Kembali


Mungkin salah satu kalimat paling klise dan paling sering kita dengar adalah kalimat; kembali ke diri masing-masing. Atau kadang; tergantung individunya masing-masing. Atau kadang, well...tergantung orangnya sih!”

Kalimat ini pernah menjadi bahan tertawaan di kelas kami. Saya lupa hari itu kami tengah membahas apa, ketika salah seorang teman saya memberi jawaban; “kembali ke diri masing-masing individu juga sih pak....

Dosen kami langsung menanggapi; “Kalau semuanya dikembalikan ke diri masing-masing, ya tidak akan ada masalah. Kita berdiskusi di sini karena ada permasalahan. Kalau jawabanya hanya kembali ke diri masing-masing, tukang becak juga ngerti. Kalian tidak usah kuliah saja kalau begitu.”

Sepanas apapun sebuah diskusi, ketika seseorang nyeletuk; “yah, tergantung individunya juga sih...” dan disuksi itupun seolah kehilangan nyawa. Seolah-olah masalah yang tengah dibahas terselesaikan dengan satu kalimat klise; kembali ke diri masing-masing

---“Apakah agama merupakan sumber kekerasan?”

---“Yah, yang itu sih...tergantung individu pemeluk agamanya juga. Kembali ke individu masing- masing pemeluk gama itu.”

---“Apakah teknologi itu baik ataukah buruk?”

---“Yah, teknologi itu kan cuma alat. Tergantung pada individu yang makai juga sih.”

---”Apakah kemiskinan mendorong seseorang melakukan tindak keriminal?

---”Kembali ke diri masing-masing orangnya juga. Tidak semua orang miskin berbuat jahat.”

—dan sebagainya—


Kesimpulan yang Terabaikan

Sekarang aku tiba-tiba teringat dengan tanggapan dosenku saat itu. Kalau semuanya kembali ke diri masing-masing, pastinya tidak akan ada masalah!

Kenyataannya, ada begitu banyak masalah yang kita miliki saat ini. Kekerasan atas nama agama, terorisme, KDRT, pornography, pembajakan, dan sebagainya dan sebagainya itu. Masalah-masalah ini begitu rumit dan dibutuhkan orang-orang yang kuliah tingggi-tinggi, orang-orang yang benar-benar ahli untuk memecahkan masalah-masalah ini. Orang-orang dengan titel berjejer dan berpengalaman di bidangnya adalah orang-orang yang kita percaya untuk menyusun kebijakan untuk memecahkan masalah-masalah rumit ini.

Maka, percuma saja kamu kuliah kalau jawabanmu sama dengan tukang becak: kembali ke diri masing-masing! Kamu tak perlu membaca buku tebal-tebal atau mempelajari teori-teori sosial itu untuk membantu memecahkan masalah-masalah ini.

Tapi tunggu dulu, bagaimana kalau seandainya kalimat kembali ke diri masing-masing adalah jawaban paling benar atas masalah-masalah sosial yang kita miliki sekarang? Bagaimana kalau seandainya masalah-masalah tersebut muncul justru karena kita enggan kembali ke diri masing-masing?

Kita lebih senang berdiskusi berjam-jam, mengutip teori-teori dari sana-sini, daripada mengakui kenyataan bahwa jawaban atas semua masalah ini cukup sederhana; dan memang sederhana; kembali ke diri masing-masing.

Kita lebih suka melihat kekerasan ada pada orang lain (bukan pada diri kita). Akhirnya, daripada diserang duluan, kita memilih menyerang duluan. Kita curiga orang lain tidak sebaik diri kita. Kita lebih suka berpikir; Aku sudah berusaha baik sementara dia belum tentu, rugilah aku..... Atau,  percuma saja aku ngantri kalau yang  lainnya nyerobot. Atau, kalau aku menjadi diriku, orang-orang tak akan menerimaku dan aku tidak akan menemukan tempat untukku di dunia ini.

Banyak sekali keputusan yang kita ambil lebih disebabkan oleh rasa takut, terancam, atau takut ditolak. Takut yang lain menyerang duluan. Takut ditolak oleh pergaulan. Terancam oleh keberadaan kelompok lain yang berbeda dengan diri kita.


