Omongan Orang

Salah satu cerita dari masa kecilku yang paling kuingat sampai saat ini adalah kisah seorang petani yang hendak menjual keledai ke kota. Mungkin teman-teman pun pernah membaca atau mendengar kisah yang satu ini.

Untuk sekedar mengingatkan,  ceritanya begini....

Diceritakan ada seorang petani yang hendak menjual salah satu keledainya ke kota. Ia pun mengajak anaknya untuk ikut pergi bersamanya. Maka, pagi-pagi sekali berangkatlah mereka berdua dengan menunggangi keledai tersebut.

Di perjalanan, mereka berpapasan dengan seseorang. Orang ini pun berkata, “Ai, malangnya nasib keledai itu. Dinaiki oleh dua orang sekaligus.” Mendengar omongan orang ini, maka sang ayah pun memilih turun. Sementara si anak tetap berada di atas keledai. Lalu orang itu pun pergi. Dan mereka melanjutakan perjalanannya.

Cukup lama berjalan, mereka berpapasan lagi dengan orang lain. Orang yang satu ini berkata, “Sungguh anak yang kurang ajar. Ia enak-enakan menaiki keledai sementara ayahnya berjalan kaki.” Mendengar hal ini akhirnya si ayah meminta anaknya turun dan sebagai gantinya ia pun menaiki keledai tersebut. Orang itu pun berlalu dengan puas karena pendapatnya didengar. Si petani dan anak ini kemudian melanjutkan perjalanan mereka.


Saat kota sudah tak jauh lagi, mereka pun berpapasan dengan orang lain. Kali ini orang itu berkomentar, “Kasihan sekali anak kecil seperti dia harus berjalan kaki, sementara ayahnya enak-enakan menunggangi keledai...” Akhirnya si ayah turun. Ia tidak meminta anaknya naik ke keledai itu lagi karena nanti pasti ada yang berkomentar bahwa anaknya kurang ajar. Mereka memilih berjalan kaki dan keledai itu melanggeng bebas tanpa beban.

Mereka terus berjalan hingga sampai pada sebuah jembatan yang cukup ramai. Banyak orang yang berlalu lalang karena pasar sudah semakin dekat. Kebetulan pasar itu terletak di seberang sungai. Tiba-tiba seorang laki-laki berteriak, “Lihat! Bodoh sekali mereka! Mereka punya keledai tapi cuma jalan kaki dan tidak menaikinya.” Laki-laki ini berteriak cukup keras dan mengalihkan perhatian semua orang. Semua yang ada di situ pun lantas tertawa menertawakan si petani.

Ditertawakan semua orang seperti itu membuat si petani dan anaknya merasa sangat malu. Maka, Ia dan anaknya menggendong keledai tersebut sambil menyeberangi jembatan. Melihat hal ini tawa orang-orang pun semakin keras. Mereka tidak pernah melihat pemandangan sekonyol ini. Dua orang menggendong keledai sambil menyeberangi jembatan adalah hal tekonyol yang pernah mereka lihat.

Sementara itu, keledai yang tidak terbiasa digendong itu mulai gelisah dan memberontak dalam gendongan si petani dan anaknya. Semakin keledai itu memberontak, semakin keras pula tawa orang-orang itu. Dan semakin riuh susasana di sekitar mereka, semakin gelisah pula si keledai jadinya....

Sampai kemudian keseimbangan mereka hilang, si keledai yang mengamuk dalam gendongan itu terlepas dan malah jatuh ke sungai. Hanyut bersama derasnya arus. Si petani dan anaknya tak punya apapun untuk dijual lagi. Mereka hanya berdiri di tepi jembatan sambil menatap sedih ke arus sungai yang menghanyutkan keledai itu. Sementara orang-orang tertawa dan tertawa semakin hebat melihat kemalangan mereka...
*

Dulu, saat pertama kali membaca cerita ini, aku merasa sangat kasihan pada si petani. Aku yang saat itu masih anak-anak tidak berusaha menangkap sendiri pesan moralnya (lama kemudian/ setelah dewasa aku jadi tahu apa yang dimaksud).

