Ngomongin Hal Klise yang Biasanya Kita Sebut “Motivasi”


.
Dulu..duluuu sekali, saya sangat senang membaca buku-buku motivasi. Begitu termotivasinya saya untuk membaca buku-buku itu, sampai-sampai saya tidak bergerak dari tempat tidur sebelum selesai membacanya. Setelah selesai, saya akan mencari buku 'motivasi' selanjutnya. Biasanya buku-buku motivasi tidak susah didapat. Di perpustakaan terpadu (mantan) kampus saya, buku-buku macam itu bejibun. Tapi saya termotivasinya cuman sebatas membaca doang. Kalaupun ada efeknya dalam kehidupan saya sehari-hari, biasanya efeknya tidak bertahan lebih dari tiga hari.

Bukunya Steven Covey misalnya, yang terkenal dengan “tujuh kebiasaan” paling efektif itu (sepertinya sekarang sudah jadi 8-9 kebiasaan ya?). Saat selesai membaca buku itu, saya merasa tercerahkan. Beberapa hal dalam buku itu pernah saya coba, dan dengan berat hati saya akui kebiasaan itu tak berhasil saya terapkan lebih dari satu minggu. Akhirnya saya baca-baca buku yang lainnya. Tapi ya itu tadi, cuman hobi membacanya saja. Saya mulai berpikir kalau saya membacanya cuman demi “kesenangan membaca” saja, bukan untuk mendapat motivasi. Saya merasa nyaman membaca apa yang dipikirkan orang lain; cara mereka memetakan pengalaman orang-orang sukses yang rumit menjadi tahapan-tahapan sederhana agar mudah dipahami. Hal-hal seperti itu bisa meyakinkan kita (atau sedikit menghibur sejenak) bahwa hidup ini tidaklah rumit.

Sampai akhirnya saya bosan sendiri. Mungkin sebenarnya motivasi tidaklah sepenting itu, pikir saya. Lagian kayaknya hidup ini tidak sesederhana anak-anak tangga yang mereka ilustrasikan di buku itu. Ah, ini sih cuman omong kosong, ujar saya sewot. Buku-buku itu isinya sama saja. Cuman beda cover dan penulisnya saja. Sampai sekarang, menurut saya sih memang begitu.

Tulisan ini akan kita belokkan sejenak. Jadi, (dulu itu) selain buku-buku motivasi, saya juga senang membaca buku-buku tentang cara menulis. Jenis-jenis buku how-to yang memberi tahu kita kalau lewat buku tersebut kita bisa jadi penulis beken dalam waktu satu minggu. Atau nulis cerita sehebat JK Rowling dalam waktu 24 jam. Saya sih percaya aja. Saya menghabiskan banyak waktu membaca tips-tips menulis di situ. Kadang ada latihannya juga di akhir tiap bab. Kadang saya kerjakan. Tapi sekali lagi, latihan-latihan ini pun tak bertahan lama. Buku-buku itu, untungnya, kebanyakan saya pinjam di perpus. Tidak semuanya buruk. Ada juga sih yang bagus. Ada juga satu dua yang saya beli obralan.

Nah, salah satunya tuh baru saja saya baca kemarin. Sudah bertahun-tahun saya punya buku itu. Buku yang satu ini bercerita tentang penokohan. Jadi, dalam buku ini, ada bagian yang bicara soal motivasi karakter. Seindah apapun sebuah setting dideskripsikan, sesempurna apapun pilihan katanya, tapi kalau karakter-karakter yang kita ciptakan itu tidak punya 'motif', tidak akan ada cerita. Ceritanya tidak akan bergerak ke mana-mana. Misalnya kita nulis; si Minah duduk di kursi merah. Terus kenapa? Seorang Minah yang cuman duduk di kursi merah bukanlah cerita. Dia harus punya motivasi atau sesuatu yang dia inginkan. Atau setidaknya ada tokoh lain yang kemudian muncul, yang punya inisiatif atau motif agar ceritanya bergerak. Terserah motifnya apa, yang penting dia punya. Kalau tidak, kita hanya berhadapan dengan kumpulan deskripsi tanpa nyawa.

