Person Of The Week: Albert Einstein

Albert Einstein

"Try not to become a man of success, but rather try to become a man of value". 

Pertama kalinya dengar kalimat ini sewaktu nonton filmnya Simon Pegg: "How to loose friends and alienate people". Keliatan kan dari judulnya kalau film ini termasuk film komedi (kocaknya parahh!). Kalau saya perhatikan, garis besar film ini sepertinya ada pada kalimat ini yang sempat terselip di salah satu dialognya. Tidak, kita tidak akan membahas film itu di sini. Saya ingin membahas Einsteinnya.

Omong-omong soal sukses, siapa coba yang tidak ingin menjadi orang yang sukses? Saya sendiri pun ingin menjadi orang yang sukses. Memangnya siapa pula yang mau gagal? Dan menurut saya sendiri, Einstein termasuk orang yang sukses. Dia itu satu dari sedikit orang yang benar-benar-benar sukses. Oh ayolah, dia termasuk Ilmuwan terbesar yang pernah kita miliki. Jadi, apakah gerangan yang membuat Einstein lebih mengutamakan "value" daripada "success"?

Pernah saya membaca biography singkatnya Einstein di buku Sejarah Fisika Modern. Jangan tanya saya kenapa saya baca buku sejarah Fisika. Kalau sudah di perpus, mood saya memang susah ditebak. Apa yang kemudian membuat saya ngefans sama Einstein adalah julukannya sewaktu dia masih mahasiswa. Ternyata Einstein itu tergolong mahasiswa pemalas (yess!). Dia juga membuat salah satu profesornya sentimen karena sering bolos (hoo hoho, yess again). Malah diilustrasinya digambarkan si Einstein lagi duduk malas-malasan di sofa (yes yes yes yess). Einstein menolak melakukan apa yang tidak dia sukai! (hahaha yess banget!)

Baiklah, mungkin kegirangan saya berlebihan. Einstein mungkin malas kuliah karena kemampuannya memang melampaui apa yang diajarkan di kelas, sementara saya sendiri malas kuliah karena emang dasar pemalas saja, hahaha. Kadang malah ga dong ma penjelasan dosen karena keasikan ngelamun dan menggambar. Sangat berlebihan kalau saya melegalkan sikap malas saya dengan kemalasan Einstein semasa kuliahnya dulu. (Einstein said: "sori Hud, kita ga level!")

Tapi tahu tidak, di buku itu, dikatakan lebih lanjut kalau si Einstein memang cenderung memikirkan apa yang tidak dipikirkan oleh orang lain. (meskipun di situ ada bejibun penjelasan tentang teori relativitas, tetap saja saya ga ngerti). Intinya nih, apa yang membuat Einstein jenius adalah cara berpikirnya berbeda dengan orang kebanyakan, atau ilmuwan pada masanya. Yups, kelebihan yang mendorongnya menemukan teori itu ternyata karena ia memikirkan apa yang orang lain tidak pikirkan. Jadi, sewaktu teorinya ketemu, orang-orang hanya bisa ber ooo panjang (dan mungkin jengkel karena hal semacam itu tak terpikirkan oleh mereka).

Sekarang, setelah mendengar kutipan itu dan tahu sedikit latar belakangnya Einstein, saya merasa tahu apa alasannya Einstein tidak terlalu mementingkan "success". Atau anggap saja ini hipotesis saya pribadi. Tapi coba deh bayangkan, kalau seandainya Einstein bercita-cita menjadi orang sukses seperti orang kebanyakan. Bayangkan kalau dia pun berhasrat untuk menjadi profesor terpandang seperti yang diinginkan oleh teman-temannya.

Mungkin dia akan rajin kuliah, tidak pernah nitip absen, serta membaca buku yang sama dengan yang dibaca teman-temannya. Dia akan mencoba menjalin hubungan yang baik dengan birokrasi kampus agar proses lulusnya dipermudah. Dengan begitu dia akan wisuda dengan IP cumlaude dan mungkin menjadi dosen muda di kampusnya.

Bagian terburuknya, karena ia membaca buku yang sama dengan buku yang dibaca teman-temannya, mendengarkan kuliah yang sama dengan yang didengar oleh teman-temannya, dia pun berpikir seperti teman-temannya. Dan karena tak ada yang memikirkan apa yang tak dipikirkan orang lain, maka teorinya yang hebat itu tak akan ditemukan. Atau mungkin akhirnya teori itu ditemukan oleh orang lain,  entah siapa; seseorang yang tak berhasrat menjadi sukses, dan cukup jenius tentunya.

