Benci dan Cinta

Di facebook temanku pernah berkomentar begini: cinta (love) itu lawan katanya bukan 'benci' (hate), tapi tidak peduli (ignore).” Dan kurasa dia ada benarnya juga. Karena benci dan cinta itu kadang susah dibedakan. Kadang dari cinta lahir benci dan kadang dari benci lahirlah cinta. Iya kan? Kadang kebencian kita pada seseorang bergelut dengan rasa kagum—kita menyebut yang satu ini dengan istilah “sirik”.

Namun ketika kita memilih tidak peduli (ignore), kita tak lagi mencintai ataupaun membenci. Karena kita memang tidak peduli. Orang tersebut mungkin memang berada di luar dunia kita. Sehingga bahkan untuk membenci pun kita tak punya waktu. Mungkin kita tidak peduli bukan karena kita sombong atau apalah namanya. Tapi lebih karena keterbatasan kita juga sebagai manusia. Tidak meungkin juga kan kita peduli pada semua orang sekaligus?

Benci VS Cinta?

Pertanyaan berikutnya adalah; apakah kebutuhan kita untuk membenci sama besarnya dengan kebutuhan kita untuk mencintai?

Kita bisa begitu mabuk kepayang dalam perasaan cinta; pada orang lain, pada suatu simbol, pada suatu kelompok, pada tuhan atau pada apapun namanya itu. Dan dalam kecintaan kita itu, ada juga benci. Kebencian pada segala sesuatu yang berlawanan dengan apa yang kita cintai itu.

“Saya mencintai Islam, dan karenanya saya membenci segala hal yang memusuhi Islam!” Benarkah memang harus begitu?

“Saya mencintai Indonesia, maka saya pun membenci negara lain yang membajak budaya negara ini!” Bagaimana kalau kasusunya dibalik? Bagaimana kalau seandainya Indonesialah yang membajak sesuatu dari negara lain

Mencintai Tanpa Harus Membenci

Bisakah kita mencintai tanpa harus membenci? Karena seperti yang dikatakan oleh teman saya itu, lawan 'cinta' bukanlah 'benci'. Tapi kita memang terlanjur meletakkan kata benci dan cinta berhadap-hadapan. Sehingga, semakin besar cinta kita pada seseorang atau kelompok, semakin besar pula kebutuhan kita untuk membenci orang lain dan kelompok lain.

Lawan cinta yang sebenarnya adalah “tidak peduli”. Atau mungkin lebih tepatnya “kepedulian kita terbatas”, karena semakin besar cinta kita pada seseorang semakin besar pula ketidakpedulian kita pada orang lain yang bukan orang itu. Kelompok lain yang bukan kelompok itu. Agama lain yang bukan agama itu. Dan dengan begitu, saya pun bisa berkata; “untukmu agamamu dan untukku agamaku”.

Mencintai Dengan Bebas

Jadi kita tidak perlu lagi menegaskan cinta kita pada suatu agama dengan membesar-besarkan kebencian kita pada agama lain. Seolah-olah semakin besar cinta kita pada yang ini, semakin besar pula kebencian kita pada yang itu. Tidak perlu lagi kita menyerang konsep yang dianut oleh orang lain untuk menegaskan bahwa konsep yang kita miliki sudah sempurna. Untuk apa?

Ketika seseorang membenci atau menjelek-jelekkan nilai yang kita anut, apakah kita harus marah? Kita bisa saja memilih tidak peduli. Seribu orang bisa saja mengatakan bahwa orang yang kau cintai itu 'jelek', tapi karena sudah cinta, di matamu dia tetap saja 'cantik'. Kau tidak perlu menyerang balik keseribu orang itu untuk menarik ucapan mereka, mengasah golok dan menuntut mereka agar sepaham dengan dirimu. Apalagi kalau sampai menyulut bensin, main bakar!

Kalau sudah begini, maka cinta kita tak lagi bebas. Nilai cantik tidaknya orang itu tergantung apa yang dikatakan seribu orang tadi. Padahal siapa yang peduli? Saya melihat dengan mata kepala saya. Dia cantik! Sejuta orang yang mengatakan 'jelek' tidak akan mengubah kenyataannya. Dia tidak akan mendadak jelek seketika itu juga. Karena kecantikannya bukan pada apa yang dikatakan orang mengenainya. Kecantikan itu ada pada 'nya'. Ah, namanya juga cinta!