Aku mendapati endingnya begitu menyedihkan dan merasa ada yang salah dengan cerita ini. Mengapa orang-orang itu bisa tertawa bahagia? Mengapa keledainya harus jatuh? Kenapa ceritanya harus berakhir seperti ini?--->>dan mungkin perasaan tidak puasku inilah yang membuatku masih mengingat cerita ini hingga sekarang.

Karena dalam benakku yang masih sangat lugu, sebuah dongeng sebisa mungkin harus berakhir bahagia. Bahwa kemalangan orang lain tidak layak ditertawakan (sebodoh apapun mereka). Bahwa si jahat harus mendapat hukuman yang setimpal sementara si baik harus bahagia selama-lamanya. Umumnya dongeng yang kubaca di majalah anak-anak memang seperti itu.

Namun kehidupan ini memang bukan dongeng. Akan banyak orang yang berlalu lalang dalam kehidupan kita. Orang-orang ini selalu punya pendapat dan pembenaran atas pendapatnya itu. Dan saat pendapatnya itu disetujui, ia pun berlalu dengan puas. Akan banyak juga orang-orang yang tertawa bahagia saat kita ditimpa kemalangan. Yah, hidup memang seperti itu kan?

Tidak seorang pun dari kita ingin kisahnya berakhir dengan malang seperti si petani dalam cerita ini. Maka, janganlah seperti petani yang satu ini!






__________________________________________________________________
*kebodohan adalah satu jenis kejahatan (terutama, kejahatan terhadap diri sendiri). Tulisan ini saya buat lebih untuk mengingatkan diri sendiri. karena kebetulan semalam saya baca cerita ini lagi sewaktu ke SAB ^^"
.

Komentar

  1. setiap omongan orang itu musti disaring, gak perlu semua kata orang dituruti. asal kita yakin, lakukanlah.

    BalasHapus
  2. setiap omongan orang lain kadang ada benar dan ada salah makanya kita mesti bisa memilihnya mana yang baek untuk semua.. bukan kita ato mereka saja..

    BalasHapus
  3. setiap omongan orang lain kadang ada benar dan ada salah makanya kita mesti bisa memilihnya mana yang baek untuk semua.. bukan kita ato mereka saja..

    BalasHapus
  4. setiap omongan orang lain kadang ada benar dan ada salah makanya kita mesti bisa memilihnya mana yang baek untuk semua.. bukan kita ato mereka saja..

    BalasHapus
  5. Cyaam@
    betul banget. yang terpenting adalah punya keyakinan diri.

    Akane@
    SELAMAT! kamu dapat mangkok! heqheqheq...

    Yups! agreee

    BalasHapus
  6. berarti hikmah dari cerita itu, kalo mau jual keledai lebih baik jangan ngajak anak.

    ato mendingan lagi, pasang iklan di kaskus: dijual keledai, gan. butuh uang. prefer COD di rumah. :D

    BalasHapus
  7. Pesan yang disampaikan dari cerita di atas, mendengarkan pendapat orang lain memang dianjurkan, terlebih lagi jika kita saling menghormati. Cuman salahnya si Petani, dia ndak punya pendirian, si A bilang gini dia ikutin, trus si B nyanggah gini dia juga ngikutin...malang sekali

    Orang-orang yang merasa paling benar dan paling hebatlah yang suka menertawakan kemalangan orang lain...semoga bisa dijadikan pelajaran ya cerita di atas itu.

    BalasHapus
  8. cho@
    betul betul betul. lebih bagus lagi kalau dijual lewat ebay. pan pasarnya lebih luas lagi tuh!

    lagian hari gini masih jual keledai #hhhhh

    Ajeng@
    yupz trims jeng. sayang banget kalau kita ga punya pendirian....:(

    BalasHapus
  9. Saya, kok malah belum pernah mendengar dan membaca dongeng keledai itu, ya? HeHe

    Ya, kadang memang begitu apa yang disarankan orang belum tentu baik dan tepat buat kita. Jadi, kita lah yang seharusnya pintar-pintar memilihnya. Jangan hanya membeo apa kata orang. Tapi kita harus punya keyakinan pada apa yang sudah kita pilih dan yakini benar. Betul?

