Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2011

Sebuah Dongeng Yang Tiba-tiba Saya Ingat

Entah ada entah tiada, diceritakan pernah hidup seseorang yang amat sangat kaya. Diceritakan pula bahwa dia memiliki rumah yang sangat-sangat besar. Bukan sembarang rumah, karena di dinding-dindingnya terpajang semua karya seni terbaik yang pernah dikenal umat manusia. Lantainya berlapiskan marmer terbaik, perabot rumahnya adalah perabot paling mewah. Intinya nih, rumah itu adalah tempat segala keindahan bersemayam. Rumah ini begitu terkenal dan semua orang ingin masuk ke rumah itu. Semua orang ingin menyaksikan sendiri keindahan yang bersemayam di dalamnya. Beruntungnya, Sang Tuan Rumah adalah orang yang ramah dan baik hati. Ia menerima siapapun yang datang ke rumahnya tanpa terkecuali. Jadi, tidak mengherankan kalau rumahnya ini tak pernah sepi. Orang-orang selalu berdatangan dan mengantri di pintu gerbang.

Tapi ada tiga syarat yang ditetapkan oleh si pemilik rumah. Pertama, setiap orang hanya diberikan kesempatan masuk ke rumah itu satu kali saja. Ke dua, setiap orang yang mau ma…

Suatu Hari Tanpa Cerita

Suatu hari aku terbangun tanpa cerita. Tidak ada kata-kata. Tidak ada apa-apa. Aku juga mulai membenci kamarku yang berantakan. Aku mencoba merapikannya. Meletakkan barang-barang itu ke tempat seharusnya. Menyapu kamarku untuk kali pertama dalam tiga bulan terakhir. Tapi saat semuanya sudah rapi, kamar ini terlihat semakin sepi. Akhirnya kubuat semuanya berantakan lagi. majalah-majalah itu. guntingan-guntingan koran itu. buku-buku itu. pallet itu. cat air itu. kuas-kuas itu. kertas-kertas itu. aku tidur di atasnya.

Kemudian aku meraih pensil dan mulai menulisi dinding kamarku. Tidak ada yang bisa kutulis. benar-benar tak ada cerita. Ribuan hal berlarian di benakku, hanya saja aku tak dapat menulisnya. Mereka berkelebat tanpa nama. Akhirnya aku menggambar rumah, menggambar rumah, menggambar rumah, menggambar rumaaaah. kemudian menggambar perahu. menggambar diriku. menggambar kucing itu. menggambar malam-malam itu. dinding kamarku jadi terlihat kumuh.

sampah.

Quote Of The Day #6

Sterling Cooper
A man is whatever room he is in”(Sterling Cooper dalam episode ke 12 serial TV Mad Men)
Hurray, akhirnya saya dapat tontonan yang bisa bikin betah. Setelah serial LOST habis pada episode ke 114, saya mencoba nyari-nyari serial televisi berikutnya yang layak tonton. Salah satu kelebihan kalau kita punya serial TV favorit adalah, kita punya sesuatu untuk ditunggu-tunggu. Atau, kalau lagi bosan dan tak tahu mau ngapain lagi, kita bisa merefresh diri sejenak lewat serial TV. Dengan catatan, serial tersebut benar-benar berbobot. Alih-alih bikin bete' sama logika filmnya. Sayang sekali serial TV di Indonesia tidak bisa diandalkan. Saya mending nonton cat mengering daripada nonton sinetron Indonesia. Oke, jadi pada espisode ke 12 Mad Men, Sterling Cooper, seorang pemimpin perusahaan Advertising, berkata begini, “The japanese saying, A man is whatever room he is in”. Dia ngomong begini saat salah satu anak buahnya Pete, melaporkan Donald Draper sebagai penipu. Kenyataan…

Buku 'Itu'

Saya sangat senang membaca buku, dan karenanya saya lebih antusias membeli buku ketimbang beli hal lainnya. Meski akhirnya tidak semua buku yang saya beli itu terbaca. Kadang mereka mendekam saja di rak. Kebanyakan cuman saya baca bab-bab awal, kemudian tidak diteruskan lagi. Pernah juga saya menyesal. Buku ini tidak seperti yang kuharapkan, keluh saya. Ada perasaan sayang juga sebenarnya. Melihat buku-buku itu bertumpukan tanpa pernah diselesaikan. Tapi entah kenapa saya tidakpernah kapok membeli buku. Kadang harus menahan diri juga agar tidak membeli. Untungnya bulan Juli ini sampai sekarang saya berhasil menahan diri untuk tidak membeli.
Tapi sebentar, ini bukan berarti buku saya sangat banyak. Jumlahnya biasa saja. Pasti ada yang koleksinya jauh lebih banyak di luar sana. Biasanya sebulan (kalau keuangan memungkinkan) saya membeli satu atau dua buku. Dari buku yang saya beli sejak Desember tahun lalu, baru buku Si Cacing, The Pilgrimage dan The janissary Tree doang yang berhasil s…

