Quote Of The Day #5

C.Day Lewis

Kita menulis tak untuk dipahami, tetapi untuk memahami
(C Day Lewis)


Entah kenapa, saya lebih suka menyebutnya jurnal daripada diary. Sebenarnya saya sendiri tidak tahu persis bedanya apa antara jurnal dan diary. Tidak, saya rasa tidak akan sama dengan ngeblog. Kalau di blog, kita tahu betul tulisan-tulisan kita akan dibaca orang lain. Meskipun kita menulis di sini demi kesenangan sendiri, tetap saja kita berharap orang lain membacanya (dan mudah-mudahan mereka menyukainya). Tapi lain halnya dengan jurnal--atau katakanlah diary--kita menulis demi kesenangan pribadi. Atau kita memang ingin membagi sesuatu dengan diri sendiri.

Dari 24 jam yang kita lewati, jarang-jarang kan kita menyediakan waktu untuk berbagi dengan diri sendiri?

Lebih sering yang saya bagi adalah kebingungan (mungkin karena saya masih muda). Dan.. apa yang dikatakan oleh si C Day Lewis ada benarnya, "kita menulis untuk memahami, bukan untuk dipahami". Seringkali, kebingungan kita terpecahkan dengan meluangkan waktu untuk duduk dan menulis. Bukan untuk dibaca oleh siapa-siapa, tapi lebih disebabkan oleh hasrat untuk memahami.

Menurut saya, ada perbedaan besar antara meminta orang lain mendengarkan cerita kita daripada meluangkan waktu untuk menulis. Saat menelpon orang lain dan mulai bercerita, mungkin kamu akan mendapat ketenangan karena ada yang mau mendengarkan. Mungkin setelah itu kamu akan merasa lega dan terpikir untuk melakukannya lagi. Sekali dua kali masih belum masalah. Yang jadi masalah kalau kamu mulai hobi menelpon orang tengah malam untuk mendengar apa yang kamu lakukan seharian... hhhhh why don't you just write a diary?

Perlu diingat juga, kuping orang lain (meskipun ada dua), tak selamanya tersedia untukmu. Bahkan psikolog menarik bayaran untuk hal itu. Yang kedua (dan terpenting), dengan bercerita seperti itu, kamu belum tentu memahami permasalahanmu. Lega sih iya, tapi kalau paham, belum tentu.... Maka tidak tertutup kemungkinan kamu akan menceritakan hal yang sama lagi dan lagi. Berkutat dengan masalah yang sama lagi dan lagi. Bergelut dengan perasaan yang sama dengan yang kamu rasakan kemarin dan kemarinnya lagi.

Kita sering menuntut orang agar meluangkan waktu untuk memahami diri kita. Sementara kita sendiri, belum tentu mau meluangkan waktu untuk memahami diri sendiri.
.

Komentar

  1. Betul, betuuuuuul, senang sekali membaca post ini!

    Kalau kita meminta orang lain mendengarkan ocehan kita, dan kemudian dia jadi jengkel, itu salah kita, karena kita meminta dia mendengarkan.

    Berbeda halnya dengan menulis (bahkan menulis di blog sekalipun). Kalau kita menulis sesuatu, dan orang lain membacanya, lalu dia jengkel, itu bukan salah kita. Itu salahnya dia sendiri, kenapa juga dia mau baca?

    Jadi, daripada ngoceh tidak jelas, secara verbal ataupun tertulis sebagai tweet freak, mending nulis. Proses menulis mengajarkan struktur dan sistematika, sehingga tanpa sadar kita mulai melihat apa yang sesungguhnya kita lihat, kita rasakan, atau kita hadapi.

    Karena itulah, menulis adalah proses untuk memahami.

    BalasHapus
  2. Secara tidak di sadari oleh saya sendiri, menulis menjadikan saya bsa lebih memahami suatu masalah walopun tdk menjamin bsa menyelesaikan masalah tsb.