    BalasHapus
  10. mas Joko Suatrto@
    betul sekali mas! ^^V

    oh ya? belum pernah dengar cerita ini? sekarang akhirnya dengar kan? hehehehe

    BalasHapus
  11. Awalnya g ngerti kirain ceritanya Narudin gitu, intinya saya blm pernah dgr ceritanya..hehee

    hem, iya omongan orang tak bisa dijadikan dasar untuk kita melakukan sesuatu paling buat pertimbangan,,

    BalasHapus
  12. saya teringat sebuah syair yang pernah aku baca

    "engkau mau ke mana?
    kau akan selalu dicela
    meski kau sudah pergi ke puncak gunung
    karena mereka adalah pencela
    mereka akan mencelamu, di mana pun kamu berada"

    BalasHapus
  13. setuju sama mbak ajeng.

    aku juga bertanya-tanya kenapa ya manusia itu cenderung (karena emang gak jarang seperti itu) senang menertawakan kesusahan yang dialami orang lain.

    tapi, ketika pendapat kita diterima orang lain, emang wajar banget sih kalo seneng. tapi, apakah kita bisa menerima apapun yang emang benar, itu yang terpenting.ku rasa begitu

    BalasHapus
  14. rose@
    kayanya ini memang dituturkan oleh si Nasrudin Khodja Rose... (kalau aku ga salah juga si)

    trims

    John Terro@
    wow!
    what a Quote!

    yah memang selalu ada orang-orang pencela yang hobinya menghabiskan energi mereka mencela orang lain...

    percuma dengerin orang seperti itu.

    BalasHapus
  15. ika@
    yang menjadi masalah kalau kita menyandarkan kesenangan dalam memberi pendapat.... seneng si seneng, tapi jangan ketagihan ah.

    tentu saja pendapat di sini dalam artian pendapat mengenai orang lain. pendapat mengenai diri sendiri saja belum tentu benar.

    BalasHapus
  16. memang bikin ketagihan yah....
    ya mgkn perlu menjaga juga ya, paling nggak kalo kita gak benar2 tahu keadaannya, gak asal ngomong.

    kadang kalo seneng, bisa jadi itu memang "kebutuhan". yang penting bisa menjaga, qrasa gak masalah. :p

    BalasHapus
  17. Ada juga perkataan/quote bhs Inggris yang ane tau, krg lebih gini, "Please all and you'll please none"..
    Jadi intinya kita nggak bisa nyenengin semua orang, yang dalam hal ini, menuruti kata2 tiap orang. Hasilnya malah nggak ada orang yang simpatik dengan perbuatan kita.

    BalasHapus
  18. Untung dia mau jual keledai. coba gajah? hehhee..

    btw, pernah denger cerita ini juga sebelumnya.. memang sangat bermaknyaa.. :)

    BalasHapus
  19. ahh, saya baru pernah baca cerita ini diblog kamu Hud...
    berikut adalah beberapa pesan moral dalam cerita ini:
    -milik kita, kita yang menentukan mau diapakan itu...
    -juallah keledai pada tempatnya
    -carilah teman lebih dari 4
    -selalu membawa alat komunikasi kemanapun kita pergi

    oia, ada satu saran niih, kalo nulis jangan kebanyakan enter :D

    BalasHapus
  20. ika@
    kebutuhan gimana ya?
    hmmmm....

    aku si ga hobi nilai orang ~~... kurang kerjaan banget. what a waste!

    Adryan@
    yupz bro. we cant please anyone. kalau berusaha menyenangkan semua orang, yang ada orang malah ga simatik. btw salam kenal ya.

    trims for follow,

    MSH@
    hahaha, kalau gajah, gimana gendongnya coba?? wkwkwkwk

    Eks@
    hahaha siip..

    kebanyakan enter ya?
    hmmm...

