Bosan

Mengapa dahulu Tuhan mengikutsertakan "bosan" dalam adonan alam semesta? Mengapa "bosan" layak bercampur dengan hukum fisika? Bersama tata surya, bersama ruang dan waktu, dan bersama hal-hal hebat lainnya?

Bayangkan saja, setelah jutaan tahun mengalami evolusi, mulai dari sel-sel (atau entah apa istilahnya dalam biologi), kemudian menjadi hewan melata, menjadi hewan bertulang belakang, primata, dan kemudian manusia, bosan tiba-tiba menyergap kita sebagai mahluk yang memiliki kesadaran. Setelah membangun peradaban begitu lama, perang beribu tahun, migrasi, evolusi industri, dan sebagainya dan sebagainya itu, yang kemudian melahirkan teknologi.

Teknologi selanjutnya membuat hidup kita jauh lebih mudah. Waktu luang kita semakin melimpah.... pekerjaan yang dulu membutuhkan waktu berjam-jam sekarang bisa diselesaikan dalam hitungan menit... Lalu kebosanan pun tiba-tiba berdiri di depan kita sekarang.

di depanku!

Bagaimanapun juga...kebosanan ini telah menempuh perjalanan panjang untuk sampai di sini. Menempuh jutaan, bahkan milyar tahun! Semenjak Tuhan menariknya dari salah satu laci dapurNya, membubuhkannya bersama bumbu lain. Bersama hukum-hukum kehidupan, bersama segala hal yang punya nama dan belum bernama. Segala hal yang telah kita kenal atau belum kita kenal...


Apakah yang begitu penting dari bosan ini sebenarnya?

Ini seperti.....mencecap rasa pahit pada potongan brownis (kenapa harus brownis?). Kau tahu kan, rasa pahit itu dari mana? (dari gula? dari cokelat? dari kedua-duanya?) Jika rasa pahit itu dari gula, maka...butuh buruh-buruh tani untuk menanam tebu. Butuh cuaca yang bagus agar tebunya tumbuh baik dan kelak bisa dipanen. Butuh seorang sopir truk untuk membawa tebu-tebu itu ke pabrik gula. Untuk kemudian diproses dan menjadi gula. Kemudian diditribusikan dan dijual di kios dan supermarket.

Sampai kemudian seseorang yang membuka usaha rumah tangga mengambilnya di rak dan membawanya pulang. Kemudian mencampurnya dengan bahan-bahan lain-->>singkat cerita jadilah brownis. Ia lalu ada dihadapanmu. Kau mencicipinya, kemudian ada rasa pahit yang ikut menyertai manisnya.

Ah, tapi kan gula itu manis. Kalau pahit, kemungkinan berasal dari cokelat, kan? Ya sudah, kalau rasa pahitnya dari cokelat... silakan anda bayangkan sendiri perjalanan panjang yang telah ditempuh oleh Sang Pahit agar sampai di lidah Anda. Kalaupun tidak mau dibayangkan, ya tidak apa-apa...

Apa yang saya coba sampaikan lewat paragraf di atas--lewat analogi yang tak efektif itu--adalah bahwa bosan itu.....

bosan itu....

apa ya?

Bosan itu saya rasa semacam kondisi di mana kita tak berminat melakukan apa-apa lagi. Ketika tak satupun hal menarik untuk dilakukan. Ketika segala hal yang tadinya kita kira menantang ternyata lebih mudah dari yang kita bayangkan. Ketika...apapun yang kita lakukan terasa sama.

Bosan itu.... seperti mengunyah permen karet yang sudah tak manis lagi. Rahang sudah pegal tapi kita terus saja mengunyah.... tak ingin ganti yang baru, karena kita tahu rasanya akan sama saja. Permen yang baru toh akan hilang rasa manisnya juga kelak.

Tapi bosan tetap saja penting. Kondisi yang membosankan itu dibutuhkan. Meski kita belum tahu mengapa ia diperlukan. Jika sesuatu menempuh perjalanan begitu panjang hanya untuk menemanimu--meski membosankan--pastinya ada "sesuatu" di situ kan? Dan adalah tugas kita untuk mencari tahu "sesuatu" itu kan? Mencoba memahami mengapa bosan ikut serta mewarnai sebuah lukisan yang kita namai kehidupan. (halah)

Mengapa dari sekian banyak hal yang bisa terjadi pada hidup ini, bosan termasuk salah satunya? Mengapa bosan harus ikut membentuk kehidupan? Saya bukannya protes. Saya hanya ingin mencari tahu kenapa... dan menulis di sini adalah salah satu cara saya mencari tahu. Meski kadang saya tak juga tahu....tapi paling tidak, saya jadi bersenang-senang dengan rasa bosan dan rasa ingin tahu saya... (halah)

"Hei Bosan! apa yang kau lakukan di sini?" tanyaku.