    Ya namanya orang maunya hal2 yg lbh mementingkan diri sendiri. Cenderung lbh mau menerima dari pada memberi :D

    BalasHapus
  3. Hoeda Manis@
    berarti ga apa-apa juga ya curhat ga jelas di blog?

    berarti semakin banyak menulis, semakin besar kesempatan untuk memahami? betul begitu??

    yayack@
    iyups, kadang ga langsung muncul solusi. Tapi pemahaman, meskipun sedikit, sangat membantu kita.

    ayo menulis....

    BalasHapus
  4. Itulah kenapa aku suka menulis diary. Karena terkadang menulis diary itu selain membuat tenang bisa membuat saya lebih memahami diri saya. Saya juga bisa lebih paham masalah yang sedang saya hadapi. :D

    BalasHapus
  5. ya emang sih
    apalagi kalo curhatannya bikin panas hati
    emang kita tempat sampah apa
    yang selalu diisi dengan curhatan sampah
    hahah

    diary ama jurnal beda, kalo jurnal ada aturan yang sudah baku
    kalo diary, terserah kita

    BalasHapus
  6. Kimi@
    yupz..

    btw, belum ngucapin terimakasih. postingan sedikit banyak terinspirasi setelah baca postinganmu tentang diary, yang kemarin itu.

    John terro@
    hahaha... emang kamu ada pengalaman ya John? yang jengekelin, kalau kita dijadikan pihak bersalah kalau nolak mendengarkan.

    ooo... bedanya di situ ya? jadi selama ini yang kutulis diary. Tapi aku akan tetap menyebutnya jurnal (kan terserah kita?).

    BalasHapus
  7. Sasuga, Huda San!!! Kamu mendeskripsikan ini dengan jelas sekali dan mudah dipahami.

    Aku suka postingan ini.

    BalasHapus
  8. kalau saya menulis diary bukan untuk memahami ataupun dipahami. tapi untuk mengeluarkan segala uneg2 saya. menulis diary bikin hati saya tentram. ga ada kegelisahan lagi di dada. *tsaaah

    btw kalau saya cenderung menyebutnya agenda ketimbang diary maupun jurnal. hehehhe

    BalasHapus
  9. hmmmm..bener juga sih apa yang ada di quote itu...

    kalo aku pribadi lebih kayak si nuel, nulis diary cuma buat numpahin unek2 aja,kalo nemuin jalan keluar ato solusinya? belum tentu, hehehe

    BalasHapus
  10. Kali pertama aku membaca di blog ini, tulisan di atas benar-benar mudah dipahami. Apa ya, seperti aliran air. Tenang.

    Aku setuju, menulis memang bukan untuk "kita" agar dipahami oleh dia yang mungkin membaca tulisan kita tadi. Ya anggap saja orang lain yang kebetulan baca. Lebih ke kita yang memahami persoalan/apapun yang sedang kita tulis! Tepat.

    Tapi jujur saja, ada beberapa hal yang nggak benar-benar bisa aku tulis semua, karena justru dengan aku menulisnya akan membuat orang lain (pembaca) saling benci juga salah paham karena tak mengerti duduk permasalahannya-itulah mengapa aku putuskan untuk berhenti menulis diary. Jadi hanya aku dan Tuhan (Allah Swt.) saja sekarang ^^

    BalasHapus
  11. Biasanya kita sering membaca ulang tulisan-tulisan yang kita buat baik itu di blog maupun diary. Dan diary memuat semua tulisan tentang kita dan hidup kita. kadang disaat membaca ulang tersebut sering terpikir 'oh, dulu aku gitu ya...atau dulu aku pernah begitu ya...'. hal tersebut bisa menjadi perenungan dalam memahami diri sendiri tadi, menurut saya...^_^