Lagipula, kalau dipikir-pikir, orang sukses itu sudah banyak. Di setiap sudut kota pasti ada orang suksesnya. Di setiap penjuru dunia, mau itu negara kaya atau miskin pasti ada orang suksesnya. Tentu saja pengertian 'sukses' di sini dalam pengertian yang sudah kita ketahui bersama (ga usah dijelasin, ntar jadi panjang).

Lagipula, pertanyaan yang tidak kalah penting adalah, emang man of value itu yang kaya gimana yak? Jawaban tidak bertanggung jawabnya: google sendiri dan simpulkan sendiri :P. Jawaban man of value-nya: Iya, nanti kita bahas (kapan2 :'P).

#makasi bagi yang sudah sudi membaca.
.

Komentar

  1. yaaah malah ninggalin PR neh -,- hehe
    salam

    BalasHapus
  2. Einstein memikirkan apa yang tidak dipikirkan oleh orang lain.

    Itu mirip dengan kebiasaan orang kreatif -- Berpikir, bertindak dan melihat dari sudut pandang yang tak biasa seperti orang kebanyakan.

    Pada saat kita memposisikan sebagai blogger (penulis) sebetulnya kita pun sudah mirip dengan tindakan Einstein itu. Betul?

    BalasHapus
  3. Malam...Huda, hmmm, kalau mau bertanya bagaimana sih man of value itu? atau mau bertanya bagaimana sosok einstein apakah sudah memenuhi kriteria sukses?..haha ntr kolom komen ini gak cukup.. sedikit dr pendapat saya tentu dr pendapat seorang wanita yg tlh berkeluarga: man of value adalah di saat seseorang tlh melakukan sgl kewajibannya dg sgl konsekuensinya jd dia bs memenuhi tanggung jawabnya scr real dan utuh, tdk plin plan. Misal: tanggung jawab sbg hamba Tuhan, tanggung jawab sbg seorg pemimpin keluarga, tanggung jwb thd komitmen pernikahan bila sbg istri/suami, seorg profesinal dlm karir, bla..bla.. ohya, satu lg ada ungkapan*pribadi 'kalau tdk bisa lebih baik, maka jadilah beda'...resapi ya kalimat itu *hehehe ksh tugas nih.., udah ah, kebangun malam2 mo lanjutin tidur lg ^_^zzzzzz

    BalasHapus
  4. Retno Novitha S@
    hehehehe
    ayo gih, buruan dikerjain PR nya. wkwkwk.. salam...(begadang?)

    Mas Joko Sutarto@
    Iya benget mas. Kalau bloggernya tidak kreatif tidak eksis.

    Seringkali yang membuat saya tertarik membaca blog teman2 karena ada hal-hal baru (tak terpikirkan sebelumnya) yang saya baca di situ.

    Tapi juga tidak bisa berhenti pada tulisan juga sih. Harus diteruskan ke tindakan nyata. harus bertanggung jawab sama apa yang telah ditulis>>nulis kalimat ini sambil ngaca.

    Mb Tiwi@
    malam juga mba'...WOW, makasi atas komennya. saya jadi tercerahkan. Yups, ciri2 man of value itu adalah bertanggungjawab.

    dan makasih juga atas tugas kerennya, hehehe.


    Selamat malam semuanyaa ^^

    BalasHapus
  5. Ehhmm...
    Kalau tidak salah Enstein selalu berkata "MEGAPA DAN KENAPA?" apabila bertanya,yang pada saat itu tabu untuk dibicarakan.

    BalasHapus
  6. I-one@
    oh y?
    wow...mungkin itu sebabnya dia memikirkan apa yang tidak dipikirkan orang lain.

    BalasHapus
  7. Yang membuat Einstein "success" itu justru karena dia memburu "value". Ini berbeda dengan kebanyakan orang yang hanya mengejar "success" tapi melupakan "value".

    Umpama main basket, Einstein menujukan pandangannya ke bola, sedang kebanyakan orang malah menujukan matanya ke papan skor, tapi melupakan bolanya. Tentu yang menang Einstenin dunk.