Saya pikir hidup kita juga sebuah cerita. Dan cerita kita tak akan bergerak ke mana-mana kalau kita tak punya motivasi (klise banget). Terserah motivasi kita untuk hidup itu apa. Dan terserah kita juga mau mewujudkannya dengan cara apa. Bisa dengan cara kita sendiri atau mengikuti cara-cara yang ditulis dalam buku-buku motivasi (yang biasanya bikin boring itu). Yang penting tuh, kita harus punya. Ga seru juga kan kalau kita cuma berdiam diri di dalam kamar dan ngoleksi debu. 

.

Komentar

  1. Suka baca malas praktekin... saya banget. hahahaha
    tapi tentang hidup itu tidak lepas dari motivasi itu sendiri, dia mesin penggerak. tanpa itu hidup atau apa2 yg kita jalani bakal lempeng2 sajah.

    ya toooh?

    BalasHapus
  2. kalo saya sih, baca2 buku motivasi (atau tulisan yang berbau motivasi) ngga terlalu saya fikirkan. karena apa yang ditulis didalamnya kebanyakan terlalu menggampangkan. ngga sesuai realita. hauhauha

    BalasHapus
  3. berbicara tentang motivasi, apa kira2 motivasi saya menciptakan intikali?
    apakah kamu tahu :D

    BalasHapus
  4. Yus Yulianto@
    hahauhauhau... tapi masih ada yang bagus loh. ga semuanya jelek. Asal ga no Action Read Only Aja..

    John Terro@
    menurut saya, yang terpenting tuh:
    Apakah kamu sendiri tahu apa yang motivasimu menciptakan intikali, hmm?

    BalasHapus
  5. motivasi tanpa aksi sama aja bohong. kerja hanya wacana sama saja ga ada apanya. motivasi itu perlu, tindakan juga ga kalah seru :)

    BalasHapus
  6. Entah mengapa... genre buku motivasi kurang menarik bagi saya. :)

    BalasHapus
  7. kalo buat saya sendiri membaca buku motivasi tergerak setelah membaca judulnya dulu dan kadang setelah membaca sebagian dari porsi yang seharusnya saya baca justru menjadi malas karena isi dari bagian buku tsb sebenarnya sudah saya baca sebelumnya. Ahirnya buku tsb tdk pernah khatam sampai skrg. Hikzz....

    lebih suka baca buku novel yang di selipi cerita yang memotivasi kaya ' negeri lima menara' ..ca buku motivasi tergerak setelah membaca judulnya dulu dan kadang setelah membaca sebagian dari porsi yang seharusnya saya baca justru menjadi malas karena isi dari bagian buku tsb sebenarnya sudah saya baca sebelumnya. Ahirnya buku tsb tdk pernah khatam sampai skrg. Hikzz....

    lebih suka baca buku novel yang di selipi cerita yang memotivasi kaya ' negeri lima menara' ..

    BalasHapus
  8. Tukang Colong@
    betull.. setuju mas bro...:))

    Asop@
    heheheh.... (biasanya begitu). agak aneh memang, buku motivasi malah tidak membangkitkan motivasi (bahkan untuk membacanya sekalipun).

    yayack@
    sama...
    sebenarnya, motivasi yang, entah terselip atau secara samar melapisi sebuah cerita seringkali lebih ampuh untuk menginspirasi. Tanpa sadar, novel juga lambat laun mengubah pola pikir dan motivasi hidup kita.

    tanks all
    :)

    BalasHapus
  9. Membaca itu satu hal, dan melakukan apa yang kita baca adalah hal lain. Masalah kita, kebanyakan, suka membaca tapi malas melakukan apa yang kita baca. Karena kita terus-menerus melakukannya (sekadar membaca buku motivasi tapi tidak melakukannya) akhirnya kita pun jadi jenuh. Omong2, aku pun begitu.

    Masalah ini diperparah lagi dengan bejibunnya buku motivasi yang ditulis orang yang (mungkin) tidak atau kurang berkompeten. Akibatnya, citra buku motivasi makin rusak. Padahal, dulu banyak sekali buku-buku motivasi yang bagus. Dan, aku harus mengakui, bahwa hidupku pernah diselamatkan oleh buku2 itu.

