Balada Blogger yang Suka Sok Bijak

Katanya, tidak ada yang lebih rumit di dunia ini selain manusia. Termasuk blogger, tentu saja! Blogger juga manusia dan kita ini sangat rumit. Lihat saja bagaimana kita tanpa kenal lelah memposting tulisan, membagi pengalaman dan pikiran kita, saling mengomentari, sesekali berdebat, saling memuji dan di lain waktu; berkonflik.

Meski dulu saya pernah berkata bahwa saya ngeblog sambil belajar menulis, atau karena saya suka menulis, tapi sekarang saya sudah tidak tahu lagi apa persisnya alasan saya ngeblog. Kenyataannya saya memang tak terlalu memikirkan hal itu lagi. Ketika saya terpikir sesuatu, atau mengalami sesuatu, saya akan menulisnya, dan tanpa pikir panjang langsung mempostingnya. Saya, sejauh ini sebenarnya tak terlalu memikirkan apakah tulisan saya memberi manfaat bagi orang lain atau tidak. Ini benar. Saya menulis sejauh ini demi kesenangan pribadi. Saya senang ketika saya menelusuri pikiran saya, tiba pada satu kesimpulan, kemudian mempostingnya di sini.

Kadang kedengarannya sok bijak. Sesekali saya menyesal pernah memposting suatu tulisan. “Mestinya kemarin aku tak menulis seperti itu,” sesalku. Kadang perasaan saya juga tak enak ketika melakukan satu hal yang tidak sesuai dengan apa yang telah saya tulis. Menulis adalah satu hal, dan menerapkannya di kehidupan nyata adalah hal lain (biasanya lebih sulit).


Tapi adakalanya saya pun bersyukur atas rasa cemas itu. Bukan, bukan berarti saya merasa cemas sepanjang waktu. Perasaan cemas yang saya maksud di sini adalah ketika saya melakukan kesalahan. Saya merasa dituntut bertanggung jawab, bukan kepada siapa-siapa, melainkan kepada diri saya sendiri. Meski sebagian orang yang mengenal saya mungkin menganggap spirtitualitas saya sangat buruk, paling tidak, saya punya nilai-nilai yang saya pertanggungjawabkan. Saya tidak akan mencuri, berusaha sebisa mungkin untuk jujur, berusaha jadi orang baik, dan meminta maaf jika saya melakukan kesalahan. Saya tidak melakukan itu demi siapa-siapa atau demi apa-apa. Bukan demi surga ataupun rasa takut saya pada neraka. Tapi, karena memang itulah yang perlu dilakukan.

Ehm sok bijak...

Saya tidak berbicara tentang Tuhan, karena tidak banyak yang saya tahu tentangNya. Maksud saya, daripada membual, lebih baik saya diam sajalah. Biar kebingungan-kebingungan itu saya simpan sendiri dan cari sendiri. Ini semacam petualangan seumur hidup yang harus kau lakukan sendiri, bukan diserahkan kepada orang lain (dan tolong jangan campuri urusan saya dalam hal ini).

Ehm, mulai sok bijak lagi....

Apa yang saya maksud adalah, memiliki blog membuat saya lebih bertanggung jawab; atau punya sesuatu untuk dipertanggungjawabkan kepada diri sendiri. Pembaca mungkin tak terlalu peduli karena mereka punya urusannya sendiri. Menulis postingan-postingan sok bijak di sini seperti menyusun anak tangga. Bagian terpentingnya adalah bagaimana tetap melangkah naik di anak-anak tangga yang telah disusun itu. Sesekali kita mungkin terjatuh, melakukan kesalahan, berbuat jahat, tidak konsisten, dan sebagainya. Tapi itu bukan berarti kita tidak bisa bangun lagi, kan?

Mungkin itu sebabnya si Einstein menggunakan kata 'try' untuk mengawali kata-katanya dalam: “try not to become a man of success, but rather try to become man of value.”

Ketika kita memilih 'man of value' hidup merupakan percobaan-percobaan yang tak pernah selesai. "TRY." Berbeda dengan menjadi sukses. Banyak orang yang sukses, punya segalanya, dengan kekayaan yang tak habis sampai 7 turunan. Kalau sudah begini, bukankah dia bisa berhenti mencoba saat itu juga? Untuk apa mencoba menjadi sukses kalau dia sendiri sudah sukses? (Namun tetap saja saya mau sukses dan kaya raya, hehehe). Tapi untuk menjadi orang yang punya nilai, kita tak akan pernah berhenti. Dan sesuatu yang tak berhenti adalah sesuatu yang hidup.

Then, that is all about!!