    *Ni aku mo tidur tapi gatel pengin koment*

    BalasHapus
  8. Hoeda Manis@
    hihihi...
    siip makasi bang,
    :)

    BalasHapus
  9. gud molning...hoamhh
    postingan ini membicarakan buyut saya yah?hmmm :p
    man of value itu manusia yg bernilai (terjemahan dari Alfa Link! :D)

    MOV itu adalah jika ia bermanfaat bagi orang lain.gitu ya?gitu aja deh...

    BalasHapus
  10. ^^KoskakiUngu^^@
    iya deh kaya gitu deh...
    enaknya yang udah tidur dan baru bangun (_ _")

    BalasHapus
  11. untuk bisa keren memang harus berbeda
    namun ingat berbeda yang gimana dulu :D
    hahaha

    BalasHapus
  12. otak Einstein memiliki neuron yang lebih sedikit, sehingga lebih banyak sel glia untuk setiap neuron otaknya.

    BalasHapus
  13. Hhahaha, ketawa baca >>

    (Einstein said: "sori Hud, kita ga level!")

    Dari yg saya baca segitu Einstein jeniusnya, dia hanya menggunakan 5% dari kemampuan otaknya..

    that's amazing, berarti kita ini masih dbawah 5% dong.
    Jadi kyaknya klo mw tw atau mw jadi man of value-nya: kita harus melatih otak kita agar bisa lebih dari 5% daya kerjanya..

    BalasHapus
  14. Einstein itu klo menurutku hidup dalam kesadaran...dia sadar penuh untuk apa pun yang dilakukannya. Dia bangun.

    klo saya agak kadang bgt hidup dalam kesadaran, masih melakukan sesuatu sesuai rutinitas tanpa mau berpikir lagi sebenarnya apa yg mau dicapai atau adakah cara yang lebih baik dari sebelumnya..

    sekarang sih saya berusaha untuk sadar & bangunnnn...:)

    BalasHapus
  15. John Terro@
    hahaha..ah setiap perbedaan itu memang keren kok. tergantung kita mau melihatnya dari sudut mana
    #jadi sok bijak deh

    yayack@
    ooowh, ternyata ada penjelasannya lewat ilmu biologi gitu ya? (eh, bener kan ilmu biologi? hehehe)

    Tito@
    iya. suram juga kalau Einstein saja baru memakai 5% kemampuan otaknya. jangan-jangan saya cuman pakai nol koma doang, haha

    Rose@
    woiii banguuuuun dah jam lapan! mandi sana!! (ehm, ga lucu).

    betul juga ya. saya pun masi sering begitu. beraktifitas karena kebiasaan. saking biasanya kadang sambil ngelamun...hahaha

    ok wake up eperibadih!


    Trims all

    BalasHapus
  16. saya bingung sama man of value... saya tunggu penjelasan dari anda, :)

    BalasHapus
  17. satu lagi sifat einstein yang saya suka dan ga banyak orang tau adalah sifatnya yang anti perang. humanis banget orangnya. di situ saya salut sama beliau

    BalasHapus
  18. biar sama kayak Einstein, berarti cara pikir kita juga harus 'beda' dari orang kebanyakan :D

    BalasHapus
  19. aha...
    brarti skrg adminnya lagi tersleep..
    *ikutan ahhh-ngelirik jam,gak jadi ah,udah mo jam 6-* gak penting =.=

    BalasHapus
  20. kalo ngga salah, sewaktu pertama kali memperkenalkan teori relativitas, einstein di cemooh dan diolok-olok ya?.

    BalasHapus
  21. saat kita mencapai apa yg kita ingin kita capai maka secara otomatis kita merasakan kesuksesan karena kita telah mencapai hal itu. tapi saat kita mencapai kesuksesan di suatu hal tp hal itu bukanlah hal yg ingin kita capai maka kesuksesan itu tidak ada artinya. mungkin itu bedanya man of succes dan man of value. kalo dr contoh yg aku bilang td sih faktor yg menjadi value nya adalah passionnya (kayak di entrinya mbak ami :p), tp itu masih hanya satu faktor saja, banyak lagi yg lainnya.

    kalo ditanya knp einstein tidak terlalu mementingkan "success"??menurut saya ya karena, apalah gunanya sukses jika tidak membawa kesenangan :p