    Curcol nih, dua kali aku nyaris bunuh diri, tapi kemudian "terselamatkan" oleh buku. Kemudian, pada waktu kuliah, aku kecelakaan dan tanganku terlindas truk. Kuulangi, tangan kananku terlindas truk. Bukan hanya patah tulang, tapi remuk. Secara medis, tanganku tak terselamatkan dan divonis harus amputasi. Tapi aku bersyukur karena telah membaca bukunya Napoleon Hill, dan aku meniru tepat apa yang dilakukannya--mengubah kemustahilan menjadi kemungkinan. Dan sekarang aku masih memiliki tangan, dan menggunakannya dengan sehat. (Nanti kapan2 aku ceritain di blog).

    Intinya, sehebat apa pun sebuah buku (termasuk buku motivasi) yang paling penting adalah melakukan isinya dan bukan sekadar membacanya. Seperti buku teori menulis yang sekilas disinggung di atas. Tak peduli sebanyak apa pun kita membaca buku2 itu, hasilnya tetap omong kosong selama kita tidak menulis.

    Btw, tanpa bermaksud membela buku motivasi, Tuhan tahu aku berutang budi atas buku-buku itu.

    BalasHapus
  10. Buku motivasi, saya pun saat ini juga sudah jarang membaca buku2 seperti itu. Membaca judulnya saja yang kebanyakan terlalu bombastis saya sudah ilfil duluan.

    Membaca buku motivasi itu sama seperti mengikuti training motivasi. Nasibnya akan sama kalau hanya membaca tanpa dipraktekkan. Percuma hanya buang-buang duit.

    Namun sesekali motivasi itu saya akui tetap perlu dan dibutuhkan. Saat kita lagi down dan butuh suntikan semangat itu adalah waktu yang tepat buat memperoleh motivasi.

    BalasHapus
  11. dulu aku pernah keranjingan buku semacam itu
    tapi entah kenapa lama-lama pemikiranku malah berubah
    kayaknya di buku buku itu lebih suka mengumbar kesuksesan
    sementara kenyataan untuk menggapainya teramat sulit

    BalasHapus
  12. Saya gak suka baca buku-buku motivasi. Isinya mah itu-itu aja. Dan kalo motivasi mah bisa didapat dari mana aja. Gak harus melulu dr buku. Jadi bisa hemat duit juga dengan ga beli buku2 motivasi. Mending dibeliin buku2 yang lain. ;))

    BalasHapus
  13. ya emang fenomenanya seperti itu, tidak jarang dari mereka mereka yg menyatakan dirinya hobi membaca buku motivasi tapi pas selesai membaca kadang cuma bsa menelan nya doang tanpa bsa mengunyahnya terlebih dahulu.ya emang fenomenanya seperti itu, tidak jarang dari mereka mereka yg menyatakan dirinya hobi membaca buku motivasi tapi pas selesai membaca kadang cuma bsa menelan nya doang tanpa bsa mengunyahnya terlebih dahulu.

    BalasHapus
  14. jujur sih hud, gw setiap kali baca kata2 motivasi gitu hanya beberapa yang bener2 gw dengerin dan terima. sambil lalu aja kebanyakan. hehehhe...

    btw gw lebih suka kata2 motivasi yang gw buat sendiri dan ditujukan ke diri sendiri. efeknya jauh lebih ampuh, hud! serius!!!!

    BalasHapus
  15. Memang sulit utk mengingat motivasi2 dari para pakar itu.. apalagi utk mempraktekkannya.
    selama ini aku justru lebih 'kena' jika pas dapat 'motivasi' yg pas dengan saat aku ada masalah. nah, yg spt itu lebih keinget olehku.

    BalasHapus
  16. Hoeda Manis?
    heh? saya ga nyangka anda punya pengalaman ekstrim begitu.. (ga sabar baca ceritanya>>buruan atuh kang dipost, heheh).

    mungkin gitu juga ya? bejibunnya buku motivasi bikin citra 'motivasi' terkesan murah (dan klise). Tapi juga ga bisa nyalahin buku sepenuhnya sih. meski bukunya bagus, kalau tidak dipraktekkan, memang sama saja.

