Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2011

Awards Time

Gambar
Wokeh, daripada ditunda-tunda mulu, terus nanti lupa dan jadi hutang dunia akhirat, mending saya pajang aja sekarang. Berikut adalah award-award yang telah saya terima belakangan ini.cekidot!!


Moga aja belum pada bosan sama award yang satu ini. hahaha. Penasaran juga sama orang yang pertama kali bikin award ini (laris). Award ini saya dapat dari seorang blogger yang nyebut dirinya Eks, dan, konon alisnya tebal. Sebenernya sudah janji mau pajang award ini sekalian ngegambarin dia juga, tapi ga sempat-sempat. Yah, pajang awardnya aja dulu deh, nanti kalau Tuhan menghendaki, gambarnya menyusul.

Sedikit review mengenai blog si Alis Tebal ini, menurut saya blognya asik. Humornya unik dan selalu berhasil membuat saya ngakak. Yang paling unik tuh, dia selalu ngelucu sambil terkesan serius. Atau memang ga ada niat ngelucu? Ta' tahulah... kunjungi saja blognya di http://alis-tebal.blogspot.com/

Review Film Dokumenter; An Inconvenient Truth

Gambar
About this Movie:
Directed by: Davis Guggenheim Written by: Al Gore Starring:    Al Gore
Year: 2006 Distributed by: Paramount Classic

Membaca atau menonton film yang membahas isu global warming memang tidak pernah menyenangkan. Kita selalu berhadapan dengan data-data yang memprihatinkan mengenai kondisi bumi. Data-data yang selalu membuat kita khawatir. Jauh lebih menyenangkan membaca gosip selebriti daripada mantengin bagan-bagan yang menggambarkan bumi dalam kondisi kritis. Mungkin itu sebabnya film dokumenter yang satu ini diberi judul An Inconvenient Truth.

Film dokumenter berdurasi 93 menit ini banyak menyodorkan data-data yang cukup mencengangkan. Data-data mengenai konsentrasi karbondioksida yang terus meningkat, temperatur air laut yang melewati batas normal, bencana alam yang semakin sering terjadi, mencairnya es di kutub, serta kemunculan penyakit-penyakit baru yang diakibatkan oleh global warming.
Para Ilmuwan sendiri terbagi menjadi dua kubu dalam menghadapi isu global warmin…

Balada Blogger yang Suka Sok Bijak

Katanya, tidak ada yang lebih rumit di dunia ini selain manusia. Termasuk blogger, tentu saja! Blogger juga manusia dan kita ini sangat rumit. Lihat saja bagaimana kita tanpa kenal lelah memposting tulisan, membagi pengalaman dan pikiran kita, saling mengomentari, sesekali berdebat, saling memuji dan di lain waktu; berkonflik.

Meski dulu saya pernah berkata bahwa saya ngeblog sambil belajar menulis, atau karena saya suka menulis, tapi sekarang saya sudah tidak tahu lagi apa persisnya alasan saya ngeblog. Kenyataannya saya memang tak terlalu memikirkan hal itu lagi. Ketika saya terpikir sesuatu, atau mengalami sesuatu, saya akan menulisnya, dan tanpa pikir panjang langsung mempostingnya. Saya, sejauh ini sebenarnya tak terlalu memikirkan apakah tulisan saya memberi manfaat bagi orang lain atau tidak. Ini benar. Saya menulis sejauh ini demi kesenangan pribadi. Saya senang ketika saya menelusuri pikiran saya, tiba pada satu kesimpulan, kemudian mempostingnya di sini.
Kadang kedengaran…

Person Of The Week: Albert Einstein

Albert Einstein

"Try not to become a man of success, but rather try to become a man of value". 
Pertama kalinya dengar kalimat ini sewaktu nonton filmnya Simon Pegg: "How to loose friends and alienate people". Keliatan kan dari judulnya kalau film ini termasuk film komedi (kocaknya parahh!). Kalau saya perhatikan, garis besar film ini sepertinya ada pada kalimat ini yang sempat terselip di salah satu dialognya. Tidak, kita tidak akan membahas film itu di sini. Saya ingin membahas Einsteinnya.

