Putu Laxaman Pendit, ternyata beliau adalah salah seorang guru besar bidang perpustakaan di Indonesia. Baru tahu belakangan dari temanku Hendra, yang memang kuliah jurusan Ilmu Perpustakaan (IPI).




btw, ilustrasinya keren, kan? hohoho, aslinya lebih bagus loh. saya bikin pakai pensil..

Komentar

  1. kalo menurut saya.. yang namanya mbaca itu memproses dari sebuah visual berupa kata-kata - lewat otak - membentuk imajinasi - sampe kita ngerti apa maksudnya...

    makanya kalo ada buku difilmkan kadang ada opini kenapa filmnya koq nggak sebagus bukunya... karena orang itu mengimajinasikannya berbeda

    BalasHapus
  2. membaca bisa membuat kita lupa, tapi memang benar kata orang bahwa membaca akan membuka cakrawala kita

    BalasHapus
  3. hahaha...pas baca postingan ini, aku langsung keinget waktu ke 'gep' baca harpot yang paling tuebel (yang ke-5) pada waktu tahfidz(ckck..bisa-bisanya) gara-gara waktu antrian buku itu dah mau abis, sedangkan aku baru baca 3/4 nya..mohon2 ampe pengen nangis minta bukunya dibalikin.. (kalo yang diambil buku fisika lain lagi ceritanya), hehehe

    yang jelas, setuju ama bang gaphe..hal yang paling menyenagkan dari membaca adalah saat kita mengimajinasikannya, mengubah kata-kata yang ditangkap oleh mata menjadi sesuatu yang lebih nyata..

    ilustrasinya keren, lebih cocok kalo judulnya "semedi" hohoho...

    BalasHapus
  4. klo menurut saya sih membaca itu menyenangkan! dan ketika kita melakukan hal yang menyenangkan untuk kita, pasti berapa jam pun ga kerasa kan? contohnya, bagi yang suka main game, klo udah keasikan main game pasti ga tau waktu. gitu juga dengan membaca. dan sebaliknya, bagi yang ga suka baca buku, lima menit baru pegang buku juga pasti udah ditutup bukunya. :)

    BalasHapus
  5. gaphe@ sebenarnya saya adalah salah seorang yang lebih sering kecewa kalau baca buku dulu terus nonton filmnya. hehe. kalau nonton filmnya dulu, saya malah jadi malas baca bukunya (dan sebaliknya).

    joe@ yups joe. mungkin lupa di sini dalam artian yang positif kali ya?

    bestari@ hahaha, kamu kan harpot freaker juga yak? mengenai ilustrasi, sebenarnya ntu gambar orang lagi nulis sih, heheh. but pas diupload jadi burem.

    Kimi@ hi, trims dah mampir... saya setuju banget. yang namanya membaca memang menyenangkan. dan yang lebih asik algi, membaca itu bagus bagi saraf di otak kita. yah pokoknya banyak deh manfaat membaca.

    BalasHapus

Posting Komentar