Zombie

Kadang, meski aku tahu apa yang benar-benar kuinginkan, aku seperti menjalani hidupku sebagai zombie. Kadang malah sebaliknya. Kadang aku pikir orang-orang yang berkeliaran di sekitarku adalah zombie sementara aku sendiri tidak. Dan karena sesuatu dan lain hal, aku terpaksa berkeliaran seperti zombie, atau (lebih sering) tanpa sadar aku sendiri memang zombie.

Hud, ga usah ribet-ribet maksud lo apha?

Begini, satu alasan mengapa aku tidak terlalu suka berjalan ke pusat-pusat perbelanjaan adalah, karena banyak zombie-zombie berkeliaran di sini. Maksudku, orang-orang yang berjalan dengan bingung dan mencari-cari sesuatu di antara rak. Sesuatu yang bisa dibawa pulang, untuk dipakai atau untuk dimakan, dan bisa membuat mereka merasa lebih baik.

Menurutku film-film zombie belakangan ini cukup cerdas menggambarkan hal tersebut. Mulai dari film serial The Walking Dead, sampai film layar lebar seperti Zombieland dan Resident Evil. Dimana orang-orang (kalau dalam serial The Walking Dead dan Resident Evil, mereka terifenksi virus) berlalu lalang di kota, dengan bahu menggantung dan melangkah gontai. Berkeliaran di trotoar, supermarket, taman bermain, atau mengendus-endus di udara untuk mencari sesuatu yang lebih hidup dari diri mereka sendiri. Karena meskipun mereka masih berjalan, sejatinya mereka telah mati. Atau sesuatu dalam dirinya tak lagi hidup.

Makanya tokoh utama kita yang masih hidup, yang masih memiliki kesadaran diri, langsung diserbu dengan bringas oleh para zombie ini. Mereka ingin memakannya. Memakan kehidupan darinya. Dan tokoh utama ini harus berjuang mati-matian mempertahankan hidupnya. Sedikit saja ia membiarkan dirinya dimakan oleh zombie, ia akan terinfenksi virus dan lambat laun menjadi zombie juga. Hidup tapi tidak sepenuhnya hidup. Mati, namun masih berkeliaran dengan putus asa mencari kehidupan.


Sudah kubilang aku sendiripun sering berlaku layaknya zombie. Saat uangku cukup banyak untuk dibelanjakan, aku akan keluar dan berpikir aku bisa membeli sesuatu yang bisa membuatku senang. Membeli makanan atau apalah. 'Sesuatu' meski aku tidak tahu 'sesuatu' itu persisnya apa. Kadang aku keluar dengan temanku, kami sama-sama baru gajian dan ingin membeli sesuatu di awal bulan untuk menghibur diri. Kadang sebelumnya sudah niat membeli sesuatu, tapi tetap saja akhirnya kami berkeliaran tanpa nyawa di pusat perbelanjaan ini. Kalian mungkin berpikir, “kalau jalan-jalan keluarnya ramai-ramai, pasti seru!” dan aku bilang “Benarkah?”.

Kadang semakin ramai semakin buruk (--”). Memangnya ada berapa banyak acara jalan-jalan bersama yang bisa kita nikmati? Kadang kita seperti kumpulan orang bingung sekalipun kita membicarakan sesuatu atau tertawa dan terlihat senang saat berjalan. Aku tidak memprotes kebersamaannya, yang aku protes adalah: “kenapa sih kita selalu mencari kesenangan di tempat belanja?”.

Ada semacam ilusi yang telah kita makan mentah-mentah. Ilusi tentang kesenangan yang dapat dibeli. Dan kesenangan ini bersemayam di rak-rak toko atau etalase. Kita menghabiskan waktu satu bulan kita untuk bekerja dan mendapatkan uang untuk membeli kesenangan-kesenangan ini. Semakin banyak uang yang dapat kita hasilkan, semakin banyak kesenangan yang dapat dibeli. Dan, kalaupun kita sedang tidak punya uang untuk membelinya, kita berlalu lalang di antara kesenangan-kesenangan ini dan kita pikir itu sudah cukup untuk membuat kita senang. Lihat saja bagaimana mahasiswa (ramai-ramai atau sendirian) berjalan-jalan ke pusat perbelanjaan tanpa membeli, dan mereka menyebutnya 'hiburan'.

