Sebuah Dongeng Yang Tiba-tiba Saya Ingat

Entah ada entah tiada, diceritakan pernah hidup seseorang yang amat sangat kaya. Diceritakan pula bahwa dia memiliki rumah yang sangat-sangat besar. Bukan sembarang rumah, karena di dinding-dindingnya terpajang semua karya seni terbaik yang pernah dikenal umat manusia. Lantainya berlapiskan marmer terbaik, perabot rumahnya adalah perabot paling mewah. Intinya nih, rumah itu adalah tempat segala keindahan bersemayam. Rumah ini begitu terkenal dan semua orang ingin masuk ke rumah itu. Semua orang ingin menyaksikan sendiri keindahan yang bersemayam di dalamnya. Beruntungnya, Sang Tuan Rumah adalah orang yang ramah dan baik hati. Ia menerima siapapun yang datang ke rumahnya tanpa terkecuali. Jadi, tidak mengherankan kalau rumahnya ini tak pernah sepi. Orang-orang selalu berdatangan dan mengantri di pintu gerbang.

Tapi ada tiga syarat yang ditetapkan oleh si pemilik rumah. Pertama, setiap orang hanya diberikan kesempatan masuk ke rumah itu satu kali saja. Ke dua, setiap orang yang mau masuk diharuskan membawa sebuah gelas yang berisi air penuh. Penuh dalam artian sebenarnya, karena permukaan air dalam gelas itu persis menyentuh bibir gelas. Sampai-sampai kita nyaris tak bisa bergerak tanpa menumpahkan airnya. Dan syarat ketiga adalah, air dalam gelas itu tidak boleh tumpah. Setetes pun tak boleh.

Kita sebut saja namanya..rrr...Fulan. Yah, jagoan kita ini bernama Fulan. Seperti orang-orang lainnya, ia ingin mengambil kesempatan sekali seumur hidup untuk masuk ke dalam rumah itu. Ia ingin menyaksikan sendiri karya-karya seni terbaik yang terkenal sampai ke seantero jagat itu. Maka di situlah ia, si Fulan, berdiri di tengah antrian dan menunggu namanya dipanggil. Dan saat gilirannya tiba, namanya dipanggil. Ia pun beranjak ke pintu gerbang di mana Sang Tuan Rumah dengan senyum ramah dan satu gelas berisi air di tangannya “Kamu pasti sudah tahu persyaratannya,” kata si Tuan Rumah. Tanpa banyak basa-basi lagi Ia menyodorkan gelas itu.

Si Fulan mengangguk. Diambilnya gelas itu dan mulai melangkah ke dalam. Dengan begitu hati-hati ia menjaga agar air dalam gelas tak tumpah dan membasahi lantai yang dilapisi marmer terbaik itu. Seperti orang-orang lainnya, ia pun berjalan dan mengitari rumah. Menelusuri selasar dan lorong-lorong yang diterangi lampu-lampu kristal. Sekilas ia melihat lukisan-lukisan yang terpajang di situ. Tapi hanya sekilas, karena ia langsung teringat dengan gelasnya. Ia ingin menyenangkan hati Tuan Rumah, dan tak ingin menumpahkan satu tetes pun dalam kunjungannya. Ia takut kalau si Tuan Rumah marah. Sekali dua, ia salah langkah, gerakannya salah, dan satu dua tetes dari gelas itu tumpah membasahi lantai. “mudah-mudahan si Tuan Rumah bisa memaafkanku,” batin si Fulan cemas.

Ia terus berjalan dalam kehati-hatian, dan waktu pun terus berlalu. Tahu-tahu ia sudah sampai di ujung lain rumah itu. Perjalanannya berakhir dan si Tuan Rumah sudah berdiri di situ, menyambutnya dengan senyuman yang sama ramahnya seperti tadi. “Nah, jadi bagaimana?” tanya sang Tuan Rumah.

“rrr... saya menumpahkan satu dua tetes,” jawab si Fulan gugup.

“Tidak apa-apa,” jawab sang Tuan Rumah, “sekarang bagaimana pendapatmu mengenai rumahku? Kamu suka lukisan-lukisan itu? Bagaimana dengan lampu-lampu kristalnya? Aku memilih kristal-krital terbaik, dan hanya memajang disain-disain terbaik. Bagaimana dengan air mancur yang kupajang di tengah taman? Kamu suka marmernya? Bagaimana menurutmu dengan pilihan warnanya?”

Si Fulan kebingungan. Ia tak bisa menjawab satu pertanyaanpun.

“Ah, jangan bilang kamu tak tahu apa-apa mengenai rumahku. Padahal kamu baru saja menelusurinya.”

“Tuan, hamba tak sempat memerhatikan apapun. Hamba takut menumpahkan air dalam gelas itu,” jawab si Fulan.