    BalasHapus
  21. berarti gak boleh jadi orang bodoh,supaya gak jahat sama dir sendirii... :D

    BalasHapus
  22. omongan orang emang bikin kita surut teratur.
    kayanya, kalimat ini sepadan:
    manusia tidak cukup banyak waktu buat menemukan ide, tapi selalu punya waktu intuk mengomentari ide orang lain:(

    BalasHapus
  23. eniwei, gambar si jubnah di kanan bawah bagus maz..lanjutin atuh cerita si jubnahnya..

    BalasHapus
  24. heheh ... ditunggu lagi cerita yang inspiratif seperti ini om :P

    BalasHapus
  25. nova@
    haha, iya nov....
    buang-buang waktu aja ngritikin ide orang

    rabest@
    :)

    JT@
    ok ok

    BalasHapus
  26. owh..hikayat keledai..

    yaa..pintar2 sajalah dalam menghadapi saran ataupun kritik.

    BalasHapus
  27. itulah... kalo kita gak punya pendirian... tapi tetep, kasian mereka berdua yach.... sedih bacanya

    BalasHapus
  28. pernah baca kisah ini, emang kalo terus-terusan ngikutin apa yang jadi omongan orang bakalan nyusahin sendiri.

    sharusnya mereka bisa teriak : peduli amat, keledai-keledai gue ini!.

    yah, kadang kita emang harus keep in touch sama hati sendiri biar yakin..

    BalasHapus
  29. buset, sekarang makin laris aja ya yang pada komen dimari? :P

    BalasHapus
  30. Om Gaphe: tulisannya Tula makin mantap sih.hahhaha:D

    BalasHapus
  31. itu sebenernya kan kebutuhan kita. misal, dalam bisnis aja, kita pasti menilai konsumen kita agar dagangan kita laris. dalam sehari-hari kita dengan orang lain, pasti ada yang namanya kesan pertama. sadar atau tidak, kita juga pasti menilai orang itu, entah pantas atau tidak percayai, atau gimana, pasti ada. cuma, ada orang yang menjadikannya sebagai "sarana" mencari perhatian dan itu sangat berlebihan.

    ada juga yang menjadikannya sebagai bentuk kepeduliannya pada seseorang, shgga ia mengatakannya pada orang itu. ada juga yang memang ingin bersikap kritis, karena alasannya tersendiri, mungkin ia ingin melakukan yang terbaik. ada juga yang berusaha untuk memendamnya sendiri. ada juga yang gak peduli.

    yang aku maksud sebagai ketagihan juga, entah kenapa dalam masyarakat ada yang seperti itu. lihat aja ovj, laris kan? lihat saja candaan di sekitar kita, cenderung sarkastik. tapi tetap laris,kan?tetap dilakukan meskipun tidak merasa itu benar.

    dan, dalam kehidupan kita sebagai makhluk sosial, terkadang itu memang perlu. tapi dengan cara yang tepat pastinya.

    karena itu, aq rasa yang penting adalah niat dan cara penyampaiannya. tapi itu yang kurasa paling sulit. sampe sekarang aku gak tau gmn caranya. *Wew, curhat....hehehe.... :p

    BalasHapus
  32. aku pernah baca nih di majalah Bobo hehee... klo pesan moral yang bisa aku simpulkan *cuih bahasanya* jangan terlalu denger kata2 org lain, krn klo pun kita ditimpa kesusahan org2 yg suka ngomongin kita itu jg ga akan bantu apa2.. malahan seneng liat org menderita. gitu kan? akur kan kita? hihihii....

    BalasHapus
  33. Yen@
    yups ^^" betul banget!

    Aina@
    haha iya... saya juga kasiaan.....
    saat pertama kali baca kasihan banget. apalagi waktu itu aku abca saat masih anak2, masih polos..hehehe

    Gaphe@
    yaa gitu deh...

    Nova@
    hahahaha, makasi mb nova...