Jika seandainya hidup ini adalah film horor semacam zombie, maka virus yang mengubah orang-orang menjadi zombie adalah 'ilusi' itu tadi. Ilusi kesenangan yang selalu bisa dibeli. Ilusi yang digambar-gemborkan lewat iklan di media. Mereka memberi tahu kita apa yang kita butuhkan. Apa yang perlu dibeli. Apa yang membuat kita senang. Dan pusat perbelanjaan adalah tempat ilusi-ilusi ini berkumpul. Kadang kita pikir kita tahu apa yang kita inginkan atau apa yang bisa memberi kita kesenengan. Padahal diam-diam kita telah dijejali oleh ilusi tentang kesenangan-kesenangan itu tadi. Maka saat kita mulai bosan dan membutuhkan hiburan, kita memanggil teman-teman kita dan berangkat ke pusat ilusi ini. Mencari-cari sesuatu di antara rak; apa saja yang bisa kita bawa pulang dan (mungkin) bisa membuat kita senang.


Tidak, saya tidak memprotes aktifitas belanja. Saya pun belanja dan setiap orang pasti butuh belanja. Tapi kadang saya merasa bodoh sendiri mondar-mandir di antara barang-barang yang sebenarnya tidak terlalu saya butuhkan. Atau kadang saya merasa telah menipu diri sendiri yang telah mencoba membeli kesenangan-kesenangan itu.




.

Komentar

  1. Terus, yang dapat dikatakan sebagai 'hidup' yang benar-benar hidup itu yang seperti apa?

    BalasHapus
  2. Adryan Nurdien@
    hmmm seperti apa ya? yuk, kita temukan sendiri kehidupan kita masing2....#apaan sih.

    yang pasti, bagi saya, keliling tanpa tujuan dalam kebingungan seperti itu bukanlah kehidupan. bagi saya sih....

    BalasHapus
  3. ndak semua orang suka ke mall Hud.

    aku malah paling jarang ke mall (bisa dihitung, dalam setahun intensitasku ke mall berapa kali) kalau ndak lagi bener-bener ada kebutuhan. aku merasa kecil di sana, merasa seperti orang yang paling udik diantara berpuluh-puluh orang yang lalu-lalang, ketawa-ketiwi dsb.

    aku nggak terlalu suka, mall penuh dengan kesilauan. banyak orang yang berlagak sok cantik, sok cakep, sok ngartis, sok sugeh, sok tau dll...waktu yang ku punya sering ku habiskan di rumah :)


    jalan2 rame2 pasti seru? aku rasa tidak, kadang...berkumpul dan beramai-ramai tidak cukup membuatku senang.

    BalasHapus
  4. jika kamu berpikir seperti itu, maka salahkan Newton yang telah menyebarkan paham materialistis :D

    BalasHapus
  5. Ajeng@
    curcol jeng? *^^

    ehm..baguslah kalau kamu juga ga ketagihan ke mall. lanjutkan!!

    John Terro@
    hum? saya ga nyalahin Newton. Emang newton dulu shopaholic y?#sotoy

    BalasHapus
  6. John Terro@
    sebentar-sebentar, bisa dijelaskan lebih lanjut mengenai newton dan matrealisme ga? hehehehe, itung2 kamu bagi2 ilmu.

    BalasHapus
  7. pernah baca 100 orang yang berpengaruh di dunia ga?
    Newton termasuk nomor 2
    bukan karena hukum Newtonnya, tapi karena paham materialisme yang dicetuskan olehnya
    intinya semua itu diukur dengan material :) (termasuk semua diukur dengan uang, so akhirnya timbul istilah cewek matre, karena cintanya diukur dengan uang)

    btw, jadi minta dibikinin template ga?
    kalo ia, emang mau dibikinin yang didominasi warna apa?

    BalasHapus
  8. iya huda, bener kaya dibilang ajeng, ga semua orang suka ke mall.Adekku benci banget dengan mall dan seumur2 cuma 2x dia ke mall
    *tapi kalo aku suka kok,hahhaha LOL

    sebenarnya itu tergantung masing2 individu menyikapi sebuah kesenangan.
    kalo aku asal dikasih laptop+modem dikurung dikamar berhari2 juga gpp kok,aku tetap senang,hahha

    BalasHapus
  9. Hahahaa...

    Namanya manusia. Manusia itu berbeda-beda. Akan banyak perbedaan yang dapat kita temui di antara manusia-manusia yang ada.

    Ada yang suka ini, ada yang suka itu.
    Hal yang disukai banyak orang belum tentu juga disukai oleh sebagian orang.