“Kamu sama saja seperti kebanyakan pengunjung,” ujar si Tuan Rumah kecewa, kemudian membuang air dalam gelas itu ke pot bunga terdekat. Ia mengisinya dengan air lagi kemudian beranjak ke gerbang depan, menghampiri orang-orang lain yang masih ngantri.

Bagaimana dengan si Fulan? Ia keluar dari rumah itu dan tak akan punya kesempatan lagi untuk masuk ke situ. Satu-satunya kesempatan yang ia miliki telah ia habiskan untuk “menjaga air dalam gelas” agar tak tumpah. Sesuatu yang bisa saja ia lakukan sendiri di rumahnya, atau di manapun.





*diceritakan kembali oleh Huda Tula. Maaf saya lupa pernah baca cerita ini di mana.--”

Komentar

  1. kira2 hikmah yang terselip apa ya?garuk2 kepala...

    apa kita terlalu serius memikirkan kehidupan dunia,tanpa memikirkan kehidupan akherat yang telah dijanjikan penuh dengan kebahagiaan?

    BalasHapus
  2. I-One@
    ah, kamu sama saja seperti kebanyakan orang...

    BalasHapus
  3. ada dongeng seperti ini ya?

    hmm.. maknanya agak "menerawang".. :P

    BalasHapus
  4. Adryan Nurdien@
    iya ada, saya lupa baca di mana. hehehe. selamat menerawang...

    BalasHapus
  5. pagi pagi bahasannya fulan dan fulin
    berat uy , (ah kamu sama saj aseperti orang lainnya "alhamdulillah ada yg manggil aku orang") wkekekeke ____

    kemana aja jarang online ? ^_^

    BalasHapus
  6. coba menebak nebak saja mudah2an salah kalopun bener ya Alhamdulillah hehe...
    Maknanya buat kita untuk tidak tertipu pada hal2 dunia yg tidak lebih dari sebuah fatamorgana. Haha..

    BalasHapus
  7. seharusnya Fulan nggak usah mikirin persyaratan tadi dan ngrasa takut supaya dia bisa ngelihat seisi rumah atau apa2 saja yang ada di dalam sana(yang ingin di tahu). Dengan begitu kesempatan yang dia miliki nggak terbuang sia2. Ini sama kayak episode dream high kemarin deh, jadi 6 anak yakni Guk, Samdong, Yaemi, Pilsug, Baekhi ama Jason milih ikutan sebuah kompetisi nyanyi meskipun persyaratan yang ada sangat konyol dan mempersulit peserta kesannya tuh. Mereka ber-6 nekat, dengan kemampuan yang mereka miliki sementara murid2 lain udah nyerah duluan pas ngebaca persyaratan2 yang konyol tadi.


    Jadi, intinya tuh kita jangan nyerah dalam mendapatkan sesuatu yang kita inginkan meskipun untuk mendapatkannya sangat tidak mudah (kalahkan rasa takutmu!). Ah, mbulet kalimatku, ngerti nggak Hud?

    BalasHapus
  8. hmm..pagi2 dah dapet kisah menarik..

    terkadang memang kekhawatiran dan perhatian yang berlebihan terhadap sesuatu yang mungkin kita anggap sebagai masalah, cenderung mebuat kita memalingkan pandangan dari sekitar kita kita yang jauh lebih luas dan indah...

    akhirnya menyesal kemudian dan tak mampu bersyukur atas apa yang ada disekeliling..:)

    BalasHapus
  9. Barangkali ini yang disebut sebagai "kesempatan tak akan datang kedua kalinya". :)

    BalasHapus
  10. serba salah memang
    ga mikir takut salah jalan
    kebanyakan mikir jadi ga jalan-jalan...

    BalasHapus
  11. keren2 ceritanya,, manfaatkanlah kesempatan yang ada bener gak ya maksudnya hehe :D

    BalasHapus
  12. maksudnya menikmati apa yang kita jalani sekarang..,sekarang, misalnya say sedang ngetik, yah harus sadar saya ngetik dan baca tulisan ma Huda kata per kata..

    biasanya karena terlalu fokus pada hal2 yang kita khawatirkan, malah g menikmati keindahan sebuah proses menuju tujuan kita..

    salam mas Hudaaa..

    BalasHapus
  13. "Terlalu taat aturan itu tidak keren. adakalanya kita harus berani melanggar" (Aul Howler)

    huahahaha
    :D

    BalasHapus
  14. Jadi, pesan cerita ini apa? Gak ngerti aku... Mungkin aku yang lemot. Hehehehe...

    BalasHapus
  15. hmmm ... jadi yang dimaui si tuan rumah airnya digimanain?

