Cabai: Pidato Yang Paling Saya Ingat

Saat kelas 1 SMP saya adalah anak yang rajin sekolah dan rajin belajar (percaya ga?). Saking rajinnya, saat apel upacara bendera, saya selalu menyimak pidato ibu bapak guru dengan baik. Saya tidak pernah berbuat rusuh atau berdiri di barisan belakang. Ironisnya, tak satupun pidato-pidato itu yang bisa saya ingat. Kecuali satu! Pidato ibu guru matematika saya... (semoga Tuhan mengampuni saya karena telah lupa nama ibu guru itu) Saya tidak ingat kata-perkata dari pidatonya (tentu saja). Yang saya ingat justru bagian paling membingungkan dari pidato itu.

Beliau becerita tentang cabai. "Kalian tahu cabai?" tanya beliau ke kami--saya masih bisa mengingat suaranya. Saya ingat bagaimana satu tangannya menggambarkan pohon cabai, dan satu tangannya lagi (entah yang kiri atau yang kanan) menggambarkan hujan yang menyirami pohon cabai itu. "Cabai!" setengah berteriak ia menggerak-gerakkan tangannya yang 'umpamanya' adalah pohon cabai, "meskipun disirami dengan baik, dipupuki dengan baik, dirawat dengan baik, saat tiba waktunya berbuah, buahnya tetaplah cabai. Dan kalian tahu sendiri cabai itu rasanya seperti apa. Paham ngga'?"

Saya ingin sekali berteriak, "enggaaa'...". Tapi karena ini upacara bendera dan kita dilatih untuk diam seperti batu sepanjang waktu upacara, teriakan "ga paham" itu memantul-mantul di kepala saya. Pidatonya terlalu aneh untuk anak SMP kelas 1. Berita baiknya, dari sekian banyak upacara bendera di sekolah yang pernah saya ikuti, pidato tentang cabai ini menjadi satu-satunya pidato yang mendapat tempat di kepala dan hati saya hingga kini.

***
Yang namanya cabai, meskipun tumbuh di antara rumpun tebu tetaplah pedas. Ia tak akan ikut-ikutan manis seperti tebu di sekitarnya. Seandainya ia tumbuh di bawah pohon mangga pun rasanya tak akan sama dengan buah mangga yang menaunginya. Kalau di sawah, (setahu dan seingat saya) cabai kadang ditanam berdampingan dengan tembakau. But still, cabai ya tetap cabai. Meski ia mendapat perlakuan yang sama: disiram dan dipupuk dengan cara yang sama, saat waktu untuk panen sudah tiba cabai akan diperlakukan layaknya cabai dan tembakau akan diperlakukan layaknya tembakau.

Menurut saya, kita harus berterima kasih kepada cabai dan teman-temannya. Berterima kasih karena cabai tumbuh menjadi cabai, tebu tumbuh menjadi tebu, dan mangga tumbuh menjadi mangga. Bayangkan betapa merepotkannya jika cabai memilih tumbuh menjadi bawang, tebu berubah pikiran dan memilih tumbuh menjadi mangga, sementara mangga yang karena sirik dengan durian, menolak untuk tumbuh. Hidup kita jadi jauh lebih mudah karena mereka tumbuh sebagai diri mereka sendiri. Toh, pada akhirnya yang paling dihargai adalah cabai terbaik, mangga terbaik, durian terbaik, bawang terbaik.

Untuk berguna bagi kehidupan, kita tak harus seperti orang lain atau menjadi orang lain, atau seperti yang diharapkan oran lain. Just be your best!

^^V

Komentar

  1. makanya kalo pilih jodoh tuh liat bibit bebet bobotnya..

    jadi, bibit cabe kalo ditanem meski dikayak gimanain yaa tetep ntar buahnya cabe.. pedess..

    terserah, makanyaa kalo milih jodoh mau milih yang pedes kayak cabe, atau yang manis kayak manggis, atau yang tajem kayak duren, atau yang gede bulet kayak semangka, atau yang rambutnya banyak kayak rambutan..

    semua balik ke bibitnya.. *ngomong opo to aku ikiy*

    BalasHapus
  2. Gaphe@
    jiaaaah...yang lagi galau pengen merit.

