Alay di Antara Kita

Terus terang saat pertama kali mendengar istilah alay saya tak benar-benar mengerti maksudnya. Apa dan siapa alay itu? Seperti apa mereka? Saat tahu kalau alay merupakan singkatan dari anak layangan, kedengaranya pun tak terlalu buruk di telinga saya. Malah agak sedikit keren.

Di benak saya, segala hal yang bisa melayang dan melihat dunia dari ketinggian selalu terdengar keren. Mimpi-mimpi favorit saya adalah saat saya—dalam dunia mimpi—bisa terbang. Karena sesuatu dan lain hal, tubuh saya menjadi ringan dan saya bisa berenang-renang di udara. Rasanya saya ingin terus bermimpi selamanya! Dan jadi jengkel sendiri ketika saya tahu-tahu sudah bangun. Apalagi kalau hari itu harus kerja. Beuh..

Back to our topic: saya tidak tahu persisnya yang dimaksud orang yang alay itu seperti apa?

Apakah mereka yang menulis nama mereka di FB dengan huruf-huruf yang diukir? Menurut saya sebenarnya ini kreatif. Dan kadang memang over juga sih. (Jadi mungkin; apa yang kita sebut alay sebenarnya tak lebih dan tak bukan adalah jenis kreativitas yang berlebihan dan menyebalkan).


Bahasa Alay

Sejauh ini, yang saya tahu tuh; alay itu masih sebatas bahasa (setahu saya nih). Saya belum melihat ada style tertentu dari alay ini. Tidak sama dengan punk misalnya. Ranah alay tuh masih dalam ranah bahasa (so' tahu banget sih)--->>atau anggap saja pembahasan saya di sini terfokus pada aspek bahasa.

Menurut saya nih, fenomena bahasa alay tidak terlepas dari perkembangan jejaring sosial. Terutama Fesbuk.

Dalam dunia jejaring sosial ini, eksistensi kita kan lebih banyak mewujud dalam bentuk kata-kata. Oke, ada fasilitas album di FB, tapi yang lebih banyak kita lakukan di dunia FB kalau tidak mengupdate status ya...komen status. Dan, beberapa dari kita mungkin tak cukup puas dengan bentuk-bentuk huruf yang ada. Dari situlah kemudian kreatifitas ini mulai berperan. Ketika bunyi “A”
tak hanya digambarkan dengan lambang “A” atau “a”, tapi juga bisa dengan “@” atau angka “4”.

Atau, tidak hanya bentuk, tapi juga bunyi yang diwakili oleh simbol-simbol abjad itu. Huruf “u” misalnya. Kalau dalam bahasa inggris huruf “u” ini kadang dibaca 'a' seperti dalam kata “up”. Maka, bahasa alay untuk maaf akhirnya ditulis “mu'uph”. Well cuma dugaan saia saja si. Jadi jangan tanya saya mengapa banget menjadi “beud”, ya ditulis “ea”, dums atau dungs menggantikan “dong”.

Bahasa Itu Berevolusi

Setahu saya, bahasa juga berevolusi (bukankah segala hal di dunia ini memang terus berubah?). Mohon maaf bagi yang membenci teori ini. Salah satu cara yang digunakan untuk menggambarkan teori evolusi adalah; dengan menggambarkan kata-kata dalam bahasa Inggris yang masih mengandung huruf-huruf tertentu yang sebenarnya sudah tak diperlukan lagi. Tahu sendiri kan bagaimana borosnya penulisan kata-kata dalam bahasa inggris?

Well, ga cuman bahasa Inggris. Semua bahasa pun mengalami hal yang sama, termasuk Bahasa Indonesia. Bahasa indonesia lima puluh tahun yang lalu tidaklah sama dengan bahasa Indonesia yang kita kenal sekarang. Makanya kita (dalam hal ini saya) cenderung malas kalau baca novel atau roman angkatan-angkatan pujangga baru atau balai pustaka.

