Momo VS Einstein

Bekerja menjadi operator warnet membuat interpretasi saya terhadap “waktu” menjadi sedikit berubah. Dengan lima sift seminggu dan jadwal sift yang tidak beraturan, pergantian tanggal menjadi sedikit rancu di benak saya—dan mungkin teman-teman Operator lainnya. Saat menyusun jurnal, kami sering saling menanyai, “tanggal berapa sekarang?” Ini selalu terjadi. Meski di sudut kanan bawah monitor ada tanggalan yang bisa dilihat kapan saja.

“Tanggal berapa sekarang?” Tiap kali mengajukan pertanyaan ini saya seperti mengalami djavu. Apalagi jika kebagian sift tiga. Jam jaganya jam 12 malam, saat hari berganti tanggal. Jadi saat mengisi jurnal di pagi harinya, saya masih merasa kalau saat itu masih hari yang sama dengan sore yang saya lewati kemarin. Entah jam tubuh saya, atau apalah istilahnya, mengalami kebingungan. Saya juga kadang sulit membedakan kemarin dengan kemarin sebelumnya, atau yang lebih kemarin lagi.

Saya rasa, kalau seandainya diadakan penelitian, sepertinya operator warnet berada di list papan atas sebagai profesi yang paling gampang terserang amnesia.

“Waktu itu apa sih sebenarnya?” akhirnya pertanyaan inilah yang menghampiri saya.


Jadi, Waktu itu Apa?

Saya mencoba meminjam buku Fisika populer di perpus kampus sore kemarin atau mungkin kemarinnya lagi. Tapi tentu saja saya tidak berhasil memahami buku itu. Padahal bukunya sudah dilengkapi ilustrasi. Alih-alih paham, saya dibikin ngantuk oleh bukunya. Tadinya saya berharap ada semacam penjelasan definitif seperti; waktu adalah...blablablabla. Dan saya bisa berkata..oow, seperti itu ya?

Dengan otak yang pas-pasan ini, setelah berusaha keras mantengin buku bergambar Einstein yang julurin lidah itu, apa yang saya pahami kemudian adalah: Semua hal di alam semesta ini RELATIF! Pokoknya saya tidak paham buku itu. Hah hambuhlah...

Bagian terbaiknya, saya pun bertemu lagi dengan novelnya Michael Ende yang berjudul Momo (nanti deh kapan2 saya review). Sebenarnya sudah lama saya punya buku ini (11 mei 2008). Tapi dulu saya membacanya setengah-setengah dan saya tidak benar-benar mengerti apa yang disampaikan oleh si Michael.

Salah satu kutipan yang paling mengena adalah: “waktu adalah kehidupan dan kehidupan berpusat di dalam hati” (halaman 85). Penjelasan yang satu ini jauh lebih bersahabat dengan otak saya.

Daripada membaca tentang panjang gelombang yang memantul-mantul pada bidang tertentu. Dan jika bidang ini ditarik melembam, atau entah apa, sehingga gelombang cahaya tadi tak sempat memantul, maka waktu secara relatif akan berhenti. Aaaaaaaargh..... Einstein, kau memang jenius, tapi kau bukan tipeku.

Waktu Adalah Kehidupan dan Kehidupan Berpusat di Dalam Hati

Jadi, waktu itu adalah kehidupan, begitu kata si Michael Ende lewat novel ini. Dan kehidupan ini berpusat di dalam hati. Waktu yang kita jalani bisa saja—secara sains—sama, namun akhirnya kehidupan kita tak selalu sama kan?

Maksud saya... satu jam yang kita lewati dengan orang yang kita sayangi tidaklah sama dengan satu jam yang kita habiskan dengan orang yang kita benci. Begitu juga dengan satu jam yang kita lalui sendirian. Apalagi jika satu jam itu kita lewati sambil menunggu.

Meski jarum jamnya bergerak dalam kecepatan yang sama, menunjuk angka yang sama, namun akhirnya yang terpenting bukanlah jumlah matematis waktu itu, kan? Tapi yang terpenting adalah bagaimana kita menikmatinya.