    BalasHapus
  3. Gaphe@
    ayoh, cepetan jangan kelamaan milih. entar keburu tua. sadar usia yah, jangan sadar kamera mulu :P.

    BalasHapus
  4. bener... be ur self!

    btw ayo diorder yok kaos oblongnya.. mumpung masih ada promo nhe..:D
    http://www.facebook.com/pages/AnaGajah-Clothing-kaos-oblong-khas-Lampung/224488810899816

    BalasHapus
  5. bener... be ur self!

    btw ayo diorder yok kaos oblongnya.. mumpung masih ada promo nhe..:D
    http://www.facebook.com/pages/AnaGajah-Clothing-kaos-oblong-khas-Lampung/224488810899816

    BalasHapus
  6. Sayang perutku nggak terlalu bersahabat ama cabai, tapi kalo disuruh ngutip buah cabai sih jago
    *eh

    Tulisan yang mengispirasi Huda, thx for share ya (>o<)/

    BalasHapus
  7. waw lucu ya kalau saat itu juga teriak "gg paham" bukan jadi anak baik2 lagi deh

    jadi saya pun harus menjadi cabai yang saya banget ya, tidak iri dengan si mangga yang bohai atau durian yang banyak fans-nya, bersyukur menjadi cabai karena saya adalah cabai yang cabai *aah apa pula maksudnya hhehhe*

    BalasHapus
  8. LIKE THIS!!!!

    bener banget!!! just be your self...

    dengan demikian kita bisa menikmati hidup tanpa terbeban harus menjadi seperti apa ^^

    NICE POST huda!!!

    BalasHapus
  9. jadi intinya, menjadi diri sendiri tuh memanfaatkan segala apa yang ada di dalam diri kita secara baik dan maksimal ya?.

    si cabai, dia ngga manis. tapi dia disukai karena punya rasa pedas, yang tidak ada di buah2 lainnya (mangga, duren, salak, dll).

    cabe buah bukan si?^^a

    BalasHapus
  10. ahahahaaa....geli gue baca pidato si guru. kenapa ya dia milih contohnya cabai? ga jengkol atau pete? xixiiii....

    BalasHapus
  11. hebat euy, masih ingat pidato guru SD, hihi...
    intinya mungkin beliau ingin menyampaikan "just be yourself" hehehe

    BalasHapus
  12. ya klo cabe ditanem jadinya duren yg ada ngeri kali -_-"
    eh tapi klo toge di tanem jadi apa ya?

    BalasHapus
  13. Still! Saya ketawa baca ini: betapa inginnya kamu utk berteriak "enggaaaaa' pahaaam bu" sewaktu ibuguru jelasin cabe, tp hanya tertahan karna km harus eksyen seperti batu pas upacara. hoed...hoed...kyy km jd penulis bergenre humor aja deh. sy setujuuu.
    ohya, coba berkunjung di www.ufukkiblat.blogspot.com (km bs blajar gambar dan lukis dg mas Vian)

    BalasHapus
  14. eeehhh..ibu itu lucu banget..pas baca postingan ini aku ngebayanginnya yang lagi pidato itu guru kelas satu SD-ku dulu, orang batak yang galak, tapi unik juga..hahah..lucu aja bayangin beliau pidato sambil bawa-bawa cabe merah yang gede (bukan mengilustrasikannya) sambil bilang "coba anak-anak, perhatikan apa ini? ini cabe!cabe! c-a-b-e!" wkwkwk... :p

    BalasHapus
  15. hhmm .. bener juga omongan guru mu Hud ..
    be your self .. hidup cabai .. #eh

    BalasHapus
  16. jadi intinya jadilah dirimu sendiri ya? sekeras apapun klo qta hanya meniru org lain pasti jadinya seperti cabe manis?

    eh ya, kenalan dulu deh... salam kenal yah Huda ^_^

    desain kamu utk bukunya Mba Rifka keren loh..!

