Menulis dan berbicara

Sebenarnya sudah banyak tulisan yang membahas soal tulis-menulis. Di Blog ini saya juga sesekali curhat sih, mengapa saya lebih suka menulis dan membaca daripada bergaul (baca: Mengapa menulis).

Saya memang tergolong kuper dan lebih suka bergaul dengan buku. Saya lebih nyaman menghabiskan waktu di Perpus daripada nongkrong di cafe-cafe. Udik banget deh pokoknya. Rasanya dunia saya memang lebih banyak berlangsung di alam pikiran saya. Kalau kumpul2 tuh, saya lebih suka mendengarkan daripada bicara.

Ada waktunya saya merasa tak terhubung sama sekali dengan kumpulan orang di sekitar saya. Parah kan? (saya termasuk autis ga sih?). Pernah saya baca (kalau ga salah di tulisannya Budi Dharma), bahwa membaca tulisan itu seperti melakukan sebuah perjalanan spiritual. Membaca novel atau cerpen itu seperti masuk ke dalam tubuh seseorang dan mengalami perjalanan batin sang penulis (atau tokoh)nya. Makanya, membaca cerita sebenarnya bisa membantu kita memahami nilai-nilai kemanusiaan.

Dari di tingkat SD saya memang sudah 'terlanjur' senang membaca cerita. Dan ini, sedikit banyak mempengaruhi cara saya menilai orang lain.

Saya rasa, membaca dan menulis itu seperti menepi. Seperti menarik diri sejenak dari hiruk pikuk dunia. Kita menyimak kisah dari pejalan kehidupan lain(membaca), atau sesekali menceritakan kisah kita sendiri (menulis). Sebagian dari kita sangat menikmati aktifitas menepi ini. Sebagian lain mungkin lebih suka menjalaninya tanpa mau sibuk-sibuk memikirkannya. Atau ada juga yang mungkin sesekali menepi dan menjadikannya pengisi waktu senggang. Mungkin saya termasuk kategori orang yang ketagihan menepi. Orang yang lebih suka menikmati kehidupan lewat tepian--dan punya cita-cita mempersembahkan hidupnya di sini (jadi penulis).

Menulis VS Bicara

well, sebenarnya saya baru selesai baca tulisannya Om joko Sutarto, tentang menulis dan berbicara:"Apakah Keahlian Menulis Berkorelasi Positif Dengan Kemampuan Berbicara?" Terbersit pertanyaan, sebenarnya mana sih yang lebih penting, keterampilan menulis ataukah berbicara?

Kita semua sepakat, kalau tonggak peradaban manusia itu ditandai dengan ditemukannya tulisan. iya ga sih? Masa sebelum abjad ditemukan disebut dengan masa pra-pradaban (prasejarah). Kehidupan kita memang berubah drastis dengan ditemukannya tulisan. Malah dahulu, penggunaan alfabet sangat eksklusif. Hanya orang-orang suci, wakil-wakil Tuhan sajalah yang berhak menggunakan alfabet.

Kalau teman-teman baca bukunya Coelho "Gunung Ke Lima"--ceritanya diadaptasi dari salah satu episode Bibel, di situ pendeta kota Akbar sempat mengeluhkan mulai maraknya penggunaan alfabet. Ia kuatir 'dewa-dewa' akan marah dan dunia akan kacau balau dengan hilangnya hak ekslusif penggunaan alfabet. Dan..seperti yang kita tahu sekarang, penggunaan alfabet secara meluas memang telah mengubah peradaban kita. Mengubah cara kita berpikir dan cara kita menggunakan ilmu pengetahuan. Alafbet memang ajaib.

Kembali ke pertanyaan tadi, manakah yang lebih baik, keterampilan berbicara ataukah menulis? Saya bisa saja memberi jawaban klasik: dua-duanya punya kelebihan masing-masing. Namun lewat tulisan ini saya ingin  memberi penekanan bahwa "Peradaban kita ditandai dengan ditemukannya tulisan".

