Quote of The Day#2

Menyelamatkan Ikan Tenggelam

Seorang laki-laki yang saleh menjelaskan kepada pengikutnya, “mengambil kehidupan itu jahat, dan menyelamatkannya adalah tindakan yang mulia. Setiap hari aku berjanji akan menyelamatkan ratusan kehidupan. Kutebar jalaku di danau dan ratusan ikan pun terjaring. Kutaruh ikan-ikan itu di tepi danau, dan di sana mereka melompat-lompat dan menggeliat. 

“Jangan takut,” kataku pada ikan-ikan itu. “Aku menyelamatkan kalian supaya tidak tenggelam.” tak lama kemudian ikan-ikan itu tenang dan berbaring diam. Tapi sayang, aku selalu terlambat. Ikan-ikan itu mati. Dan karena tidak baik untuk membuang apapun, aku membawa ikan-ikan mati itu ke pasar dan kujual dengan harga bagus. Dengan uang itu aku membeli lebih banyak jala supaya bisa menyelamatkan lebih banyak ikan.”

--anonimus

Aku tidak tahu apakah cerita tadi semacam lelucon, atau sebuah sindiran—entah untuk siapa. Cerita yang anonim ini kubaca di halaman awal bukunya Amy Tan yang berjudul; Saving Fish From Drowning; Penyelamatan yang sia-sia.

Menurutku, menurutku nih, membantu orang lain itu harus diikuti dengan pengertian. Bukannya tidak mungkin, niat baik kita malah mencelakakan orang yang kita bantu. Atau, dalam kasus saya nih, bantuan itu justru merepotkan, over, dan yah, menyebalkan.

Saya ingin berbagi pengalaman sedikit. Saya pernah punya seorang teman. Sangat baik. Sangat perhatian. Sangat peduli. Awalnya semua baik-baik saja. Kami berteman dan yah..berteman pokoknya. Saya tahu masalah-masalahnya. Saya jadi tahu apa yang dia takutkan, apa yang membuatnya kuatir, seperti apa hubungannya dengan keluarganya, dan apa yang diharapkan orang-orang darinya. Intinya, saya jadi tahu banyak tentang dia (saya kan tipe pendengar yang baik #mujidiri).


Sementara saya sendiri tidak terlalu banyak menceritakan diri saya. Maksud saya, sebersahabat apapun kita dengan seseorang bukan berarti semua kisah kita harus dibongkar kan? Dan mulailah ia mencari tahu mengenai diri saya dari teman-teman saya. Ia mencari tahu seperti apa saya di kelas. Dan sebagainya dan sebagainya. Singkat cerita ia merasa mengenal saya dan tahu apa yang saya butuhkan.

Awalnya saya tidak terlalu ambil pusing. Sampai kemudian perhatiannya mulai berlebihan. Ia lakukan semua itu atas nama persahabatan. Saya mulai terganggu dengan perhatiannya itu, dan sedikit-demi sedikit saya pun mulai mengambil jarak. Menurutnya apa yang ia lakukan itu benar. Perhatiannya itu mulia. Kepeduliannya murni. Tapi segala sesuatunya malah menjadi lebih rumit.

Ia, baiklah, perhatian itu memang mulia. Tak semua orang cukup beruntung mendapat seorang teman yang peduli. Tak semua orang cukup beruntung punya teman yang selalu mendukungmu. Ia selalu menekankan bahwa itu semua ia lakukan dengan niat baik. Saya sendiri awalnya merasa bersalah dengan 'perasaan terganggu' itu. Pamali, kalau kita menolak kebaikan dari orang lain
.
Mungkin ia menganggap saya orang yang tak tahu terima kasih. Mungkin ia menganggap saya telah berlaku tidak adil. Mugnkin ia menganggap saya kejam. Kini ia punya alasan untuk membenci saya (padahal bukan itu yang saya maksud). Ah, terserahlah.... Ia menganggap saya berubah, dan tidak suka dengan perubahan itu. Padahal, mungkin perubahan sikap saya itu reaksi dari perhatiannya yang berlebihan.--mungkin karena melewati batas nyaman atau apalah istilahnya.

My point is; kalau ingin berbuat baik sertai pula dengan pengertian. Jangan tersinggung kalau niat baikmu ditolak—mungkin karena bukan jenis kebaikan itu yang dia butuhkan. Lagipula tidak semua orang cukup senang diperlakukan sebagai mahluk menyedihkan, iya gak? Dan yah...kepedulian itu tidak selamanya baik. Setiap orang tahu apa yang terbaik bagi diri mereka, kan?

---Sebenarnya saya menulis ini lebih untuk mengingatkan diri sendiri juga sih...

***

Kejahatan dalam dunia ini nyaris selalu datang dari ketidaktahuan, dan maksud baik bisa sama berbahayanya dengan kedengkian jika tidak disertai pengertian.
--Albert Camus



.

