The Pilgrimage: Ziarah

Saya termasuk penggemar buah tangannya si Coelho. Perkenalan pertama saya dengan karya Coelho melalui The Alchemist sekitar empat tahun yang lalu. Seorang dosen pernah menyarankan buku The Alchemist saat kelas berakhir. Setelah membacanya, saya langsung memburu karya-karya Coelho yang lain. Ga selalu beli sih, 'kebanyakan minjem'. Meskipun termasuk penggemar berat (termasuk ga' ya?), harus diakui tidak semua novelnya bisa saya nikmati. Ada juga yang bikin ngantuk dan bosan. Tapi kebanyakan memang asik buat dibaca.

Kalau diperhatikan, dalam karya-karyanya banyak yang mengangkat tema perjalanan. Selain menyajikan tokoh-tokoh yang berani bermimpi, seringkali salah satu tokoh utama dalam novel-novelnya mengadakan suatu perjalanan meninggalkan kampung halaman. Ada semacam penekanan bahwa setiap perjalanan memiliki nilai spiritual.

Nah, untuk buku yang satu ini saya lumayan bingung: apakah ini sebuah novel ataukah catatan perjalanan dari seorang Paulo Coelho sendiri?

Santiago De Compostela

Seseorang yang mengadakan ziarah dalam novel ini bernama Paulo. Si Paulo ini tergabung dalam suatu aliran (sekte, ordo yang entah apa), dimana ujian terakhir yang harus ia jalani adalah menemukan pedangnya. Untuk menemukan pedangnya, ia harus meninggalkan Brazil ke Eropa dan menempuh rute ziarah yang terkenal dengan sebutan Santiago de Compostela.

Kalau dalam tradisi Islam dikenal ibadah haji, untuk umat Kristiani pada abad pertama diharapkan menempuh tiga rute peziarahan yang dianggap suci. Setiap rute memiliki berkah dan keuntungan tersendiri bagi mereka yang berjalan menempuhnya. Hampir sebagian besar novel ini bercerita tentang perjalanan si Paulo menempuh rute itu. Dalam perjalanan ini ia juga dipandu oleh teman seperjalanan yang misterius bernama Petrus. Dialog-dialognya dengan Petrus sangatlah menarik. Mulai dari membahas tentang Iblis, tentang Tuhan, Agape, dan banyak lagi.

Terbit Sebelum Sang Alkemis

Buku ini (entah novel atau bukan) terbit sebelum the Alchemist yang melambungkan namanya itu. Dan, kalau menurut saya sih, buku ini versi lain dari The Alchemist, cuman kontennya lebih berat. Sebagaimana Santiago dalam The Alchemist dibimbing oleh Sang Alkemis, di buku ini Paulo dibimbing oleh Petrus. Kalau Santiago bertualang untuk mencari harta karun yang ia lihat dalam mimpinya, dalam novel ini si Paulo bertualang mencari pedangnya. Di dalam buku ini juga terdapat latihan-latihan yang mirip meditasi, atau semacam meditasi, atau sebut saja begitu.

Kalau saya disuruh memilih antara buku ini atau The Alchemist, saya akan tetap memilih The Alchemist. Tapi kalau seandainya kamu termasuk penggemar karya-karyanya Coelho, mencoba buku yang satu ini boleh jugalah.

Best Quote

“Dari semua cara yang bisa kita lakukan untuk menyakiti diri sendiri, yang paling buruk terjadi karena cinta. Kita selalu menderita jika seseorang tak mencintai kita, atau seseorang meninggalkan kita, ataupun jika seseorang tak mau meninggalkan kita. Jika kita merasa kesepian, itu karena tak seorang pun menginginkan kita; jika kita menikah, kita mengubah pernikahan menjadi semacam perbudakan. Sungguh suatu hal yang sangat buruk!” (Petrus, halaman 68)

Judul: The Pilgrimage: ziarah
Penulis: Paulo Coelho
Alih Bahasa: Eko Indriantanto
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 978-979-22-6719-8
.

Komentar

  1. wow, best quote-nya ngena banget siiii.. --"

    anyway, pertamax! haghaghag..

    BalasHapus
  2. Pinjem Hud ...
    bagus kayaknya ya ...

    quote nya bagus .. copy buat status di facebook yak :P

    BalasHapus
  3. wah keren bgt,
    sayang'a aku gk baca buku tipe seperti ini #sok :D
    hehhe..

    BalasHapus
  4. wahhh... mauuuuuu...
    pinjam dungz.. hehheheh..

    hm, kayaknya next destination inilah. kebetuln sya blum punya. waduh kapan bisa kabur lagi yah, nyari ni buku.