Intinya, apa yang coba saya sampaikan di sini adalah, mungkin bahasa yang kita sebut bahasa alay sekarang adalah semacam mesin evolusi untuk membuat bahasa Indonesia agar lebih canggih. Siapa tahu?

Lagipula, setahu saya (dulu sewaktu belajar Antropologi), bahasa Indonesia itu aslinya bahasa perdagangan. Makanya bahasa ini tidak seekspresif bahasa lain. Mungkin itu sebabnya banyak bahasa sempalan; prokem, bahasa waria, bahasa gaul, dll.

Mungkin lahirnya bahasa alay belakangan ini disebabkan karena kata-kata dalam bahasa Indonesia—sebanyak apapun itu—belumlah cukup untuk mewakili apa yang ingin kita ekspresikan.

Apalagi sekarang bentuk kehidupan sosial kita semakin rumit. Cara kita mengungkapkan diri saat ini pun semakin beragam. Masalah-masalah yang kita hadapi juga semakin rumit kan? Tidak selamanya apa yang kita rasakan atau alami bisa kita gambarkan dengan mudah lewat kata-kata yang sudah ada. Makanya kita mengekspresikannya lewat bentuk-bentuk huruf, bunyi yang diubah-ubah, maupun arti kata yang kadang dibolak-balik.

Bahasa alay, mungkin semacam ledakan dari ekspresi-ekspresi yang sudah teralalu lama teredam. Karena simbol-simbol lama, entah bentuk maupun bunyinya sudah tak cukup lagi untuk meng-cover pesan yang ingin kita sampaikan. Saya bukannya menyarankan kita semua menggunakan bahasa alay sih. Tapi juga tidak ingin terlalu merendahkan fenomena alay ini. Menurut saya, bahasa alay punya potensi untuk memperkaya bahasa Indonesia.



Mbuhlah...
(so' ahli bahasa banget sih gue...)



.

Komentar

  1. eaa..eaaa..

    bahasa alay juga bermanfaat loh, buat bikin password biar nggak ada yang niru. Kombinasi angka, huruf besar, huruf kecil, jadi mempersulit orang lain tau password.

    BalasHapus
  2. Hud, kadang bahasa 'alay' tuh susah dimengerti saking kreatipnya yang nulis...


    Ntar deh, klo bisa aku share sms alay dari temenku.

    BalasHapus
  3. hahahahahah dan tanpa sadar ternyata kita pernah menjadi bagian dari kaum alay *sigh

    BalasHapus
  4. bener Ata pokoknya empat el empat ye .. = 4l4y hahaha ..
    paling males kalo dapet sms yg nadanya alay ..pengen banting nih HP tapi sayang gaka da gantinya ..

    foto bibir monyong 5 senti, tangan bawa HP dengan sudut 45 derajat ke arah atas .. atau kalo gak kayak fotonya Gaphe tuh .. sambil melet hehehe ..

    bener beud gak seecchh ..
    *udah alay gak saia ?*

    BalasHapus
  5. Kalo terlalu alay emang nyebelin sih.

    @Gaphe : bener juga yah....Tapi, apa gak lupa ya?Kan gak jarang ganti-ganti pelafannya kalo alay.

    BalasHapus
  6. alay itu boleh
    asal tidak berlebihan :)

    BalasHapus
  7. alay itu boleh
    asal tidak berlebihan :)

    BalasHapus
  8. filosofimu bagus hud.... kamu kenapa ga ambil jurusan filsafat aja???? pemikiran kamu tuh brilian (lebay!). Tapi serius hud... saya suka... this blog is one of the blog i always see,

    BalasHapus
  9. Alay=g jelas, aneh, sok imut...
    (hahaha, anti alay...)

    tp takut jg kadang tnpa disadari,seseorang bisa keluar alayny..

    BalasHapus
  10. Gaphe@
    eaa... s7! (tapi kalau lupa gimana?)