Tapi yah itu tadi, kita terlanjur meletakkan kebutuhan kita akan cinta sama besarnya dengan kebutuhan kita untuk membenci. Seolah-olah cinta kita tak akan lengkap tanpa kebencian. Padahal jauh lebih mudah memilih untuk tidak peduli. Bukan karena kita egois atau sombong. Tapi karena kita sadar keterbatasan kita. Tidak semua dari kita sanggup mencintai semuanya sekaligus. Peduli dan paham segalanya sekaligus. Kadang, yah, jauh lebih baik jika kita biarkan saja orang lain hidup dengan apa yang dia percayai.

Kita bisa begitu ketagihan 'mencintai' seseorang, kelompok, atau apapun namanya, dan saya rasa ini dapat dibenarkan. Namun, apakah ketagihan kita untuk membenci dapat dibenarkan?

Kita tidak peduli bukan karena cinta kita berkurang pada apa yang kita cintai. Kita tidak peduli, karena kita memang tidak sanggup mencintai semuanya sekaligus. Memahami semuanya sekaligus. Menganut semua agama sekaligus. Menyembah semua Tuhan sekaligus.

Saya yakin kita bisa mencintai tanpa harus membenci.


.

Komentar

  1. Mencintai sesama, mencintai alam, mencintai makhluk hidup. Cinta menurutku tidak hanya cinta pada pasangan yang berbunga-bunga. Banyak ide cowok dan cewek ngajak jalan, "bersayang-sayangan" dalam tanda kutip, bukan karena cinta, tapi karena butuh rangsangan adrenalin. Tapi aku akhir-akhir ini lebih suka menyebut dengan istilah rahmat Allah. Menyayangi sesama dan makhluk hidup. Bencilah hal yang dilaknat agama Islam, tapi usahakan tetap bersikap baik, itulah ajaran Islam. Bisa bikin postingan sendiri nih bahas ini... Ma kasih atas renungannya tentang C-I-N-T-A

    BalasHapus
  2. Ami@
    Hu'um..
    makasi mb. ditunggu postingannya...

    BalasHapus
  3. cinta tuh sebenernya nggak ada lawan katanya..

    kalo ignore, bukannya lawan katanya : care??

    ngomong soal cinta, itu buat saya berarti penyerahan. Cinta ma Alloh, means menyerahkan diri kita sepenuhnya kepada Alloh..cinta ma orang tua, menyerahkan diri kita untuk taat kepada orangtua.

    jadi emang cinta bukan harus dengan membenci atau tidak peduli.. karena nggak ada lawan katanya kan.. heehe

    BalasHapus
  4. gaphe@
    iya juga ya? mungkin sebenernya kata-kata memang ga harus berlawana-lawanan. dasar kitanya saja yang 'ketagihan" dengan musuh-musuhan, lawan-lawanan.. hehehe

    "jadi emang cinta bukan harus dengan membenci atau tidak peduli.. karena nggak ada lawan katanya kan.. "-->>yes yes yes! I think so. this one even much better..

    terima kasih atas pencerahannya.

    BalasHapus
  5. Cinta tuh adalah sesuatu yang sangat berbeda dengan benci .. tapi ada kala nya cinta timbul karena rasa benci yang sangat berlebihan .. (pengalaman pribadi)

    BalasHapus
  6. Huda@
    pengalaman pribadi? hahaha, ada niat berbagi cerita lewat blogmu kah?

    sepertinya emnarik.. :'D

    BalasHapus
  7. kalau masalah C.I.N.T.A mah tetap gak basi ampe kapanpun.hehheh:D

    BalasHapus
  8. Nova@
    bertahan satu cinta..bertahan satu C.I.N.T.A... saya kok malah nyanyi yak? trims kunjungannya Nova.

    BalasHapus
  9. cinta ga harus selalu bikin kita benci sesuatu yg bertentangan dengan yg kita cinta..
    benci juga ga selalu bikin kita lantas jadi mencintai apa2 yang bertentangan dengan yg kita benci..
    cinta dan benci kadang berseberangan, kadang beriringan..

    satu hal yang pasti.cinta dan benci adalah masalah hati..