Mungkin kalimat kembali ke diri masing-masing adalah kebijkasanaan yang ditanamkan kehidupan dalam tiap benak kita. Sehingga ketika ada permasalahan rumit, kita sudah tahu jawabannya; kembali! Mulai dari tukang becak sampai profesor sebenarnya memiliki jawaban yang sama dalam tiap benak mereka, bahwa kalau semua kembali ke diri masing-masing, tidak akan ada masalah.

Tapi beginilah kita. Dunia diisi oleh orang-orang yang lupa diri. Yang lebih suka melihat kesalahan melekat pada diri orang lain, kelompok lain, agama lain. Orang-orang yang bingung. Orang-orang yang takut melakukan perjalanan kembali itu sendirian. Orang-orang yang takut ditolak. Orang-orang yang merasa terancam. Orang-orang yang selalu berada dalam tarik menarik antara rasa iri dan rasa syukur. Orang-orang yang mendambakan rasa aman dan mengejar rasa aman itu sekalipun usahanya itu akan melukai perasaan orang lain. (termasuk saya)


Mungkin sebenarnya yang terpenting sekarang adalah; menyusun suatu kebijakan yang membantu setiap orang untuk kembali ke diri mereka masing-masing.


“Barang siapa yang mengenal dirinya, maka Ia akan mengenal Tuhannya.”
(Ali bin Abi Thalib)


.

Komentar

  1. heeee... sweeeeeaaarrr kayak diskusi jaman aku kelas 3 aliyah (SMA).. waktu q jadi presentator en gak ngerti mo jawab apa, ya akhirnya muncullah KEMBALI KE DIRI MASING-MASING. dulu q pikir jawaban itu udah oke banget coz guruku cuma menanggapi dengan senyum dan manggut2. bangganya diriku waktu itu. eeee, ternyata itu jawaban tukang becak ya??? haha...

    BalasHapus
  2. aina@
    haha, itu kan menurut dosenku. klise memang, tapi hanya karena klise bukan berarti g ada benernya...

    lagian, kalau saya seorang tukang becak, mungkin saya akan tersinggung mendengarnya. seolah-olah tukang becak juga ga mampu mikir--merendahkan tukang becak banget deh pokoknya. i disagree...

    BalasHapus
  3. sebenarnya jawaban itu emang bener kok. cumaaaaa udah keseringan dipake orang aja kali ya. dan emang kebanyakan dicetusin oleh orang2 'kepepet' ngomong kayak kasus saya tadi.. makanya pak dosen bosen, pengen yang beda... haha...ngaco ni..

    BalasHapus
  4. Aina@
    wkwkwkwk..iya kayanya.

    masalah yang kita hadapi juga yang itu-itu tersu sebenarnya (dari dulu). tapi yah, gitu deh...

    BalasHapus
  5. ya gitu deh,,,, tapi kalo gak diomongin gak ada diskusi donkk... coba deh kamu tawarin topik permasalahan lain yang beda biar gak monoton :P

    BalasHapus
  6. tambahan : ntar nawarinnya ala ibu2 jualan sayur di pasar ya....biar rame...

    BalasHapus
  7. kalo gitu mending temanya saja yg diganti. misalnya, siapakah diri masing2 itu? jangan2 sama dirinya sendiri pun dia asing.

    oia, saya ijin share. mohon jangan dianggap sebagai spam. namun jika tidak berkenan, dihapus saja tidak apa-apa.

    seorang adik dari anak didik teman saya saat ini sedang membutuhkan bantuan seikhlasnya, baik berupa doa untuk kesembuhannya maupun dalam bentuk finansial. Saat ini dana yang terkumpul baru sekitar 3,5 juta, sementara yang dibutuhkan sekitar 50juta.

    info lebih lengkapnya bisa dilihat di sini.

    Nurul Safika

    silahkan di share ke rekan-rekan yang lain.
    insya Allah, kebaikan anda semua mendapatkan balasan Tuhan yang Maha Esa.
    terima kasih.