Maka, menulis itu seperti ikut merayakan peradaban ini. Merayakan era dimana alfabet bisa kita gunakan dengan bebas tanpa takut diklaim berdosa dan diancam neraka. Tidak berlebihan kalau Putu Laxman Pendit mengatakan bahwa membaca adalah hobi orang yang merdeka!

Saat ini pemerintah kita memang masih fokus memberantas "buta huruf". Masih banyak manusia di Indonesia yang mendiami dunia prasejarah. Sementara Anda, yang kebetulan membaca tulisan ini, otomatis sudah bebas buta huruf kan? Hanya saja, lebih banyak kita terhenti di sini. Sudah bisa membaca dan menulis  kemudian merasa cukup. Angka melek huruf tinggi tidak selalu berarti angka membaca juga tinggi, kan? Nah loh, kalau angka membaca saja rendah, bagaimana dengan menulis?

Kalau urusan pandai berbicara, dari jaman dulu juga sudah ada. Orang-orang yang suka menulis hanya dimiliki zaman ini. Zaman pradaban! Maka, menulis dan membaca adalah salah satu cara untuk merayakan zaman ini. Merayakan peradaban.


Ayo menulis!


.

Komentar

  1. Bagi saya sih menulis tak ubahnya dengan menciptakan peradaban kita sendiri. :D

    BalasHapus
  2. Wow! membangun peradaban kita sendiri? That even sounds better. Ayo ngeblog! ayo nulis! ayo bangun peradabanmu!

    BalasHapus
  3. merayakan peradaban ... um boleh juga
    tapi jujur saya lebih suka menulis daripada membaca
    saya hanya suka membaca pikiran orang lain ... nyahahah *kayak apaan aja diriku :D

    BalasHapus
  4. JT@ lebih suka nulis daripada membaca?? hebat banget si.... biasanya kan orang yang suka baca belum tentu suka nulis?

    BalasHapus
  5. Wah, kamu tipikal orang introvert yaa... hemm.. hehe, tapi nggak takut ketemu ama orang kan?.

    well, nulis tuh butuh wawasan yang banyak. dan itu nggak mudah.. orang nggak akan tau apa yang mau dia tulis kalo nggak terbuka wawasannya.. dan emang baca adalah salah satu jalan mengembangkan wawasan. termasuk BW juga tentunyaa.. hehee

    BalasHapus
  6. gaphe@ iya.. saya termasuk intorvert. tapi ga sampai xenophobia kok. tetap nyaman asal ga disuruh bikin ulah. selama saya dibiarin asik sendiri, asik aja saya mah....

    BalasHapus
  7. "Peradaban kita ditandai dengan ditemukannya tulisan"

    Saya baru nyadar sekarang. Betul sekali itu, Mas Huda. Berarti tanpa bermaksud untuk melebih-lebihkan seorang penulis (blogger) pun ikut didalamnya. Pencipta peradaban itu sendiri.

    Kalau bicara proses sebelum menulis pada awalnya orang pasti suka membaca dulu. Kemudian naik step dengan melakukan membaca sintopikal (perbandingan). Memperlakukan buku sebagai obyek dengan subyek tertentu. Bukan buku sebagai guru lagi.

    Dan sampai pada akhirnya mencapai suatu titik dimana membaca hanya sebagai penyeimbang dan seperlunya saja. Kemudian banyak melakukan pengamatan dan melakukan perenungan sampai akhirnya menuliskannya. Betul, ya?

    Makanya tak salah kalau ada yang pernah bilang bahwa seorang penulis secara otomatis adalah seorang filsuf (pemikir).

    BalasHapus
  8. Joko Sutarto@ insyAllah tidak berlebihan deh kalau seorang blogger termasuk pembangun peradaban...*minimal, kalau dalam bahasanya Kimi, "membangun peradabannya sendiri".

    Ada kalanya saya memang sampai ke titik jenuh membaca. tapi kalau untuk berhenti seterusnya...mmmm...kayanya ga deh.