    BalasHapus
  10. saya pernah baca majalah sains #sokpinter, akakaka. pernah dilakukan sebuah percobaan pada dua orang, yang satu sedang jatuh cinta, dan yang satu orang lainnya sedang membenci seseorang...
    kedua orang ini otaknya dipindai (apaan tuh??). dan hasilnya sangat mengejutkan, kedua otak orang ini polanya sama, berbeda jika dibandingkan dengan orang" yang sedang tidak kasmaran atau benci terhadap seseorang. jadi, kata" benci dan cinta bedanya tipis saya rasa ada benarnya juga... :)

    BalasHapus
  11. Yen@
    iyoo. stuja-setujuuu.. saya mau komen balik apa ya? hehehe

    Eks@
    oh ya? tapi kan mungkin saja jenis cintanya beda. masih level rendahan hehehe..*so' ahli banget si gue.

    au'ah gelap. btw, trims atas info tambahannya..

    Majalah Masjid Kita@
    iya....

    BalasHapus
  12. kata temen saya lagi, di salah satu cerpennya
    benci dan cinta itu bedanya cuma setipis kulit bawang
    hehehhe

    BalasHapus
  13. saya setuju sama pendapatnya mas gaphe... cinta emang ga ada lawan katanya....

    tapi gw suka sama postingan lo yang ini.... i like ur blog so much.....

    BalasHapus
  14. Ladyulia@
    Hi trims kunjungannya..
    betul betul betul.. cinta ma benci sebenernya emang beda tipis ko'

    Nuel@
    makasi Nuel...
    Gud luck buat skripsimu!

    BalasHapus
  15. sory mas, lagi nge-blank -.-a

    mau komen balik apa?ya suka2 sampeyan aja..hoho
    :D

    BalasHapus
  16. hemmmm saya mulai setujuh pelan-pelan. jgn benci tapi ignore sajah. beressss.....

    BalasHapus
  17. itu pendapat yang aku usung ke intikali
    jika kamu tahu, Hud
    betapa berbahayanya "tidak peduli" atau yang biasa disebut dengan "apatis" dibandingkan dengan "benci"
    "benci" masih memungkinkan suatu saat berbalik menjadi "cinta"
    seperti guyonan beberapa teman saya
    benci = benar-benar cinta :D

    BalasHapus
  18. Yen@
    ngeblank maksudnya?

    Fai@
    hu'um...

    John Terro@
    hahaha...
    sebenernya "tidak peduli" itu kadang bagus. terutama saat menyangkut keyakinan seseorang. kan banyak tuh, yang asal saja mencampuri urusan keyakinan orang. mengambil kesenangan dengan menghina agama lain.

    kemampuan kita mencintai (peduli) itu terbatas.

    trims all

    BalasHapus
  19. sedang tidak tahu apa yg dipikir apa yg mau dibilang apa yg mau dilakukan.
    tapi masih maksa komen.haha

    kalo aku sndiri org yg sering menyampaikan kekaguman dgn kata 'mbencekno'. hohoho

    tapi bener john lo mas, tidak peduli itu brbahaya. kalo tidak sengaja tidak terpedulikan, karena memang kemampuan untuk peduli kita terbatas sih wajar ya. manusia memang makhluk serba terbatas.tapi dengan sengaja tidak peduli itu berbahaya. awal mula matinya sebuah hati..
    dan terkadang dengan sengaja tidak dipedulikan itu lebih menyakitkan dibanding dibenci.. *menurutku :p

    BalasHapus
  20. Yen@
    iya deh iya deh iya..
    hehehehe....

    BalasHapus
  21. Aku rasa cinta,benci, maupun tidak peduli gak saling berlawanan. Tetapi lebih merupakan sebuah proses kehidupan.

    Rasa benci dapat menjadi cinta dan rasa cinta dapat menjadi benci.rasa tidak peduli pun dapat menjadi benci, maupun cinta.Semua itu tergantung dari pengalaman, dan pilihan yang kita pilih.

    Klo boleh memberi saran soal tidak peduli, aq setuju dengan komentar dari john terro bahwa ketidakpedulian bisa jadi sama berbahayanya dengan benci.Saya rasa, tidak mengenali seseorang bukam alasan untuk tidak peduli.Juga keterbatasan seseorang.Rasa cinta diawali dengan kepedulian, bagaimana mungkin kita dapat mencinta sesama tanpa memelihara keperdulian kita?