    Ika@
    secara otomatis kita pasti punya penilaian terhadap orang lain. Tapi itu bukan berarti kita jadi hobi mengutarakan penialaian kita itu kali kaaa'.... >>who we think we are??

    well, saya si ogah ngasih tahu orang sebaiknya mereka bagaimana (kecuali dalam kasus ekstrim). Dan pasti ada batasannya lah menyampaikan pendapat. Apalagi ketika pendapat itu menyangkut personal #jadiikutancurhat.

    saya tidak punya obsesi untuk mengubah orang lain menjadi lebih baik. Kaya kurang kerjaan aja... Setiap orang punya kapasitas untuk memperbaiki dirinya sendiri, dengan caranya sendiri-sendiri.

    kasihan juga sih orang-orang yang meneguhkan kesepian mereka lewat hobinya berpendapat. seperti katamu "mereka ingin diperhatikan".

    Mila@
    ok ok kita akur mbaa'...
    hihihihi juga..

    wew baca di malajah bobo adiknya y?

    BalasHapus
  34. we are human, see....we are the one who can do it. memang bukan berarti kita hobi, kan aku udah bilang, ada yang nggak diutarakan. itu keputusan masing2 orang kan? tapi, ketika seseorang ingin mengutarakannya, kenapa nggak? kenyataannya yang punya kemampuan untuk itu adalah manusia, dan Tuhan menyampaikannya melalui perantaraan manusia juga. kita bukan nabi kan yang dapet wahyu langsung dariNya?

    memang ada batasannya, bahwa orang tersebut yang memutuskan, dan bahwa itu harus tetep gak menyalahi etika,kan? kenyataannya, dalam kehidupan kita saling saran menyarankan sehat nasehati itu udah hal yang biasa, dan itu perlu. banyak masalah yang selesai dengan cara seperti itu. tapi, masalahnya pula, ada yang menyalahgunakan itu secara berlebihan.---dan yang terjadi dalam kasus ini, adalah yang berlebihan.

    Ya, ada memang, orang yang ingin diperhatikan. tapi, pasti ada sebab kenapa seperti itu. aku gak ingin mengasihani mereka, aku ingin mengerti mereka. seperti mas yang gak suka dikasihani, karena dikasihani sama sekali gak menyelesaikan masalah kan?aku cuma tau, orang2 seperti itu pasti merasakan sesuatu, dan mungkin sesuatu itu sebenarnya sangat menyakitkan. tapi, akan selalu ada yang kita bisa lakukan untuk itu.

    pada kenyatannya, kita, setiap orang di dunia ini, selalu mencari "tempatnya di dunia", sama dengan orang2 seperti itu, mereka mungkin hanya tersesat, hanya itu.

    BalasHapus
  35. ika@
    sebenernya kita lagi bahas apa ya? hehehe

    BalasHapus
  36. ika@
    well, I've made my point....

    sometime, i don't really understand what are you trying to say --". it seems like you always want to find something perfect, something ideal.

    but life goes on...

    BalasHapus
  37. hem...sulit ya?wajar aja sih. it's "dimensioned". but, still i want to try me best to explain.so may be, one day i could make other people understand. if i never train it, how could i can do it?

    bukan sempurna, just idealist. it doesnt mean perfect. itu hal yang sangat wajar kan, memang manusia itu seperti itu.

    life goes on, but we r the one who decide whether it become the best or not.

    BalasHapus
  38. Ika@

    "life goes on, but we r the one who decide whether it become the best or not."

    ehm... kita kan lagi ngebahas tentang omongan orang nih?? dan, sebenarnya intinya adalah, jangan sampai orang lain yang menetapkan mana yang terbaik buat kita. dan, ngapain juga buang-buang energi menetapkan mana yang terbaik buat orang lain.

    hidup ini terlalu singkat untuk diisi dengan pendapat orang lain.

    BalasHapus
  39. hanya memberi pendapat mengenai orang yang memberi pendapat. karena g jarang juga, itu menjadi penting dan perlu, dan yah, hanya ingin memberikan pandangan ja, biar gak saling merasa begini dan begitu :p

    tapi, yah, emang kadang aku nya kelewatan, sampe melebar topiknya :p

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

10 Film Asia yang Tak Terlupakan

Sandikala

Film Korea Yang Layak Kamu Tonton