Waktu itu Bukan Kue

Dulu saat hidup saya lebih teratur, saya membayangkan waktu itu seperti kue. Kalau bangun pagi-pagi saya mulai membagi potongan-potongan kue ini. Jam segini sampai jam segini kuliah. Jam segini, balik ke kos. Jam segini, kerjakan tugas. Jam segini, print tugas ke rental. Sorenya ke UKM. Ngisi kegiatan, atau kadang ngajar privat (dulu saya pernah ngajar privat, tapi saya kapok!).

Saat mendengar kata 'satu minggu', maka yang terbayang adalah semacam lingkaran yang dibagi-bagi menjadi tujuh bagian; Senin, Selasa, Rabu, dan seterusnya, sampai Minggu dan kembali lagi ke Senin. Jadi, alih-alih merasa kehidupan ini berjalan maju, saya merasa seolah-olah kehidupan saya berputar-putar dalam lingkaran itu.

Sejak sekolah dulu, saya bisa menyukai hari tertentu dan membenci hari lainnya. Karena saya tidak suka pelajaran matematika, saya jadi benci hari kamis. Saya juga benci hari Senin (semua orang juga begitu), karena selain hari ini tepat setelah hari minggu, ada apel upacara bendera—dan saya pasti datangnya telat.

Ini berlanjut sampai kuliah. Kalau ada materi kuliah yang tidak saya sukai, atau tidak sreg dengan dosennya, rasanya seperti berpijak di atas bagian lingkaran yang tidak saya sukai. Rasanya saya dipaksa melahap potongan kue yang saya benci. Ingin cepat-cepat kue itu habis. Ingin cepat-cepat mata kuliah itu berakhir dan berganti dengan mata kuliah yang lebih asik, atau saya bisa segera keluar dan mengisi waktu dengan kegiatan yang lebih menyenangkan.

Namun satu minggu kemudian, saya toh akan terbangun di hari yang sama lagi. Menghadapi bagian lingkaran yang sama lagi dan disuguhi potongan kue yang saya benci itu lagi.
 ...


Sekarang, dengan sift kerja yang tak beraturan dan tidak banyak kegiatan yang teratur, interpretasi saya terhadap waktu ini mulai berubah. Saya mungkin saja lupa ini hari apa dan besok tanggal berapa. Karena toh, tak akan ada bedanya apakah ini hari Senin atau Selasa, atau Jumat.

Saya tak lagi membagi jam perjam yang saya lewati seperti memotong-motong kue. Tubuh saya kadang kebingungan—mungkin masih penyesuaian. Akhirnya, saya mencoba mengamini apa yang dikatakan Micahel Ende tadi: waktu adalah kehidupan dan kehidupan berpusat di dalam hati.

Hidup saya tidak ditandai dengan tanggal, dengan usia, dengan jarum jam, dengan angka.... bukan itu yang penting. Yang terpenting, bagaimana saya menikmatinya. (halah, klise banget!)


*Jangan-jangan tulisanku ini seperti potongan kue yang memuakkan. Kepanjangan! Semoga saja para pengunjung yang budiman punya cukup waktu untuk membacanya. Hehehehe....amin




..

Komentar

  1. Mungkin waktu di mataku lain lagi. Ibu-ibu yang anaknya mau nikah pasti bilang rasanya baru kemarin nglairin, eh udah nikahin. Waktu itu berlalu cepat sekali, tapi sempatkan waktu untuk belajar tentang akhirat sedikit saja, agar hidup kita diberi penerangan dan kemudahan oleh Allah...

    BalasHapus
  2. "Daripada membaca tentang panjang gelombang yang memantul-mantul pada bidang tertentu. Dan jika bidang ini ditarik melembam, atau entah apa, sehingga gelombang cahaya tadi tak sempat memantul, maka waktu secara relatif akan berhenti. Aaaaaaaargh..... Einstein, kau memang jenius, tapi kau bukan tipeku"

    Hahahaha... LOL
    sebuah teori (ini teori ya?) yang menarik.
    Waktu itu bagaimana (indah atau buruk) memang hatilah yg menentukan. Hatilah yg merasakan.