Si bosan diam saja. Dia begitu diam dan begitu membosankan.




.

Komentar

  1. Bosan menjawab, aku saudara kembar dari MUAK ,,, heheh

    btw. e-mail yang om jadiin akun blogger yang mana?
    apa yang houxaini@hotmail.com?
    cz katanya om mau gabung nulis di Persona Intikalia

    ane bingung, cz ada e-mail ordinnari@rocketmail.com juga punya om :)

    BalasHapus
  2. saudara kembar? orang tua kalian mana?? (garing ding!).

    untuk blog ini aku pakai yang hotmail. (houxaini@hotmail.com)

    yang ordinnari cuman buat facebook, atau pas ninggalin komen (biar inbox hotmailku ga penuh). hehehe

    BalasHapus
  3. oualah ... udah aku kirim mas undangannya
    silakan dicek dan aku tunggu konfirmasinya :)

    BalasHapus
  4. oke..

    emailmu yang pancaroba itu bukan?
    apa belum masuk ya?

    BalasHapus
  5. Perasaan bosan itu akan menghinggapi siapa saja, Mas. Termasuk menghinggapi saya juga. Dan rasa bosan itu saya rasa sangat manusiawi. Justru kalau tidak ada rasa bosan tidak akan ada inovasi. Kreativitas justru akan mati.

    Kok bisa? Kalau saja dulu Thomas Alfa Edison cepat bosan dan menyerah dengan percobaannya mungkin tak akan ada bola lampu listrik seperti sekarang ini.

    Contoh lain, kalau saja negara Jepang cepat puas dan tidak merasa bosan dengan teknologinya mungkin tidak akan mengenal istilah kaizen dan continuos improvement dalam perbaikan teknologinya yang banyak mengadopsi teknologi asing tapi justru bisa mengalahkan negara penemunya sendiri.

    Intinya, sikap bosan adalah perasaan yang negatif tapi akan berubah menjadi positif kalau kita tahu bagaimana cara mengelolanya dengan baik. Bukan begitu, Mas Huda?

    BalasHapus
  6. Eh, siapa bilang Bosan diciptakan Tuhan?..

    coba lihat, apakah bumi pernah bosan mengelilingi matahari?. apakah matahari pernah bosan menyinari?
    #jiaah.. koq saya jadi puitis

    bosan tuh cuman akal-akalan manusia aja.. cuman satu obatnya : jangan bosan!. titik. hehehehe

    BalasHapus
  7. Joko Sutarto@ begitu sekali mas Joko. Dan menyikapi ras bosan inilah yang paling sulit. Bosan itu ambigu... Saat bosan, apakah saya harus bertahan dan bergelut dengan rasa bosan itu? terus melakuakn hal yang sama dan membiarkan hidup memberi saya kejutan-->>sebagaimana Thomas Alva edison yang berhasil pada eksperimennya yang keseribu?.

    Ataukah bosan di sini merupakan alarm. Sebuah tanda bahaya bahwa saya mulai 'mati'. saya harus melakukan sesuatu, saya harus bergerak, saya harus mencoba yang baru--sebagaimana bangsa jepang yang tak pernah bosan berinovasi. (kok malah jadi curhat ya?)

    Gaphe@ lha teruus, kalau ga diciptakan Tuhan, siapa yang menciptakan bosan? *in case, kita semua sepakat bahwa Tuhan menciptakan segalanya tanpa terkecuali. kok malah jadi perang konsep ya? hahaahha.. intinya sih, Jangan Bosan! TITIK.

    trims

    BalasHapus
  8. silakan cek di email mas yang houxaini@hotmail.com

    yang judulnya "You have been invited to contribute to Persona Intikalia" pengirimnya "John Terro"

    lalu klik link panjang yang ada di e-mail itu :)
    silakan mencoba :)

    BalasHapus
  9. belum masuk tuh... (atau coba dikirm lagi?)

    tak tunggu aja deh.

    BalasHapus
  10. aku bosan baca postingan kamu. Hahahaha

    BalasHapus
  11. oke aku kirim lagi
    silakan cek di email mas

    BalasHapus
  12. muhammad A vip@ haha, udah tahu baruan masi bosan nih?

    imanuel@ aku juga bosan dengan komen mu... heheheehe (jangan bosan dong, please). ayo dibaca lagi! baca sampai tiga kali, pasti ga bosan!