    Bisa dibilang sebagai manusia, kita telah diberikan yang namanya akal dan pikiran. Juga yang namanya hati.

    Jadi kita bisa memiliki kesempatan untuk memilih apa yang kita suka atau tidak berdasarkan apa yang kita rasakan (salah satunya).

    Itu namanya pilihan.
    Ada manusia yang memang senang dan bisa melepaskan masalahnya dengan belanja (that's true and that's a fact). Ada yang senang dengan kesendirian dan tidak terlalu nyaman berada di keramaian.

    Sama juga seperti saya. Mengingat di JAkarta Mall ada di mana-mana, saya adalah salah satu orang yang sering mengunjunginya. Ada banyak orang yang bisa kita lihat di sana, ada banyak macam karakter yang bisa kita lihat di sana, bisa kita pelajari. Apakah itu salah? tergantung sudut pandangnya. Hahaha..

    Saya senang jalan-jalan. Saya senang keramaian, saya senang bercanda bersama teman-teman. Namun, memang ada kalanya saya ingin sendiri dan menyendiri.
    Fase orang itu berbeda-beda.

    Apapun yang orang lakukan, kita tidak bisa menyalahkan atau menilai hanya dari sudut pandang kita. Itu pilihan mereka, dan jika mereka menikmati dan bahagia dengan pilihan mereka, mengapa kita yang justru ambil pusing? Hehehe..

    Udah ah, ngomong apa saya ini? panjang beneer...

    BalasHapus
  10. Kalian mungkin berpikir, “kalau jalan-jalan keluarnya ramai-ramai, pasti seru!” dan aku bilang “Benarkah?”

    Saya tertarik untuk mengomentari kata-kata ini.
    Padahal seharusnya situ bisa berpikir yang lebih bijak (mungkin) setelah membaca buku CACING DAN KOTORAN KESAYANGANNYA 2.

    Sempat saya bahas yang berjudul (kalau gak salah inget) BAIK? BURUK? WHO KNOWS?

    Diajak teman-teman dan sepertinya menyenangkan. Benarkah? itu pertanyaannya, seolah-olah tidak yakin itu akan menyenangkan. Padahal kan belum terjadi sama sekali. sebelum terjadi dan dicoba, kita kan tidak tahu apa yang akan terjadi. hehehe...

    Hmm... mungkin itu yang namanya negatif kali ya? hahaha..
    tapi manusia emang gitu kok, saya pun begitu. hahaha..

    BalasHapus
  11. Ajeng@
    hahahaha siip dah.

    john Terro@
    ooo begitu ya? saya baru tahu. hehehe terima kasih.

    *iya templatenya jadi. Terimakasih banyak^^"

    Nova Miladiarti@
    Hahahaha, LOL...

    iya juga sih mungkin y?

    Sulhan Habibi@
    oh begitu?
    hehehehe

    BalasHapus
  12. sama2 om .. tunggu saja di entriku selanjut-selanjutnya, kalo udah selesai bakal aku post kug :)

    BalasHapus
  13. so, saya akan menyimpulkan (dari postingan):
    -kita sepakat untuk tidak sepakat-
    hihihihi,

    lam kenal eperibadih

    BalasHapus
  14. kaoskakiungu@
    hihihi..
    lam kenal juga^^

    BalasHapus
  15. jadi bisa disimpulkan, kamu itu ngga suka keremaian. sama persis kayak saya. suka berasa jadi orang idiot kalo ditengah-tengah keramaian...

    BalasHapus
  16. yang bener 'kos' kaki ungu, key? itu dipotongin 1 kambing lho! kkkkk, *tingkyu ud folbek*

    BalasHapus
  17. Aku sendiri kurang suka ngemall setelah berkeluarga *padahal dulu sebelum married sering banget..hhihi kl ga ada perlunya, kecuali mmg ada yg perlu dibeli ga pa-palah kalau sesekali manjain diri dan anak2... tp aku mmg lbh suka jalan keluar kota kl pas ada waktu libur dan ada duitnya hehehhe, ga pa-pa Huda, kalo ga gitu bs stress kerja trs dg keras tp ga bisa nikmatin hsl kerja huhuhu.. Yg penting sesuai porsi dan tdk berlebih, sisihkan jg utk yg membutuhkan...Okay...met berlibur Huda...*cling2..

    BalasHapus
  18. pasa suatu titik kadang hidup terasa hampa. hidup tapi tak hidup. biasanya karena bosan. Sepertinya anda bosan dengan mall mas hud?ato yg lain?