    BalasHapus
  12. Hmmm, itulah alasan awal sy membuat blog dulu. Menulis apa yg seharusnya sy keluarkan dan sebenarnya bkn utk dibaca oleh org lain ^_^, krn itulah blog sy sampai saat ini blm sy publikasikan scr agresif ke teman2 sy... cm bbrp orang saja. Tapi seiring waktu, dr blog ternyata kita bs menyebarkan kebaikan, misalnya dg ikut SEO positif, dll.. jadi skrg lbh open deh isinya khan isi blog utk konsumsi bnyk org.., jd ga bisa spt jurnal ataupun diary lagi..^_^

    BalasHapus
  13. kalo diary mungkin lebih ke remaja dan bebas.. kan gak ada tuh bapak bapak nulis diary yang ada juga jurnal kali ya..hhahaa

    hmm, mungkin karena kalau menulis itu ada bekasnya dan bisa dibaca ulang.. kalo ngoceh?mau ngulang gemana pasti udah lupa..

    kadang kalo aku baca ulang sebuah tulisan yg aku tulis, aku seperti dapet clue dari apa yang aku tulis, kemudian jadilah itu solusi,hehehe..itu sih pengalaman aku,hhee

    BalasHapus
  14. dan sebagai bonus, kadang setelah orang lain membaca tulisan kita, orang tersebut akan memahami kita. ya ngga sih?

    BalasHapus
  15. @Huda Tula, iya, gak masalah mau nulis curhat gak jelas, wong itu di blog kita sendiri. Selama nggak menimbulkan masalah sama orang lain aja. Wong aku sendiri juga sering gitu kok. Yang penting beban pikiran tersalur. Perkara orang paham atau nggak, itu urusan nomor dua ratus empat puluh tujuh.

    "Semakin banyak menulis, semakin besar kesempatan untuk memahami," that's right.

    Ilustrasi mudahnya, sekuat apa pun pikiran kita membayangkan sesuatu, bentuknya gak akan terlihat nyata. Tapi begitu bayangan itu dituliskan, kita mulai melihat bentuknya. Tentunya lebih mudah memahami sesuatu yang telah berbentuk dibanding yang belum berbentuk, kan?

    BalasHapus
  16. waaah kata-kata terakhirnya tajem banget :O
    Salah satu alasan saya ngeblog juga karena saya ngerasa dengan menulis perasaan saya menjadi lebih baik dan pas baca dikemudian hari emang banyak yang bisa dipelajari.

    Iya terkadang teman terdekat pun lelah mendengar curhatan saya, jadi lebih baik menulis diary ya.

    BalasHapus
  17. mb rifka@
    makasi mb :)

    Nuel@
    agenda??
    yah, apapun namanya asal memberi efek positif, lanjutkan!

    Rapi@
    emang belum tentu juga si..

    kadnag sampah juga (lebih sering ding). tapi ada kalanya saat nulis diary kita jadi ngerti masalah kita.

    BalasHapus
  18. Ajeng@
    loh.... makanya nulis dairy. bukan untuk dibaca orang lain tapi untuk diri sendiri?

    Mb Ocha@
    betul banget mb...
    meskipun kadang sewaktu dibaca-baca lagi jadi malu sendiri, heheheh

    mb Tiwi@
    ga apa-apa deh mb, kalau ngasih manfaat ke orang banyak juga lebih bagus lagi kan?
    betul begitu??

    Nyla Baker@
    oh gitu yah? tapi kaya Soekarno gitu, (kalau ga salah), dia akn juga punya buku harian ya? dia kan dah bapak-bapak. heee

    yups, kelebihan lainnya, ada bekasnya. bisa dibaca dan dipelejari lagi.

    eks@
    bisa jadi begitu..
    atau
    bisa jadi sebaliknya, heeehe

    Hoeda Manis@
    owh..
    tyus yang nomer dua ratus empat puluh delapan apa yak? #pura-pura penasaran

    tanks untuk ilustrasinya. like it! ^^V

    Tiara Putri@
    Yupz!