Komentar

  1. niat baik harus dilakukan dengan cara yang benar. kira-kira begitu kata guru agama saya...

    BalasHapus
  2. Hmmm, aku sependapat dan perlu instropeksi diri.

    BalasHapus
  3. aku suka banget postingan yg ini, Hud. bagus, buat introspeksi diriku juga. makasih ya...

    BalasHapus
  4. dari tulisan lo, gw yakin lo itu altruistik. Sangat altruistik. Hmmmm.... Btw ambil hikmahnya aja hud kalo ada yang care sama lo. Setidaknya kalo lo ada masalah, ada seseorang yang mau ikhlas jadi tong sampah masalah lo. Mau dijadiin tempat curhat. Jarang loh kita dapet orang yang kayak gitu....


    Btw tuh temen lo cewe/cowo? kalo cewe, mungkin dia suka sama loo. Jodoh maybe. Hehehe..... ^^

    BalasHapus
  5. makanya ada kalanya lebih baik bertanya terlebih dahulu untuk memastikan ;) bagus nih buat warning ke saya jugaaa.

    BalasHapus
  6. niat baik harusnya diwujudkan melalui cara yang baik pula(mungkin lebih pas kalo dikatakan cara yang tepat). menyampaikan sesuatu itu ada seni nya

    dalam kasus sampeyan sepertinya..yah, bagaimanapun sepertinya perhatian tsb termasuk usahanya dalam penyampaian cinta, entah cinta sbg apa. nah disini masalah terjadi karena ketidaksinkronan antara bahasa cinta yg di inginkan dan yang diberikan. seperti yang dijelaskan noto di postingan blognya(http://nonanoto.blogspot.com/2011/03/love-language-to-solve-problem.html)

    yah, bagaimanapun tetap harus di iringi ikhlas, artinya ikhlas bila nantinya ditolak atau bagaimanapun nanti jadinya.karena tidak ada yg berhak memaksa kita menerima yg tidak kita inginkan :D

    BalasHapus
  7. Wah... artikelnya bagus nih. Orang cenderung memandang segala sesuatu itu dari sudut pandangnya sendiri, dia pikir yang menurutnya bagus pasti bagus juga utk orang lain. Dan... ternyata itu tak selamanya benar.

    BalasHapus
  8. Itu sebabnya seringkali kejadian niat baik sering disalahartikan ya..?

    BalasHapus
  9. Jadi biar tak salah, perlu komunikasi yg benar kan?

    BalasHapus
  10. @YeN
    itu komentar apa postingan mbaak?? :D

    BalasHapus
  11. @eks: biarin wekk :p
    btw komen kita mirip yah.haha

    BalasHapus
  12. waspadalah.. waspadalaah!!..

    yaa itu yang bisa jadi arti dari : mungkin itu menurutmu baik bagimu tapi belum tentu itu baik untukmu..

    BalasHapus
  13. setuju. that's true..
    Bukan hanya orang lain, namun diri kita sendiri pun harus menyadari hal tersebut. Apa yang telah kita lakukan terhadap orang lain? Hahahaha...

    Hal ini jadi pengingat saya dan kita semua *halah
    Nice post btw.

    BalasHapus
  14. hehe. baca postingan ini jadi inget salah satu video yang kutonton baru2 ini.

    Cerita dikit ah.. kan ada bapak2 yang lagi warming up dengan cara mndorong2kan badannya dari mobil yang dia parkir di pinggir jalan, ketika ada pemuda afrika lewat dia kirain si bapak2 itu lagi berusaha mendorong mobilnya, tanpa ba bi bu lagi, dia ikutan ngedorong mobil itu dengan sekuat tenaga. Jadilah mobil itu terdorong masuk ke jurang. Bukannya mersa bersalah dia malah dengan bangga hati nyengir ke si bapak itu. Plis deehh, muka si bapaknya dah kayak anak kecil abis ketemu badut ancol, hahaha

    nice posting d^^b

    BalasHapus
  15. eks@
    iya bethul.... titip salam ke guru agamamu, hihi.

    Ajeng@
    Trims, yuk sama2 intropeksi diri. (saya nulis ini buat intropeksi diri juga sih).

    mb rifka@
    makasi banyak juga mb'...

    imanuel@
    altruistik itu apa ya?? awalnya saya emang senang dapat teman sperti itu. tapi kalau lama2 ajdi ngarah ke posesif, siapa yang ga terganggu coba?? (atau saya kah yang berlebihan?).

    tapi setiap orang pasti ada batas nyaman juga kan?

    ata@
    hehehe...yups!
    warning ke saya juga sih.

    yen@
    wuiih, makasi komennya yen...
    kalau emang ikhlas, mestinya juga ga marah2 tow kalau kebaikannya ditolak.

    eh, makasi ya dah pasang link di sini...hehehe

    catatan kecilku@
    iya banget mb. termasuk tulisan saya ini juga sih--belum tentu sudut pandang saya ini benar.

    asal kita tak merasa paling tahu dan paling benar aja kali ya?

    the others@
    yups, sepertinya begitu mb.

    shasha@
    iya sha, komunikasi emang penting banget. banyak masalah yang sebenarnya bersumber dari komunikasi (termasuk saia ini).

    eks & Yen (lagi)@
    hahahaha

    gaphe@
    sudah jadi ang napi sekarang? haha.. mana cerita perjalananmu kemarin? banyak yang nungguin nih..

    sulhan Habibi@
    hehe makasi...
    iya, saya tentunya banyak menyakiti orang lain selama ini. semoga mereka bisa memaafkan saya.