Omong-omong soal sukses, siapa coba yang tidak ingin menjadi orang yang sukses? Saya sendiri pun ingin menjadi orang yang sukses. Memangnya siapa pula yang mau gagal? Dan menurut saya sendiri, Einstein termasuk orang yang sukses. Dia itu satu dari sedikit orang yang benar-benar-benar sukses. Oh ayolah, dia termasuk Ilmuwan terbesar yang pernah kita miliki. Jadi, apakah gerangan yang membuat Einstein lebih mengutamakan "value" daripada "success"?
Pernah saya…

Asing

Oke, saya mau cerita tentang masa kecil saya lagi...

Salah satu kakak saya punya sebuah walkman berwarna hitam. Kebetulan walkman ini jenis jadul yang bisa dipakai untuk merekam. Saya memanfaatkan kaset-kaset lama untuk merekam suara saya dan suara-suara di sekitar rumah. Kaset-kaset yang benar-benar sudah lama dan tidak disetel oleh siapapun lagi. Bahkan mungkin terlupakan (saya curiga hanya saya seorang yang menyadari keberadaan kaset-kaset itu).

Kaset-kaset ini diletakkan di dalam laci bersama sisir, spidol-spidol tanpa tutup, gulungan benang, potongan kapur tulis, pensil patah, dan kadang ada biji Srikaya dan Nangka (Di halaman rumah ada tiga pohon nangka dan satu pohon Srikaya. Dan saya adalah orang yang paling bertanggung jawab mengapa biji Nangka dan Srikaya bisa berada di tempat-tempat tertentu di dalam rumah/termasuk laci)

Ehm, kembali ke soal rekam-merekam tadi....  Tanpa tujuan saya akan berkeliling rumah dan mulai merekam.

Saat distel kembali, biasanya bagian yang paling ti…

Nostalgila

Gambar
Jadi, di Kosan saya tuh ada kotak kaleng roti berwarna merah. bertuliskan Khong Guan dan berdebu. Bertahun-tahun ga disentuh, ditindih oleh kaleng lainnya yang juga tidak kalah berdebu. Saya ingat dulu sewaktu saya dengan antusias bawa kaleng merah itu dari rumah saya di Lombok. Kakak saya yang ke lima heran, ngapain saya bawa-bawa kaleng kaya begitu jauh-jauh dari Lombok. Dia juga penasaran sebenarnya kamar kos saya di Jogja seperti apa sih.. hehehe.

Ehm, waktu dibawa, kotak kaleng itu masi berisi snack buatan kakak saya. (saya belum cerita ya, kalau orang-orang di rumah, terutama kakak saya yang ke tiga jago masak? Almarhumah Ibu saya juga dulu sering menerima pesanan makanan atau jajan saat menjelang lebaran). Kembali ke kaleng merah ini tadi... kaleng itu saya manfaatkan untuk menyimpan kertas-kertas, buku gambar kecil, dan kertas-kertas lagi, notebook kecil berisi catatan-catatan ga jelas (saya hobi mencatat ga jelas), dan lagi-lagi; kertas-kertas :))

Tapi akhirnya yang paling me…

Berubah (2)

Dulu aku punya teman kerja yang tidak disukai oleh hampir semua teman-teman di sini. Termasuk aku. Alasannya, kalau jaga sama dia, bawaanya capek sendiri. Orangnya malas dan kadang seperti asik sendiri dengan dunianya. Meski ditegur langsung kadang tidak ada efek sama sekali. Tapi karena manusia mempunyai kemampuan untuk berubah, dia akhirnya berubah. Aku sendiri tidak tahu apa yang membuatnya berubah menjadi lebih rajin dan lebih tanggap. Tahu-tahu dia berubah dan kebagian sift dengannya jadi jauh lebih menyenangkan.

Sebenarnya sebelum dia berubah, sewaktu dia masih menjengkelkan dan pemalas, dia sendiri paling senang jaga denganku. Dan dia pernah menyatakan ini secara langsung kepada ku. Dalam hati aku cuma bisa berkata “astaga, ini bencana!”. Tapi ya itu tadi, sekarang anak ini menjadi lebih rajin. Bukan sikap rajinnya itu yang paling membuatku salut. Tapi kemampuannya untuk berubah.
Aku sendiri kadang tidak sanggup menyadari semenjengkelkan apa aku bagi orang lain. Kadang meski k…