    Ajeng & Hoedz@
    haha, iya sih. sebenernya aku juga males nerima sms alay. jadi pengen banting tuh HP...

    ajeng, ditungguin sharenya..
    hoedz, iye, loe dah 4l4y beud

    nota nono@
    kita??

    kacho@
    iya sih, mengutip kata si JT: alay itu boleh asal tidak berlebihan...

    JT@
    hu'um

    Nuel@
    hihihi, makasi...*melambung tinggi
    blogmu juga bagus ko'....

    filsafat? hahah, aku mau ngambil seni rupa tahun ini (moga aja terwujud..amiiin)

    Rose@
    hahaha, kayanya alay itu semacam kehilangan kontrol gitu ya?

    mungkin pada dasarnya kita semua alay, tapi dengan kadar yang berbeda-beda..(halah). ada yang alaynya ekstrim beud, tapi ada yang sekedarnya aja--buat lucu2an doang.


    trims all

    BalasHapus
  11. yaahhhh kucing nya ga ada lagi ya??
    wkwkwkwkk..

    alay udah mewabah sekarang, bahkan udah jd penyakit sepertinya. Pasti remaja yg baru pubertas alay. Hhahaha jahat bnget gw menjudged seperti itu...

    btw salam 4L4Y
    bang HudTuL.
    wkwkkwkwk

    BalasHapus
  12. Tito@
    haha, salam 4l4y juga titouw... hehehe..

    gilaak..batagor mu ma es bungsu itu bikin ngiler

    BalasHapus
  13. baca sms yang tulisannya rada-rada alay suka bikin sakit mata. terus terkesan sangat berlebihan. :(

    BalasHapus
  14. di googles search keyword 'baca sms alay' ada postinganku

    BalasHapus
  15. alay?lucu sih kadang2..
    kalo aku ga masalah sih terima sms alay, cuma kdg heran aku, knp sih susah2 nulis sms alay gitu?kan repot kudu gonta-ganti font jadi besar kecil gitu ato ubah dari huruf jadi angka.malah beberapa kata yg harusnya pendek malah jadi panjang kalo dijadiin alay.ga praktis bgt.merepotkan.
    *pecintakepraktisan

    BalasHapus
  16. Maya@
    betul banget. hahah. menyebalkan sih emang...

    Ami@
    iya mb', hehehe. kayanya itu bisa ajdi senjata SEO buat blognya mb (so' paham SEO)

    yen@
    hahaha

    John Terro@
    Go Intikali go!
    udah lama aku ga posting di Intikali...

    ntar deh...

    trims all...

    BalasHapus
  17. sebentar-sebentar... saya ngga setuju nih kalo alay berpotensi untuk memperkaya bahasa Indonesia... dari cara membaca dan penulisannya aja udah lain banget sama bahasa Indonesia, dan lagian cara mengetik/menulisnya juga super duper ribet... sekian, terima kasih... :)

    BalasHapus
  18. Eks@
    tidak apa2 kalau kamu ga setuju...

    sama-sama...

    BalasHapus
  19. sialan banget commentnya huda hoedz. secara ga langsung bilang kalo poto bibir gue adalah poto alay. emang alay dan eksotis itu beda tipis -.-

    BalasHapus
  20. ata nono@
    hu'um-hu'um....

    *ngangguk2 dengan kalemnya

    BalasHapus
  21. oooh..alay itu anak layangan ya?? *norak* iya sih..kata temenku, alay itu ciri-ciri sebenernya item, dekil, en de el el gitu awalnya, kok bsa jadi sebutan orang2 yang nulis aneh2 gitu ya??

    BalasHapus
  22. asal jangan mengganti nama Tuhan dengan seri Alay hihihh ..
    piye kabarnya mas ??

    mugi mugi sehat ..amin

    BalasHapus
  23. rapi@
    yah, saya juga baru tahu ini...

    brigadir kopi@
    baik mas....
    hihihih....

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

10 Film Asia yang Tak Terlupakan

Sandikala

Film Korea Yang Layak Kamu Tonton