Sepotong Pelangi yang Lumer

running out of ice cream
Tiba-tiba aku ingin makan es krim. Bukan eskrim biasa. Tapi aku mau paddle Pop rasa pelangi. Aku pun berlari ke warung swalayan Indomaret terdekat.

“Sudah habis paling, mas. ‘itu’nya belum datang" (itu di sini, mungkin maksudnya agen, atau mobil khusus pembawa es krim).

“oh,” jawabku.

Terpikir untuk mengambil eskrim lain saja. Yang rasa apalah namanya. Tapi sekali lagi aku mengaduk-ngaduk eskrim dalam box. Beberapa menit kemudian… di situ dia. Satu-satunya eskrim rasa pelangi yang tersisa di toko ini. Mendekam kesepian di dasar box. Menunggu.
Aku mengambilnya dan langsung nyengir ke petugas toko. Dia membalas cengiranku dengan geli dari meja kasir.
Mungkin dia pikir aku pelanggan paling ngotot hari ini—atau seumur hidupnya. Tapi, dia kan tidak tahu bagaimana panjangnya kisah yang aku miliki bersama eskrim, terutama Paddle Pop rasa pelangi.


Rainbow Peak
Perkenalan pertamaku dengan eskrim adalah pada suatu malam di bulan puasa. Beberapa hari menjelang lebaran. Aku tidak ingat persisnya aku sedang kelas berapa--mungkin masih kelas dua atau tiga.
“Yuk, kita beli es krim!” bujuk kakakku yang keempat. Ia membujukku dan kakakku yang ke lima (aku nomer enam) di trotoar depan rumah kami. Di usia itu aku mendengar kata es krim paling-paling dari majalah Bobo. Mendengar kata ‘es krim’ keluar dari mulut kakakku kedengarannya sangat ajaib. Apalagi sekarang sudah bisa dibeli di kotaku (baca: kampungku).
Kakakku yang keempat ini sedang mudik lebaran. Saat itu ia masih duduk di bangku tsanawiyah (SMP) di sebuah pondok pesantren di Lombok Barat. Lokasi pondoknya lebih dekat ke kota dibanding tempat tinggal kami—yang dalam hitungan lima belas menit bakalan sampai di ujung timur pulau Lombok. Makanya untuk hal-hal canggih seperti video game dan es krim kakakku inilah yang selalu lebih dulu tahu. (sebelum tetanggaku yang cukup tajir punya video game, aku sering terbelalak mendengar ceritanya tentang video game; terutama street fighter)
“Pilih yang rasa apa?” tanya kakakku ini. Aku sempat heran, kukira eskrim tidak punya ragam rasa. Kukira langsung satu paket seperti es Tong-tong: es berbentuk balok dari ketan hitam yang dibungkus kertas cokelat. Pegangannya dari lidi. Dijual keliling dan penjualnya akan memukul gong kecil di gerobaknya. Kemudian menghasilkan bunyi: tong tong tong tong tong… makanya disebut es tong-tong.
“memangnya ada rasa apa aja?”
“rasa cokelat, durian, permen karet, dan rasa pelangi!”
“haaaa?” kataku. Tanpa pikir panjang aku langsung memesan yang rasa pelangi. Kakak ke limaku juga memilih yang rasa itu (seingatku). Aku dan kakakku mempercayakan sebagian belanja lebaran kami ke kakak ke empatku ini. tujuh ratus rupiah. Receh semua. Ia mengambil uang itu dan menyuruh kami menunggu. Ia sendiri dengan gagahnya berangkat ke SB, satu-satunya toko yang menjual es krim di kampungku.
Untuk ukuran saat itu, toko SB ini sangaaaat jauh. interpretasi kita di masa kanak-kanak saya rasa memang begitu. Dulu, jalan di depan rumahku terlihat sangat lebar. Aku harus berlarian kalau mau menyeberang. Sekarang, empat atau lima langkah paling sudah tersebrangi.
Sementara menunggu kakakku yang ke SB itu, Aku dan kakakku bersandar di dinding pagar, di bawah pohon nangka kembar di ujung barat halaman rumah. Rasa pelangi? Kalau rasa cokleat, rasa durian, dan rasa permen karet sih biasa. Tapi rasa pelangi?
Out of This World
Ahirnya kakakku muncul. Ia datang dari arah barat dengan kresek berisi dua potong pelangi untukku dan kakakku. Aku girang bukan main. Ia menyodorkan pelangi itu ke kami.
“Kita makan di sini saja! Jangan masuk ke dalam rumah!” bisik kakakku. Kami takut ketahuan membelanjakan uang kami yang 700 ratus rupiah itu untuk (jajanan mewah seperti) es krim. Akhirnya, kami bertiga pun menjilati es krim masing-masing dengan khidmat. Khusuk. (sumpah aku ingat betul bagaimana malam itu). Kami berdiri di trotoar yang remang, terlindung di bawah bayangan pohon nangka.
Kalau dalam bahasa Inggris, untuk menyatakan makanan yang luar biasa enak kita mengatakan: out of this world! Sebagai anak ingusan yang belum kenal bahasa inggris tentu saja aku tidak memakai kata itu. Yang pasti saat pertama kali mencecapnya, aku merasakan sensasi yang ‘out of this world’ itu tadi….
Sepotong pelangi yang lumer itu jauh lebih hebat dari semua rasa yang pernah ku kenal. Lebih lezat daripada es tong-tong. Lebih enak dibanding gula gaet. Lebih enak daripada keludan. Lebih enak dari lempok…sebut saja semua jajanan masa kecil yang anda kenal. Sebuah rasa dari dunia lain. Asing….tapi enaaaaak.
Tentu saja, saat itu es krimnya terlihat sangat besar. Jauh lebih besar dibanding es tong-tong. Aku agak kerepotan saat esnya mulai lumer dan meleleh ke jariku.
“Begini,” kata kakakku menunjukkan sebuah trik. Ia menggigiti ujung atas eskrim sampai kayunya terlihat. Kemudian kedua tangannya masing-masing memegang ujung kayu itu. Dan seperti daging guling, eskrim yang terjebak di tengah-tengah itu berputar-putar di lidahnya.
“owh..” kataku. Mencoba hal serupa. Tapi aku ternyata tidak terlalu suka menggigiti eskrimku. Lebih enak dijilatin. Malah yang mulai lumer itu yang paling enak.