    BalasHapus
  8. sedap deh bahasannya.. sebenernya konteks kembali ke diri masing-masing itu lebih ke : yaa kalo orangnya mau jahat atau mau jadi baik, terserah dia.. toh yang nanggung konsekuensi dunia akherat kan dia sendiri.

    gitu kali Da, jadi kembali ke diri masing2 itu bukan solusi mecahin masalah..

    yang bisa menyelesaikan masalah yaa konsekuensinya itu yang seharusnya dipertegas. kenapa trus jadi banyak yang jahat bisa jadi karena konsekuensi "menjadi jahat" itu masih mampu ditanggung dan diakali to?

    kayaknya koq ini komen terpanjang selama saya pernah mampir sini deh.. hahahah

    BalasHapus
  9. aina@
    deeh, adaaa aja ne anak.

    anonim@
    jadi siapakah diri masing-masing itu? sepertinya ini tugas setiap orang untuk mengetahui siapa diri mereka....dan untuk mengetahuinya ya dengan melakukan perjalanan kembali ke diri mereka masing-masing itu...

    hehehe*mbulet ga ya??

    gaphe@
    hahaha, iya tumben panjang-panjang gini?? lagi kerasukan kah?

    ....mmm, sepertinya memang begitu!
    -->> saya jadi lupa tadi mau nulis apa, soalnya sambil chat di FB si. >_<

    BalasHapus
  10. It depends on... Menurutku dunia itu cuman palsu. Dunia mau dikejar kayak apa juga percuma gak ada selesainya, malah stres. Yang bisa selesaiin masalah bukan yang titel tinggi, tapi bijak, memaafkan, rendah hati, bersyukur, berlomba berbuat kebaikan ikhlas, jalin ukhuwah, hijrah ke jalan Allah, yang mau amalkan ajaran dari Allah Maha Pencipta...

    BalasHapus
  11. karena orang yang berkata begitu dia tidak pernah objektif dan takut untuk menjadi objektif

    BalasHapus
  12. Sangat setuju! Paling malas kalau lagi diskusi di kampus, eh ujung2nya jawabannya malah "tergantung orangnya juga sih"

    BalasHapus
  13. yah bener sih bang,
    "Barang siapa yang mengenal dirinya, maka Ia akan mengenal Tuhannya".

    tapi kembali ke diri masing2, gmana cara dia mengenal tuhannya.

    Hahhahha, pasti saya langsung d towel, udh dibilang jgan pake kata2 itu..

    tp Klo buat urusan agama, rasanya jawaban kembali k diri masing2 adalah jwaban yg tepat bang..

    BalasHapus
  14. hemmm nimbrung ahh...

    jawaban itu emang klise bgt klo udah seperti itu rasanya buntu klo mau nyalahin orang..jadi mikir sendiri..ni saya jg bingung sendiri..lohh

    BalasHapus
  15. sumpah nih postingan menggugah hati saya banget hud. hahahhah

    tapi sih saya setuju sama gaphe. itu semua terserah orang. kembali lagi ke orang ybs. walau banyak buku kita baca, banyak obrolan yang kita dengar, banyak film+acara tv yang kita dengar, tapi kalau kitanya ga mau kembali ke diri sendiri buat memikirkannya, yah podo wae. hihihihi

    BalasHapus
  16. Ami@
    semoga kita semua tergolong orang yang berusaha menjadi bijak. amiin

    John Terro@
    mmmm.....
    memangnya di dunia ini ada yang benar2 objektif John? kayanya semua hal emang relatif..

    Maya@
    hahahaha.. iya si, jawaban pamungkas yang terkesan ga bertanggung jawab.

    tapi kalau kita pikir2 lagi, mungkin ada benarnya juga.

    Tito@
    Hahahaha..
    yupz..kembali ke diri masing2 to'
    hehehe. soal agama kan sensitif beud kalo dipaksa-paksa...

    Rose@
    iya bingung..
    >_<

    Nuel@
    iyaaa... intinya di situ sebenernya
    ....

    BalasHapus
  17. itu jawaban yang sering ku lontarkan kalau diskusi soal Agama dan pelencengannya, pokoknya yang berbau2 negatif trus harus dilurusin. Jurus pamungkasnya pasti ya : kembali ke diri kita masing-masing :D

    BalasHapus
  18. Karena masalahnya adalah kembali pada diri masing-masing itu, pada dasarnya, manusia gak bisa selalu stabil untuk kembali pada diri masing-masing yang "seharusnya".

    Karena itu, ada yang namanya ilmu untuk memecahkan masalah tersebut. Agar manusia itu, dapat sebisa mungkin memiliki kemungkinan kembali pada diri masing2 yang seharusnya.