    Joko Sutarto@
    yep, bahasanya yang bombastis memang bikin ilfill, hehehe. Dan tren ini justru membuat 'motivasi' yang sebenarnya sangat penting jadi terkesan klise dan diremehkan orang-orang. (termasuk saya).

    saya setuju, motivasi sangat penting. sangat-sangat penting malah. kalau tidak, kita kerjaannya diem aja.

    Rawins@
    iya mas. kayanya, yang dibutuhkan justru buku yang tetap bisa memotivasi kita dalam 'kenyataan yang sulit' itu. sepertinya sih begitu.

    Kimi@
    Iyupz, there's so many ways...

    Yayack@
    hihihih, saya kan dulunya seperti itu. senang bacanya baja, tapi prakteknya nol.

    Nuel@
    eh bener banget nuel. kata-kata yang kita dapat dari pengalaman sendiri memang lebih ampuh. couldn't agree more ^^

    Mb Reni@
    yeps... biasanya juga begitu mba. kadang dari sekian halaman yang kita baca, yang keinget cuman satu dua kalimat, yang memang ngena dan pas dengan momennya.


    tanks all
    :)

    BalasHapus
  17. sya tuh klo udah baca buku motivasi pasti berapi-api begitu, tapi gg berapa lama ya melempem juga sih, sehingga sy berkesimpulan bahwa sehebat apapun seorang motivator, motivasi terbaik untuk diri sendiri datangnya dari diri sendiri juga.

    Ak lebih ngena termotivasi dari manga dibanding buku khusus motivasi :P

    BalasHapus
  18. terkadang memang kita membutuhkan sebuah asupan motivasi dari bku yang kita baca, memang tidak bertahan lama, minimal sedikit tercerahkan, suatu hari kamu pasti ketemu dengan sebuah cerita yang sebenarnya bukanlah kisah atau kata-kata motivasi kemudian kita bisa mengambil sebuah pelajaran dan menjadikan hal tersebut motivasi yang bercahaya dalam hidup kita. *kok saya mendadak bijaksana begini ya?*

    BalasHapus
  19. masalahnya motivasiku untuk mempertahankan intikali selalu berubah-ubah sampe sekarang
    jadi ga ada yang fix sebenarnya apa yang memotivasi saya untuk menciptakan intikali :D

    BalasHapus
  20. motivasi? aku ada buku2 itu, tapi bukan yang penuh dengan motivasi atau trik2 gitu... secara nggak langsung sebenarnya di setiap cerita ada motivasi tertentu kok entah itu tertulis atau tersirat saja. masalah diterapkan atau nggak ya tergantung yang ngebaca buku tadi, kalau ngerasa klop dan perlu biasanya diambil-entah itu bisa tahan lama atau seperti kamu 2/3hari aja...



    motivasi terbesar datangnya dari diri kita sendiri, karena kita yang memulai kita yang menciptakan adanya motivasi tadi dalam hati kita.

    BalasHapus
  21. Dulu Aul juga suka baca buku motivasi bang...

    Tapi semenjak gak sengaja baca beberapa buku motivasu yg membosankan...

    Aul jadi beralih ke komik, dan novel yang ringan-ringan..

    hihi :)

    BalasHapus
  22. waahh...dipake lagi nih templatenya.. :)

    ehm..ehm..mantan kampus nih ceritaya?

    eniwei, kayaknya fase hidupku baru sampe situ deh mas hud, dimana masih seneng baca-baca buku tentang motivasi2 dan how to-how to...hehehehe..setelah mbaca postingan ini, jadi mikir lebih keras..

    BalasHapus
  23. Aki juga gak suka buku motivasi, pun dengan buku2 praktis. Entah mengapa, rasanya ada sesuatu yang hampa dan itu sesuatu yang cukup besar.Apa ya, sepertinya soul nya kurang terasa (halah, ngomong apa,sih). Kebanyakan juga tidak menjawab apa yang kubutuhkan sih. Ya, meskipun mungkin gak semuanya kayak gt sih.

    Lagipula, menurutku setiap orang akan menemukan caranya sendiri untuk menemukan motivasi dan mengembangkan dirinya untuk memenuhi motivasinya itu.

    Aku juga lebih suka membaca kisah hidup orang lain dan mempelajari hikmahnya sendiri. Dengan begitu, hikmahnya juga akan lebih meresap dalam diri.