    BalasHapus
  5. kadang bagus atau tidaknya buku/novel terjemahan tergantung dari terjemahan oleh alih bahasanya.. ini kadang yang bikin saya kapok baca novel terjemahan...^^

    BalasHapus
  6. kalo pengen ziarah ke santiago de compostella, katanya paling asik ditempuh naek sepeda ato jalan kaki.

    sebenernya udah dua bulan ini pengen beli ni buku tapi ragu2 (baca: bokek) mulu *hela napas* pinjem y, hud? ;p

    BalasHapus
  7. yah gw akuin buku2nya paulo coleho emang fenomenal. hehehe... walau gw baru baca yang The Alchemist doang sih. hehehhe

    btw ganti template lagi nih hud? hehehhe.... bagusan yang sebelumnya loooh. seriusss!!

    BalasHapus
  8. rabest@
    ngena ya? sakit ga neng?
    #halah.

    iya kamu pertamax. tapi g ada hadiahnya :P

    Hoedz@
    hehehee, coba kamu di Jogja. saya bukan orang yang pelit minjemin buku (asal dibalikin aja)

    Nyla baker@
    hahaha, iya deh, beda selera itu indah.

    Accilong@
    oke deh, moga dapat kesempatan kabur buat beli. gud luck!

    Fairysha@
    bener banget mba'. saya juga pernah (sering) salah beli. terjemahannya buruk padahal ceritanya bagus. Tapi mengingat novel ini diterbitin Gramed, jadi ga ada masalah juga si sama terjemahannya. sudah percaya sama Gramedia.

    Cho@
    oh yaa?? kalau dalam buku ini, si Paulo menempuhnya dengan jalan kaki. hmmm, kayaknya si asik emang...

    ya udah pinjem punyaku aja. Tapi yang Norwegian Wood jangan diambil dulu ya... lagi sibuk neh#soksibuk.

    ^^

    BalasHapus
  9. Nuel@
    hahaa, sok atuh abca yang lain..

    bagusan yang sebelumnya ya? coklat si, boring....

    BalasHapus
  10. gw pernah baca buku yg ini, membosankan. Baru berapa halaman dah nyerah gw. Pernah juga coba baca Paulo Coelho yang lain, sama membosankannya. Kalo menurut gw bukunya yang bagus cuman yang Alchemist itu hahahaaa

    BalasHapus
  11. hiks,,,bukunya berat kayae.... suka ga konsen kalo baca buku berat :(

    BalasHapus
  12. Mila Said@
    jiaaaaah... mb Mila kan hobinya baca Peta kan yak? dah berapa bulan di foto itu baca peta terus...

    Aina@
    hahaha, ga berat kok kayanya. ga terlalu. yah begitulah pokoknya....

    BalasHapus
  13. Sebenarnya The Alchemist juga sama konsep dengan buku-buku Coelho yang lain. Cuma The Alchemist dibuat lebih ringan, jadi lebih mudah dipahami, dan itu pula yang menjadikan The Alchemist sangat populer.

    Yang paling aku suka dari Coelho adalah kedalaman kata-katanya. Percakapan di antara tokoh-tokohnya selalu mendalam, jadi aku selalu nyiapin stabilo setiap kali membaca bukunya. Kalau mengandalkan kisah atau jalan ceritanya sih biasanya emang cuma gitu-gitu aja, jadi pembaca novel populer biasanya cepat bosan.

    Pernah baca buku-bukunya Og Mandino gak? Og Mandino juga nulis dalam genre serupa dengan Coelho, tapi ala Barat. Juga sama asyiknya!

    BalasHapus
  14. Wah, aku baru baca The Alchemist. Yang ini belon nih. Makasih udah ngasih referensi ya...

    BalasHapus
  15. paolo coelho emang penulis keren! meskipun sy sendiri belum pernah baca bukunya satupun. hehhee.

    Saya udah tertarik sama the alchemist sejak SMA, tapi sayang sampe sekarang beum beli-beli. hehee..

    Oke, sudah diniatkan! berikutnya mau beli the alchemist.. :)

    BalasHapus
  16. Hoeda manies@
    iya mas... daya tariknya emang di dialog-dialog atau pikiran tokohnya yang daleeem... Sebenernya tokohnya kadang mirip satu sama lain.

    Og Madino? hmmm.. ta' coba cari.


    Mb Rifka@
    yupz...
    selain alchemist, coba yang Veronica decides to die, sama The zahir aja mb...^^

    Muhammad Mishbah@
    hahaha, dibeli aja. hayooh, jangan pelit ngeluarin duit buat beli buku.

    BalasHapus
  17. Iya, pengen banget beli banyak buku. Sayang, seringkali ada perbedaan yang lebar antara idealita dan realita.. hahha.. nabung nabunnggg

    BalasHapus
  18. aku jadi pengen baca ini juga..tapi kok rasanya jarang keliatan di tempat2 gratis ya?? :(

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

10 Film Asia yang Tak Terlupakan

Sandikala

Film Korea Yang Layak Kamu Tonton