    Yang menjadi masalah, adalah bahwa manusia pasti gak akan bisa selalu menjadi yang seharusnya. Dan, gak akan pernah ada manusia yang kayak gt. Kenyataannya manusia justru sering untuk "tidak kembali pada dirinya". Dan, yah, itu memang udah jadi kodrat manusia.

    Jadi, sepertinya untuk mengharapkan semua orang dapat "kembali pada yang seharusnya", itu juga gak mungkin, jika tidak ada yang melakukan sesuatu untuk itu. Dan, karenanya dibutuhkan langkah bersama.

    Masalahnya, apakah diskusi tersebut benar2 digunakan untuk memecahkan masalah, atau hanya untuk bertarung teori dan konsep. Dan, realitasnya pula, melalui diskusi banyak masalah yang dapat dipecahkan.

    BalasHapus
  19. hehehehe benar banget "kembali kediri kita masing2.... mau pilih hitam apa putih ...salam kenal brade....

    BalasHapus
  20. "kembali kepada diri masing2"
    coba rasakan dan pikirkan lagi.tidakkah jawaban itu justru merupakan jawaban dari orang yg takut, terancam atau takut ditolak pergaulan?karena dianggap berbeda atau tidak menghargai..?

    jadi bukannya "kalau semua kembali ke diri masing2, tidak akan ada masalah" tapi kalimat "kembali ke diri masing2" itu sebenarnya bermaksud untuk meniadakan masalah yg sebenarnya ada. bahasa jeleknya 'lari dari permasalahan' lah..

    coba deh..

    BalasHapus
  21. Ajeng@
    ^^
    baguslah..hehehehe

    Kacho@
    well..menurutku sebenarnya yang terpenting adalah kembali ke diri masing-masing...

    sebelum kita melihat kesalahan selalu ada pada orang lain. sebelum kita terlanjur merasa paling benar sendiri...

    aku percaya pada manusia. Percaya pada kemanusiaan*halah. but yes yes, aku percaya pada dasarnya setiap orang itu baik...

    oh ayolah, setiap orang harus percaya diri untuk "kembali" menjadi dirinya

    Arief bayu@
    salam kenal juga brader
    trims atas kunjungannya

    Yen@
    really?

    *setelah berpikir-pikir dan merasakan.. saya rasa tidak begitu Yen. kembali ke diri masing-masing adalah jawaban yang sangat demokratis. percaya bahwa setiap orang punya potensi untuk menjadi baik.


    trims all

    BalasHapus
  22. begitu?

    aku baca2 lagi, rasanya 'kembali pada diri sendiri yg ditanggapi dosen sampeyan tanggapi dgn 'kalau semuanya dikembalikan ke diri masing2, ya tidak akan ada masalah' itu berbeda dengan 'kembali pada diri masing2' yang sampeyan maksud yg ditujukan pada orang2 yg lupa diri, yang lalu tanggapan dosen sampeyan itu sampeyan terjemahkan menjadi 'kalau semua kembali ke diri masing2, tidak akan ada masalah'

    kata2nya mirip tapi rasanya maksudnya berbeda

    BalasHapus
  23. Bukan masalah salah menyalahkan, atau benar membenarkan (dont think that at first). tetapi menyelesaikan masalah, itu yang menjadi fokus sebenarnya. sama seperti yang dibahas dosennya sampean, bahwa gak akan ada masalah jika semua (bisa) kembali pada dirinya masing2(yang seharusnya). yang menjadi masalahnya bukan lagi kembali pada diri masing2, tetapi menyelesaikan masalah yang disebabkan karena tdak melakukan yang seharusnya, tidak "kembali pada diri masing2 (yang seharusnya)".

    Aku bukan percaya bahwa semua manusia itu baik. Aku bilang yang "kembali pada diri masing2 (yang seharusnya)", itu yg Qmaksud adalah dasar dari diri manusia, anggap sajalah sisi baik kita. Tapi, masalahnya, there's no such a perfect person in the world, even only one. karena itulah masalah itu muncul. karena memang manusia tidak bisa menjadi baik di setiap waktu dan ruang kehidupannya. Karena itulah diciptakan manusia yang gak cuma satu, supaya bisa menyelesaikan masalahnya. Menjadi makhluk sosial, yang saling bertanggung jawab satu sama lain.Jika semua bisa selesai hanya dengan kembali pada diri sendiri, maka kenapa manusia harus diciptakan banyak2?kenapa tidak satu saja (yang "kembali pada dirinya sendiri tentunya"), jika itu jauh lebih baik daripada menciptakan banyak manusia Tapi, kenyataannya, kembali pada diri sendiri, tidak pernah "mutlak"(selalu konstan dan sempurna) bisa terwujud pada 1 diri manusia.Apalagi pada banyak manusia?
    dan, dengan segala ketidaksempurnaannya itu, manusia diciptakan sbg makhluk sosial, untuk