    BalasHapus
  3. Waktu itu sangat relatif, nisbi. Saya dulu sering merasakan betapa sempitnya waktu saat harus berpisah dengan seseorang yang begitu berarti dalam hidup saya. Kedua, saya sering merasakan betapa sempitnya waktu saat ulangan mengerjakan soal-soal ilmu eksak yang celakanya sekarang jadi profesi saya (engineer).

    Di lain sisi saat kita dihadapkan pada situasi harus menunggu maka yang kurasakan justru sebaliknya, begitu lamanya waktu (jam) berputar.

    Jadi kesimpulannya, waktu boleh sama. Satu jam terdiri dari 60 menit. satu menit terdiri dari 60 detik tapi suasana lah, boleh sebut hati, yang membuatnya menjadi sangat relatif. Bukan begitu, Mas Huda?

    BalasHapus
  4. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  5. ada dua nikmat yang sangat penting namun sering sekali dilalaikan manusia : kesehatan dan waktu luang.

    *jadi ingat iklan elemen.hahhaha:D

    BalasHapus
  6. waktu emang kadang berlalunya begitu cepet, bro. Hmmm....

    BalasHapus
  7. Menjalani waktu itu seperti menulis buku dengan tinta. Begitu sudah ditulis tidak bisa dihapus lagi. Kita bisa membaca ulang, mempelajarinya lagi, atau mengenangnya, tapi kita ga bisa mengubahnya. Jadi hati-hati dalam mengisi waktumu...

    Kalau mau di ibaratkan, waktu sepertinya bisa dikatakan seperti spiral, setiap lengkungannya mungkin sama, seperti berulang, tapi tak sama, karena memang tak ada yang benar-benar sama.

    Jadi kesimpulannya aku mau bilang : bijaklah, nikmatilah :p

    BalasHapus
  8. Ada hubungannya tuh waktu sama yang dibilang einstein : relatif.

    Dan bener juga, kalo lagi seneng emang waktu kadang nggak kerasa. Tapi begitu sebel, rasanya berjalan lambat..

    jadi relatif tergantung suasana hati juga kan??..

    BalasHapus
  9. mb Ami@
    haha, seperti itu ya? Alm ibu saya juga sering bilang gitu si. kalau lihat anak-anaknya sudah besar2 begini.

    Habibi@
    hehehe, makasi ya. yups, that's the point!

    Mas Joko Sutarto@
    iya mas... akhirnya teorinya Einstein dan Michael Ende, sinkron juga...

    John Terro@
    heee... menyerah yang bagaimana dulu nih?

    Nova Miladyarti@
    hahaha, tapi ebner juga kok Nov. emang iklan yang mana yak? ga pernah nnton TV sih.

    Nuel@
    hmm....

    Yen@
    WAHAW!analogi yang kereennn...

    waktu itu spiral? bisa jadi begitu. Apa yang kita sebut dengan "satu tahun" adalah waktu yang dibutuhkan bumi untuk mengelilingi matahari (satu putaran). jadi tiap tahun, bumi balik lagi ke posisi semulanya. sementara matahari sendiri juga berputar mengitari pusat galaksi... (kok malah jadi kuliah y?)

    jadi emang semuanya berputar-putar gitu yak? Spiral. Sama tapi tak persis.

    "bijaklah, nikmatilah"-->Trims ya..

    Mas Gaphe@
    iya mas...jadinya apa yang diaktakan Einstein ma Michael Ende malah ketemu. *Dengan demikian judul postingan ini kurang tepat. mestinya ga pake kata "VS". heheheh

    Trims All

    BalasHapus
  10. kirain momo nama kucing..imut banget sih..wkwkwkk..

    hmm..kayaknya aku masih jadi orang yang menganggap waktu itu seperti kue... ckckck..

    tapi, sekarang kue yang rasanya gak enak itu lagi gak ada, kan dah liburan...hahahahha
    *gaknyambungbangetsihlopiii!!!*

    BalasHapus
  11. Rapi@
    hahahaha.... disambungajampoklophi...

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

10 Film Asia yang Tak Terlupakan

Sandikala

Film Korea Yang Layak Kamu Tonton