Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2011

Alay di Antara Kita

Terus terang saat pertama kali mendengar istilah alay saya tak benar-benar mengerti maksudnya. Apa dan siapa alay itu? Seperti apa mereka? Saat tahu kalau alay merupakan singkatan dari anak layangan, kedengaranya pun tak terlalu buruk di telinga saya. Malah agak sedikit keren.

Di benak saya, segala hal yang bisa melayang dan melihat dunia dari ketinggian selalu terdengar keren. Mimpi-mimpi favorit saya adalah saat saya—dalam dunia mimpi—bisa terbang. Karena sesuatu dan lain hal, tubuh saya menjadi ringan dan saya bisa berenang-renang di udara. Rasanya saya ingin terus bermimpi selamanya! Dan jadi jengkel sendiri ketika saya tahu-tahu sudah bangun. Apalagi kalau hari itu harus kerja. Beuh..
Back to our topic: saya tidak tahu persisnya yang dimaksud orang yang alay itu seperti apa?

Apakah mereka yang menulis nama mereka di FB dengan huruf-huruf yang diukir? Menurut saya sebenarnya ini kreatif. Dan kadang memang over juga sih. (Jadi mungkin; apa yang kita sebut alay sebenarnya tak lebih d…

lagi males

Sumpah lagi males banget ngupdate posting.... Mau post yang soal kucing itu juga males (padahal tinggal klik "Terbitkan Entri" aja si).. ntar ne blog dikira blog spesialisasi kucing lagi....

Apalagi kemarin mb Ami bilang kucing hitam itu jelmaan JIN.
Aku jadi mikir2 untuk cerita yang ke tiga ini. :'(

segini saja posting saya kali ini....

terima kasih.

Maya Floria Yasmin

Gambar
Maya Floria Yasmin adalah salah satu teman baru saya di dunia blogger. Tidak tahu bagaimana, tahu-tahu dia sudah nyasar di sini dan meninggalkan komentar. Setelah berkunjung ke blognya...WOW. Maya ini ternyata suka baca dan konsisten mereview buku-buku yang dia baca (bandingkan dengan saya...hahaha, jauh).

Hohoho....

Gambar
“Di depan melawai,” bunyi smsnya Gaphe. Saat itu kebetulan posisiku memang tidak jauh dari Malawai.

Di depan situ cuma ada satu orang yang duduk, menunduk memainkan Hape. Jaket hitam dan T-shirt putih. Ini pasti Gaphe. Aku hampiri dan...kami tahu-tahunya ngobrol begitu saja. Kemudian datanglah Mb Ami. Ini bukan pertemuan pertamaku dengan Mb Ami. Beberapa hari lalu dia pernah main ke Warnet tempatku bekerja dan ngasih bingkisan gitulah (tanks mba'). Tapi karena saat itu cuaca tidak mendukung dan Mb Ami memakai sepeda, pertemuan kami cuma beberapa menit.
Mb Ami dan Gaphe berbasa-basi dulu. Membahas sedikit tentang tinggi badannya mb Ami yang 'diluar dugaannya' si Gaphe. Kemudian kami pun beranjak ke lantai empat.

Yenny Hamida

Gambar
Kemaren itu, ada Mb Rifka, Mas Gaphe, Mb Fairysha, Maya, dan Yen yang minta digambarin. setelah diundi, siapa yang dapat giliran pertama untuk digambarin; akhirnya the lucky number one is.... Yenny Hamida.
Bagi yang belum digambarin, yah, dimohon kesabarannya. heee..

Apa dan siapakah Yenni Hamida.
1. Dia itu....teman SMA-nya John Terro.
2. Suka komiknya Adachi Mitsuru
3. Sering komen di blogku (heehhe). posting-posting lama malah dibongkar, dibaca dan dikomentari. Siip, trims a lot Yen.
4. dia juga operator warnet seperti saya.
5. Saya tidak tahu wujud aselinya dia. Meski sudah temenan di FB, tapi ga dapat clue orangnya seperti apa..Foto profilnya gelap dan gambar kartun. Moga aja gambar ini mirip.
6. katanya dia punya poni.
7. pernah membanting Hapenya--terinspirasi dari sinetron
8. apa lagi ya?

mending kalian langsung saja ke TKP. Jangan lupa difollow: Hamida's Note


Have Fun!
.