    percaya diri baguz, tapi tetap realistis. No one perfect, just the same with no one can perfectly good, sehingga gak akan ada lagi yang namanya masalah karena ke perfect annya itu. Yang menjadi masalah bukan lagi kembali pada diri masing2. But, how to solve the problem, saat semuanya hidup bersama, dengan segala kekurangan dan kekompleksannya.

    Salah satu alasan, kenapa aq memilih jalan yang kelihatannya "mempersulit diri sendiri", adalah karena aku percaya bahwa pada dasarnya manusia itu baik , dan pada dasarnya qt saling membutuhkan satu sama lain. Karena itu, pasti akan ada jalan keluarnya.

    wew...panjang yah....

    BalasHapus
  24. Yen@
    gini loh maksud saya...
    kita tuh gampang banget berkata "semua kembali ke diri masing-masing"
    kedengarannya klise, tapi ada benarnya.

    terus, kenapa tidak kita coba saja untuk kembali ke diri masing-masing kalau begitu??

    meski gampang diucapkan, apakah selama ini kita pernah benar-benar mencoba untuk kembali ke diri kita masing-masing?? so let's do it!!

    Ika@
    it is not about being perfect at all! it is about being yourself, back to yourself!

    saya jadi ingat apa yang saya baca di novelnya Deepak Chopra: Buddha, saat si Asita meramal Sidharta; "kelak ia akan menguasai jiwanya sendiri..."

    tentu saja jalan untuk kembali ke dirimu sendiri itu tidak gampang, tapi paling tidak itu bisa mengurangi masalah di dunia.

    kalimat "kembali ke diri masing-masing" menurut saya semacam ajakan dari kehidupan. Sayangnya kita terlanjur meremehkan kalimat ini. padahal kalau direnungkan lagi....ada benarnya juga. perjalanan terpenting adalah perjalanan ke dalam diri# lebay ga yah??

    BalasHapus
  25. gak lebay koq. perjalanan ke dalam diri itu penting, tetapi menyelami yang ada di sekitar kita juga gak kalah penting. after all, qt tetap makhluk sosial yang hidup dan butuh untuk bersama, yang "seimbang" aja.

    back to yourself, dalam artian tertentu bisa berarti perfect. Karena kita gak akan bisa untuk selalu menjadi diri sendiri di setiap kondisi dan waktu. Akan ada saatnya, kita seakan jadi bukan diri kita sendiri. ada kalanya kita menutup mata atas diri kita sendiri, ada kalanya pula kita mengikuti lingkungan, ada kalanya kita khawatir terhadap lingkungan, ada kalanya dihantui oleh diri sendiri ataupun orang lain. yang menjadi masalah adalah kita tidak bisa selalu menguasai jiwa kita. Dan, yah, kita bukan sepenuhnya pemilik "jiwa" kita, karena itu kita gak bisa menguasainya. kita hanya memilik kehendak bebas untuk memilih, bukan kehendak untuk menentukan.

    karena itulah, kembali pada diri sendiri saja tidak cukup.

    dan kembali pada diri sendiri, yang Qrasa dimaksud pak dosen itu gak bermaksud meremehkan. iya, memang kembali pada diri masing2, itu harus, tetapi itu saja tidak cukup menyelesaikan masalah. bukan diremehkan, tetapi 1 unsur saja masih belum lengkap. bisa dibilang, kayak meja tanpa kaki, alas mejanya itu penting, tapi kakinya juga penting. gak bisa dipisahkan dan gak bisa dikurangkan.

    BalasHapus
  26. salam kenal...

    =)

    pemikiran yang bagus, biasanya kalimat itu saya gunakan kalo saya males berdebat,,,hahahahahaha

    tidak menjawab ya memang,,jadi itu seperti "jawaban yang tidak menjawab"
    XD

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

10 Film Asia yang Tak Terlupakan

Sandikala

Film Korea Yang Layak Kamu Tonton