Review Buku: Bibir Dalam Pispot

Kalau membaca sebuah novel atau buku kumpulan cerpen, kadang kita penasaran dengan penulisnya dan proses kreatif sang penulis. Kita ingin tahu lebih banyak tentang kehidupan sang penulis. Lebih-lebih kalau karyanya sangat kita sukai. Kita penasaran bagaimana penulis itu memanfaatkan pengalaman sehari-harinya dalam menghasilkan sebuah cerita. Bagaimanapun juga, cerita yang ia hasilkan tidak muncul begitu saja, kan? Pastinya, cerita-cerita yang ia tulis sedikit banyak dipengaruhi oleh pengalamannya.

Tapi seringkali, atau kebanyakan, novel-novel dan kumpulan cerpen bagus sekalipun tidak memberi kita informasi yang cukup banyak mengenai sang penulis. Kadang hanya satu lembar saja di halaman belakang sebagai pelengkap. Biasanya yang tertulis di situ adalah biography singkat sang penulis. Tentang riwayat pendidikan dan (kalau ada) prestasi-prestasi yang pernah ia raih. Dimana ia tinggal dan kelompok-kelompok seni yang mungkin pernah ia ikuti. Padahal kita juga ingin si penulis bercerita barang satu dua lembar tentang dirinya.

Aku sendiri, jika membaca buku yang sangat bagus, aku akan membaca satu lembar tentang penulis di bagian belakang berulang-ulang. Setelah selesai beberapa bab misalnya, dan aku terkesan dengan cerita dalam bab tersebut, secara spontan aku membuka halaman tentang penulis. Membaca informasi yang sama lagi dan lagi. Tidak tahu kenapa. Penasaran saja.

Untungnya kumpulan cerpen yang menerima Khatulistiwa Award pada tahun 2003 ini diberi pengantar langsung oleh penulisnya. Hamsad Rangkuti membagi pengalamannya kepada kita mengenai bagaimana cerita lahir dari tangannya.


Pispot
Judul kumpulan cerpen ini diambil dari cerpen nya yang berjudul “Pispot”. Dari enam belas cerpen yang ada dalam buku ini, cerpen yang berjudul “Pispot” ini memang membuat kita lumayan bergidik. Selain cerpen “Maukah Kau Menghapus Bekas Bibirnya di Bibirku dengan Bibirmu?” cerpen yang berjudul “Pispot” adalah cerpen yang paling kusukai (tapi semua cerpen di dalam buku ini bagus semua kok).

Bagaimana cerpen “pispot” ini lahir? Suatu hari, saat dia naik oplet sepulangnya dari CV Kosen (tempat majalah sastra Horison dicetak sebelum berubah ke offset), oplet yang ia tumpangi terhambat kerumunan. Rupanya baru saja terjadi penjambretan. Lewat salah satu penumpang yang baru naik ke oplet itu ia tahu bahwa korban penjambretan adalah seorang wanita muda pemilik kalung emas seberat dua puluh lima gram.

Nah loh, cerita penjambretan tadi kemudian mengundang cerita penjambretan lain yang lebih sadis dari satu penumpang di oplet tersebut. Penumpang yang satu ini bercerita kalau ia juga belum lama ini menyaksikan aksi penjambretan di Bandung. Korbannya juga seorang wanita muda. Namun gara-gara kalungnya tersebut imitasi, wanita muda itu kemudian dipaksa oleh kawanan penjambret untuk menelan kalungnya sendiri di bawah todongan belati.

Sang pencerita yang juga wanita menyaksikan sendiri kejadian itu dan ia bercerita sambil bergidik. Dari cerita inilah lahir dua buah cerpen: “perbuatan sadis” (terhimpun dalam kumpulan cerpen Sampah Bulan Desember), serta cerpen “Pispot” yang tersaji dalam buku kumpulan cerpen ini.

Kenapa Kita Perlu Tahu?

Kenapa kita perlu tahu proses kreatif seorang penulis dalam melahirkan ceritanya? Kenapa ya... bagiku, membaca proses kreatif seorang penulis tidak kalah menarik dengan menyimak cerita-ceritanya. Selain itu, bagi para writers wanna be, sebenarnya akan lebih terbantu dengan membaca proses kretaif penulis yang ia sukai, daripada membaca buku-buku how to tentang menulis. Ya ga sih? Kita merasa lebih terilhami dengan mengetahui proses kreatif mereka.

Pembukaannya diberi judul: Imajinasi Liar dan Kebohongan: Proses Lahirnya Sebuah Cerpen. Sebanayk sembilan halaman, Beh, puas deh. Namun ini juga bukan berarti pembukaannya lebih menarik daripada cerpen-cerpennya. Hanya saja ini menjadi semacam bonus yang menyenangkan. I like it.