Norwegian Wood

Gambar
Akhirnya, selesai juga baca buku yang satu ini. Malu juga sama Cho—kelamaan minjem, hehheeh. Jangan salahkan buku ini kalau saya ngebacanya lama. Buku ini sama sekali tidak membosankan, bahasanya sederhana, mengalir, dan enak dibaca. Judul buku ini: Norwegian Wood, diambil dari salah satu judul lagu The Beatles. Hingga review ini ditulis, saya belum tahu seperti apa lagu itu. Di buku ini, selain soal seks dan kematian, sesekali tokoh-tokohnya membicarakan musik. Terutama Reiko san yang diceritakan sangat pandai bermain alat musik.
Tokoh utama dalam novel ini bernama Toru Watanabe. Ceritaya dimulai saat dia sudah berusia 37 tahun. Sewaktu pesawatnya hendak mendarat di Jerman, samar-samar ia mendengar lagu The Beatles; Norwegian Wood, dan ia pun langsung terkenang dengan masa-masa kuliahnya dulu. Terutama dengan Naoko. Siapa gerangan Naoko? Naoko adalah cinta pertama si Watanabe. Awalnya sih, dia adalah kekasihnya Kizuki—sahabat karib Watanabe. Namun, saat mereka masih berusia 17 tahun, …

My English Vs My Javanese

When I was in junior high, I believe if I had a chance to stay abroad---in English speaking country---I would be able to speak English. I'll speak Fluently even the chance I've got to stay there was only for a month. That's what I—and most people—believe in. In fact I never had a chance yet.
For now, I've been staying in Java more than four years. Can I speak Javanese?

No!

Although I surrounded by javanese sounds almost every time, just a few words I've known. Such as; tumbas (buy), mboten opo-opo (never mind), matur nuwun (thank you), ndere' langkung (excuse me), and my favorite is; mboten ngertos (I don't understand).
I did ask my Javanese friend. I did try to memorize lots of Javanese words. I DID! But when it come out from them, the Javanese, all those words sounds overlapped.
It sounds like, ngaongengengh hbeddehd begh begh begh eddddehng....

I don't know exactly how they produced sounds like that. All I can do is just smiling and nodding. It …

Tentang Tikus yang Diajak Terbang

Hei, saya mau berbagi cerita. Cerita berikut ini saya dapat di bukunya si Coelho; The Winner Stands Alone (Sang Pemenang Berdiri Sendirian), lebih persisnya di halaman 120. Ceritanya cukup menarik. Cerita ini merupakan dongeng masa kecil yang sering di dengar oleh Ewa—salah satu karakter dalam novel ini.
SEEKOR Camar sedang terbang melintasi pantai ketika matanya tertumbuk pada seekor tikus: “Di mana sayapmu?” Setiap binatang bicara dengan bahasa masing-masing, jadi si tikus tidak memahami pertanyaan itu, ia hanya menatap dua benda besar aneh yang tampak menyatu dengan tubuh mahluk tersebut. “Pasti dia sakit,” pikir si tikus Si camar melihat si tikus memerhatikan sayapnya dan berpikir: “Kasihan. Pasti binatang itu sudah diserang monster yang membuatnya tuli dan merampas sayapnya” Karena iba melihat tikus itu, si camar memungutnya dengan paruh dan membawa si tikus jalan-jalan di udara. “Mungkin tikus ini rindu rumah,” pikir si camar saat mereka terbang. Lalu, dengan hati-hati, si cam…

Review Buku HitamPutih; Kumpulan Catatan Perjalanan

Gambar
Sudah lama saya penasaran, sama tulisan mba' blogger yang satu ini. Apa gerangan yang membuatnya terasa spesial? Di awal-awal saya kenal  Blog HitamPutih, saya pernah meninggalkan jejak di kotak komentar. Bertanya apakah dia sudah menerbitkan buku dan judul bukunya apa saja (saat itu yang terpikir oleh saya, dia sudah menerbitkan dua atau tiga judul ^^V). Namun ternyata, saat itu pertanyaan saya dikacangin --”. Wuuuu, fans kecewa.
Untungnya setelah sekian waktu berselang, dia akhirnya benar-benar menerbitkan sebuah buku. Yap, buku perdananya berjudul HitamPutih; Kumpulan Catatan Perjalanan,yang covernya kebetulan didesain oleh seseorang yang saya kenal. Saya benar-benar salut. Di tengah kesibukannya sebagai wanita karir, istri dan ibu dari dua orang anak, ia masih sempat menerbitkan buku. Bahkan sekarang ia tengah menggarap novelnya (hayoo... siap-siap pada nabung dari sekarang yak!).
HitamPutih
Hitam dan Putih adalah dua warna kesukaan beliau. Hitam Putih, tulisnya dalam pengant…