Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2011

The Vote Results #1

Yuhuu... sekarang ruMah reView, mengadakan  voting! Ga penting sebenernya. Dari awal semua ini memang dilatarbelakangi oleh keisengan semata. Setelah gonta-ganti template, akhirnya saya putuskan untuk nambah gadget voting di atas. Mudah-mudahan ini tidak merepotkan pengunjung --".

Dan hasilnya adalah....

Ada 27 orang yang ikut ngevote. 23 orang menyukai postingan di blog ini, 5 orang suka tampilannya yang minimalis, 4 orang suka sama saya (haahahaha senangnyaaa\^^/ #dasar jomblo; gampang banget ke GeeRan), dan 3 orang dengan jujur mengatakan ga ada yang dia sukai dari blog ini. Terima kasih semuanya...

Kesimpulan saya:

>>Pembaca setia blog ini berkisar 30 orang. Meskipun followernya 118, itu kan ga jamin mereka rutin berkunjung. Sebenernya dari dulu saya juga ga terlalu tergila-gila sama yang namanya follower. Mangkanya ga ada jaman-jaman merayakan 100 follower di sini. Saya sendiri termasuk royal memfollow blog orang lain. dan  hal itu sama sekali tidak menjamin saya bakala…

Is Studying English or other Foreign Languages decrease your Nationalism?

I have a big-big passion to study foreign languages, specially English (the second one is Spain and Japanese). Even though, I’m not going to say that I have a good English, excellence speaking and grammatically accurate (No, not yet!). Most of you would have barely laughed out if I said that. But I do, really, desire to be able to speak and write in English.
Once I’ve heard from someone, that language is confinement. The people who speak in Javanese will speak to them who speak in Javanese. The person who only speak in Bahasa, will speak to the others who understand Bahasa only. You can’t have a conversation in Spain to them who speak in Japanese. So, realize or not, this difference create barrier between us. We are imprisoned by our language ability. Learning the foreign languages is one way to break out from this confinement.

For them, who is bilingual or trilingual (able two speak in two or three languages or even more) have a wider field to interact or learning than them who only s…

Cabai: Pidato Yang Paling Saya Ingat

Saat kelas 1 SMP saya adalah anak yang rajin sekolah dan rajin belajar (percaya ga?). Saking rajinnya, saat apel upacara bendera, saya selalu menyimak pidato ibu bapak guru dengan baik. Saya tidak pernah berbuat rusuh atau berdiri di barisan belakang. Ironisnya, tak satupun pidato-pidato itu yang bisa saya ingat. Kecuali satu! Pidato ibu guru matematika saya... (semoga Tuhan mengampuni saya karena telah lupa nama ibu guru itu) Saya tidak ingat kata-perkata dari pidatonya (tentu saja). Yang saya ingat justru bagian paling membingungkan dari pidato itu.

Beliau becerita tentang cabai. "Kalian tahu cabai?" tanya beliau ke kami--saya masih bisa mengingat suaranya. Saya ingat bagaimana satu tangannya menggambarkan pohon cabai, dan satu tangannya lagi (entah yang kiri atau yang kanan) menggambarkan hujan yang menyirami pohon cabai itu. "Cabai!" setengah berteriak ia menggerak-gerakkan tangannya yang 'umpamanya' adalah pohon cabai, "meskipun disirami dengan ba…

The Pilgrimage: Ziarah

Gambar
Saya termasuk penggemar buah tangannya si Coelho. Perkenalan pertama saya dengan karya Coelho melalui The Alchemist sekitar empat tahun yang lalu. Seorang dosen pernah menyarankan buku The Alchemist saat kelas berakhir. Setelah membacanya, saya langsung memburu karya-karya Coelho yang lain. Ga selalu beli sih, 'kebanyakan minjem'. Meskipun termasuk penggemar berat (termasuk ga' ya?), harus diakui tidak semua novelnya bisa saya nikmati. Ada juga yang bikin ngantuk dan bosan. Tapi kebanyakan memang asik buat dibaca.

Kalau diperhatikan, dalam karya-karyanya banyak yang mengangkat tema perjalanan. Selain menyajikan tokoh-tokoh yang berani bermimpi, seringkali salah satu tokoh utama dalam novel-novelnya mengadakan suatu perjalanan meninggalkan kampung halaman. Ada semacam penekanan bahwa setiap perjalanan memiliki nilai spiritual.

Nah, untuk buku yang satu ini saya lumayan bingung: apakah ini sebuah novel ataukah catatan perjalanan dari seorang Paulo Coelho sendiri?

Santiago…

Quote Of The Day #5

C.Day Lewis

Kita menulis tak untuk dipahami, tetapi untuk memahami (C Day Lewis)

Entah kenapa, saya lebih suka menyebutnya jurnal daripada diary. Sebenarnya saya sendiri tidak tahu persis bedanya apa antara jurnal dan diary. Tidak, saya rasa tidak akan sama dengan ngeblog. Kalau di blog, kita tahu betul tulisan-tulisan kita akan dibaca orang lain. Meskipun kita menulis di sini demi kesenangan sendiri, tetap saja kita berharap orang lain membacanya (dan mudah-mudahan mereka menyukainya). Tapi lain halnya dengan jurnal--atau katakanlah diary--kita menulis demi kesenangan pribadi. Atau kita memang ingin membagi sesuatu dengan diri sendiri.