Selain pembukaan ini juga terdapat bigraphy singkat penulis di halaman terakhir. Kita juga disuguhi penutup dari F. Rahardi di bagian akhir buku ini.

Siapakah Hamsad Rangkuti?
Ia lahir di Medan, 7 Mei 1943. cerpen-cerpennya dimuat dalam berbagai media dan majalah baik dalam maupun luar negeri. Beberapa cerpennya diterjemahkan dalam bahasa Inggris dan Jerman. Kumpulan Cerpennya yang telah terbit adalah: Lukisan Perkawinan (1982), Cemara (1982), Sampah Bulan Desember (2000). Novelnya: Ketika Lampu Berwarna Merah (penerbit buku kompas: 2001) dan Klamono.

Tahun 2003, menerima “Anugerah Kesetiaan Berkarya” dari Harian Kompas dan buku kumpulan cerpen ini: Bibir Dalam Pispot menerima penghargaan “Khatulistiwa Award 2003”.

Best Quote:

“Apakah kita akan keluar dari kepompong kabut ini sebagai kupu-kupu?” (dari cerpen Maukah Kau Menghapus Bekas Bibirnya di Bibirku dengan Bibirmu?: halaman 140)

Cerpen-cerpen yang paling kusukai dalam buku ini adalah: Maukah Kau Menghapus Bekas Bibirnya di Bibirku dengan Bibirmu?, Pispot, Hukuman untuk Tom, Dia Mulai Memanjat, dan Wedang Jahe (yang ini kocak). Ada 16 buah cerpen dalam buku ini.

Tentang Buku ini:

Judul: Bibir Dalam Pispot
Penulis: Hamsad Rangkuti
Tebal: 174 Halaman.
Penerbit: Penerbit Buku Kompas
Cetakan 2, tahun 2004.


.

Komentar

  1. gara2 baca tulisan saudara sy ingin skali menulis pengalaman2 hidup sy menjadi sebuah karya yg bisa dinikmati orang lain, tapiii...????
    Kayakx byk tapinx alias susahnya ya...??
    Hmm...paling tidak tulisan anda membangkitkan semangat sy, walau hanya menulis di blog sj..__

    BalasHapus
  2. saya ingat, ini buku yang menemani ransel saya selama beberapa minggu :) buku kumpulan cerpen semenarik novel. Di sini, kita seperti masuk ke warung kelontong serba ada. Lho kok bukan mall? karena warung kelontong menawarkan interaksi hangat dengan penjualnya, ada obrolan ngalor ngidul sambil bersandar atau dapet kursi plastik. Di mall mah obrolan garing dengan pelayannya qeqeqe

    Di sebut warung karena ceritanya beragam, alur berbeda, angle yang berbeda tiap judul :)

    oya sy jga selalu menyelipkan pembatas buku karena membaca kumpulan cerpen di kala menunggu atau teman melamun qeqeqe daripada merokok kan mending baca ;D

    BalasHapus
  3. ini kayaknya buku udah lumayan lama ya Da?. Soalnya udah pernah liat pas jaman kuliah dulu.. tapi baru ngeh isinya paan pas kamu review ini..

    BalasHapus
  4. miena hafs@ heheh.. ayo bibi semanagat! siapa tahu ada yang jadi cerpen terus dimuat?? kan siaap tahu..

    inung gunarbha@ iya mas. cerpen-cerpennya emang beragam. tapi kalau diambil garis besarm cerpen2nya hamsad rangkuti itu banyak yang bertemakan wong cilik gitu ya? (sok banget saya ngambil garis besar, hehehe) ceritana banyak bertemakan kehidupan sehari-hari di perkampungan, di gang-gang, desa, oplet, dan bus.

    bagi saya yang kehidupan sehari-harinya juga seperti itu tambah suka dengan cerpen2 beliau.

    gaphe@ iya.. pertama kali terbit tahun 2003. yang saya baca cetakan keduanya. hehee. saya suka baca buku-buku lama, coz buku baru juga ga jamin kalau isinya bagus si.

    BalasHapus
  5. Maukah Kau Menghapus Bekas Bibirnya di Bibirku dengan Bibirmu
    kayak sebuah lirik lagu yang baru2 ini sering muncul RBT nya di TV :)

    BalasHapus
  6. JT@ oh ya? jangan2 dia baca buku ini juga..hehehe (saya ga tw perkembangan musik tanah air si...)

    BalasHapus
  7. penulis yg luar biasa menghasilkan tulisan yg luar biasa.......

    BalasHapus

Posting Komentar