    BalasHapus
  17. *siapa ya guru Matematika SMP yang cewek? Lupa juga..
    tuing.. tuing.. tuing..

    BalasHapus
  18. Analoginya bagus sekali. Kayaknya ini bakal jadi post terfavoritku di blog ini.

    BalasHapus
  19. cabe ya ttp cabe, jeruk ya ttp jeruk huda ya ttp jadi huda ganteng jangan jadi huda maniez segala emang gula kmu kan kelapa... bingung ya :D

    BalasHapus
  20. ajegilee... postingan ini sarat nilai2 filosofis! hehhee.. keren2..

    kalo mau cape atau bawang, boleh ngehubungi keluarga saya di Brebes. hehhhee..

    BalasHapus
  21. mas Hudaaa..wah kok bawa2 cabai si gurunya suka cabe kali ya..spt saya...


    Yups, semoga bisa menjadi Rosa yang terbaik:))

    BalasHapus
  22. idem kalo soal matematika
    padahal sekolahku di teknik
    pokoknya soal matematika
    cabai deeeeh....

    BalasHapus
  23. eh, lumayan lah Hud...dari sekian juta pidato upacara masih ada yang diinget, lah aku malah blasssss gak ada yang inget...lah upacara seringnya malah ngumpet di warung sebelah sekolah ewk....

    ohya, trims buat cabe... tanpamu makanku pasti gak enak,,,, gak pedes gak enak pokoe!

    BalasHapus
  24. jika aku tidak meniru siapapun, apa aku bisa menjadi diriku sendiri dengan kemampuanku? aku pesimis jika harus tidak terinspirasi dengan siapapun

    BalasHapus
  25. Hoeda Manies@
    ah jangan gitu bang, siapa tahu saya postingan saya berikutnya jauh lebih bagus dari yang ini... :P


    yayack@
    iya, saya bingung, heheheh
    cepat sembuh bang!

    MSB@
    hahaha, Brebes banyak bawang ya? boleeh

    Rose@
    yups, semoga huda juga bisa menjadi huda tula yang baik...

    Rawins@
    makasi kunjungannya mas..
    semoga di kunjungan berikutnya mas rawins punya waktu untuk baca postingan saya. :))

    Aina@
    ah cabe dehhh...

    John Terro@
    meniru dan terinspirasi itu beda john... --"

    emang si proses meniru termasuk proses bealajr. tapi tak selamanya kan kamu akan menjadi peniru?

    BalasHapus
  26. JT@
    maksudnya, kamu tidak akan menjadi si tukang tiru untuk selama-lamanya kan?? :))

    BalasHapus
  27. wih, keren dah pidatonya si ibu. kenapa cabe? mungkin persoalan sugesti. cabe yg pedas sepertinya benar2 berkarakter.

    hm, tp ini benr2 filosofis hud. thanks for share dah.

    BalasHapus
  28. waktu smp(pas upacara) sya paling suka bagian "hening cipta nya",

    hmm,saat ini indonesia dilanda dngan bnyak krisis, salah satunya KRISIS PEDE!
    namun, itu tidak begitu membuat saya "galau". karena, jauh dari semua krisis, KRISIS IMAN-lah yg paling berbahaya..

    *hening cipta dimulai*

    BalasHapus
  29. yang bikin putus asa kalo mikirnya gini : saya kan emang terlahir seperti ini, jadi biar gimanapun berusaha hasilnya ya cuma gini2 aja

    seperti cabai itu juga. biar tumbuh dimanapun cabai tetap saja hasilnya pedas

    BalasHapus

Posting Komentar