Dari 24 jam yang kita lewati, jarang-jarang kan kita menyediakan waktu untuk berbagi dengan diri sendiri?

Lebih sering yang saya bagi adalah kebingungan (mungkin karena saya masih muda). Dan.. apa yang dikatakan oleh si C Day Lewis ada benarnya, "kita menulis untuk memahami, bukan untuk dipahami". Seringkali, kebingungan kita terpecahkan dengan …

posting bentar: nerusin tag dari si Nuel

Etika ngeblog?

Sebenarnya saya sudah klik sana-sini. Beberapa teman yang kemarin ditag juga sudah ada yang ngepost soal ini. Posting-postingan mereka bagus-bagus dan saya tidak tahu apa postingan di sini masih dibutuhkan ^^. Well, setelah baca-baca postingan mereka, saya nemu garis besarnya ada pada hal berikut: kebebasan dan tanggung jawab! Bukannya bermaksud menyederhanakan etika, tapi yah sepertinya ujung-ujungnya akan bermuara ke dua hal tadi: bebas dan tanggung jawab.

Pertanyaan terbesarnya adalah, duluan mana "tanggung jawab" atau "kebebasan"?

kan sering kan ya, kita mendengar kata bebas bertanggung jawab. Bahwa setiap kebebasan menuntut tanggung jawab. Setiap perbuatan ada konsekwensinya. Setiap aksi ada reaksi. Tapi, kalau diperhatikan, kebebasan semacam itu tak sepenuhnya bebas. Seolah-olah tiap kebabasan itu punya beban 'tanggung jawab'. Selama ada kata 'beban' bukan bebas namanya. Mangkanya eh mangkanya, saya lebih suka kalau 'tanggung…

Main ke Ketep dan Agak Sedikit Narsis

Gambar
Astaga, sudah lama sekali blog ini terlantar. Tahu-tahu sudah tanggal sepuluh dan baru dua postingan yang sudah terbit bulan ini. Payah! Kalau begitu saya mau bercerita tentang liburan saya kemarin saja. Persisnya hari Rabu. Jarang-jarang kan saya jalan-jalan dan liburan? Jadi kali ini saya mau cerita sebentar. Kalau ceritanya kurang menarik, mohon dimaafkan.

Nama tempatnya Ketep. Berlokasi di daerah pegunungan Magelang sana. Kalau mau tahu lebih detil, kalian google saja :D. Yang pasti, Ketep ini sebenarnya bukan tempat wisata. Cuman semacam tempat istirahat dengan view pegunungan yang... mayaaan! Kita bisa melihat Gunung Merapi dan Merbabu dengan jelas dari sini. Saya tak bisa menemukan kata yang tepat untuk menggambarkan lokasi pegunungan ini, solanya tumben-tumben main ke gunung. Selama ini paling mentok tuh saya mainnya ke Kaliurang. Karena kemarin harinya cerah, gunung Merapi dan Merbabu terlihat jelas (tadinya). Saat foto ini diambil, Merapi malah sudah mulai tertutup awan.


Tuhan: percaya atau tahu?

.
Kalau diingat-ingat saya masih ada satu hutang sama pembaca blog ini. Itu pun kalau masih pada ingat. Jadi dulu, saat pertama kali nulis postingan bertema: person of the week, saya memilih OSHO sebagai orang pertama untuk dibicarakan. Sampai kemudian ada salah satu komentar yang meminta saya, kalau bisa, menulis tentang pikiran-pikiran si Osho yang saya anggap 'beda'.

Well, sampai sekarang buku Osho itu belum dibalikin sama teman saya. Hehehehe. Tapi ini juga bukan alasan mengapa selama ini saya belum memposting tentang si Osho lagi. Wokeh, daripada kebanyakan prolog, berikut adalah salah satu gagasan yang saya baca di bukunya (lupa bukunya yang mana). Tulisannya di buku itu tidak persis seperti ini sih. Di bawah ini saya memakai bahasa saya saja>>setelah menyimpulkan.
Percaya dan Tahu
Saat hari mendung dan hari menjadi gelap, perlukah kita percaya bahwa matahari itu ada? Saat kau berada di dalam kamar misalnya, kemudian dari jendela kamu melihat halaman belakang rumah …

What A Day

.
Akhirnya.. bisa free juga untuk ngeblog. Sebenarnya dari kemarin saya ingin berbagi cerita soal tes saya masuk ISI. Tesnya cukup mengerikan, dan saat tesnya selesai saya tak sabar untuk pulang dan menghajar keyboard ini demi melampiaskan kekesalan. Saat itu saya benar-benar tidak yakin, rasanya saya bisa melakukan yang lebih baik, tapi minimnya informasi, minimnya pengalaman, dan minimnya latihan, membuat tesnya jadi...yah...begitulah.
Saya juga akan terus berlatih, kalau-kalau tanggal 18 Juni nanti nama saya tak ditemukan tertera di pengumuman kelulusan. Saya akan berlatih sampai gilaaaa! I mean it! I MEAN IT! Ini juga baru aja selesai latihan#sekilas info. Masih ada tes gelombang ke dua pada akhir Juli nanti dan kali ini tidak ada alasan untuk gagal. Kalaupun gelombang pertama ini (entah kenapa) ternyata lulus, saya akan tetap berlatih.
Saya tidak tahu pasti bagaimana saya bisa lulus dengan lukisan seperti itu. Dan tadinya saya pikir saya akan merana untuk dua minggu kedepan. …