sweetest memory
Makanan Wajib Lebaran
dulu, sebelum kenal es krim, uang lebaranku paling-paling kupakai beli Bakso. Bakso itu sangat mewah loh! Biasanya yang meramaikan warung-warung bakso pas lebaran ya anak-anak. Tapi semenjak es krim dikenal, ia juga menjadi makanan wajib pas lebaran.

Kios-kios kecil—yang mengikuti jejak SB—ramai dikrubungi anak-anak tiap lebaran. Kio-kios ini sampai bela-belain buka pas hari lebaran. Suasananya pasti berisik dan berebut. Menunjuk-nunjuk gambar eskirm yang dipajang di atas Box.



Jadi sekarang saya sudah dapat eskrimnya…huahahaha. Tapi dalam hitungan kurang dari lima menit sudah langsung habis. Eskrimnya tidak sebesar dalam kenanganku.

Entah kenanganku yang terlalu membesar-besarkan, atau mulutku saja yang membesar. Atau ya, itu tadi, Interpretasi masa kanak-kanak yang masih bersemayam di benakku. Sekarang ini, gigit dua tiga kali, es krimnya tinggal kayu. Padahal dulu saat-saat makan es krim adalah saat yang sangat khidmat. Di mana aku selalu menikmati eskrimku dalam kekhusu’an. Tiap gigitan dan tiap detiknya (halah).
Mungkin lain kali aku akan beli es krim dua saja sekaligus! Atau langsung tiga!!

tiga sekaligus

related post: memoar sepeda

Komentar

  1. Hahahahaha..
    jadi pengen makan es krim, eh, mungkin lebih tepatnya pengen makan es Tong-Tong. Lama banget gak makan lagi.

    Kalau diingat-ingat juga, es krim emang asyik banget kalau di beli waktu lebaran. seperti makanan mewah dahulu kala. Hahahaha..
    Tradisi ke pantai waktu lebaran juga dulu sering. Jadi kangen masa-masa itu.

    BalasHapus
  2. omong-omong soal es tong-tong, masi ada ga ya? saya juga kangen dengan es itu!

    kalau soal lebaran sih, sekarang saya merasa lebaran itu tidak seseru saat kita kanak-kanak dulu.

    mmmm....

    BalasHapus
  3. saya suka banget tuh rasa pelangi..bersama eskrim coklat, setahu saya itu rasa eskrim pedelpop yang abadi.. kalo permen karet sama duren sekarang udah nggak ada kan?..

    BalasHapus
  4. iya... selain yang pelangi, kaya'nya paddle pop yang lain biasa-biasa aja ya? sebenarnya yang rasa permen karet juga lumayan si. tadi saya nyari dah ga ada tuh. di gambarnya juga sudah ga ada....

    BalasHapus
  5. hhehehhe...
    deskripsinya baus banget
    saya jadi betulan pingin makan es krim
    (besok beli ah.....hehhehehe...)

    BalasHapus
  6. um ... saya juga suka warna pelangi
    es krim pelangi juga mau (asal gratis) :P

    BalasHapus
  7. huuuft..like gambarnya....jadi bertanya2,,apa bener mbak2nya ngomong "saudah habis, ganteng!"

    kkkkkk,,,,the top ice cream ya magnum ama rasa pelangi ini...yummy...namun sampai sekarang aku belum nyoba yang magnum.

    BalasHapus
  8. nova@ trims Nova... blog mu juga keren loh. besok beli? hmmm

    john terro@ hahaha, oh ya? itu si Nova katanya besok mau beli, todongin dia aja.