Menjadi orang yang memiliki nilai menjadikan kita lebih hidup. Terutama ketika nilai-nilai itu kita pikirkan sendiri, kita usahakan untuk temukan sendiri, tanggung jawab kita tentunya jauh lebih besar. Atau, hubungan kita dengan nilai-nilai itu jadi lebih personal. Bukan didasari atas rasa takut (neraka) ataupun rakus akan nikmat (surga), tapi karena kita memang ingin mengisi hidup kita sebagai orang baik-baik. Jadi, siapa bilang ngeblog itu kebiasaan buruk, eh?



Sekarang saya mulai berpikir, saya ini kok sok banget ya nyebut-nyebut tulisan saya di sini punya 'nilai'?


>>hmm... panjang ya??
.





Komentar

  1. eaaaa..... udah posting ternyata.....

    BalasHapus
  2. emmm...jadi intinya apa ya Hud???
    kalo aku sih nulis ke blog lebih ke cerita pengalaman aja...yang menurut aku emang layak untuk dibagi ke orang lain... ato sekedar nuangin uneg2.. ya walo kadang2 nyampah... (ato malah keseringan nyampah ya?)
    tapi sebisa mungkin gak terlalu buka2 ruang privasi, soale kan ga nyaman juga dibaca banyak orang...haha

    BalasHapus
  3. eh, intinya apa ya? hahaha. jadi malu. #berasa nyampah banget.

    saya kan sering sok bijak kalau nulis^^

    BalasHapus
  4. yah,alngkah bijaknya kita punya nilai dihadapan Tuhan

    BalasHapus
  5. memang berat jika tulisan kita banyak mengandung nasehat atau kata bijak .. kita di tuntun untuk berperilaku setidaknya seperti apa yang kita tulis tersebut ..

    sempat saya berpikir ketika seorang blogger pernah menyebut

    'tulislah hal yg bermanfaat bagi pembacamu'

    hal itu yg membuat saya terbebani dalam menulis .. tapi akhirnya .. kesenangan jari di atas keyborad lah yg memenangkan pergolakkan antara manfaat buat pembaca dan kesenangan pribadi.

    (halah ngomong opo iki)

    BalasHapus
  6. I-one@
    iya...
    dan yang ga kalah penting juga punys nilai bagi diri sendiri.

    hoedz@
    betul betul betul...
    tapi itu bukan berarti kita harus cari aman terus. sometime you need to tell what(you think) is right....

    selama ini (sebisa mungkin), aku menulis berdasarkan pengalaman dan apa yang kupikirkan. Ga ada tendensi nyuruh orang begini begitu sih.

    BalasHapus
  7. Mas Huda, perasaan itu saya rasa manusiawi. Apalagi jika kite menulis di blog personal yang pastinya menulis bercampur dengan mood. Beda soal bila blog itu benar2 diarahkan profesional (monetasi misalnya).

    Nah, menulis juga sebuah progres. kadang saya juga geli sendiri dgn tulisan2 blog yang dulu. Sampai mikir, pas nulis ini saya lagi ngerasa apa ya? :D Dan fluktuasi mod memang ada. Jadi ya manusiawi lah.

    So, sok bijak? Siapa takut?
    Just write and proggress!

    BalasHapus
  8. mas Darin@
    owh begitu y? fyuuh syukurlah.... kadang saya merasa sangat buruk, tapi lebih sering geli sendiri, hehehe

    trims atas kunjungannya mas..
    :)

    BalasHapus
  9. Semakin sering dan banyak menulis beban itu semakin berat. Itulah yang kurasakan juga. Kita memang bisa mengelak seperti kata Mas Huda: "Menulis adalah satu hal, dan menerapkannya di kehidupan nyata adalah hal lain".

    Benar, namun secara moral paling tidak kita harus bisa mempertanggyngjawabkan dari setiap apa yang kita tulis kepada orang lain (pembaca). Salah satunya apa yang kita tulis seharusnya juga tercermin dan sesuai dengan tindakan kita.

    Saya pernah membaca alasan seorang blogger yang mengatakan begini: Saya menulis untuk diri sendiri. Mau dibaca orang lain apa tidak tak masalah. Tetapi tentunya kita tetap tak bisa melepaskan diri dari tanggung jawab itu. Jika tulisan kita membuat orang bingung dan bertanya tentu kita wajib untuk menjawabnya. Jika tulisan kita membuat orang jadi tersesat kita punya tanggung jawab untuk menunjukkan jalan kepadanya. Karena, kita sudah memaparkannya ke internet, ke publik. Betul?

    Akh, sebegitu beratkah tanggung jawab seorang penulis sampai harus seberat itu tanggung jawabnya? Saya pun kadang antara bingung dan tak sanggup kalau pertanyaan itu ditanyakan kepada saya.

