Berubah (2)

Dulu aku punya teman kerja yang tidak disukai oleh hampir semua teman-teman di sini. Termasuk aku. Alasannya, kalau jaga sama dia, bawaanya capek sendiri. Orangnya malas dan kadang seperti asik sendiri dengan dunianya. Meski ditegur langsung kadang tidak ada efek sama sekali. Tapi karena manusia mempunyai kemampuan untuk berubah, dia akhirnya berubah. Aku sendiri tidak tahu apa yang membuatnya berubah menjadi lebih rajin dan lebih tanggap. Tahu-tahu dia berubah dan kebagian sift dengannya jadi jauh lebih menyenangkan.

Sebenarnya sebelum dia berubah, sewaktu dia masih menjengkelkan dan pemalas, dia sendiri paling senang jaga denganku. Dan dia pernah menyatakan ini secara langsung kepada ku. Dalam hati aku cuma bisa berkata “astaga, ini bencana!”. Tapi ya itu tadi, sekarang anak ini menjadi lebih rajin. Bukan sikap rajinnya itu yang paling membuatku salut. Tapi kemampuannya untuk berubah.

Aku sendiri kadang tidak sanggup menyadari semenjengkelkan apa aku bagi orang lain. Kadang meski kita tahu diri kita menyebalkan bagi orang di sekitar kita, kita menolak untuk berubah. Meski saat itu berubah adalah jawaban yang paling masuk akal. Kadang kita merasa terhina untuk berubah demi orang lain. Jauh lebih gampang untuk berkata, “aku orangnya memang seperti ini!” yang secara tidak langsung berarti, “kalian harus mengerti dan menerimaku apa adanya, semenyebalkan apapun aku!”.

Saat kita memilih berubah untuk lebih rajin atau lebih teratur, misalnya, kita merasa telah kalah. Atau mungkin kita kesal karena orang lain menemukan kekurangan kita lebih dulu daripada diri kita. Yah tidak apa-apa kalau itu tidak merugikan orang lain. Tapi kalau kebiasaan atau sikap kita menyusahkan orang lain, memang harus berubah juga kan?

Walaupun demikian, tetap saja masih ada yang membenci teman saya ini. Dalam hal ini, menurut saya dia (teman saya yang membenci itu) tidak ingin mengubah sudut pandangnya. Baginya, sekali saja teman saya ini bodoh dan malas, selamanya dia adalah bodoh dan pemalas. Dia juga selalu menolak kebagian sift dengan teman saya itu. Yah, manusia memang rumit, tidak terkecuali operator warnet.

Untungnya teman saya, pahlawan kita, yang sudah berubah ini tidak terlalu ambil pusing dengan anggapan teman saya yang membencinya itu.  Mau bagaimanapun juga kita memang tidak bisa memaksa semua orang menyukai kita. Membuat semua orang menyukai kita sama mustahilnya dengan menyukai semua orang sekaligus. Dan lebih mustahil lagi untuk menuntut orang agar sesuai standar kita.

Mungkin itu bedanya berubah yang didasari atas perkataan orang lain dengan berubah atas kesadaran sendiri. Kalau kita berubah demi perkataan orang lain, selamanya kita akan tertekan. Belum tentu orang yang memberitahukan pendapatnya pada kita benar-benar menginginkan perubahan positif pada diri kita. Bisa saja ia menyampaiakannya hanya untuk melampiaskan stressnya, atau hanya untuk menyampaikan pendapat subyektifnya tentang apa yang dia suka dan tidak suka pada kita (dan ini sama sekali tidak penting).

Namun kalau kita berubah karena sadar memang sudah waktunya berubah, entah orang suka atau tidak, kita pun berubah.

Yang menjadi masalah, ketika kita tahu bahwa sudah waktunya untuk berubah, namun kita menolak untuk berubah karena kita merasa terhina, atau mungkin kalah. Kadang kita mendefinisikan diri kita dengan cara tertentu. Saat kita memilih berubah, definisi ini goyah dan kita bukan lagi diri kita. Dan hal ini membuat kita takut untuk berubah.

Dan menurutku, hal lain yang juga tidak kalah penting adalah, terbuka atas perubahan yang dilakukan orang lain.

Komentar

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  3. kayaknya temen2mu yang ga mau mengubah cara pandangnya itu mesti dipinjemin buku si cacing deh. good bad who knows. :p *keracunan si cacing*

    BalasHapus
  4. eks@
    wow! hebat!!
    iya deh, saya percaya.

    Cho@
    hahaha...
    sebenernya yang masih ngotot cuman satu orang doang ko'. yang lain sudah fine2 aja...
    *^^keracunan ya?