    BalasHapus
  9. aku juga suka membaca toh..malah punya banyak koleksi buku2...

    kayak menggunakan watak dalam kisah buku sebagai diri kita yang melalui setiap kronologi perjalanan watak..emang bagi yang bener2 menghayati ia cukup terhanyut dengan kisah watak.

    BalasHapus
  10. Biskut@ hi biskut! makasi kunjungan baliknya. waaah...kalau gitu kita sama2 suka baca.. terutama novel dan cerita.

    BalasHapus
  11. Orang Jogja ya? Hm... Sama dong. Cuman saya sering jalan ke Mall sendiri, nongkrong di Gramedia, hehehe...

    Soal menulis itu bakat dadakan, dulu tulisan ngawur, sekarang ada wujudnya. Dan memang iya, perlu banyak referensi menterjemahkan semua.

    Kemarin ikut tabligh akbar di Gedung Wanita, dan banyak pencerahan.

    Ijin follow ya...

    BalasHapus
  12. mb Ami@ bukan asli jogja si. cuman kul di sini. owh... yang di wanitatama kemaren itu ya? dikasi tw temen si, but ga dateng... hehehehe

    yups, monggo... ta' follow back deh. salam kenal ya.

    BalasHapus
  13. gw juga suka baca, tapi lebih sukaan komik. ehehe... Ada juga sih beberapa novel yang gw koleksi.

    Btw terkadang ngobrol sama orang juga seru. Dengerin obrolan mereka malah sering nambahin pengalaman gw secara tak langsung

    BalasHapus
  14. imanuel@ iya si seru...but I'm just not addicted to that...(jd so' britis deh)

    BalasHapus
  15. Hmmm, it's okay kok kalo seneng menulis, dan tdk terpengaruh dg hingar bingar pergaulan remaja skrg, wkkwkkw bahasanya! menulis untuk menumpahkan semua ide kreatif di kepala ataupun untuk mencurahkan semua kepenatan di dada it's okay! alangkah luar biasanya kalo hasil tulisan tsb bisa terwujud dlm bentuk buku dan bisa dinikmati lbh banyak orang(pikiran komersil.com)...hehehe

    BalasHapus
  16. tiwi@ hohoho, makasi atas semangatnya mb tiwi.iya deh...amiin mudah2an bisa nulis buku.

    BalasHapus
  17. hihii.. nemu orang yang hobi dan sifatnya sama nih :D
    salam kenal yah

    BalasHapus
  18. eh om Huda
    aku selalu dapet komen dari Admin yang promo english course .. kayaknya itu spammer bertopeng blogger :D
    btw. emang kenyataannya gitu om, aku jarang sekali baca buku, tapi sering nulis di blog :D

    BalasHapus
  19. JT@ oh ya? trims.. ini dah kedua kalinya dapat komen itu. komen di sini ga dimoderasiin si. yo wislah..ntar ta' tandai sebagai spam.

    trims yaa...
    yah, ga apa2 deh jarang baca buku, yang penting rajin baca postinganku (hehehehehehe)

    BalasHapus
  20. hahah ... gtu yah :D
    memang sih aku lebih suka baca blog :D

    BalasHapus
  21. sama.hehehe
    aku juga suka ngerasa nyaman banget kalo di perpus.aku kadang heran kalo orang bilang ke perpus bikin pusing, karena kenyataannya kalo aku lagi sumpek aku malah pengen ke perpus.yah, tapi orang kn beda2 sih ya..
    sampe sekarang pun aku masih kuatir, apa aku ini autis ya?antisosial?haha.ga tau lah.

    baca tulisan sampeyan rasanya mirip kayak baca tulisan tentang aku yang dituliskan orang lain.hehehe :p

    BalasHapus
  22. oh ya?
    hihihihi...
    berarti kita sama dungs..

    BalasHapus
  23. Ada kalanya menulis itu lebih baik daripada berbicara, ada kalanya juga nggak.Sebenernya sih tergantung kebutuhan.

    Tapi,kalo aq sih memang lebih suka menulis.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

10 Film Asia yang Tak Terlupakan

Sandikala

Film Korea Yang Layak Kamu Tonton