    BalasHapus
  10. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  11. mas Joko Sutarto@
    "Menulis adalah satu hal, dan menerapkannya di kehidupan nyata adalah hal lain", sebenernya di kalimat ini saya ga bermaksud mengelak^^V

    Maksud saya: lebih gampang nulis, daripada mempraktikkan. Sekarang saya nulis kaya gini, tapi di kehidupan nyata belum tentu saya sanggup mempraktikkannya (kira-kira seperti itu yang saya maksud). Pengakuan aja sebenarnya.

    berat juga ya, kalau bicara tanggung jawab? kalau seandainya seperti Gandhi yang ga makan garam, berarti Blog ini harus dikosongkan dulu :(

    tapi saya kembali ke kata TRY itu tadi. Hidup ini percobaan-percobaan.

    mengenai tanggungjawab ke sidang pembaca, sebenernya sebagai pembaca juga harus bijak kan? kalau yang nulis bilang A kita tidak lantas langsung ngikut A. Apa yang dia tulis sepenuhnya penglaman dia pribadi. Bisa saja kita menghadapi pengalaman yang mirip, atau bisa saja tidak.... every single moment is unique :)

    makanya tanggungjawab terbesarnya masih ke si penulis pribadi.

    BalasHapus
  12. Benar, Mas. Saya setuju sebagai pembaca kita juga harus bijak dan perlunya untuk memverifikasi dan mengcompair lebih dulu setiap informasi yang kita baca dengan sumber-sumber lain.

    Nah, sebagai blogger (penulis) agar kita dibebaskan dari tuntutan karena dianggap memberi informasi yang (barangkali) ada yang keliru bahkan menyesatkan maka di blog saya, saya perlu tegaskan itu di dalam Disclaimer.

    BalasHapus
  13. saya baru saja baca Disclaimernya. hehehe. SALUT.
    :)

    BalasHapus
  14. menulis, saya punya pandangan sendiri tentang hal ini. saya pernah dikritik masalah gaya penulisan saya yang terkesan berbeda dengan gaya asli saya di dunia nyata. lalu saya bilang 'padahal saya udah mencoba sejujur jujurnya, sebisa saya, kalopun berbeda dengan saya yang didunia nyata, emang kenapa?'. dan dari sinilah saya punya sebuah teori (halah), yaitu: seseorang akan lepas dari dunia nyata ketika sedang menulis, dia akan berubah menjadi dia yang berbeda, dia didunia tulisannya (ngerti ngga loe sob?). berarti kita sama, ngeblog buat belajar menulis... hauhauhuahuah


    dan masalah sok bijak, itu adalah pilihan. kadang saya juga sering ngomong sok bijak tentang ini tentang itu, padahal saya ngga pernah ngelakuin apa yang saya katakan. sebagai contoh, teman saya orang tuanya meninggal, terus saya nasehati teman saya supaya jangan menangis. tapi apakah saya ngga akan menangis ketika ortu saya meninggal?. sekian komen kali ini... huahuhauhauhauh

    komen saya OOT ngga ya?

    BalasHapus
  15. eks@
    hehehehe
    iya saya paham...


    omong2 soal sok bijak, iya juga ya? ga cuman di tulis-menulis, di keseharian juga kita sering sok-sok an nasihatin orang, padahal kita sendiri belum tentu sanggup melakukannya.

    BalasHapus
  16. assalamu'alaikum..

    beuh,iya jeung,postingannya mayan panjang.tpi tetap harus saya slesaikan,biar gak nye-pam! ohooo

    tadi mo komen apa yaah?(masalahnya dari paragraf awal sampe akhir pengen dikomenin semua) -,-'

    dulu,saya sempat merasa menjadi orang yang munafik,ketika menyampaikan sesuatu(berkata-kata bijak)pada orang lain,tapi saya sendiri belum melakukan.namun,seorang teman berkata "kalau saling nunggu,lantas kapan dong kita bisa saling mengingatkan?ntar keburu dunia kiamat".

    well,cukup menenangkan. sampaikanlah walau 1 ayat. isn't it?

    *horeeee komen saya panjang x lebar!!*

    :p

    BalasHapus
  17. Bagiku, yang paling mengasyikkan dari blogging adalah mengurangi rasa takut terhadap mati. Bukankah melalui tulisan, kita bisa hidup "selama-lamanya"?

    BalasHapus
  18. ada satu lagi kata-kata dari orang yang bikin gw kesel: blogger itu katanya suka ngomongin dan gosipin orang. Itu dia yang bikin gw kesel, hud. padahal selama ini yang tulis semata-mata hanya mau berbagi doang. siapa tau kalian dapat suatu pembelajaran dari tulisan2 gw di blog. just it!!!!