    BalasHapus
  9. azhia@ hehehe, insya Allah beneran dia bilang gitu (minimal dalam hati, wekekek).

    magnum is the top juga y? wahh.. besok akan saya coba.

    BalasHapus
  10. muakakakaakaka......

    saya jadi pengen makan es krim....
    nanti beli ah, pengennya seh makan bertiga....
    ntar duduknya diatur kayak di ilustrasi...
    supaya lebih lama wkt makannya...
    kita bisa beli selusin aja?!

    BalasHapus
  11. huakakak ....hu uhm....coklatnya melted banget dech. harganya siih muahal. yaaah setara dengan kelezatannya. :p selamat mencoba. saya tunggu komentarnya tentang magnum...

    BalasHapus
  12. Genial@ yups.. trims y

    barock@ nah ini orangnya, heheh. beli selusin? satu box aja? tapi sekarang pohon nangka dan temboknya sudah tidak ada lagi...

    Azhia@ boleh- deh boleh. (sayangnya saya ga punya sejarah sendiri dengan magnum). but kalau emang cokelatnya merlted banget, I'll try it!

    BalasHapus
  13. Wah tinggal di Sleman ya?

    Btw saya agak hati2 makan es krim, bukan karena takut flu. Tapi perut saya agak sensitif dengan kandungan susunya (unsur laktosa-nya)

    Salam kenal!

    BalasHapus
  14. Inung Gunarba@ iya.. saya di Sleman. tapi masih cukup aman. sekedar menghibur diri dengan blogging. dan ettap berdoa tentunya.

    BalasHapus
  15. Inung gunarba@ oh ya.. salam kenal. blognya sampeyan keren!

    BalasHapus
  16. ternyata setelah sekian lama akhirnya saya sadar.. sudah lama saya tidak makan es krim.. :(

    BalasHapus
  17. ati-ati kecanduan, eskrim nyandu lho. haha

    BalasHapus
  18. artikel yang bagus..
    salam kenal ya.. ditunggu ya komentar baliknnya di blog saya :)

    BalasHapus
  19. salam kenal,,blom bisa comment banyak neh,,

    BalasHapus
  20. Sebagian besar orang menyukai es krim trutama bangsa anak2, es krim pdl pop emang top dech, malah sekarang ada kartun pdl pop jg loo..sy suka yg pelangi dan rasa duren..__
    Es tong2 dah mulai langka, beberapa bulan yg lalu sy bertemu dengan penjual es tong2, tp rasanya tidak seperti tong2 zaman kita kecil dulu, agak berbeda karena dikasih rasa macem2 gitu...
    ada lagi es zaman kita kecil yg sekarang benar2 musnah, es pelangi yg bentuknya bundar warna-warni ...__ Hmm..padahal itu tidak baik untuk kesehatan karena mengandung zat pewarna yg keras, tp namanya anak kecil..mana perduli..__Kagak ngerti juga sech..

    BalasHapus
  21. rianpunyablog@ hahaha, lumayan lah, berarti saya yang bikin sadar nih? hayo beli! (maksa) trims atas kunjungannya.

    Muhammada a vip@ heheh, justru udah kecanduan nih. trims kunjungannya.

    Teknologi@ trims kunjungannya (siap meluncur ke blog anda)

    Arall mradio@ salam eknal juga.. trims kunjungannya...

    Bi Miena@ oh ya? masi ada yang jualan es tong-tong? tapi kalau es tong-tong yang sehat kayanya sehat deh bi? cuman pakai ketan hitam sama santan kan? (iya ga si? so' tw saya neh).
    tapi kalau es yang beredar jaman sekarang emang berbahaya si. cuman anak-anak ngeliat warnanya aja kali ya? trims ya..

    BalasHapus
  22. sedemikian banyaknya es krim dengan berbagai rasa, saya justru Lebih memiLih es krim tong-tong. sebab rasanya Lebih gurih, karena ada santan yang Lumayan wah di daLamnya :D

    BalasHapus
  23. bestari@ yummmm...

    om rame@ waah om rame juga kenal es tong-tong nih? sebenarnya saya juga ingin makan itu es tong-tong lagi. tapi sekarang yang jual sudah ga' ada lagi ya? susah nemunya.... siapa tahu kelak walls bikin paddle pop rasa ees tong-tong..
    trims

    BalasHapus
  24. nanti kaLau saya juaLan es tong-tong akan di informasikan deh, ditunggu aja kabar baiknya :D

    BalasHapus
  25. Wah, yang rasa pelangi juga kesukaanQ.Rasanya gak enek,waktu kecil biasanya kalo beli yang itu teruz.

    Jadi inget dulu pernah beli es krim yang rasa cola, uangnya urunan.Di makan rame-rame, eh, malah jatoh.CUma bisa menikmati detik-detik pertama deh.Waktu itu sebel sih, tapi kalo dpikir-pikir sekarang lucu juga yah,es krim satu dijilatin bareng2 XD.Sekarang yang rasa cola gak ada

    BalasHapus

Posting Komentar