    Rapi@
    owh, iya aku tahu video itu, hehe.

    makasi mpo'^^

    BalasHapus
  16. Tadinya aku mau komen panjang, tapi diringkas aja. Biasanya orang itu seneng diperhatikan. Mungkin emang butuh waktu untuk bisa menikmati diperhatiin. Aku orang yang seneng banget diperhatiin tapi dari orang yang salah melulu, haha... Biarin sih, jadi pengalaman banyak tau karakter orang, dan lebih hati-hati next time...

    BalasHapus
  17. mb ami@
    itu dia masalahnya mb... orang sering berpikir apa yang dia sukai akan disukai juga oleh orang lain.

    BalasHapus
  18. Wah, iya juga, jadi introspeksi juga.hehe...

    Tapi, mungkin bagi si teman, akan lebih baik untuk bertanya, dan bagi kita sendiri mungkin akan lebih baik untuk memberitahunya, memberitahu alasan kenapa kita gak bisa bilang sama dia, atau membuatnya untuk mengerti bahwa mungkin bukan ini saatnya, atau yah, alasan2 yang sekiranya bisa membuat di bisa memaklumi.

    Aq rasa, dengan begitu, mungkin bisa meminimalkan salah paham kan? Jelas, saat kita terbuka dengan orang lain, dan orang itu tidak terbuka pada kita, klo aq, pasti bakalan kecewa. Terbuka pada orang lain itu gak mudah, sama dengan mungkin diri kita yang sulit, atau bahkan tidak mau terbuka dengan orang lain. Mungkin, kayak gini, kita sudah percaya banget ama seseorang, tapi seseorang itu gak mempercayai kita. Makanya,Qrasa wajar aja temennya jadi marah.

    Memang berbuat baik itu gak bisa maksa, tapi kita juga harus menghargai, paling tidak memberitahunya. Tidak semua orang bisa mengerti isyarat2 yang kita berikan untuknya, pun tidak semua orang mampu memahami semua orang lainnya. Karena itu, jika kita tidak mengatakan apapun, aq rasa wajar aja akan disalah pahami. Ya gak ada yang salah sih, cuma salah paham aja. Jadi, mungkin penyikapannya aja yang dicoba lebih baik,Qrasa.

    Dalam kasusnya mbak Ami, seandainya si anak itu menanyakan terlebih dahulu, tentang apa yang dilakukan oleh si Bapak, atau memerlukan bantuan yang seperti apa, atau si Bapak segera memberi tahu bahwa apa yang dilakukan si anak itu salah, itu gak akan terjadi. Biar gimanapun, komunikasi itu penting. Walaupun gak selalu kita suka dengan itu.

    Dan, Qrasa, jika seseorang merasa pemikirannya itu sama dengan orang lain, mungkin itu karena ia tidak tahu, tidak menyadari bahwa ada pemikiran lain di luar pemikirannya, qt yang tahu, kenapa gak memberitahu aja? Itung-itung dapet pahala, dan setelahnya, sapa tahu perlakuannya pada kita jadi lebih membuat kita nyaman.

    Hehe,,,panjang jadinya... :p

    BalasHapus
  19. kacho@
    mmm.... mungkin karena tipe orang beda-beda kali ya? saya orangnya lebih suka hubungan pertemanan ga dibawa serius. Dibawa santai aja...

    dan kalau soal kepercayaan itu tadi, kok kesannya malah jadi barteran gitu yah?

    my point is: jangan memaksakan kehendak. (agama aja ga ada paksaan, tow?)

    BalasHapus
  20. Dibawa serius juga belum tentu gak bisa bersantai dengan hubungan itu.

    Jika tidak ingin, katakan penjelasannya padanya. Tanpa itu, ia bahkan mungkin tak sadar jika mas merasa dia memaksa. jadi, gimana bisa dia jadi gak memaksakan kehendak, kalo dia gak gak ngerasa sedang melakukan itu? lagipula, belum tentu juga di abermaksud memaksa. mungkin itu hanya pikiran dan dugaan kita saja. Who knows?

    BalasHapus
  21. Kacho@
    Yups, makasi banget ya kacho... paling engga' lewat kamu aku jadi dapat tambahan sudut pandang

    Trims a Lot

    BalasHapus

Posting Komentar