    BalasHapus
  16. ngerti maksud ceritanya hud. intinya tuh kita ga boleh terlalu fokus sama sesuatu sampe2 ga merhatiin hal2 indah dan tak kalah penting di sekitar kita. :)

    BalasHapus
  17. aku tau! inti dari ceritanya adalah "jgn terlalu fokus kpd satu hal sehingga tidak memperhatikan sekeliling kita"

    betul ga? hadiahnya apa?

    BalasHapus
  18. ini seperti ketika kita sekolah dengan menaati segala peraturannya
    kemudian kita tak terasa bahwa sekolah sudah selesai
    padahal banyak hal menyenangkan yang terlewatkan jika kita hanya mematuhi peraturan sekolah

    #curhatanseorangmuridnakalsaatdisekolah

    BalasHapus
  19. Kamu membaca cerita ini di blog saya. Hehehe, nggak ding!

    Sepakat banget sama John Terro. Terlalu mikir peraturan sekolah, sampai-sampai nggak lihat kesenangan yang ada di dalamnya. Sialnya, aku termasuk yang kayak gitu!

    BalasHapus
  20. sepertinya sya tau, klo tebakanq benar, ini ada di buku alkemis-paulo coelho. klo dak salah cerita si raja pada si anak penggembala, seblum ia pergi. ato klo tdk cerita si alkemis pada si anak pas keduanya masih di gurun. :D

    BalasHapus
  21. oalah. pemilik rumahnya itu gimana. orang dia yang nyuruh ngejaga airnya.
    haha

    BalasHapus
  22. si pembuat aturan (*tuan rumah) yang tidak konsisten dengan peraturan yang dibuatnya.... :), malah menyalahkan orang lain (*si fulan)...^_^

    BalasHapus
  23. rrr... komennya dibales satu-satu ngga' ya? hehehe.

    all@
    sebenarnya setiap cerita memang bebas diinterpretasikan, sesuai selera masing-masing. :)

    kalau versi saya si, Rumah mewah itu mewakili 'kehidupan', Tuan Rumah maksudnya 'Tuhan'.

    pertanyaan berikutnya, gelas itu mewakili apa? hehehe...

    Mungkin gelas itu diberikan agar kita tidak lupa diri, bahwa rumah itu bukan milik kita. kita di situ cuman sementara. Tapi tetap saja itu bukan berarti kita tidak boleh menikmati hidup. Kalau terlalu fokus sama air dalam gelas tadi, jangan-jangan kita jadi ga paham kehidupan sebenarnya.

    kalo menurutku begitu.

    BalasHapus
  24. Mb Accilong@
    oh iya ding, cerita ini ada di Alkemis. tapi di endingnya, sang Tuan Rumah nyuruh dia balik lagi dan melihat-lihat. betul g?

    BalasHapus
  25. hikmahnya: peraturan itu untuk dilanggar. hahaha #yg ini ngawur :p

    kalo menurutku kesimpulannya:
    -dengarkan yg tidak dikatakan
    -trus apalagi ya?jadi lupa -.-'

    BalasHapus
  26. dapet maknanya... ^^
    ahh, gak da sumbernyaaa.. *kuciwa*

    BalasHapus
  27. ooooo..begitu maksudnya..hehhe

    nice.... :)
    tuh kan, novel terjemahan lagi yak? ^^

    BalasHapus
  28. terima kasih untuk sentilannya. jadi mumpung kita sama-sama masih ada di rumah yg luar biasa megahnya itu, mari kita nikmati lukisannya satu2 dengan seksama, lampu-lampu kristalnya, marmernya, air mancurnya, semuanya.

    dan air gelas itu, tumpah sesekali biarkan saja. karena itu memang sudah jadi bagian dari sebuah proses menikmati rumah.

    BalasHapus
  29. John Terro@
    yups..

    YeN@
    ayoh, diinget2 lagi -.-

    eks@
    woi, blogmu kenapa mau dihapus??

    Faiza@
    kayanya cerita ini lumayan populer. dan anonim. kayanya si. tapi aku emang pernah abca di The Alchemist juga.

    rabest@
    heheheh

    cho@
    yup, couldn't agree more! we are already 'in da house', heheh

    BalasHapus
  30. wow, pendapatmu masuk akal Hud...bisa nih kalau ada bacaan aku nggak ngerti trus nanyak ke kamu, hha :D

    BalasHapus
  31. mungkin intinya, kita jgn sampai menyiakan kesempatan yg dtg sekali seumur hidup. hanya karena kita mementingkan sesuatu hal yg sebenarnya tdk perlu terlalu dipikirkan.

    BalasHapus
  32. nice story
    jadi si fulan ini melewatkan kesempatan yang harusnya bisa dia dapet ya.. hmm
    baru denger dongeng ini. nice one. salam kenal ya

    BalasHapus
  33. Kesempatan sekali seumur hidup ternyata tak dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Sayang sekali.

    BalasHapus

Posting Komentar