    BalasHapus
  24. hahahaa... gw ga pernah tertarik baca buku motivasi-motivasi gitu. menurut gw jg boring.
    btw, template blog nya ganti ya?

    BalasHapus
  25. eh alis tebal aslinya yus ya?hihi
    saya kalo baca buku motivasi(kebetulan ngoleksi), malahan nggak pernah abis bacanya, cos ada yg baru halaman pertama uda disuruh "bergerak" mean "do something"

    jadilah saya lalu melemparkan wajah saya jauh2 dari tuh buku...

    *narik napas dulu*

    alhamdulillah, kebetulan saya ngoleksinya uang logam koq, gk niat ngoleksi deru debu...hahhaa

    BalasHapus
  26. Jujur, saya orang yg agak sulit menikmati karya tulis yg berlabel nyata, apalagi buku motivasi. baru baca satu pernyataan saja terkadang sudah terlintas kalimat, "hidup ini tidak se-simpel itu sodara. tidak semua hal seperti apa yg kamu katakan itu."
    yaa tapi tergantung penulisnya juga sih. seingat saya cuma ada dua buku berkategori buku motivasi yang selesai baca sampai tamat. '7 habit for highly effective teen' dan 'who move my chesse'. tapi ini bukan berarti saya menjalankan apa yg ada di buku juga sih..

    saya punya teori ttg ini. saya pikir kenapa kita sulit menjalankan apa yg ada di buku motivasi adalah karena sulitnya mentranslasikan isi buku terhadap kehidupan kita. kehidupan yg dijalani manusia itu kan beda2. semakin mirip isi bukunya dengan hidup kita maka kemungkinan akan lebih mudah menjalankannya.

    memang seharusnya buku motivasi bukanlah satu2nya cara untuk mendapatkan motivasi ato menuju sukses. banyak jalan menuju roma kan..?

    BalasHapus
  27. @John: kamu bertanya apa motivasi kamu menciptakan intikali
    huda tanya balik --> apa kamu tahu motivasi kamu sendiri menciptakan intikali?
    lah kok kamu jawab --> masalahnya motivasiku untuk mempertahankan intikali selalu berubah-ubah sampe sekarang
    jadi ga ada yang fix sebenarnya apa yang memotivasi saya untuk menciptakan intikali :D

    apa hubungannya motivasi mu menciptakan intikali dengan motivasimu mempertahankan intikali? motivasi menciptakan kan ada di depan, harusnya sudah ada sejak sebelum kamu bisa mempertahankan apa itu intikali. bukan begitu?

    BalasHapus
  28. Dulu saya suka juga baca buku tentang motivasi, namun sekarang udah gak lagi.

    paling cari-cari intinya aja atau cari yang relevan aja buat diri sendiri.
    Lagipula menurut saya, setiap orang punya cara masing2 untuk memotivasi diri sendiri, bisa berasal dari dalam dirinya ataupun orang2 di sekitarnya. Palingan saya hanya menerapkan apa yang menurut saya mudah dan cocok untuk diri sendiri aja sih...

    BalasHapus
  29. all@
    setelah saya pikir-pikir lagi, sebenernya saya masih suka baca buku motivasi.(tapi ga semua). buku motivasi favorit saya adalah "si cacing dan kotoran kesayangannya 1-2".

    tapi saya setuju kalau kita juga harus nemuin cara sendiri untuk mendapatkan motivasi. entah lewat novel, film, komik, majalah, teman...pasti banyak.

    satu kata: motivasi itu sangat penting. Karena kalau ga ada motivasi, hidup kita tidak akan bergerak ke mana-mana.

    BalasHapus
  30. rasa2nya satu katanya mas huda panbjang banget ya.. ---> "motivasi itu sangat penting. Karena kalau ga ada motivasi, hidup kita tidak akan bergerak ke mana-mana."

    :))

    BalasHapus
  31. YeN@
    sengaja dibanyakin, biar setiap orang dapat satu kata. kalo cuman satu kata beneran, ntar pada rebutan#hahahaha, ketawa garing.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

10 Film Asia yang Tak Terlupakan

Sandikala

Film Korea Yang Layak Kamu Tonton