Tentang Tikus yang Diajak Terbang

Hei, saya mau berbagi cerita. Cerita berikut ini saya dapat di bukunya si Coelho; The Winner Stands Alone (Sang Pemenang Berdiri Sendirian), lebih persisnya di halaman 120. Ceritanya cukup menarik. Cerita ini merupakan dongeng masa kecil yang sering di dengar oleh Ewa—salah satu karakter dalam novel ini.

SEEKOR Camar sedang terbang melintasi pantai ketika matanya tertumbuk pada seekor tikus:
“Di mana sayapmu?”
Setiap binatang bicara dengan bahasa masing-masing, jadi si tikus tidak memahami pertanyaan itu, ia hanya menatap dua benda besar aneh yang tampak menyatu dengan tubuh mahluk tersebut.
“Pasti dia sakit,” pikir si tikus
Si camar melihat si tikus memerhatikan sayapnya dan berpikir:
“Kasihan. Pasti binatang itu sudah diserang monster yang membuatnya tuli dan merampas sayapnya”
Karena iba melihat tikus itu, si camar memungutnya dengan paruh dan membawa si tikus jalan-jalan di udara. “Mungkin tikus ini rindu rumah,” pikir si camar saat mereka terbang. Lalu, dengan hati-hati, si camar mengembalikan si tikus itu kembali ke tanah.
Selama berbulan-bulan berikutnya, si tikus tenggelam dalam depresi; ia teringat pengalamannya berada di tempat-tempat tinggi dan melihat dunia yang luas dan indah. Namun lambat laun tikus itu pun kembali terbiasa menjadi tikus lagi dan mulai percaya bahwa keajaiban yang sempat terjadi dalam hidupnya hanyalah mimpi belaka.


Menurut saya sebagai dongeng anak-anak, cerita ini cukup aneh. Tapi membayangkan tikus yang depresi berbulan-bulan setelah melihat 'dunia' dari sudut pandang yang sama sekali tak pernah ia bayangkan sebelumnya, membuat saya bertanya-tanya; mungkinkah hal semacam itu terjadi kepada kita, manusia? Tentu saja tidak ada burung camar yang cukup sinting memungut kita dengan paruhnya dan membawa kita jalan-jalan di udara. Toh, kita mengenal pesawat untuk hal itu.

Namun yang membuat saya terusik adalah pengalaman si tikus itu. Kesempatan yang ia miliki untuk terbang dan melihat dunia yang luas dan indah. Suatu kejaiban baginya, namun hal yang biasa-biasa saja bagi si burung camar.

Komentar

  1. terkadang kita semua mengalami suatu hal yang sama, namun reaksi kita berbeda2 ketika mengalaminya..

    Misalkan saja camar, dia seumur hidupnya selalu terbang dan melihat dunia dari sudut pandangnya..

    sedangkan tikus, yang selama hidupnya hanya melihat dunia dari permukaan tanah, tiba2 melihat dunia dari udara, maka itu menjadi hal yang baru baginya..

    BalasHapus
  2. aku belum selesai baca nih buku, padahal dah di lembaran2 akhir >.<

    BalasHapus
  3. Eummm.., emang aneh dan aku nggak ngerti maksudnya, hehe..

    BalasHapus
  4. semoga aku kalo naik pesawat ntar gak depresi.... karena pesawat bukan burung camar...#halah

    BalasHapus
  5. wah...kayaknya buku ini menarik deh untuk dibaca. gitu ya, Hud?

    BalasHapus
  6. ya ya ... aku mulai paham pesan dari cerita ini :)

    BalasHapus
  7. masih samar-samar dengan maksud cerita tersebut. Antara paham dan belum jelas.

    ntar deh dipikir sambil tidur. Hahaha...

    BalasHapus
  8. kalau menurutku sih cerita ini sebenarnya tentang maksud baik yang terkadang malah justu tidak bisa diterima dengan baik. maksud si camar kan baik sebenernya tapi si tikus malah depresi.

    dan yaaa lagi2 soal memahami orang atau seseorang. soal sok tahu dan sebangsanya. hati2 dalam menilai.

    euhmmm menurutku sih. satu cerita memang terkadang memiliki beberapa dimensi. #ngomong apa saya ini?

    BalasHapus
  9. All@
    sebenernya sih, saya tidak terlalu mengerti apa maksud cerita ini. akhirnya saya post di sini.. Tapi membaca komentar-komentar teman2, bener apa yang dikatain Yen; satu cerita memiliki banyak dimensi, heheheh.

    saya suka cara kalian menyimpulkan sendiri ceritanya.. #terharu.

    Plis jangan kapok berkunjung ke blog ini

    BalasHapus
  10. hmm..sama kayak si budi, kau juga bingung, hehehe..okelah lain kali tak baca lagi, nyari kesimpulan, hehehe

    BalasHapus

Posting Komentar