    Selain itu, ketidakpedulian bisa jadi merupakan tindakan berkelanjutan dari benci.Saat seseorang membenci sesuatu, seringkali ia akan memilih untuk tidak peduli dan menutup mata terhadap suatu hal.

    Apalagi manusia memang makhluk sosial, kepedulian itu memang justru sangat penting.Coba bayangkan aj, semua manusia memilih tidak peduli daripada peduli.Atau tidak peduli karena kita tidak tahu, gmna jika ada orang kena musibah d dpn kita, tapi kita tidak peduli dan hanya diam.
    Saya rasa tidak peduli lebih dekat pada benci daripada cinta.

    Yang diperlukan adalah menemukan cara untuk mencintai dan "membenci".

    Yang harus kita sadari juga adalah benci memang bagian dari sebuah proses, benci memang bagian dari sifat manusia.Tapi, bagaimanakah kita harus menyikapi kebencian itu, agar itu menjadi "produktif"?

    Segala ciptaan Tuhan itu sempurna,tidak ada yang tidak berguna,kan?Atau malah justru bersifat menghancurkan.Begitu pula dengan kebencian.

    adanya lawan kata, Qrasa itu hanya agar lebih mudah dalam memahami arti sebuah kata.Tapi, bukan berarti itu berkontradiksi,karena semua merupakan bagian dari "sistem raksasa" milik Tuhan.

    Wah, jadi banyak bgt komennya, maaf nie....
    hehehe....
    ^^

    BalasHapus
  22. Kacho@
    ^^...aku selalu terharu kalau ada yang komen serius begini. (sebelumnya saya ucapkan terima kasih....1000X)

    mungkin kata "tidak peduli" kedengarannya jahat ya?

    padahal dalam kata "tidak peduli" ini juga ada rasa percaya bahwa orang lain pun sama seperti kita.

    seringkali, atas nama "kepedulian" kita bersikap kejam. terutama ketika menyangkut keyakinan. sebenarnya tulisan ini saya bikin saat baca berita kerusuhan Temanggung Kemaren.

    kerusuhannya kan dipicu oleh umat yang tersinggung karena agamanya dicela... well, cinta sih cinta, tapi, selama bentuk cinta kita berhadap-hadapan dengan rasa benci, mudah banget kan kita terjerumus ke kerusuhan macam itu.

    Jadi, ya itu tadi... cinta kita memang terbatas. Kadang kita biarkan saja orang dengan urusannya (keyakinannya).

    justru pada beberapa hal, tidak peduli itu sangat penting....

    kalau menurut aku sih.
    makasi banget yak udah baca2 tulisan di sini ^^

    BalasHapus
  23. Aku memang orangnya serius.hehehe.....Salam kenal yah... (kayaknya telat,yah sudahlah)

    Bukan jahat sih,dan yah aq rasa lebih baik tidak berpikir seperti itu.Itu cuma rangkaian proses aja.

    Yah, atas nama, tetapi belum tentu itu kan yang benar-benar terjadi.Aq rasa itu dikarenakan mereka yang memilih untuk menutup hatinya saja.Alih-alih peduli, mereka justru gak peduli.Dengan alasan "kepedulian",mereka justru gak peduli terhadap masa depan yang mereka bela.Seperti yang pernah Qtulis di blogQ, alih2 bersikap heroik, sebenarnya itu gak lebih pelampiasan amarah, malah bisa jadi itu cuma permainan politik belaka.

    Mungkin yang harus kita ubah paradigma kita tentang benci dan cinta.Qt sering memaknai benci dengan kerusakan, padahal tidak selalu dan harus juga benci itu merusak(Kapan2 aku coba bahas di blogQ.)

    Dalam menghadapi perbedaan seperti itu, Qrsa poinnya bukan pada ketidakpedulian, tetapi kepedulian.Bukan hanya sebagai "jubah" aj, tapi yang benar2 peduli.Peduli pun, tidak harus dengan "berkonfrontasi" dengan masalah kan?

    BalasHapus
  24. ignore emang lebih parah dari benci..kalo benci, at least masih diakui bahwa orang itu / hal itu still exist, kalo ignore, beeehhh..nyakitin..dianggep aja kagak.. hohoho

    BalasHapus

Posting Komentar