    BalasHapus
  5. sekarang saya juga berubah
    dari terang menuju gelap (template blogku)

    BalasHapus
  6. joahn terro@
    hmmm... apakah template anda mewakili kepribadian anda?
    :P

    BalasHapus
  7. wah ngomongin BERUBAH! saya jadi ingat sama SailorMoon,Satria Baja HItam dan Power Rangers! haha *upz maap*

    intinya, perubahan mang penting, dan menjadi sangat penting untuk berubah menjadi lebih baik.

    "TODAY Must Be Better Than Yesterday, Isn't It???"

    BalasHapus
  8. maaf baru mampir lagi, ternyata templatenya sudah ganti ya?

    hebat juga temenmu itu, biasanya orang ngga mau berubah (atau susah untuk berubah) karena ngga mau meninggalkan zona nyaman. tapi salut deh untuk orang2 yang bisa berubah, terutama ke arah yang lebih baik :)

    BalasHapus
  9. waah sudah dewasa temanku yang satu ini.. ^_^

    haha.. memang berempati dan memiliki toleransi tuh penting kalo membina hubungan apalagi dengan "musuh"mu.

    di Sun Tzu pernah dikatakan, bertemanlah dengan musuhmu.. maka kamu akan menang.

    #sebenernya nyambung nggak sih sama isi postingan?

    BalasHapus
  10. yang paling hebat tuh hud kalo kitanya yang bisa nyesuain diri dengan orang lain, bukan orangnya yang nyesuain diri dengan kita.

    BalasHapus
  11. Yang nggak pernah berubah hanya perubahan, yakni bahwa dia tetap menuntut siapa pun untuk berubah. Kalau nggak mau berubah, kapan pun waktunya perubahan pasti akan menuntutnya berubah. *Hah, ngomong apa sih ini?*

    BalasHapus
  12. hadoooh. itu komen saya apus aja ahh. komennya cuman masuk dikit, padahal saya komen panjang lebar ~_~,

    BalasHapus
  13. ^^KoskakiUngu^^@
    yak betul,berubah itu penting! sekarang Ungu besok PInk ma Ijo yah...^^

    Sapidudunk@
    :)
    trims sudah bersedia mampir lagi...

    Gaphe@
    tumben...
    komennya bijak gitu, hahaha

    Nuel@
    wohoo, betul-betul betul...
    hebat! kalimatmu ngena' banget.

    HoedaManis@
    hahha, makasi mas..^^V

    Yen@
    heheheh, hayoo ada apa neh sama Yus?? suit suiiiit
    #bikingosipbaru

    Eks@
    hahaha...
    sabarlah anak muda....

    BalasHapus
  14. Sebuah ironi! Kadang faktanya begitu, kita sudah berubah menjadi baik tapi orang lain tetap mencap buruk kita.

    Kalau sudah seperti itu pertanyaannya siapa yang tak mau berubah?

    BalasHapus
  15. Joko Sutarto@
    Iya mas.... kadang orang ingin melihat apa yang ingin dia lihat. akhirnya ada perubahan atau tidak, baginya sama saja...

    trima kasih ^^

    BalasHapus
  16. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  17. Yen@
    nah lo?
    ikut2an ngapus komen kaya si alis tebel.
    ada apa ini ada apa ini? hahaha

    BalasHapus
  18. ahahaha..sepertinya saya menemukan bakat mas Huda yang lain nih :p

    BalasHapus
  19. YeN@
    bakat apa YeN? bakat menebak kebenaran? bkat mencomblangin orang?

    yang pasti bukan bakat nggosip kan maksudmu? #jupuk watu

    BalasHapus
  20. ah?!? ehmmm...ga jadi deh #takut dilempar batu, haha :p

    BalasHapus
  21. YeN@
    hehehehe... gag kok, ga jadi ngambil batunya, saya mungutnya batako kok....

    BalasHapus
  22. ooh..yg diambil jadi batako.. #kabur diam2

    BalasHapus
  23. YeN@
    where are you going honey?? don't leave me alone... #ngejer YeN dengan batako digenggaman

    BalasHapus
  24. beli permen bentaarr!!! #kaburnya makin kenceng

    BalasHapus
  25. YeN@
    ikuuuuuut.... #mengejar semakin kencang

    BalasHapus
  26. boleh, tapi batako nya taruh dulu ya.. #membujuk dgn senyum manis :p

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

10 Film Asia yang Tak Terlupakan

Sandikala

Film Korea Yang Layak Kamu Tonton