    dariapda bikin teamn bete', mending nulis aja. tapi juga ga masalah si sharing ke teman. tetap menulis dan ga anti sosial...hehehe

    BalasHapus
  19. aku pengalaman banget jadi tempat sampah bro :D

    yang jelas, jangan pernah (kalo kamu laki-laki) jadi tempat sampah bagi perempuan yang punya pacar bukan kamu

    ga enak ... hahaha


    terserah juga sih nyebutnya kalo itu hanya sebatas kamu, tapi kalo dipublis dengan nama jurnal di muka umum, nantinya malah ditertawakan :D

    BalasHapus
  20. gimana kalo pas bongkar2 kamarku trus mbakku atau ibuku baca(nemuin diaryku)? sama aja kan, kalo untuk diri sendiri ya sekalian aja tak gembok buku diaryku-dengan begitu dijamin nggak ada yang baca kecuali aku.

    Tula---> dairy berarti perusahaan susu-sementara diary berarti buku harian ^^

    BalasHapus
  21. john Terro@
    wkwkw, jadi curhatan cewek lain yang dah punya pacar... SURAM.

    Ajeng@
    eh, salah ketik neng, maaph, diary maksudnya.

    emang pernah kejadian diarymu ketemu gitu? yah terserah kamu si. tapi sebenernya orang-orang di sekitar juga harus menghargai privasi kita. wee need a personal space right?

    BalasHapus
  22. semoga salah tulisnya ndak jadi kebiasaan ya. bahasa Inggris itu, beda tulisan dah beda arti, jadinya rancu :D


    kamu lebih tahu yang beginian kan, hhe.

    BalasHapus
  23. kata2nya manis banget,,menulis untuk memahami bukan untuk dipahami,,

    BalasHapus
  24. bang huda ada award nih

    http://aul-home.blogspot.com/2011/06/auls-open-home.html

    BalasHapus
  25. subhanalloh..komennya panjang2.. =.="
    templatenya baru nih, gk sengaja klik vote GA'DA!muahahaha..
    bolehlah postingannya!hidup diary! \^0^/

    BalasHapus
  26. wew, lagi labil nih ye. gonta ganti template mulu.

    BalasHapus
  27. Tak semua orang mau meluangkan waktu utk mendengarkan orang lain. Tak semua orang mau menyediakan telinga mereka utk orang lain, karena mendengarkan adalah pekerjaan yang tidak mudah.

    BalasHapus
  28. Terus terang aku masih sulit memahami quote di atas... aku masih belum paham dg apa yg dikatakan oleh C Day Lewis itu.

    Maaf ya baru sempat mampir sekarang...

    BalasHapus
  29. Arev tyan@
    iyaa, kebanyakn gula tuh, heheh

    AuL Howler@
    owh, all rite, saya tampung dulu
    ^^

    Faiza@
    hahaha, ga apa-apa. kalau dipilih dengan sengaja juga ga apa-apa.. :)

    Eks@
    saya memang gampang bosen...

    Mb Reni@
    hmmmm mungkin penyampaian saya yang kurang gamblang kali ya? tak coba nulis lebih gambalng lagi deh...

    omong-omong soal emndengarkan, memang ga mudah ya? salut juga sih sama mereka yang punya kesabaran dan keatahanan dalam 'medengarkan'.

    BalasHapus
  30. kayaknya aku ini pendengar yang baik deh... sering jadi tempat sampah curhatan :P
    tapi akunya sendiri lebih seneng curhat ke diary sih... (siapa yang nanya ya????)

    BalasHapus
  31. kayaknya lama banget yah saya ketinggalan post kamu.. ckckck.. maafkan saya yang terlalu sibuk sampe lupa mampir.

    ini postingan jadi salah satu favorit saya.. suka suka sukaaa. *halah

    BalasHapus
  32. pokoknya saya +1 postingan ini
    #semua yang saya bilang udah keduluan ama komen2 lain sih..

    BalasHapus

Posting Komentar