    #ah, saya jadi sok tahu nih :p

    BalasHapus
  22. ya itulah proses kreaitf dan penciptaan.. kalo emang pengen beda dan menemukan sesuatu yang besar.. mulai berpikir apa yang orang lain tidak pikirkan.. sama kayak einstein.

    itu namanya menggali potensi diri *plaak..

    jangan ditiru yang jelek, tiru yang baiknya aja...

    hayoo kuliahnya dirampungin, jangan jadi alasaan :P

    BalasHapus
  23. Imanuel@
    iya baiklah...
    tadinya saya mau nulis hal lain, tapi malah nulis yang ini, qeqeqe

    yupz. sifatnya yang humanis dan humoris juga membuat saya salut sama beliau

    John Terro@
    :D

    Maya@
    yupz.... tapi tetap kuliah yang rajin ya.. hehehe

    KoskakiUngu@
    hayoo..mau ngebolos kuliah y?

    Eks@
    oh ya?
    saya juga baru tw sekarang...
    btw, selamat atas kelulusanmu.

    YeN@
    eh, I like your comment!
    trims yo!

    Gaphe@
    hahaha, ini sebenernya ga ada hubungannya ma kuliah saya. (jadi malu). Lagian saya udah berenti kuliah, hahahaha. bukan, bukan akrena einstein, karena..rr..karenaa.. ah sudahlah.

    BalasHapus
  24. hmmm...kira-kira di dalam batok kepalanya Einstein ada apanya ya??? penasaran aku....

    BalasHapus
  25. aina@
    iya, tapi eror, bingung ngedit headernya... hahaha

    BalasHapus
  26. hahhaha.emang enstein suka nitip absen juga yak? :D

    deuu..seneng banget deh yang samaan kayak enstein.. LOL..

    BalasHapus
  27. rapi@
    hahahaha..... ya gitu deh..
    kkkk

    BalasHapus
  28. Jadi untuk jadi orang sukses jangan berfikir untuk sukses dulu yak! Fikir dulu apa yang sekarang orang gak fikirkan,, tapi ujung2nya ya bakat >.<

    BalasHapus
  29. saya juga gak pengin sukses, makanya sekarang jalan-jalan aja kerjanya, siapa tau nemu duit (yang saya pengin duit).
    soal einstein, konon dia idiot ya? idiot savant atau apa namanya, yang pada hal tertentu dia mampu melakukan yang tidak mampu dilakukan orang kebanyakan.

    BalasHapus
  30. yiahh, template baru..jangan2 sudah bisa buat tempate juga? OH nO!
    plis jangan bilang "jangan iri".. T~T

    BalasHapus
  31. wew, templatenya baru toh. keren, paling suka sama stempel thumblr nya. tapi harusnya tuh stemple ngelink ke tumblr kamu, pny tumblr ngga?

    BalasHapus
  32. niee@
    hahahaha. kan salah satu cara ngasah bakat denan cara itu..
    trims kunjungannya

    mb rifka@
    makasi mb rifka

    muhammad A VIP@
    ahaha, saa juga ga pegen sukses, yang pentig duit saya banyak..

    Koskakiungu@
    hahaha, engaa' ne downoad juga ko, belum bisa bikin ndiri

    Eks@
    hah? apaan tuh??

    BalasHapus
  33. tumblr itu semacam blog juga, perasaan belum ada sebulan, templatenya udah ganti. lagi labil y? ato lagi seneng2 surat2an? ehem. ehem.

    btw, udah baca mimpi2 einstein? :)

    BalasHapus
  34. sebenere malesmu bukan sepenuhnya 'males'

    BalasHapus
  35. ahahaha, komennya cho lucu...
    "lagi labil ya? ato lagi seneng surat2an?" ato jangan2 duadua nya?? ckckckck

    *ahhh, kecewa!padahal niatnya aq pengen di buatin templet* fiuhh

    BalasHapus
  36. cho@
    owh.... baru tw, wkwkwk
    mimpi2 einstein belum baca. kamu punya? pinjem... xixixixi

    yang Murakami aja belum habis kubaca (baru setengah)hehehe

    Ajeng@
    eh ya? hehehe
    'males' nya apa dong?

    Koskakiungu@
    beuh...
    bukannya template blogmu udah keren bgt??

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

10 Film Asia yang Tak Terlupakan

Sandikala

Film Korea Yang Layak Kamu Tonton