    BalasHapus
  19. btw "karena anda atau suami anda baru gajian"

    diskriminasi gender ini,haha :p

    BalasHapus
  20. I love mall.....
    tapi beloknya ke Gunung agung en Gramedia...
    hahahahaha

    BalasHapus
  21. sama kayak mbak aina... tai sih sekarang ada kerjaan baru... nyari tempat wifi buat ngenet.. hehehe

    BalasHapus
  22. Eks@
    hahaha, cheeers...

    ^^koskakiUngu^^@
    dugh, sori kirain kaos hee, ini udah saya perbaiki. akur kan kita sekarang? we are cool rite?? ^^

    mb Tiwi@
    met berlibur juga mba'.. *cling2

    iya ga apa2 kalau ada yang perlu dibeli. hehe, lagian paragraf yang satu itu sudah saya hapus (sok tahu banget soalnya).

    Yen@
    iya yen...
    paragaraf itu sudah saya hapus. terutama yang di dalam kurung, hehehehe.

    mungkin aku emmang bosan dengan mall, paling y? kalau ada kebutuhan si, kadang belanja juga, hee

    Aina@
    haaahaha...

    Nuel@
    oowh..
    hebat!
    kalau aku wi-fian jarang ke mall. ga pernah malahan, hehehe. biasanya di perpus, suasananya lebih mendukung.

    BalasHapus
  23. Begitulah manusia. Dengan segala tingkah anehnya :p

    BalasHapus
  24. iam@
    yuhuuu..
    trima kasi atas kunjungannya ^^

    BalasHapus
  25. kl k mall kl pas lg ad perlunya,,tp kl gk lg btuh males deeh,,
    curcoll,,hehe

    BalasHapus
  26. baru nonton episode 1 di season 1 Walking Dead ... udah di putus tv kabel nya ..
    merana ..

    BalasHapus
  27. rez iras@
    hehehe..
    gpp curcol, ga ditarik bayaran kok, hehehe

    Sudiro@
    the walking dead tuh serunya episode awal doang kok...hehehehe. ang paling bagus sampai saat ini adalah LOST.

    BalasHapus
  28. mendinglah, da. pas dia bosen, belanja. apalagi kalo belanjanya positip. beli buku misalnya. ketimbang, "ah, bosen. enaknya mbunuh siapa y?" :p

    btw, mbaca bukumu bikin aku pengen beli nomer satunya. haha. tanggung jawab. kantong lagi kering ini. huft.

    BalasHapus
  29. cho@
    kalau bosan terus beli buku itu sih, aku banget, hehehe. Kalau yang main bunuh2an pas lagi bosan palingan cho, hayo ngaku! Nama lengkapmu pasti Psycho kan? dipanggilnya cho, ya kaaaan?#langsungdibacok


    aku masih punya satu lagi bukunya Ajahn Brahm, kumpulan ceramahnya. di situ banyak membahas tentang budhisme.

    *tapi buku itu belum habis saya baca, hehehe...saat ini masih memprioritaskan Norwegian wood.

    BalasHapus
  30. Sama2 gan :D
    Ditunggu postingan selanjutnya :)

    BalasHapus
  31. aduh, ketauan. biasanya sih kalo lagi bosen, aku ngegame. game perang2an. kalo mbunuh orang di kehidupan nyata, belum pernah nyoba. berminat jadi relawan? ;p

    tentang buddhism? boleh pinjem? *puppy-dog eyes* :D

    BalasHapus
  32. iam@
    yups, tanks, once again.. sering2 mampir yak!

    Cho@
    Wow sangaar!

    >>boleh2.... kalau kamu mau baca duluan juga ga apa2, ga harus nunggu saya ngabisin (tapi aku pengen ngereview juga si). kurang baik apa saya coba? hehehe, *masih niat mau bunuh orang baik seperti saya ini, eh?

    BalasHapus
  33. sekali dua kali aku jadi zombie juga..hohooho

    BalasHapus
  34. Gpp seneng shopping, asal bisa cari duit
    Know how to earn and know how to spend =)

    Salam kenal

    BalasHapus
  35. Calude C Kenni@
    nah itu dia bagian tersulit: cari duit sendiri..hahahah.

    trims atas kunjungannya
    salam kenall...

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

10 Film Asia yang Tak Terlupakan

Sandikala

Film Korea Yang Layak Kamu Tonton