    BalasHapus
  19. hem .... saya ngeblog awalnya malah bertujuan ingin menyebarkan kegalauan di jagad maya dengan kahadiran intikali :P

    BalasHapus
  20. ngeblog --> kebiasaan buruk? sapa yang nyletuk?

    ngeblog iku ekspresi...kalau dari caramu berekspresi tadi tak bernilai, ya itu kamu... bisa saja orang lain terpengaruh atau sebaliknya orang lain sadar karenamu...semakin aneh komenku >.<

    BalasHapus
  21. nggak papa kali sok bijak. saya sering juga gitu, tapi biasanya malu sendiri kalo ada temen nyeletuk ngembaliin kata-kata kita ketika kita tidak berbuat sesuai yang kita katakan..

    tapi itu proses kan, toh masih akan terus berlanjut.. jadi peduli amat orang mau bilang apa, toh blog ini juga milik sendiri.. hahahaa

    BalasHapus
  22. Komentar Eks itu benar, ada kalanya karakter kita (terlihat) berbeda antara di dunia nyata dengan yang ada di tulisan. Tetapi, sesungguhnya, itu bukan semacam "pembohongan" terhadap publik atas diri kita, melainkan justru kejujuran kita dalam mengungkapkan diri kita sendiri.

    Raditya Dika, misalnya, aslinya orang yang serius. Tapi dia menulis sambil cengengesan, dan para pembacanya pasti akan menyangka kalau dia orang yang setiap hari cengengesan. Sebaliknya, kebanyakan orang mengira saya orang serius, karena tulisan-tulisan saya dianggap serius. Padahal, saya banyak cengengesan, khususnya dengan teman-teman dekat.

    Tentu saja kenyataan di atas tidak bisa dibilang sebagai "pembohongan". Saya sendiri menganggap kenyataan semacam itu sebagai pengungkapan sisi lain dari seseorang, dimana orang yang menulis dapat melihat dirinya sendiri secara lebih utuh. Karenanya, jika mau disimpulkan, maka aktivitas menulis adalah proses seseorang dalam mengenali diri sendiri.

    *Blogger sok koment*

    BalasHapus
  23. gapapa lah sekali2 sok bijak. kan ga mungkin orang tiba2 menjadi bijak begitu saja. dan kalo aku bilang jangan punya motif terlalu berusaha menjadi bijak juga, karena bisa2 jadi memuakkan soalnya ujung2nya jadi membohongi diri. yang penting mengusahakan yg terbaik yg bisa kita lakukan.

    #ah ini dia sok bijak.padahal aku suka males mengusahakan yg terbaik.huhuhu

    BalasHapus
  24. Saya juga nulis karena senang dan terus belajar. Sering kali punya ide ini-itu tapi cuma mampir di angan-angan. Setelah beberapa hari lewat, baru nyesal kenapa nggak diposting.

    Makanya sekarang sy segera nulis apa yang di benak. kalau nggak pengen diposting sekarang, kan bisa diatur terposting pada tanggal dan hari yang saya pengeni. Pokoknya jangan sampai ilang qe3

    BalasHapus
  25. komentar Hoeda Manis itu benar. menulis adalah proses dimana kita sedang berusaha untuk mengenali diri sendiri. mengenali diri sendiri saya rasa sedikit lebih sulit daripada mengenal orang lain... dst.

    BalasHapus
  26. all@

    terima kasih banyak semuanya atas komentar kalian..:)





    *sudah berusaha membalas satu persatu/ tapi gagal terus T.T, sudah saya coba dua kali, moga aja yang ini berhasil.

    BalasHapus
  27. aaargh siaaaul, giliran komen pendek berhasil...(_ _")

    BalasHapus
  28. mau komentar tapi gak jadi, dihapus. sepertinya bakal panjang. hehehe..

    nikmati hidup-mu aja lah, Hud. Selama itu tidak merugikan orang lain dan menyenangkan bagi dirimu sendiri. hehehe...

    BalasHapus
  29. sulhan habibi@
    hahaha, makasi bang!

    BalasHapus
  30. ya ga pa-pa lah Huda...., menganggap sok tulisan diri sndr pny nilai itu bagus.. drpd gak nulis sama sekali..hehehe, spt prinsip sy selama ini'lebih baik ge-er drpd minder' wkwkkwk

    BalasHapus
  31. mb tiwi@
    lebih baik GR daripada minder? setojoooooooooooooooooh
    wkwkwkwkk

    BalasHapus
  32. baru nyadar kata2nya yus bagusss juga yang itu. cocok dipake sebagai pembelaan para blogger nih. hehehe

    izin kopas yo hud... ^^v

    BalasHapus
  33. komennya yus gw kopas ke salah satu post gw. hehehhe


    http://emmanuelthespecialone.blogspot.com/2011/06/best-quote-from-blogger.html

    BalasHapus
  34. nuel@
    hayoo hati-hati, jangan-jangan ntar kamu jadi ngefans sama dia.. hehehe

    >>kalau mau ijin copas jangan ke saya. berhubung itu kata-katanya si yus. (tapi kayanya dia ga bakal keberatan).

    BalasHapus

Posting Komentar