    JT@ ok!

    BalasHapus
  13. makasih da gabung
    saya tunggu tulisan mas Huda di blogku :)
    saya merindukan banyak review novel yang bagus dari mas Huda :)

    BalasHapus
  14. bosan...memang rasa manusiawi sekali...
    saya tidak dapat membayangkan jika manusia tidak memiliki rasa bosan....

    BalasHapus
  15. Jt@ review ya? oke deh. but kalau ga review boleh kan?

    Agoest@ iyo ams... berarti saya masih manusia deh kalau gitu..

    BalasHapus
  16. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  17. hmmm...manis asem asin ait, rame rasanya..
    tapi kan jadi enak.. hehhe
    kalo gak dimasukin ke adonan kehidupan, bisa aja kehidupan nya jadi gak enak rasanya..

    kalo gak ada bosen, orang gak akan jadi kreatif nyitain alat2 untuk ngusir bosen itu sendiri.. :)

    BalasHapus
  18. rapi@
    Haa.. I luv your wisdom...
    trims for sharing...
    ;'P

    BalasHapus
  19. "Mengapa dahulu Tuhan mengikutsertakan "bosan" dalam adonan alam semesta? "

    karena Tuhan itu mencintai keseimbangan #sok tau

    tulisan sampeyan bagus mas :)

    BalasHapus
  20. Setuju sama mas Joko Sutarto. Bosan punya andil yang cukup besar dalam kemajuan peradaban manusia.

    Tapi, penyebab bosan itu bisa banyak hal, bisa karena udah "buthek", atau karena g ada yang bisa dilakuin, atau karena lagi ada masalah.Bosan itu tandanya kita butuh refreshing.

    Aq rasa, T.A.Edison mungkin saja dia pernah bosan, tapi dia memanfaatkan momen "pengusir bosen" untuk momen "menambah kreativitas".Misalnya aj gini, si Edison bosen, dia istirahat bentar, n refreshing, bukan untuk lepas dari hal yang membuatnya bosan, tapi mencari inspirasi dari luar sekitarnya, karena yang selama ini ada di sekitarnya sudah tidak bisa memberi inspirasi.Makanya,dia pernah mencoba bulu ekornya kuda jadi bahan percobaan juga(ide yang aneh, dapet darimana coba klo gak dia lepas dari labnya dlu)

    Tuhan memang menciptakan bosan.Tapi, cuma manusia yang punya, kenapa?Karena manusia itu spesial, dia punya "tugas" berbeda dari makhluk lainnya, manusia itu khalifah fil art, punya tugas mengembangkan,memelihara dan menjaga bumi ini.Karena itu, perlu inovasi.karena itu pula ada bosan dan teman-temannya.Sedangkan makhluk lain, gak memiliki rasa,freewill dan akal, beda dengan manusia.Makanya dia tidak merasa bosan.Tetapi, memang mereka tidak membutuhkan semua itu, mereka punya "tugas" yang berbeda dengan manusia.

    Jadi, menurutQ biarkanlah saja bosan itu ada, yang penting bukan bosen negatif atau nggak, tapi gmna kita merespon kebosanan itu agar menjadi positif.Mungkin bosan memang alarm,alarm untuk "merncari inspirasi baru", "alarm untuk menilik kembali diri dan visi kita",tapi apa gunanya alarm itu tanpa tindakan selanjutnya dari kita.Kalo diumpamakan alarm maling, tanpa tindakan selanjutnya setelah alarm berbunyi, ya bisa2 barang2 kita, atau bahkan nyawa kita ludes diambil sang pencuri.Iya kan?


    Huah, panjang ya?hehehe...
    semoga gak mbulet untuk dimengerti dan dapat membantu ^^

    BalasHapus
  21. Kacho makasi banyak atas komen kamu yang satu ini....

    aku baru tahu kalau TA Edison juga pernah nyoba pakai bulu ekor kuda dalam percobaannya..

    ga kok, ga mbulet... I got it

    Trimz A LOT

    BalasHapus
  22. iya,aq baca di buku komrik serial tokoh dunia.Rambut manusia juga pernah kayaknya.Jadi,sepertinya TA Edison itu orangnya lucu juga ya? :p

    sama2.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

10 Film Asia yang Tak Terlupakan

Sandikala

Film Korea Yang Layak Kamu Tonton