Benci dan Cinta

Di facebook temanku pernah berkomentar begini: cinta (love) itu lawan katanya bukan 'benci' (hate), tapi tidak peduli (ignore).” Dan kurasa dia ada benarnya juga. Karena benci dan cinta itu kadang susah dibedakan. Kadang dari cinta lahir benci dan kadang dari benci lahirlah cinta. Iya kan? Kadang kebencian kita pada seseorang bergelut dengan rasa kagum—kita menyebut yang satu ini dengan istilah “sirik”.

Namun ketika kita memilih tidak peduli (ignore), kita tak lagi mencintai ataupaun membenci. Karena kita memang tidak peduli. Orang tersebut mungkin memang berada di luar dunia kita. Sehingga bahkan untuk membenci pun kita tak punya waktu. Mungkin kita tidak peduli bukan karena kita sombong atau apalah namanya. Tapi lebih karena keterbatasan kita juga sebagai manusia. Tidak meungkin juga kan kita peduli pada semua orang sekaligus?

Merapikan Blog (sedikit)

Ada satu 'obsesi' menyangkut blog ini yang sampai sekarang belum terwujud: Bikin Blog Map. Bila perlu bikin halaman baru di atas dengan judul "Blog Map". Agar penggemar blog ini tidak tersesat saat berkunjung ke sini. *Hassyaah...emangnya blog ini ada penggemarnya?

Mungkin nanti atau besok saya bikinin Blog Map. Saya janji saya pasti akan bikin NANTI--yang pasti bukan sekarang (insa'oloh). Tapi paling tidak mulai sekarang saya mau mencicil merapikannya. Salah satu bagian yang saya rapikan pertama adalah pelabelan. Silahkan anda lirik sidebar di samping. Labelnya sudah saya bagi tiga bagian: ada "Reveiw Saya"; "Tulisan Saya"; "Hobi Saya".

tag "Review Saya" berisi review-review buku dan film. Niatnya bulan Februari ini mau aktif lagi mereview buku dan Film. Yang bertag "Tulisan Saya" adalah pikiran-pikiran iseng, curcol, dan ada satu yang nyempil: "agama". Awal-awal saya aktif ngeblog bulan Juni tahun 20…

Pelamun Yang Parah

“Saya adalah pengelamun yang parah,” Tulis Hamsad Rangkuti dalam pengantar kumpulan cerpennya: Bibir Dalam Pispot. Sebagai orang yang juga suka ngelamun, saya bahagia membaca kalimat pembuka itu. Atau paling tidak, mengurangi rasa bersalah saya atas hobi saya ngelamun.

Ya, saya pun hobi ngelamun—tanpa bermaksud menjejerkan diri dengan cerpenis terkenal itu. Saya bisa menghabiskan waktu berjam-jam sambil ngelamun. Kadang sambil mendengarkan musik, kadang sambil corat-coret (tentu saja), atau kadang saya ngelamun begitu saja. Sementara tubuh saya berbaring, khayalan saya terbang ke mana-mana.
Saat bersepeda pun begitu. Tidak terhitung banyaknya saya jatuh dari sepeda gara-gara menabrak motor atau mobil dari belakang—alasannya ya, karena saya asik ngelamun sambil bersepeda. Makanya saya tidak cocok bekerja menjadi sopir ataupun ojek. Kalau nanti saya jadi orang kaya, saya harus punya sopir pribadi (nah loh, ngelamun lagi).
Apakah melamun itu selalu buruk?
Selama ini melamun mema…

Momo VS Einstein

Bekerja menjadi operator warnet membuat interpretasi saya terhadap “waktu” menjadi sedikit berubah. Dengan lima sift seminggu dan jadwal sift yang tidak beraturan, pergantian tanggal menjadi sedikit rancu di benak saya—dan mungkin teman-teman Operator lainnya. Saat menyusun jurnal, kami sering saling menanyai, “tanggal berapa sekarang?” Ini selalu terjadi. Meski di sudut kanan bawah monitor ada tanggalan yang bisa dilihat kapan saja.
“Tanggal berapa sekarang?” Tiap kali mengajukan pertanyaan ini saya seperti mengalami djavu. Apalagi jika kebagian sift tiga. Jam jaganya jam 12 malam, saat hari berganti tanggal. Jadi saat mengisi jurnal di pagi harinya, saya masih merasa kalau saat itu masih hari yang sama dengan sore yang saya lewati kemarin. Entah jam tubuh saya, atau apalah istilahnya, mengalami kebingungan. Saya juga kadang sulit membedakan kemarin dengan kemarin sebelumnya, atau yang lebih kemarin lagi.
Saya rasa, kalau seandainya diadakan penelitian, sepertinya operator warnet be…